Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : TERSEGEL


__ADS_3

.


.


.


Untuk yang kesekian kali Beth melirik ke arah Rizzi yang sedang fokus menyetir. Entah kenapa hari ini, kekasihnya itu seperti sedang memikirkan sesuatu yang cukup pelik.


Rizzi yang selalu ramai, selalu banyak bicara, kini tiba-tiba menjadi diam seribu bahasa. Bahkan ketika mereka hanya berdua saja dalam perjalanan pulang ke rumah Beth, Rizzi tetap membisu.


Rizzi kenapa ya??? Kok tumben diem aja?! Apa ini ada hubungannya sama rapat keluarganya tadi siang??? Ada masalah apa sebenarnya???


Beth menerka-nerka dalam hati. Meski begitu, mulutnya seakan kelu untuk menanyakan apakah gerangan alasan sebenarnya dibalik aksi diamnya sang kekasih.


Sesampainya di depan pagar rumah Bethsa Putry, Rizzi tak langsung turun dan membukakan pintu mobilnya untuk kekasihnya itu seperti biasa. Lelaki itu tampak merenung untuk beberapa saat, masih dalam posisi memegang roda kemudi meski mesin mobilnya sudah ia matikan.


Beth menoleh ke arah Rizzi. Menatap lekat visual wajah pria itu dari samping. Mengagumi sekaligus mengkhawatirkannya di saat yang bersamaan.


Dan ketika pikirannya sedang melayang-layang digempur pertanyaan seputar apakah yang sedang pria itu pikirkan, tiba-tiba Rizzi memutar wajah ke arahnya. Membalas tatapannya lekat-lekat, lalu bertanya pada Beth...


"Aku boleh cium kamu nggak?" tanya Rizzi sambil menatapnya dengan serius.


Beth terkesiap. Secara otomatis mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya memekik lirih, "Haaaa???"


"Aku pengen cium kamu! Sekarang! Di sini! Boleh?" Ekspresi Rizzi nampak nyaris sendu di mata Beth.


Perasaan Beth seketika campur aduk. Antara kaget, deg-degan, takut, sekaligus senang. Jujur ia tak pernah melakukan hal semacam itu sebelumnya. Bagaimana mungkin Beth pernah melakukannya jika pacaran saja ia belum pernah.


Beth masih diliputi rasa gamang ketika Rizzi memanggil namanya, "Beth!" panggil Rizzi satu kali.


Beth tak merespon. Wajahnya masih menghadap ke bawah menatap kedua pahanya yang sedikit gemetar.


"Beth!" panggil Rizzi untuk yang kedua kali.


Beth masih bergeming. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat karena gugup. Rizzi yang melihatnya jadi tidak tega dan menyesal telah melontarkan permintaan konyol seperti itu terhadap kekasih yang baru dipacarinya beberapa hari.


"Bethsa Putry!" panggil Rizzi lagi, kali ini dengan sedikit penekanan.


"I-iya!" Beth mendongak. Ia menoleh ke arah Rizzi di sampingnya. Rizzi mendesah pelan.


"Maafin aku. Aku enggak ada maksud bikin kamu takut. Aku cabut deh permintaanku barusan. Anggap aja kamu enggak pernah denger omong kosong itu!" Rizzi mengulas senyum miris di akhir kalimatnya.


Bukannya merasa lega, Beth malah tertohok melihat ekspresi getir yang ditunjukkan oleh Rizzi. Hatinya tiba-tiba merasa nyeri. Ia tidak rela, sungguh-sungguh tidak rela jika pria yang dicintainya harus menunjukkan mimik wajah memilukan seperti itu.


Ketika Rizzi hendak membuka pintu mobil yang ada di sisi kemudi, Beth secepat kilat menahannya. Rizzi merasakan lengannya tertarik oleh sesuatu. Dan ketika ia menoleh, ternyata Beth menarik ujung lengan outer yang sedang di pakainya.


"Ada apa?" tanya Rizzi dengan lirih dan bingung.


Beth menunduk karena malu campur gugup. Namun pelan-pelan ia berhasil mengumpulkan keberaniannya juga. Beth mendongakkan kepalanya dengan setitik keberanian, menatap lurus ke arah Rizzi yang sedikit bingung dengan sikapnya.


"Kamu boleh cium aku kok!" jawab Beth dengan suara bergetar.


"Apa???" Rizzi tak percaya. Matanya terbelalak. "Serius?!" tanyanya lagi.


Dilihatnya Beth mengangguk kuat-kuat. Namun berakhir dengan menundukkan kepalanya. Rizzi yang sesaat sempat membulatkan matanya lebar-lebar, pelan-pelan kembali melembutkan tatapannya.


"Apa kamu yakin?" tanyanya dengan suara yang rendah dan dalam.


Sekali lagi Beth memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya menatap kedua manik mata Rizzi yang berkabut. Dan ketika dilihatnya kedua mata yang begitu mendambanya itu, Beth benar-benar telah luluh.


"Iya!" Kali ini ia berani menjawab tanpa memalingkan wajahnya dari hadapan Rizzi.


Rizzi tersenyum tipis. Ia lalu mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat ke arah Beth dan perlahan menarik tengkuk gadis itu. Dengan hati-hati, pelan namun pasti, Rizzi menghapus jarak di antara bibirnya dan bibir Beth. Wajah mereka berdua semakin dekat.


Dan ketika jarak di antara kedua bibir yang saling tarik menarik itu hanya tinggal beberapa milimeter lagi, Beth dengan refleks menutup kedua matanya rapat-rapat.


Senyum tipis Rizzi berganti dengan seringaian lebar melihat reaksi kekasihnya itu, lalu selama beberapa detik berikutnya, ia mencium bibir Beth yang tipis dan lembut dengan sedikit penekanan.


Benar-benar hanya ciuman biasa. Tanpa lumatan apalagi permainan lidah layaknya pro kisser ala-ala film Hollywood yang berpotensi menimbulkan peningkatan libido. Sama sekali bukan begitu.


Ciuman Rizzi barusan bahkan masih bisa dikategorikan sebagai sebuah kecupan. Kecupan yang malu-malu dan manis. Namun hal itu sudah cukup untuk membuat seorang Rizzi Riyant merasa puas, yaahh...setidaknya untuk saat ini.


Sedangkan Beth...keadaannya tidak baik-baik saja. Nafasnya tercekat, jantungnya berdentum bagai drum yang ditabuh saat orang-orang akan mengumumkan gelar juara. Sangat cepat, namun berirama.

__ADS_1


Dan wajahnya, jangan ditanya! Semerah tomat yang masak pohon dan ranum. Rona merah pada wajahnya bahkan sampai menjalar ke kedua cuping telinganya. Meski begitu, Beth lupa untuk menyembunyikan wajahnya itu.


Ia terlalu terpaku oleh gerakan Rizzi yang menarik diri begitu saja. Sebersit kecewa merayap di hatinya.


Berbeda dengan Rizzi, setelah ia mendapatkan ciuman yang diinginkannya dari sang kekasih, ia kembali menyeringai sambil berkoar,


"Fix tersegel! Mulai detik ini, itu punyaku!" tunjuk Rizzi ke arah bibir Beth yang baru saja dikecupnya. "Sekarang ayo, kita temui mamamu!" ajaknya dengan mata berapi-api sambil keluar dari mobilnya.


Ia tak lupa membantu Beth turun, lalu menggandeng tangan Beth memasuki rumah gadis itu. Beth terbengong-bengong dibuatnya tapi ia terlalu shock untuk menginterupsi tekad Rizzi yang sudah membulat.


"Selamat malam, Tante! Ada yang ingin saya bicarakan dengan tante dan Beth sekarang juga, bisa?" tanya Rizzi dengan wajah dan intonasi yang serius. Dan tanpa melepaskan gandengannya pada tangan Beth.


Ny.Maria yang baru saja membukakan pintu untuk mereka pun tak kalah bingungnya dengan situasi yang begitu tiba-tiba ini. Meski melongo, untungnya wanita itu masih bisa memberikan jawaban dari permintaan Rizzi dengan anggukan kepala.


Dan di sinilah mereka bertiga berkumpul tak lama kemudian. Di dalam ruang tamu mungil dirumah keluarga Beth. Rizzi, Beth serta mamanya duduk berhadap-hadapan demi mendengarkan apa yang akan Rizzi bicarakan.


"Apa yang ingin Nak Rizzi katakan pada kami?" Ny.Maria memulai.


"Sebelumnya saya minta tolong kepada Tante dan Beth untuk mendengarkan saya sampai akhir!" pinta Rizzi.


Beth dan mamanya saling pandang sesaat lalu mengangguk perlahan dengan kompak.


"Saya memberitahukan hal ini karena saya tidak mau ada salah paham dalam hubungan saya dengan Beth. Dan saya juga ingin menunjukkan kesungguhan saya terhadap Beth di hadapan Tante. Jadi sekali lagi, tolong! Tolong pahami niat saya!" ujar Rizzi dengan sungguh-sungguh.


Rizzi memberi jeda pada ucapannya. Ia berusaha mengumpulkan kembali keberaniannya sebelum menyatakan berita utama sekaligus yang terpenting. Sementara Beth tampak sangat gugup di sisi mamanya.


Gadis itu meremas tangan sang mama dengan erat. Ia melipat bibirnya kuat-kuat sebagai bentuk rasa gelisahnya.


Dengan mengambil nafas panjang lebih dulu, Rizzi akhirnya berkata...


"Papi saya menjodohkan saya secara sepihak dengan anak relasi bisnisnya. Saya baru tahu siang tadi saat dipanggil pulang ke rumah oleh Mami dan kakak-kakak saya. Untungnya, mereka mendukung saya menentang perjodohan yang telah dirancang Papi. Karena Mami lebih suka saya memilih jodoh saya sendiri dan berjanji akan merestui pilihan saya." ungkap Rizzi dengan tegas.


Hening. Sunyi. Senyap.


Kegugupan Rizzi mendadak muncul ke permukaan. Melihat Beth dan Mamanya yang belum menunjukkan reaksi, seketika ia menjadi gerah. Keringat dingin jatuh sebutir dari pelipis kanannya. Sekuat tenaga Rizzi menelan salivanya demi membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba mengering.


"Saya, akan sekuat tenaga mempertahankan Bethsa Putry di sisi saya. Saya punya dukungan sebagian besar keluarga saya untuk menghadapi Papi. Tolong, percaya pada saya! Saya akan membatalkan perjodohan ini!"


Diusapnya bulir-bulir keringat yang bermunculan di keningnya dengan punggung tangan. Ia lalu menautkan jari-jarinya demi menutupi kedua tangannya yang gemetaran.


Namun Ny.Maria terlanjur menyadari tangan dan suara Rizzi yang bergetar. Ibunda Beth itu lantas tersenyum tipis dan melemaskan punggungnya agar lebih rileks dan tetap tenang saat memberikan responnya terhadap kesungguhan Rizzi.


Tanpa memandang ke arah sang putri yang duduk di sampingnya, Ny.Maria menepuk-nepuk tangan Beth yang menggenggam tangannya semakin erat.


"Biasanya tante tidak suka berharap pada seorang pria. Tapi melihat keteguhan hati kamu, sepertinya kali ini tante harus memberikan pengecualian." ujar Ny. Maria dengan lembut.


Rizzi menahan nafasnya menunggu ibunda Beth itu menyelesaikan kalimatnya. "Sungguh tante???" serunya memastikan.


Ny.Maria mengangguk dengan yakin. Membuat Beth dan Rizzi menghela nafas lega mereka secara bersamaan. Air mata Beth sampai jatuh tak terbendung mendengar penuturan mamanya yang dengan tegas menyatakan telah mempercayai Rizzi dan memegang janji pria itu.


Beth langsung memeluk tubuh mamanya dari samping saking senangnya. Ia tak dapat lagi menahan perasaan bahagia yang bergejolak dari relung hatinya. "Makasi, Ma! Makasi banyak!" bisik Beth pada sang Mama.


Saat Rizzi berpamitan, Ny.Maria mencoba melunakkan sikapnya pada Rizzi. Ia kembali menyatakan dengan jelas bahwa ia tidak menolak Rizzi sebagai calon pasangan dari anak gadisnya. Hanya saja, sejak pengalaman buruk yang menimpanya, ia memang bukan pribadi yang gampang berharap.


Ny.Maria juga menyatakan terima kasihnya pada Rizzi yang sudah berani jujur atas konflik keluarganya. Dan mendo'akan agar Rizzi dan Beth dapat segera melalui rintangan ini dengan hasil yang baik.


Setelah masuk kembali ke dalam mobilnya, Rizzi tak lantas langsung menyalakan mesin mobil hasil produksi dari negara Jerman itu. Ia lebih dulu mengeluarkan ponselnya lalu menekan tombol calling untuk menghubungi seseorang.


Setelah nada sambung berhenti dan orang yang di seberang telepon telah menjawab, Rizzi langsung menempelkan ponsel pintar itu ke telinganya...


📱RIZZI RIYANT


Halo, Tyo! Gue mau minta tolong nih ke elo sama Keira. Penting!!!


Tyo yang memang sudah menunggu-nunggu kabar dari sahabatnya itu seharian ini, langsung sumringah.


📱TYO PRATAMA


Silahkan, Bro! Gue dan Keira pasti ngebantu elo!


Mendengar kesanggupan yang dilontarkan oleh sahabatnya itu, Rizzi tidak bisa menahan senyum puasnya. Ia jadi tak ragu lagi untuk membeberkan masalah termasuk rencana rahasianya kepada Tyo.


***

__ADS_1


Esoknya, di rumah keluarga Pratama...


Ny.Naina turun ke lantai bawah rumahnya sambil berdendang bahagia, nampaknya wanita paruh baya itu sedang senang hati hingga berjalan dengan sedikit melompat dan menari-nari.


Tyo yang baru keluar dari dapur untuk mengambilkan air panas yang dibutuhkan anaknya, seketika keheranan melihat tingkah sang ibu. Tyo berhenti melangkah untuk memperhatikan ibunya dari arah belakang sambil mengernyitkan keningnya tanda heran.


"Pinggang ibu enggak apa-apa tuh jalan pake loncat-loncat sama miring-miring gitu?" tanyanya tiba-tiba.


Ny.Naina yang kaget mendengar suara berat sang putra dari belakang sedikit terlonjak dibuatnya.


"Iisshh, kamu ini bikin ibu jantungan aja, Tyoo...!" gerutu Ny.Naina.


"Tyo cuman khawatir aja sama ibu. Perempuan seusia ibu kan biasanya udah osteoporosis. Tyo takut tulang ibu kegeser kalo jalan kaya kepiting keseleo gitu." balas Tyo dengan wajah datar.


Pria itu lalu kembali melanjutkan langkahnya yang baru separuh jalan ke ruang keluarga di mana anak dan istrinya berada. Melewati sang ibu yang nampak bersungut-sungut mendengar ucapan terakhir sang putra.


"Kurang asem!!! Dasar semprul!!!" rutuknya lalu mengikuti arah yang dituju Tyo tadi.


Ny.Naina memasuki ruang keluarga tak lama setelah Tyo masuk ke ruangan itu. Ny.Naina melihat ternyata anak dan menantunya sedang bekerja sama membuatkan susu dan menidurkan sang buah hati mereka, si kecil Argha.


Karena hari itu Mbak Ruka---babysitternya Argha kecil, sedang cuti. Maka Tyo memutuskan untuk bekerja dari rumah sambil membantu sang istri mengurus anak mereka.


Ny.Naina mendekati keduanya untuk berpamitan pada Keira dan Tyo sebelum pergi menemani Ny.Rukmini yang akan bertemu dengan Ny.Maria.


"Haah? Bu Maria itu siapa, Bu?" tanya Tyo bingung.


"Tante Maria itu mamanya Beth, sayang!" Keira yang menjawab pertanyaan suaminya.


"Trus, dalam rangka apa mereka ketemuan?"


Tyo yang sedang menepuk-nepuk punggung putranya agar bersendawa setelah minum susu mendadak kepo dengan urusan para emak-emak itu.


"Dalam rangka menjalankan misi rahasia. Hheheheehehe!" Ny. Naina tertawa dengan gaya menirukan karakter Sinto Gendheng dari drama kolosal Wiro Sableng.


Membuat Tyo dan Keira hanya meringis geli melihat tingkah nenek-nenek yang satu itu.


Sepeninggal Ny.Naina yang telah berlalu pergi, dan ketika sang anak mulai mengantuk di dalam baby swingnya, Tyo mulai merapatkan posisi duduknya pada sang istri.


Dari arah belakang Keira, Tyo melingkarkan kedua lengannya pada pinggang sang istri yang duduk bersila di depan baby swing si Argha kecil.


"Gantian dong ngasih perhatiannya! Buat aku kapan? Aku kan juga butuh kamu, sayang!" rengek Tyo dengan menyandarkan dagunya di atas kepala sang istri sambil merajuk.


"Sstttt, Argha barusan merem niihh, jangan berisik dulu biar dia enggak kebangun lagi." pinta Keira sambil mendongak dan menempelkan ujung jari telunjuk di depan bibirnya.


Entah kenapa di mata Tyo, tingkah Keira yang seperti itu malah terlihat begitu menggemaskan baginya. Dengan refleks Tyo menarik jari telunjuk yang menghalangi bibir istrinya itu sebelum akhirnya melum*at bibir Keira dalam-dalam.


"Aahhh, lumayan...dapat vitamin anti sariawan!" celetuk Tyo setelah melepaskan bibir Keira.


Keira yang mendengar kekonyolan suaminya langsung terkikik geli. "Bisaaaa, aja kamu, yang!" Keira geleng-geleng.


"Loh, kamu belum tahu ya kalo suamimu ini multitalenta? Aku bisa apa aja lho, yang!!!" Tyo mengumbar senyum smirknya. "Mau aku tunjukkin apa aja keahlianku?" tanyanya sambil mendekatkan wajah pada sang istri.


Keira langsung menarik tubuhnya ke belakang demi menghindari serangan dadakan lainnya dari sang suami.


"No, No, No!!! Enggak usah!!! Makasi banyak!" jawab Keira dengan tegas.


"Yakin nggak mau tahu??? Entah nyesel loh!!!" Tyo kembali tersenyum menggoda.


Keira yang seolah bisa melihat suaminya sudah berubah wujud menjadi serigala lapar langsung menggelengkan kepala kuat-kuat. Ia hampir saja bisa kabur ketika Tyo lebih dulu merebahkan tubuhnya di atas karpet super tebal yang ada di tengah-tengah ruang keluarga itu.


"Terlambat!!! Kamu udah masuk perangkapku!" ujar Tyo menyeringai.


Keira yang yang langsung pucat pasi hanya bisa pasrah ketika suaminya telah berseru, "Selamat menikmati!"


"Aaarrgghhh...!!!" erang Keira kesal.


.


.


.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2