
@Rumah Sakit Umum
Keira berjalan bagai mayat hidup saat dirinya sudah keluar dari ruang dokter. Masih terngiang jelas percakapannya dengan dokter wanita di dalam tadi.
"Menurut pemeriksaan kuantitatif dari laboratorium, hasil tes darah menunjukkan bahwa kadar hormon hCG* dalam darah anda meningkat hingga 5 - 426 mIU/mL."
Dokter itu memberi jeda pada penjelasannya. Diamatinya wajah Keira singkat lalu meneruskan diagnosanya kembali.
"Yang artinya, ada indikasi kehamilan selama tiga sampai empat minggu dari periode menstruasi terakhir anda, Nona Keira." lanjut Bu Dokter masih dengan suara yang tenang.
"Tapi beberapa waktu lalu saya ingat masih mendapat menstruasi kok, Dok. Walaupun cuman dua hari dan hanya berupa bercak darah, bukan menstruasi normal seperti biasanya." Keira mencoba berkilah. Berharap semua diagnosa itu hanya kesalahan analisa sang dokter.
"Kemungkinan munculnya bercak darah itu menandakan bahwa embrio hasil pembuahan telah berhasil menempel di dinding rahim. Jadi menurut saya itu bukan darah menstruasi. Itu juga kondisi normal bagi dua puluh tujuh persen wanita hamil di trimester pertama mereka." terang Bu Dokter masih dengan sabar dan senyum.
Seketika bahu Keira melorot. Wajahnya pucat pasi mendengar penjelasan panjang Bu Dokter itu. Pikiran Keira menjadi kalut dan takut.
"Saya sarankan anda melakukan USG untuk lebih memperjelas kemungkinan kehamilan anda, Nona Keira."
Bu Dokter yang merasa iba melihat perubahan wajah Keira pun menyarankan langkah berikutnya untuk Keira jalani.
"Dari USG, anda bisa mengetahui secara akurat tentang usia kehamilan dan posisi janin yang masih berupa gumpalan darah." Bu Dokter menambahkan.
Keira tepekur. Jangankan untuk USG, saat ini melihat perutnya sendiri saja Keira sudah merasa takut jika benar telah ada benih kehidupan di dalam sana.
***
Dari kursi ruang tunggu Rumah Sakit, Vynt dapat melihat langkah gontai Keira dari kejauhan. Kening Vynt langsung mengernyit melihat sikap dan ekspresi Keira yang tampak aneh.
Didekatinya lebih dulu gadis yang masih berusaha untuk berjalan tegak itu meski kedua kakinya sudah terasa gemetaran sejak dari dalam ruang dokter tadi.
"Lo kenapa? muka lo pucet gitu?" tanya Vynt cemas.
Keira tak menjawab. Gadis itu tak tahu harus menjawab apa dan bagaimana. Keira bahkan tak tahu harus bicara apa dan dengan siapa mengenai masalahnya kali ini.
Vynt yang tak sabaran melihat tatapan kosong Keira segera menarik bundelan kertas hasil medical check up yang ada di genggaman gadis itu.
Dibukanya kertas itu lalu dibacanya dengan tidak sabaran. Tapi tak ada satu pun istilah yang Vynt mengerti yang tertulis di dalamnya.
__ADS_1
"Apa ini, Kei? Kenapa sih sama hasil tes kesehatan lo? Lo baik-baik aja kan?" Vynt berusaha mencecar gadis itu berharap Keira memberi jawaban atau mungkin memberinya petunjuk.
Namun yang terjadi di detik berikutnya malah, Vynt melihat Keira yang tiba-tiba berjongkok di tempatnya berdiri tadi sambil menangis sesenggukan.
"Gue mesti gimana, Vynt? Gue mesti gimana ini?" isak Keira.
Vynt melongo di tempatnya. Melihat ke bawah ke arah Keira yang menangis makin pilu tanpa ia tau sebabnya. Sebenarnya apa lagi yang terjadi pada gadis ini, batin Vynt bertanya-tanya.
***
@Apartemen Keira
Entah sudah yang ke berapa kali, Vynt mengambil dan menyodorkan tisu pada Keira yang masih betah menangis di sampingnya itu.
Sejak mereka berdua pulang ke apartemen Keira, Vynt memaksa Keira untuk menceritakan masalahnya.
Dan dengan terpaksa gadis itu pun mengurai kembali semua yang telah terjadi di bar dan di hotel itu pada sahabatnya. Itupun hanya sesuai yang dia ingat karena Keira sempat mabuk saat di Desperate Bar.
Keira merasa pikirannya buntu. Hingga dirinya membutuhkan orang lain untuk berbagi masalahnya dan membantunya mencari solusi atas masalah yang sangat pelik ini.
Vynt berkali-kali menarik nafas panjang mendengarkan pengakuan Keira yang jauh diluar dugaannya.
"Gue tanya sekali lagi, Kei. Lo jawab yang jujur! BENER, Tyo nggak maksa atau ngancem elo malam itu?" tanya Vynt tegas. Badannya menghadap ke arah Keira dan matanya menatap lurus ke dalam bola mata Keira.
Keira mengangguk satu kali menjawab pertanyaan pertama Vynt.
"Lo yakin, lo dalam kondisi sadar pas ngelakuin itu sama Tyo?" Vynt bertanya untuk yang kedua kali.
Dan Keira pun kembali mengangguk untuk yang kedua kali.
"Gue emang sempet mabuk, Vynt. Terus gue inget gue sempet muntah juga, habis itu gue ngantuk banget dan ketiduran. Tapi pas gue bangun lagi tengah malem itu, gue udah sadar sesadar sadarnya." jelas Keira sedikit berapi-api.
"Gue inget banget kok, pas bangun tengah malem itu, gue tidur di kasur sendirian sementara Tyo awalnya malah tidur di sofa. Gue yang nyuruh dia jangan jauh-jauh dari gue, Vynt. Karena gue takut sendirian. Dan setelahnya, karena terbawa suasana, akhirnya gue ngelakuin itu sama Tyo." Keira kembali menerangkan dengan suara yang makin lama makin pelan.
Keira menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sejujurnya ia teramat malu menceritakan aibnya pada Vynt meskipun Keira juga percaya bahwa Vynt bukan orang yang suka mengumbar aib orang lain apalagi aib sahabatnya sendiri.
"Ya ampuunnn, Keira. What's wrong with you?! Tyo itu kakaknya Argha, pacar lo. Bisa-bisanya kalian..." Vynt yang tak sanggup melanjutkan ucapannya lalu menyentuh keningnya yang mulai pening.
__ADS_1
"Gue yang salah, Vynt. Gue yang tergoda. Sementara Tyo, dia murni ngelakuin itu karena ada perasaan ke gue. Dia bilang dia cinta sama gue sejak awal, bahkan sejak Argha masih hidup." beber Keira mencoba membela Tyo dan menyalahkan dirinya sendiri.
"What??? Serius dia ngomong gitu." Vynt melongo mendengar penuturan Keira barusan. Dan Keira pun mengangguk mengiyakan lagi.
"Dan Tyo juga bilang mau tanggung jawab karena udah ngambil keperawanan gue." tambah Keira dengan lirih.
Vynt kembali tercengang. Jika apa yang diucapkan Keira itu benar berarti alasan kenapa Tyo selalu sigap saat Keira dalam masalah adalah murni karena didorong oleh perasaan Tyo sendiri. Bukan karena gadis itu adalah kekasih adiknya---yaitu Argha, pikir Vynt.
"Sekarang lo hubungi Tyo, minta dia dateng kesini sekarang juga atau tanya dimana dia, gue mau ketemu Tyo, gue mau ngomong empat mata sama dia!" titah Vynt.
"Gak bisa, mungkin sekarang Tyo masih di luar negeri. Terakhir kali dia kesini, dia pamit ke gue mau keliling ke beberapa negara. Ada kerjaan penting katanya. Gue disuruh nunggu dia." Keira menjelaskan.
"Terakhir kali maksud lo yang lo ketemuan sama Tyo di taman bawah malem-malem itu?" Vynt mencoba menebak.
"Lo liat gue sama Tyo?" giliran Keira yang melongo saking tak percayanya bahwa dirinya ternyata sudah ketahuan. Hanya saja Vynt tak pernah membahasnya apalagi berpikir yang tidak-tidak seperti dugaannya.
Vynt mengangguk, "Gue liat lo keluar gedung pas gue habis belanja dari minimarket bawah, gue ikutin, ternyata lo lagi ketemuan sama Tyo, ya udah gue trus balik ke atas." bongkar Vynt.
Keira termangu. Menatap kosong pada segunung bekas tisu yang sudah lecek di pangkuannya.
"Kayanya emang lo harus USG deh, Kei. Biar jelas, lo emang hamil atau nggak." Vynt menyetujui saran Bu Dokter tadi. "Gak usah takut, gue temenin. Nanti kita pikirin lagi musti gimana kalo udah lebih jelas hasilnya, oke?" tambah Vynt sambil mengusap lembut kepala Keira.
Keira terpaksa menurut sebab hatinya masih kalut hingga pikirannya mawut jadi bergantung pada seorang Vynt mungkin adalah hal yang tepat untuk ia lakukan saat ini.
***
To Be Continue...
.
.
.
.
*hCG (human Chorionic Gonadotropin)
__ADS_1
hCG merupakan hormon yang diproduksi tubuh saat masa hamil. Tepat setelah adanya pembuahan, plasenta memproduksi hCG untuk menjaga produksi progesterone, yaitu hormon lain yang memiliki peran penting dalam menjaga kehamilan di tahap-tahap awal kehamilan/trimester pertama.
Tes hCG dilakukan untuk memeriksa hormon hCG dalam darah atau urin. Tes hCG bisa digunakan untuk mendeteksi kehamilan atau sebagai bagian dari tes kelainan kehamilan.