
.
.
.
Beberapa bulan kemudian...
Pagi itu Keira sedang bersiap-siap pergi ke sebuah Klinik Bersalin yang pernah diperkenalkan oleh dokter Melina padanya untuk mengikuti kelas Antenatal*.
Setelah dirasa semua persiapannya beres, Ia pun meminta sang suami untuk menemaninya turun tangga karena takut jatuh jika ia turun sendiri.
Maklumlah, perutnya yang sudah amat membesar membuatnya sulit melihat anak tangga yang harus ia tapaki di bawah kakinya.
"Kapan kita bisa pindah ke kamar bawah? Aku ngeri liat kamu naik turun tangga terus gini." tanya Tyo sambil memegangi tubuh istrinya untuk menuruni tangga pelan-pelan.
"Kata Ibu, kamar yang di bawah baru kelar kemaren di renovnya, jadi baru besok kita boleh pindah ke kamar itu. Kalo sekarang masih bau cat." jawab Keira.
"Ini semua karena Ibu cerewet banget, banyak maunya. Jadi molor kan selesainya kamar itu. Padahal kamu udah tinggal menghitung hari aja HPLnya?" Tyo mengomel.
"Ibu tuh bukannya cerewet sayang, cuman dia maunya yang terbaik buat kita, buat anak kita juga. Cucunya. Ya wajarlah!" bela Keira.
"Iya deh iya, dasar mantu kesayangan!" Tyo hanya bisa cemberut saat Keira terus saja membela Ibunya.
"Lagian kata Bu dokter tuh, HPL itu cuman perkiraan, bisa maju, tapi bisa juga mundur tanggalnya. Jadi tenang ajalah kamunya. Enggak usah parno gitu!" cecar Keira.
"Lah iya kalo mundur, nah kalo tau-tau kamu lahirannya besok, gimana coba?" Tyo masih berusaha menyanggah pernyataan Keira tadi.
"Ya enggak apa-apa lah. Lebih cepat lebih baik. Aku dah enggak sabar pengen liat muka anak kita." ujar Keira dengan wajah cerah.
Hanya dengan membayangkan sebentar lagi ia akan bisa menimang-nimang anaknya saja hatinya sudah begitu bahagia.
"Tapi besok kan katanya mau jemput Vynt di bandara, gimana bisa kalo kamu lahirannya besok?" tanya Tyo dengan memiringkan kepalanya.
"Ya Ampun, sayang. Yang bilang aku beneran lahiran besok juga siapa, hmmm??? Kan kamu tadi yang berandai-andai, kenapa jadi kaya bakalan lahir besok beneran sih ah! Heran deh!" Keira jadi sewot sendiri menanggapi suaminya itu.
Dan Tyo hanya bisa menahan senyum saat melihat istrinya yang tetap cantik meski dengan perut membulat itu mulai menampakkan wajah cemberutnya.
Mereka lalu menuju mobil yang sudah disiapkan Pak Yusam di depan pintu utama. Tyo yang menyetir sendiri, takut kalau-kalau kejahilan Keira pada orang lain kumat lagi terhadap Pak Yusam jika pria tua itu mengantar mereka ke Klinik Bersalin tersebut.
Meski setelah memasuki trimester akhir, cara ngidam Keira yang nyeleneh itu sudah mulai berkurang, tapi Tyo tetap harus antisipasi sebab segala hal tentang istrinya selalu sulit ia prediksi.
Berbeda tentang urusan perusahaan yang selalu dapat Tyo kendalikan serta prediksikan, namun jika sudah menyangkut urusan Keira---istrinya, seakan semuanya terasa baru bagi Tyo. Mungkin benar kata pepatah, wanita adalah makhluk yang paling sulit dimengerti.
Sesampainya Keira dan Tyo di Klinik Bersalin yang memiliki fasilitas lengkap tersebut, mereka memutuskan menunggu dimulainya kelas di ruang tunggu klinik.
Mereka berdua yang kebetulan duduk di kursi barisan paling depan secara tak sengaja mendengar percakapan tiga orang ibu hamil lainnya yang duduk di barisan belakang mereka.
"Ntar kalo anakku yang menurut hasil USG ini cewek beneran, mau aku kasih nama Vanni. Karena nama bapaknya Irvan dan nama ibunya, yaitu aku---Nani, digabungin jadi ketemu nama Vanni deh. Pas bagus!" ujar ibu hamil yang pertama.
"Oh anakku juga diprediksi perempuan nanti. Lahirnya mau aku kasih nama Ayu, soalnya nama ayahnya Achmad trus namaku Yuli, jadinya Ayu kalo digabungin. Bagus juga kan?" tanya Ibu hamil yang kedua.
"Iya, bagus tuh!" balas Ibu Nani.
Sementara itu, ibu hamil yang ketiga tampak diam saja mendengar rencana pemberian nama dua orang temannya.
Lalu si Ibu Nani dan si Ibu Yuli pun bertanya, "Kalo nama anakmu nanti siapa? Sudah ketemu namanya?" tanya mereka kompak.
"Masih belum ketemu nih namanya." jawab Ibu hamil ketiga. "Soalnya aku bingung, nama suamiku Abbas, sedangkan namaku Komang. Masa' anakku dinamain Baskom? Kalo dibalik lagi jadinya Mangab! Nggak ada yang bagus kan?" imbuhnya dengan menghela nafas panjang.
"Oohhh iya-yaaa." balas Ibu Nani dan Ibu Ayu lagi-lagi dengan kompak.
Keira dan Tyo yang mendengarnya sontak menahan tawa mereka. Namun akhirnya Keira tak kuat lagi, ia lalu pamit ke suaminya untuk ke toilet sebentar. Rupanya gara-gara menahan tawa tadi ia sampai kebelet pipis.
Saat kelas Antenatal sudah dimulai, seorang instruktur yang bertugas hari itu pun meminta para peserta kelas untuk berganti baju dengan baju untuk berenang karena materi kelas hari itu adalah tentang cara berenang yang aman saat hamil.
"Baik ibu-ibu dan bapak-bapak, silahkan anda semua berganti baju khusus untuk berenang karena sesuai informasi yang sudah saya sampaikan di akhir kelas minggu lalu, hari ini kita akan belajar di kolam renang!" titah instruktur tersebut memberikan instruksinya.
Keira pun mengikuti para ibu-ibu lainnya menuju ruang ganti namun ia hanya akan membuka dress luarnya saja karena Keira sudah memakai baju renangnya sejak di rumah tadi.
Begitu sampai di kolam renang yang menjadi salah satu fasilitaa Klinik tersebut. Keira dan ibu-ibu lainnya lebih dulu melakukan peregangan sebelum nyemplung ke dalam air.
__ADS_1
"Bagi yang tidak datang bersama pasangan atau suaminya bisa berpegangan pada besi di tepi kolam ya ibu-ibu!" seru sang instruktur.
Keira pun menunggu suaminya yang belum nongol dari ruang ganti, namun saat dirinya baru duduk di tepian kolam untuk mulai memasukkan kakinya, tiba-tiba saja Tyo muncul di sisinya dan sudah lebih dulu masuk ke air dengan pakaian lengkap.
Ternyata suaminya itu tidak ganti baju tapi hanya mengganti celana panjangnya menjadi celana pendek selutut.
"Lho..lho..loh, kamu nggak ganti baju, Tyo?" Keira nampak kaget.
"Aku lupa kalo baju renangku ada di apartemen, karena enggak sempet ngambilnya ya udah begini aja berenangnya. Aku enggak mau ah kalo disuruh topless di depan ibu-ibu, cukup di depanmu aja aku begitu?" jawab Tyo sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda Keira.
Keira tersipu sekaligus baper sendiri mendengar ucapan suaminya yang tidak ingin memamerkan tubuhnya di depan orang lain. Padahal Keira tak keberatan jika hal itu dilakukan untuk urusan belajar seperti ini.
Tapi biarlah, ia akan membiarkan suaminya itu melakukan yang ia mau. Karena masih untung Tyo mau mengizinkannya mengikuti kelas antenatal yang juga termasuk kelas berenang di dalamnya. Karena di luar dugaan Keira, Tyo termasuk suami yang suka memonopoli istrinya.
Sejak menikah, ada satu sifat Tyo yang baru diketahuinya setelah menikah. Ternyata suaminya itu bisa jadi sangat menguasai dirinya. Jika di Tyo sedang di rumah, Keira harus selalu ada di sampingnya.
Jika nyatanya Keira sedang melakukan sesuatu, justru Tyo yang akan terus menempel padanya hingga Keira terpaksa menghentikan kegiatannya itu. Belum hobi baru Tyo yang membuat Keira kewalahan, yaitu suka jahil padanya. Suaminya itu selalu punya sejuta akal bulus untuk menggodanya.
Keira sampai tak habis pikir, padahal dulu sebelum menikah sama Tyo. Pria itu tampak selalu kalem. Tapi setelah menikah, Tyo seperti tak pernah merasa puas menggodanya. Memang betul apa kata orang, kita tidak akan mengetahui sifat asli pasangan sebelum kita menikahinya.
Dan benar saja, saat Keira mencoba berenang. Ada saja tingkah usil yang dilakukan Tyo padanya. Membuat Keira jadi tidak konsentrasi lagi untuk berenang dan akhirnya malah hanya bermain air dengan suaminya itu.
Tanpa mereka berdua sadari, tingkah mereka membuat baper sekaligus ngiler ibu-ibu lainnya yang tak bersama pasangan. Bagaimana tidak, sudah perilakunya kaya anak ABG yang baru pacaran, visual keduanya pun tampak mencolok mata.
Saking mencoloknya, ibu-ibu yang mengikuti kelas itu jadi tanpa sadar membandingkan suami mereka masing-masing dengan Tyo.
Sebaliknya, para bapak-bapak yang hadir menemani istrinya pun turut membandingkan visual Keira yang tetap cantik meski buncit dengan istri-istri mereka yang kebanyakan sudah berubah wujud.
"Ibu Keira dan Pak Tyo tolong fokus ya. Kita sedang belajar bukan bermain!" tegur sang instruktur dari tepi kolam renang dengan menggunakan pengeras suara.
Mendengar teguran dari sang dokter, mereka berdua pun hanya bisa nyengir sambil menepi di pinggir kolam.
"Iissshhhh, kamu niihh! Aku mau berenang malah digodain, jadi kena omel instrukturnya kan tuh!" Keira mengerucutkan bibirnya. "Segitunya yaa yang enggak mau dicuekin?" tambahnya sambil mencubit pipi Tyo dengan gemas.
"Emang!" jawab Tyo singkat malah membenamkan wajahnya pada dada istrinya yang nampak semakin membesar karena efek hormon kehamilannya.
"Ya udah, ya udah, aku bantuin pegangin sini!" balas Tyo akhirnya.
Dan lagi-lagi tingkah keduanya yang enggak peka pada tatapan mata sekitarnya membuat baper para peserta kelas antenatal yang lain.
***
@Bandara Internasional
"Jam berapa sih Vynt landingnya?" tanya Beth pada Said.
"Aturan sih udah landing dia, kan tadi pengumumannya dah kedengeran. Harusnya sih Vynt sekarang dah turun." balas Said.
"Ooh dah denger pengumuman tho?" tanya Keira.
"Yaelah, Kei. Udah tadi, masa' lo enggak denger juga sih?" timpal Said.
Keira pun menggeleng, pasalnya telinganya memang tidak fokus pada announcement bandara itu karena pikiran Keira justru sedang fokus pada nyeri yang ia rasakan di perutnya.
"Aduuhhh, kok mules banget ya gue?!" batin Keira. "Salah makan apa ya???" tebaknya.
Namun ia tidak berani memberitahukan apa yang dirasakannya itu kepada sang suami maupun teman-temannya yang sedang sama-sama menunggu kedatangan Vynt. Ia khawatir yang dirasakannya hanya kontraksi palsu.
Setelah enam bulan magang di Thailand serta tambahan waktu tiga bulan karena Vynt pulang ke Korea demi menjenguk orang tuanya di sana, akhirnya pemuda blasteran itu pun pulang juga ke Tanah Air.
Keira yang merasakan mulas campur nyeri di perut bawahnya hanya mencoba untuk latihan nafas sendiri seperti yang ia pelajari di kelas senam ibu hamil sambil memegangi perutnya.
"Semoga baikan...semoga enakan...." do'a Keira dalam hati.
"Eh itu tuh, tuh Vynt tuh dah nongol!" Beth langsung melompat-lompat sambil melambai-lambaikan kedua tangannya begitu dirinya melihat sosok Vynt keluar dari gate kedatangan.
"Vyynnttt...!" panggil Said.
Untungnya Vynt langsung mendengar panggilan Said tersebut. Dan ia pun langsung berjalan menuju ke tempat teman-temannya menunggu sambil menggandeng seseorang.
__ADS_1
"Loh, Fa?!" seru Tyo heran. "Kamu kok bisa bareng Vynt?" tanya Tyo lagi.
"Ya bisa lah, dia ini kan tunangan gue!" sahut Vynt sambil merangkulkan tangannya di pundak Fady.
Dan seketika mereka semua melongo melihat pandangan itu. Bagaimana bisa??? Lebih tepatnya...sejak kapan??? Namun tiba-tiba...
"Aarrrgggghh....Tyooooo!" teriak Keira yang masih duduk di kursi ruang tunggu.
Tyo dan yang lainnya pun jadi menoleh ke arah Keira. Dan mereka semakin kaget saat melihat wajah Keira memucat sambil mengerang kesakitan dan memegangi perutnya. Ada cairan bening yang bercecer di bawah kursi yang di duduki Keira.
"Ya ampun lo ngompol, Kei?" tanya Said asal.
"Haahhh?! Yang bener?!" Beth tak percaya.
"Bukan, itu ketuban kayanya!" sahut Fady yang langsung setengah berlari mendekati Keira bebarengan dengan Tyo.
"Perutku sakit bangettt, kaya mau keluar ini anaknya! Tolooongg!" rintih Keira.
"Cepetan kita mesti ke Rumah Sakit sekarang! Air ketubannya udah pecah!" teriak Fady.
Tyo pun langsung menggendong tubuh istrinya yang menegang bercampur gemetar itu menuju mobilnya.
"Vynt, lo yang supirin mobil gue ya!" pinta Tyo sambil melemparkan kunci mobilnya pada Vynt.
"Id, tolong lo beresin koper-koper gue dan punya Fady juga. Masukin mobil lo aja. Lo bawa mobil sendiri kan?" teriak Vynt pada Said setelah menangkap kunci mobil Tyo.
"Iya, iya, gue beresin. Beth! Bantuiinnn!" teriak Said sambil menepuk pundak Beth yang malah bengong melihat Keira yang kesakitan begitu.
Akhirnya mereka berenam bersama-sama menuju ke Rumah Sakit terdekat dengan dua mobil yang berbeda.
Tyo memangku kepala istrinya itu sambil mengusap-usap punggung Keira yang meringkuk kesamping persis seperti yang dilakukan Ny.Naina dulu saat Keira mengalami kontraksi dini.
"Atur nafasmu, Kei! Kamu ikutan senam kehamilan enggak? Coba inget-inget harus apa!" tanya Fady pada Keira dari kursi penumpang di sebelah Vynt yang fokus mengemudi.
Keira tak mampu menjawab Fady namun ia pun mencoba mengatur nafasnya sesuai anjuran Fady tadi. Exhale-Inhale-Exhale-Inhale. Namun sesekali ia juga berteriak saat kontraksi yang dirasakannya semakin kuat.
"Aaarrrrhhh...sakiiitt!" teriak Keira sambil mencengkeram lengan Tyo. kuat-kuat.
Tyo lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu menelepon sang Ibu.
📱TYO PRATAMA
Halo Bu, air ketubannya Keira pecah di bandara, ini kita lagi on the way ke Rumah Sakit terdekat. Ibu susulin ya sekalian bawa perlengkapan lahirannya.
📱NAINA PRATAMA
Haahh, apa? Iya-iya. Ibu beresin dulu perlengkapannya sekarang!
📱TYO PRATAMA
Buruan Bu!
📱NAINA PRATAMA
Iyaaa, aduuh! Ibu jadi panik ini!
📱TYO PRATAMA
Ya udah, aku tutup.
"Ya Tuhan, sakit banget ini. Cepetaaannnn!!!" pinta Keira dengan menjerit.
To Be Continue....
.
.
.
*Kelas ANTENATAL adalah kelas yang mempersiapkan ibu-ibu menjalani kehamilan dan persalinan. Materi yang disampaikan para instruktur memberikan kesempatan untuk belajar tentang apa yang terjadi selama dua momen penting tersebut. Tidak hanya itu, instruktur kelas antenatal akan memberi ibu-ibu beberapa tips tentang cara merawat bayi. Tentunya, ini sangat berguna apabila ini adalah kehamilan pertama.
__ADS_1