Replacement Lover

Replacement Lover
KELUARGA BARU


__ADS_3

@Rumah Keluarga PRATAMA


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu yang cukup lama mengingat banyaknya kemacetan yang beberapa kali menjebak mobil mereka selama perjalanan, akhirnya tibalah juga Keira dan Tyo di kediaman keluarga Pratama.


Keira turun dari mobil dengan mulut ternganga. Ia terpesona dengan pemandangan di rumah keluarga Tyo itu. Lokasinya yang tepat di pinggir laut membuat rumah Tyo mempunyai pesisir pantainya sendiri di sisi kanan rumah itu.


Keira tak pernah menyangka, jika rumah Tyo bisa berada di salah satu sisi pantai yang menjadi icon paling terkenal di kota mereka. Bahkan saking iconiknya, nama pantai itu sampai dijadikan salah satu nama jalan raya di kota itu.


"Kamu kenapa bengong?" tanya Tyo pada Keira yang masih terpesona.


"Aku nggak nyangka. Sama sekali nggak pernah nyangka bisa ada rumah tepat di pinggir pantai begini, di kota ini loh." Keira takjub sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.


Tyo tersenyum geli melihat reaksi Keira terhadap rumah orang tuanya.


"Emang boleh ya bangun rumah di sini? Ini bukannya kawasan wisata yang seharusnya milik pemerintah?" tanya Keira lagi.


Tyo jadi tertawa lebar mendengar pertanyaan polos Keira itu. "Kalau nggak boleh bangun rumah di sini, terus gimana bisa orang tuaku punya rumah di sini, Keira." jawab Tyo.


"Oh iya ya." Keira meringis setelah tersadar bahwa pertanyaannya barusan mungkin terdengar konyol.


"Mas Tyo, ini barang-barangnya di taruh di mana ya?" Pak Yusam bertanya sekaligus membuka bagasi mobil.


"Tolong taruh semuanya di kamar saya saja, Pak!" perintah Tyo pada Pak Yusam.


"Baik, Mas!" jawab Pak Yusam.


"Yuk masuk yuk!" ajak Tyo akhirnya sambil merangkul pundak Keira.


Keira mengangguk dan membalas rangkulan Tyo dengan memeluk pinggang pria itu. Mereka pun melangkah bersama menuju pintu utama dengan saling berpelukan.


"Ehh, Mas Tyo sudah pulang!" pekik Mbok Sri seperti biasa. "Ini pasti Mbak Keira ya? Duuhh cantik ee!"


Mbok Sri langsung memeluk Keira tepat setelah ia membukakan pintu. Membuat Tyo mau tidak mau melepaskan rangkulannya dari pundak Keira. Dan Keira membalas pelukan Mbok Sri dengan canggung.


"Ayo, Mbak, Mas, masuk!" ajak Mbok Sri setelah melepaskan pelukannya pada Keira.


"Ayah sama Ibu dimana, Mbok?" tanya Tyo celingukan.


"Bapak sama Ibu sedang menunggu di ruang keluarga, Mas. Mbok disuruh langsung antar kalian kesana kalau Mbak Keira sama Mas Tyo sudah datang." jelas Mbok Sri.


"Ooh, gitu." Tyo manggut-manggut mendengar penjelasan Mbok Sri. "Mbok nggak perlu antar, kita bisa kesana sendiri. Mbok tolong bawakan minuman hangat aja ya buat Keira!" pinta Tyo pada Mbok Sri.


"Nggeh, Mas. Beres." jawab Mbok Sri ceria sambil mengacungkan ibu jarinya.


"Yuk, Kei!" dengan menggenggam tangan Keira erat, menyelipkan jari jemarinya di antara jari-jari Keira, Tyo mengajak Keira menuju ruang keluarga.


Tok. Tok. Tok.


Tyo mengetuk pintu ruang utama itu sebelum membukanya. Namun secara tiba-tiba saja pintu itu sudah terbuka dari dalam.


"MANTU-kuuuu...!" pekik Ny. Naina riang sambil langsung memeluk Keira tanpa ragu. Ditepuk-tepuknya punggung Keira dengan antusias.


Sontak saja Tyo dan Keira kaget melihat reaksi Ny. Naina saat bertemu Keira. Keira pun hanya berdiri dengan canggung menerima perlakuan Ibu Tyo itu.


"Capek ya di jalan tadi? Sini-sini beri salam dulu ke ayah lalu duduk dekat Ibu!" ajak Ny. Naina lalu membimbing Keira untuk menghadap Pak Ruslan yang sedang duduk di sofa utama di ruang itu.


Tyo terpaksa mengalah pada Ibunya yang kentara sekali sangat senang menyambut Keira di rumah mereka. Perlahan dilepaskannya tautan pada jemari mereka agar Keira dapat mengikuti kemana Ny. Naina melangkah.


Melihat Keira dan Ny. Naina mendekat, Pak Ruslan langsung berdiri lalu merentangkan tangannya sambil tersenyum, bersiap untuk menerima Keira dalam pelukannya.


Keira yang masih canggung pun lebih dulu melirik kepada Tyo, dan ketika dilihatnya Tyo mengangguk sambil tersenyum, Keira lalu membalas pelukan Pak Ruslan dengan hangat.

__ADS_1


"Selamat datang, Nak!" sambut Pak Ruslan saat Keira sudah dalam pelukannya. "Selamat datang di keluarga barumu!" tambah Pak Ruslan lagi sambil melepaskan pelukannya pada Keira.


Pak Ruslan lalu menatap wajah gadis yang mulai berkaca-kaca itu dan memberikan senyum ramah kebapakan yang selama ini belum pernah Keira lihat seumur hidupnya.


"Terima kasih sudah menerima Tyo. Dan bersedia masuk ke dalam keluarga kami, keluarga Pratama!" ucap Pak Ruslan tulus.


Mendengar ucapan tulus dari ayah Tyo seketika Keira menumpahkan air matanya. Keira merasa canggung sekaligus bahagia menerima perlakuan setulus itu dari seorang ayah. Kehangatan di hatinya terasa membuncah.


Air mata Keira membuat Pak Ruslan dan Ny. Naina seketika terpaku. Sementara Tyo dengan sigap segera mendekati gadis itu lalu memeluknya erat.


Tangis Keira semakin pecah di dalam pelukan Tyo. Keira merasa tak ada tempat senyaman di dalam pelukan Tyo untuk menangis, mencurahkan segala rasa dalam hatinya.


Melihat perlakuan Tyo pada Keira yang begitu manis membuat Pak Ruslan dan Ny. Naina menjadi takjub. Putra sulung mereka yang tak pernah dekat dengan lawan jenis bahkan terkesan sulit didekati kini nampak bagai seorang kesatria yang siap melindungi dan melakukan apapun untuk gadis pujaannya.


Kedua orang tua Tyo akhirnya hanya bisa saling lirik dan saling melemparkan senyum penuh arti melihat pemandangan romantis di hadapan mereka.


"Tyo, ajak Keira duduk, Nak! Kasian dia pasti capek berdiri terus gitu!" perintah Ny. Naina sambil menepuk punggung Tyo pelan membuat Tyo melepaskan pelukannya dari Keira.


Ny.Naina lalu meraih tangan Keira dan mengajaknya duduk di sofa panjang terdekat sambil menyodorkan sekotak tisu pada gadis itu.


Ibu Tyo tampak mendampingi Keira duduk di samping gadis itu dan sesekali membantu Keira menghapus air matanya tanpa melepaskan tangannya dari tangan Keira.


Sementara Tyo terpaksa duduk di sofa lain yang berseberangan dengan Keira. Dan Pak Ruslan pun kembali duduk di sofa yang sudah sejak awal didudukinya.


Sore itu mereka habiskan waktu bercengkerama bersama untuk saling terbuka dan saling mengenal sambil menunggu waktu makan malam tiba.


***


@Kediaman Pak Zein Imran


Di dalam ruang kerjanya, Pak Zein masih betah meratapi keterpurukannya. Entah sudah berapa lama pria itu mengurung dieinya sendiri di sana ia sendiri pun tak tahu dan tak peduli.


Saat Pak Zein tak dapat menemukan jawabannya, tiba-tiba saja Pak Zein merasakan hidupnya yang mendadak jadi hampa. Menjadi tak ada artinya, tak bermakna.


Kini Pak Zein bahkan tak tahu lagi, apa yang harus dilakukannya untuk bertahan hidup. Ia seakan sudah lelah untuk berjuang. Ia merasa sendirian. Ia merasa kesepian. Ia merasa kosong.


***


@Rumah Keluarga PRATAMA


Setelah makan malam, Tyo membawa Keira masuk ke kamarnya di lantai dua rumah keluarga Pratama.


Dan alangkah terkejutnya Keira ketika memasuki kamar itu, "Hah???!!!" pekik Keira tak percaya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Kenapa, Kei?" tanya Tyo tak kalah kagetnya melihat reaksi Keira saat memasuki kamarnya.


"Ini kamarmu?" Keira malah balik bertanya lalu memutar kepalanya untuk melihat ke setiap sudut kamar Tyo yang amat luas dan didominasi warna putih itu.


"Iya, ini kamarku. Kenapa memangnya Keira?" Tyo semakin heran melihat tingkah Keira.


Keira lalu duduk di tepian ranjang yang ada di kamar Tyo itu. Di usap-usapnya permukaan ranjang itu seakan sedang mengenang sesuatu dalam pikirannya.


Tyo mengikuti Keira, diambilnya bangku kecil di samping nakas lalu Tyo mendudukkan dirinya menghadap ke arah Keira. Kini posisi mereka berdua sudah sama-sama duduk saling berhadap-hadapan.


"Kamu tahu? Sebelum aku sadar di Rumah Sakit itu, aku sempat bermimpi." kenang Keira.


"Mimpi apa?" tanya Tyo sambil meraih tangan Keira lalu menggenggamnya.


"Aku mimpi aku terbangun di kamar ini. Mataharinya sangat terang saat itu di mimpiku. Sampai menempus korden tipis itu, menerangi seluruh kamar." Keira bercerita sambil menunjuk pada jendela besar di satu sisi kamar Tyo itu.


Tyo mengernyitkan keningnya, merasa penasaran akan cerita Keira yang selanjutnya.

__ADS_1


"Dalam mimpi itu, ada Argha. Awalnya dia berdiri bersandar pada pintu itu." tunjuk Keira pada daun pintu yang tertutup di belakang Tyo. "Dan setelah aku terbangun dari ranjang ini. Argha lalu duduk di kursi itu tepat seperti yang kamu lakukan saat ini." tambah Keira sambil menatap Tyo dengan lembut.


Tanpa sadar genggaman tangan Tyo pada tangan Keira menjadi semakin erat. Sebersit pikiran muncul di benak Tyo.


Akankah perasaan Keira masih sepenuhnya tertuju pada Argha? Hingga Keira seolah masih mencari Argha bahkan dalam mimpinya. Lalu apa arti pengakuan cinta Keira padanya kemarin? batin Tyo.


"Argha memberi selamat padaku atas kehamilanku. Dia juga menyentuh perutku, di sebelah sini." Keira mengelus bagian perut yang dimaksudnya.


Tyo terdiam. Namun matanya tertuju pada tangan Keira yang sedang mengelus perutnya sendiri. "Apa lagi yang dikatakan Argha?" tanya Tyo makin penasaran.


"Aku tidak begitu ingat, Tyo. Tapi intinya, ucapan Argha menyadarkanku atas perasaanku ke kamu. Perasaan yang selama ini coba aku abaikan." nafas Keira mulai berat tatkala mengingat kembali mimpinya itu.


Tyo yang menyadari mata Keira yang mulai mengembun, perlahan mengusap pipi gadis itu dengan penuh kasih sayang.


"Argha ingin kita bersama, aku dan kamu. Dia ingin melihat dua orang yang sama-sama disayanginya bersatu. Dia minta aku percaya sama kamu." Keira mulai terisak.


Hati Keira merasa nyeri membayangkan segala pengorbanan Argha untuknya semasa hidupnya. Dan kini, di saat Argha telah tiada pun, bahkan jiwa Argha seakan memilih mengalah demi perasaan Keira yang sudah tertuju pada Tyo.


"Aku...merasa malu pada Argha, Tyo! Tapi dia meyakinkanku bahwa perasaanku tidak salah! Dia...sama sekali...tidak menyalahkan kita berdua...atas perasaan kita." suara Keira semakin bergetar seiring isak tangisnya yang kian menjadi. Air mata Keira kembali meluncur dengan derasnya.


Melihat Keira yang menangis dengan teramat pilu, membuat Tyo turut merasakan sesak di dadanya. Hatinya trenyuh membayangkan adiknya---Argha, yang rela mengalah demi cintanya pada Keira.


Bahkan jika Argha masih hidup pun, Tyo yakin, Argha akan tetap mengalah saat dirinya tahu bahwa Tyo dan Keira pada akhirnya akan memiliki perasaan yang sama.


To Be Continue....


.


.


.


.


.


Haaaiii, READERSkuuu!!!😘😘😘


Hari ini aku mau promosiin tulisanku yang lain, judulnya SEJUTA CINTA, sebuah Kumpulan Cerita Pendek 😁✌️


.



.


Cerita pertama udah Tamat πŸ˜‰


.


Judulnya : AMNESIA MENDADAK (21+)


.


Sinopsisnya:


*Lyra tanpa sengaja memergoki perselingkuhan Melody---model cantik yang akan dinikahi sahabatnya---Max, dengan Dylan yang notabene adalah rekan bisnis Max.


Ditengah kegalauan untuk mengadukan perselingkuhan Melody kepada Max. Kecelakaan itu lebih dulu terjadi. Kecelakaan yang menghilangkan memori Max tentang kekasihnya---Melody, tanpa menghilangkan ingatan Max bahwa dirinya mempunyai kekasih.


Entah apa yang merasuki Lyra hingga nekat mengaku-ngaku sebagai kekasih yang telah dilupakan Max. Apakah ingatan Max tentang Melody akan kembali? atau malah hilang untuk selamanya*?

__ADS_1


__ADS_2