Replacement Lover

Replacement Lover
TAK SAMPAI HATI


__ADS_3

Hari ini adalah hari pemakaman Argha.


Keira yang dijemput oleh Rizzi, pergi sendirian tanpa teman-temannya. Ketiganya tidak bisa turut menemaninya seperti biasa karena mereka harus eksekusi tugas praktek Tour Planning yang sudah mereka kerjakan seminggu sebelumnya.


Keira terpaksa absen dalam praktek kali ini mengingat kondisi psikis dan fisiknya yang tidak memungkinkan.


Di dalam mobil Rizzi yang membawanya menuju ke tempat Argha dimakamkan, Keira duduk bersandar pada sisi jendela mobil. Kening kirinya ia tempelkan pada kaca dengan pandangan lurus ke luar jendela. Melihat lalu lalang sekian banyak manusia yang tidak dikenalnya di luar sana.


Selama perjalanannya, Keira mengulang kembali saat-saat pertama kali dirinya bertemu dengan Argha di kampusnya. Lebih tepatnya di tengah-tengah anak tangga yang dimiliki bangunan khusus jurusan Kepariwisataan itu.


Kala itu Keira ingat dirinya sedang kebingungan sendiri mencari ruang Tata Usaha untuk menyelesaikan proses daftar ulangnya. Keira yang celingukan terpaksa harus berhenti sebentar di tengah-tengah anak tangga untuk mengambil lembar formulir yang terjatuh akibat kelalaiannya memegang kertas itu.


Ketika dirinya membungkuk untuk memungut formulirnya yang terjatuh, tanpa Keira sadari seseorang berlari dari arah atas menuju ke bawah hingga tak sengaja menyenggol dirinya. Akibatnya Keira jadi limbung dan kehilangan keseimbangan dan Keira hampir saja terjatuh ke bawah tangga.


Beruntung seseorang dengan cepat menahan tubuh Keira dengan tubuhnya sendiri dari arah belakang hingga Keira pun selamat dari musibah jatuh dari tangga. Dan orang yang menahan tubuh Keira itu adalah Argha. Pemuda itu sedang terburu-buru juga naik ke lantai atas menuju kelasnya.


Argha yang angkatan satu tahun di atas Keira kebetulan hari itu sedang terlambat datang ke jam mata kuliah pertamanya. Pertemuannya dengan Keira pun diluar dugaan Argha. Namun sosok Keira yang menawan, dengan kepolosan yang tampak murni tak dibuat-buat langsung meluluhkan hati Argha saat itu juga.


Dengan dalih akan mengantarkan Keira ke ruang Tata Usaha dan membantunya dalam proses daftar ulang, Argha melupakan niat awalnya untuk mengejar jam pertama perkuliahannya di hari itu.


Sejak saat itulah, bagai seorang Superhero yang selalu datang ketika Keira membutuhkan sesuatu, Argha selalu ada untuk membantu gadis itu. Dimanapun dan kapanpun.


Hingga suatu hari, ketika Argha menyatakan cintanya pada Keira tepat di tengah-tengah anak tangga. Tempat mereka pertama kali bertemu. Dengan membawa sebuket bunga mawar putih berjumlah empat puluh tujuh tangkai, yang menandakan jumlah hari dimana mereka mulai saling mengenal satu sama lain.


Keira langsung menerimanya dengan hati yang sangat bahagia, saking bahagianya saat itu, Keira sampai menangis terharu dalam pelukan Argha.


Tak terasa air mata Keira kembali luruh ketika mengingat kembali potongan-potongan kenangan indah yang dimilikinya dengan Argha---kekasihnya.


Keira masih enggan untuk percaya bahwa Argha tak lagi ada dihidupnya, di dunianya.


Tak lagi ada untuk memeluknya kala hatinya merapuh. Tak lagi ada untuk menghapus air matanya ketika hatinya terluka.

__ADS_1


Keira menekan dadanya yang mendadak sesak, sesak oleh ledakan rasa rindu yang teramat menyakitkan baginya kini.


"Aku kangen kamu, Gha." Keira membatin sambil memejamkan matanya kuat-kuat. Membuat linangan air yang tadinya hanya menumpuk dipelupuk matanya seketika mengalir. Tak mampu terbendung lagi.


***


@Tempat Pemakaman Umum


Tyo menatap nanar pada keranda yang tergolek bisu di atas tanah dekat lubang liang lahat yang belum selesai digali itu. Tyo sadar masih ada jasad Argha di dalamnya.


Rangka besi yang mengangkut jenazah Argha---adiknya, itu baru saja ia diturunkan dari pundaknya ketika harus menggotong keranda itu bersama beberapa kerabat lainnya dari mobil ambulance ke dekat tempat persemayaman terakhir Argha.


"Bagaimana bapak-bapak? apakah masih lama siapnya?" tanya seorang pemuka agama kenalan dekat keluarga besar Tyo kepada para penggali kubur yang masih terus bekerja dibawah sana.


"Maaf, Pak. Sedikit lagi selesai." jawab salah satu dari mereka sementara yang lainnya tetap sibuk menggali.


"Nak Tyo, tolong kamu gantikan ayahmu yang masih sakit untuk mengantarkan adikmu ke peristirahatan terakhirnya." ucap pemuka agama itu dengan menepuk-nepuk punggung Tyo.


Ketika liang lahat telah rampung digali, dan jenazah Argha sudah siap untuk dikebumikan. Dua orang kerabat dengan sigap turun ke dalam lubang itu. Lalu mereka menunggu Tyo untuk ikut turun dan membantu meletakkan jasad Argha ke dalamnya.


Tyo mendadak terpaku. Dirinya tak sampai hati harus menidurkan Argha di dalam sana. Hatinya tak kuat membayangkan tubuh Argha nantinya harus ditimbun tanah-tanah yang basah dan berat itu. Meninggalkan adiknya seorang diri di dalam sana. Tyo sungguh tak mau.


Kedua mata Tyo sudah mulai mengembun saat sang pemuka agama kembali menepuk punggungnya, membuyarkan Tyo dari lamunan pilunya.


"Bagaimana nak Tyo?" ulang pemuka agama itu. "Kalau tidak sanggup jangan dipaksa, biar kerabat yang lain yang membantu menurunkan jenazah Argha." tambahnya lagi.


Tyo tak mampu bersuara. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya mulai bergetar. Melihat hal itu sang pemuka agama pun memeluk bahu Tyo erat dan akhirnya meminta kerabat yang lain untuk menggantikan Tyo.


***


Keira dan Rizzi yang datang terlambat menuju tempat Argha dimakamkan rupanya terlanjur melihat prosesi pemakaman Argha dari kejauhan.

__ADS_1


Langkah kaki Keira spontan terhenti saat dilihatnya dari jauh beberapa orang yang menggotong tubuh yang terbalut kain putih itu untuk dimasukkan ke dalam liang lahat.


Keira ingin meronta dan memohon ke orang-orang itu agar jangan memasukkan Argha ke dalam sana. Tapi suaranya mendadak bisu. Dan kedua kakinya lemas seketika. Keira pun ambruk dalam sadar.


Rizzi bergegas menghampiri Keira untuk membantunya berdiri kembali, namun gadis itu bergeming. Digelengkannya kepalanya kuat-kuat tanda tak ingin meneruskan perjalanannya.


"Aku gak sanggup, Riz." Keira memejamkan matanya lagi. "Aku gak sanggup liat Argha dikubur. Demi Tuhan, aku gak bisa." Keira menutup mulutnya sambil terisak.


Gadis itu lalu berdiri dan memilih pergi dari tempat itu. Keira memilih melarikan diri daripada menghadapi kenyataan bahwa Argha memang telah benar-benar pergi dari dunia ini untuk selamanya.


Rizzi sempat termangu. Tak tahu harus memberikan respon seperti apa melihat kegetiran gadis yang telah berlalu dari hadapannya itu. Namun akhirnya Rizzi mengejar Keira hingga ke pintu masuk area pemakaman itu.


Langkahnya terhenti ketika dilihatnya Keira sudah masuk ke sebuah taksi yang kebetulan melintas. Rizzi lalu terdiam. Dibiarkannya gadis itu pergi. Mungkin lebih baik membiarkan gadis itu sendiri dulu hingga Keira sanggup menguatkan hatinya lagi.


***


Tyo mengusap-usap batu nisan yang terlihat baru itu. Batu nisan yang tertancap di gundukan tanah yang masih merah dan penuh taburan bunga. Batu nisan yang bertulisakan nama serta tanggal kelahiran dan kematian seorang ARGHA PRATAMA.


"Maafin gue karena belum bisa jadi kakak yang baik buat elo, Gha." Tyo terisak. "Maafin gue karena gue gak becus nganter elo ke peristirahatan terakhir elo. Maafin gue atas semua kelemahan gue. Maafin gue..." Tyo tak sanggup lagi meneruskan kata-katanya.


Terlalu banyak yang masih ingin ia sampaikan pada mendiang adiknya itu. Pun begitu banyak yang masih ingin ia lakukan bersama mendiang Argha. Namun apa boleh dikata, kala takdir telah menentukan nasib seseorang. Tak ada yang bisa mencegah ataupun menolaknya.


To Be Continue....


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2