Replacement Lover

Replacement Lover
RESTU


__ADS_3

Mendengar Tyo mengungkapkan niat baiknya untuk memperbaiki hubungan dengannya serta bersedia membuka hati untuk menerimanya setelah semua yang dilakukannya pada Keira yang nyatanya adalah calon istri Tyo, Pak Zein merasa teramat diberkahi.


Tuhan masih begitu baik padanya yang sudah seringkali menyakiti orang lain dengan segala arogansi dan kekuasaannya yang ternyata tak seberapa itu.


Apalagi bila dibandingkan dengan kekuasaan keluarga PRATAMA yang kini menaungi Keira, putrinya yang dulu justru ia sia-sia.


Sejak dirinya kehilangan hampir semua hal penting dalam hidupnya, Pak Zein jadi selalu teringat akan kesalahan-kesalahan yang dulu pernah diperbuatnya.


Khususnya kepada Keira dan Ibunya. Hal itulah yang membuatnya kini insaf dan berusaha memperbaiki diri maupun hidupnya.


Oleh sebab itu Pak Zein tidak merasa punya hak untuk marah kepada Tyo yang telah memperlakukannya dengan sinis di pertemuan pertama mereka saat itu.


Karena dirinya kini sadar, bahwa kesalahannya kepada Keira dan ibunya dulu sudah melebihi batas wajar kemanusiaan.


Tyo dan keluarganya pasti sangat mencintai dan menyayangi Keira hingga mereka melakukan segala cara untuk melindungi dan memberikan apapun kepada putrinya itu. Meski menyesal namun Pak Zein juga merasa bersyukur bahwa Keira kini tidak lagi menderita.


Pak Zein yang awalnya berusaha menyembunyikan ekspresi terharunya dengan menunduk, kini perlahan mulai mengangkat kepalanya untuk menatap Keira dan Tyo lebih lekat.


"Terima kasih, atas niat tulus anda, saudara Tyo. Baik kedatangan kalian sekarang ini, maupun niat baik kalian berdua, saya terima dengan setulus hati." ujar Pak Zein Imran dengan suara yang bergetar menahan sesak di dadanya.


"Saya juga mohon maaf sebesar-besarnya, Pak. Atas sikap dan perkataan saya tempo hari, yang sangat tidak sopan dan pastinya menyakiti bapak." tambah Tyo tetap dengan ekspresi seriusnya.


Keira lagi-lagi menoleh kepada Tyo mendengar ucapan pria itu. Dalam pikirannya, Keira bertanya-tanya, memangnya apa yang telah Tyo katakan dan bagaimana Tyo bersikap terhadap Papanya itu? batin Keira penasaran.


Sementara Pak Zein malah merasa malu mendengar permintaan maaf Tyo padanya. Pria yang menjadi calon suami anaknya itu begitu berani mengakui kesalahannya, dan begitu tulus meminta maaf kepadanya padahal Pak Zein tahu bahwa Tyo bersikap demikian kepadanya karena perasaannya yang dalam terhadap Keira.


Hanya manusia yang berhati besar yang mampu dengan tulus dan berani melakukan apa yang Tyo lakukan. Dan Pak Zein lagi-lagi merasa bersyukur karena Keira---putrinya, mendapatkan pria sebaik itu sebagai calon suaminya.


"Saya yang harusnya minta maaf lebih dulu." ucap Pak Zein pelan. "Saya yang telah melakukan banyak kesalahan terhadap Keira dan ibunya. Saya juga yang menyia-nyiakan mereka. Bahkan dengan meminta ampun sambil berlutut pun tidak akan bisa menghapus dosa Papa pada kamu dan ibumu, Keira." ungkap Pak Zein dengan suara serak karena tak mampu lagi membendung air matanya.


Pria tua itu pun kini terisak dalam duduknya. Bahunya berguncang karena isak tangis. Sebelah tangannya bertopang pada lututnya menahan getaran ditubuhnya, sementara sebelah tangannya lagi ia tutupkan pada kedua matanya yang kini telah basah.


Keira ikut menangis tertahan melihat kesedihan dan penyesalan Papanya. Seumur hidupnya, baru kali ini Keira melihat kondisi Papanya sedemikian pilu. Keira jadi tidak tega melihatnya lebih lama. Ia pun berdiri lalu mendekati Papanya itu untuk memeluk tubuh Pak Zein yang bergetar.


"Sudah Pa, sudaah....Keira maafin Papa. Keira pasti maafin Papa." ucap gadis itu yang akhirnya ikut menangis bersama Papanya.


Tyo hanya terdiam di tempatnya melihat Keira dan Papanya yang sama-sama menangis dan saling memeluk. Dia tidak akan menginterupsi momen maaf-memaafkan yang mendekatkan hubungan ayah dan anak itu.


Karena menurut Tyo, mungkin inilah pertama kalinya sepanjang hidup Keira dan Papanya, kedekatan itu terjalin. Tyo pun hanya bisa bernafas lega.


Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa ada sebersit rasa sesak yang turut Tyo rasakan dalam hatinya. Melihat Keira dan Papanya yang menangis sepilu itu, sejujurnya turut membuat Tyo merasa sedih.


Diam-diam, Daffi yang mengintip dari balik pintu kamarnya juga turut menangis. Hingga akhirnya pemuda itu tak tahan lagi lalu menutup pintu kamarnya pelan-pelan dan menangis seorang diri di dalam sana.


Pertama kalinya sejak rumah tangga Papa dan Mamanya hancur, baru kali ini Daffi menangisinya. Daffi yang akhirnya tahu kesalahan fatal yang dilakukan Mamanya hingga perceraian itu terjadi pun memilih untuk menjaga Papanya ketimbang ikut dengan Mamanya setelah diusir dari rumah.


Sama seperti Pak Zein Imran, sejak mereka hanya tinggal berdua di rumah itu, Daffi yang merasakan banyak perubahan positif dari Papanya jadi ikut termotivasi untuk merubah dirinya menjadi lebih baik juga.


Daffi yang bertekad bulat untuk menghentikan hobi ngegamenya yang sia-sia itu pun menghapus semua jenis game yang terinstal dalam berbagai macam gadget yang dimilikinya.


Ia bahkan tidak lagi memasang wifi dirumah dengan kecepatan terbaik yang biasa digunakan para gamer dan hanya menggunakan kuota standar untuk kebutuhan komunikasi pada ponselnya.


Daffi pun sempat menyesal telah menyia-nyiakan waktunya dulu untuk kuliah hingga ia di drop out dari kampus. Meski yang ia pelajari bukanlah bidang yang diminatinya namun seharusnya itu bisa menjadi kesempatannya untuk meraih kesuksesan dimasa depan.


Keira melepas pelukannya setelah menyadari getaran pada tubuh Papanya itu mulai mereda. Gadis itu lalu duduk di samping Papanya dengan masih menggosok punggung Papanya untuk menenangkan pria tua itu.

__ADS_1


Sesekali turut diusapnya air mata yang masih menitik satu dua tetes dari pelupuk mata Pak Zein saat mencoba meredakan emosi keharuannya. Saking fokusnya dengan air mata sang Papa, Keira malah melupakan air matanya sendiri yang masih terurai di wajahnya.


Melihat hal itu, Tyo pun berdiri mendekati Keira. Menarik keluar sepucuk sapu tangan dari kantong belakang celananya lalu menghapus air mata Keira dengan sapu tangan itu. Tyo melakukannya sambil duduk di samping Keira.


Keheningan seketika menyergap ruangan. Tiga orang yang kini duduk saling berdekatan itu sama-sama terdiam dan larut dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya Tyo yang lebih dulu membuka suara untuk memecah keheningan.


"Jadi apakah anda bersedia merestui pernikahan kami, Pak Zein?" tanya Tyo to the point.


Pak Zein lagi-lagi terkesima dengan sikap terus terang Tyo. Dirinya kini mulai terbiasa menanggapi sikap calon menantunya yang tegas dan nampak berwibawa di matanya itu.


"Apakah saya masih memiliki hak untuk memberikan restu pada kalian?" Pak Zein masih merasa bersalah hingga tidak percaya diri pada Haknya sendiri.


"Jika anda merasa sudah mengakui Keira sebagai darah daging anda, maka iya, anda punya Hak untuk itu, Pak Zein." tegas Tyo. "Dan Keira pasti akan sangat bersyukur karenanya." tambah Tyo lagi.


Pak Zein lalu menatap Keira yang duduk di sampingnya. Dilihatnya mata gadis itu berbinar dengan penuh pengharapan. Tidak ada amarah apalagi dendam di sana. Justru yang ia rasakan adalah kehangatan.


Pak Zein makin merasa menyesal telah menyia-nyiakan anak yang ternyata begitu menghormatinya ini. Bahkan setelah didepak dengan cara yang sedemikian kejamnya, Keira masih mengharapkan restu dari orang tua yang dzalim seperti dirinya.


"Papa akan merestui pernikahanmu, Nak! Mulai sekarang Papa akan berusaha menebus segala kesalahan Papa padamu di sisa hidup Papa." janjinya dengan menatap Keira.


"Apa Papa juga mau hadir di acara pernikahanku nanti?" tanya Keira dengan tatapan memohon.


"Jika itu bisa membuatmu bahagia, dan jika Tyo serta keluarganya mengizinkan kehadiran Papa, maka Papa akan datang, Nak!" jawab Pak Zein Imran.


"Selama Keira menginginkannya, kehadiran anda akan kami sambut dengan senang hati, Pak Zein." jawab Tyo lugas.


"Baiklah, kalau begitu saya akan hadir." balas Pak Zein dengan mantap.


"Ajak Daffi juga jika dia ingin ikut ya, Pa! Jangan biarkan dia sendirian!" pinta Keira penuh harap.


Pak Zein pun menganggukkan kepalanya menanggapi permintaan Keira itu.


Keira menoleh seketika ke arah suara, dan saat dilihatnya sosok yang dikenalnya dan telah begitu lama tak dijumpainya, Keira pun langsung berdiri dan segera mendekati orang itu.


"Bik Iyeehhh!" panggil Keira sambil memeluk wanita tua yang ternyata adalah asisten rumah tangga Papanya.


Bik Iyeh yang sudah lama bekerja untuk mereka pastinya sangat merindukan gadis itu sejak kepergiannya dari rumah ini. Keira jadi teringat saat dirinya dan ibunya ditindas oleh tante Rosa, hanya Bik Iyeh lah asisten rumah tangga yang berani membela mereka di depan tante Rosa.


Hal itu tentunya membuat tante Rosa bertambah murka, namun ia tidak bisa mengusik Bik Iyeh apalagi memecatnya karena Bik Iyeh adalah asisten rumah tangga yang dikirim langsung oleh keluarga besar Pak Zein. Konon Bik Iyeh sudah bekerja untuk keluarga besar Papanya itu sejak belia.


Dan ketika orang tua Keira baru menikah, Bik Iyeh diutus untuk menjadi asisten rumah tangga dalam kehidupan baru Papa dan ibu Keira itu. Bik Iyeh yang sedikit lebih tua dari Papanya itu sudah seperti keluarga bagi Keira.


"Ya ampun, Non! Bibik kangen banget sama Non Keira!" ujarnya penuh semangat. "Tadi Bibik habis dari minimarket depan komplek pulang-pulang kok ada tamu, mau Bibik tawarin minum ternyata malah ketemu Non Keira disini. Bibik seneeenngg ketemu lagi sama Non Keira!" ujarnya lagi dengan mata berbinar.


"Aku juga seneng banget ketemu lagi sama Bik Iyeh!" jawab Keira tak kalah semangat.


Mereka berdua berpegangan tangan cukup lama hingga Keira ingat untuk mengenalkan Tyo pada wanita tua itu.


"Oh iya, Bik. Kenalin ini Tyo, calon suamiku. Dan Tyo, ini Bik Iyeh. Orang yang sudah merawatku sejak kecil. Beliau sudah bekerja dengan orang tuaku bahkan sebelum aku lahir." Keira menarik Bik Iyeh mendekati Tyo dan memperkenalkan keduanya dengan antusias.


Tyo langsung berdiri ketika kedua wanita itu mendekat. Setelah Keira memperkenalkan siapa wanita tua itu padanya, dengan santun dan sikap yang lembut, Tyo lalu memeluk Bik Iyeh dengan hangat.


"Terima kasih atas kebaikan Bik Iyeh kepada Keira selama ini." ujar Tyo dengan menggenggam tangan Bik Iyeh yang sudah keriput setelah melepas pelukannya.


Menerima perlakuan Tyo yang ramah, Bik Iyeh jadi bersyukur bahwa Keira menemukan sosok yang baik sebagai calon suaminya.

__ADS_1


"Sama-sama, Den Tyo. Tolong jaga Non Keira baik-baik ya!" pesan Bik Iyeh seolah menitipkan Keira pada pria paling tampan yang pernah dilihatnya seumur hidupnya itu.


"Pasti, Bik. Bik Iyeh tidak perlu khawatir!" jawab Tyo tegas sambil memberikan senyum ramahnya pada wanita tua itu.


"Sebentar Bibik ambilkan minum dulu untuk kalian ya!"


"Jangan repot-repot, Bik. Maaf, tapi kami berdua tidak akan lama di sini sebab masih banyak yang harus kami lakukan. Mungkin lain kali saat kami mampir lagi." jawab Tyo cepat untuk mencegah wanita itu kembali ke dapur.


"Oh, begitu!" balas Bik Iyeh sambil kembali menatap Keira dengan penuh kerinduan.


"Apa kalian akan segera pulang?" tanya Pak Zein yang sudah berdiri dari duduknya.


"Betul, Pak. Kami mohon pamit karena saya dan Keira masih harus ke kantor untuk urusan merger PT. PERMATA dengan perusahaan saya PT. PERKASA!" pamit Tyo sambil melihat pada arloji di pergelangan tangannya.


Sedikit raut kecewa tergambar di wajah Pak Zein, namun dirinya tidak bisa menahan mereka lebih lama karena hal penting lainnya. Ia pun hanya bisa pasrah melepas kepulangan Keira dan Tyo dari kediamannya.


Setelah memberikan pelukan perpisahan dengan Bik Iyeh dan Papanya, Keira akhirnya mengikuti Tyo menuju mobilnya. Dan meninggalkan rumah Papanya itu dengan penuh kelegaan.


***


Setelah Keira dan Tyo pamit pulang, Daffi menghampiri Papanya yang masih tepekur sendiri di ruang tamu.


"Pa...!" panggil Daffi lirih sambil duduk disebelah Papanya itu.


Pak Zein menoleh ke arah putranya, "Ada apa, Fi?"


"Daffi mau belajar lagi boleh?" tanya Daffi pelan dan hati-hati.


Pak Zein nampak sedikit menggeser duduknya agar lebih condong ke arah Daffi. "Kamu mau belajar apa, Nak?" Pak Zein balik bertanya.


"Sekarang Daffi tahu bidang apa yang Daffi minati, Pa. Daffi suka multimedia, dan Daffi pengen mempelajari itu lebih dalam biar jadi anak yang berguna buat Papa. Biar kelak bisa jadi kebanggaan Papa seperti yang selama ini Papa harapkan dari Daffi." jelas Daffi sungguh-sungguh.


Pak Zein manggut-manggut mendengar tekad dari anak lelakinya itu. Ia sangat senang dengan niat Daffi untuk belajar lagi, meski masih sebatas niat tapi hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bangga pada Daffi.


"Belajarlah, Nak! Belajarlah di bidang yang kamu minati! Papa tidak akan memaksakan kehendak Papa lagi, tidak akan mengatur-ngatur kuliahmu lagi. Papa serahkan semuanya padamu asal kamu menjalaninya dengan sungguh-sungguh." Pak Zein menepuk pundak Daffi sambil mengatakan itu.


"Tapi, Pa! Mempelajari multimedia membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mungkin Daffi akan ambil kursus singkatnya saja untuk menghemat biaya." terang Daffi.


"Jangan pikirkan biayanya, Nak! Pilihlah kampus terbaik yang sesuai dengan bidang yang kamu sukai itu. Papa akan membiayai semuanya." ujar Pak Zein tanpa ragu.


"Tapi, Papa..."


"Kamu tidak perlu khawatir, Fi! potong Pak Zein, "Papa berencana menjual rumah ini mengingat ukurannya yang terlalu besar untuk kita berdua serta Bik Iyeh. Biaya perawatannya juga mahal. Untuk menghemat pengeluaran kita kedepannya, kita bisa cari rumah yang lebih sederhana yang sesuai untuk kita berdua. Nanti kita tetap ajak Bik Iyeh untuk ikut bersama kita selama dia bersedia." jelasnya kemudian pada putranya itu.


Daffi hanya diam mendengar rencana Papanya, pemuda itu terlihat masih ragu.


Pak Zein pun lalu menepuk pundak pemuda itu, "Jangan pikirkan soal biaya! Karena kebaikan keluarga mertua kakakmu, Papa masih punya tabungan yang cukup untuk membiayai kuliahmu. Apalagi jika ditambah dengan sebagian hasil penjualan rumah ini setelah kita membeli rumah baru. Semua itu lebih dari cukup untuk kita, Nak!" jelas Pak Zein meyakinkan Daffi.


"Apa kelak Papa tidak akan menyesal menjual rumah ini?" tanya Daffi masih sedikit ragu.


"Papa rasa Papa tidak akan menyesalinya, Nak! Sekarang Papa menyadari sepenuhnya, bahwa memiliki segalanya bukanlah tujuan akhir, tapi awal dari proses tanggung jawab sebagai bentuk rasa syukur kepada Yang Maha Memberi." ucap Pak Zein dengan bijak.


Daffi yang terharu mendengar ucapan Papanya, diam-diam berjanji dalam hatinya bahwa kali ini ia akan bersungguh-sungguh dalam belajar agar menjadi kelak ia dapat menjadi anak yang berguna bagi Papanya.


To Be Continue....

__ADS_1


**Jangan lupa like and komennya yaa pembacaku sayaanngg....semua komen kalian adalah mood boosterQ dikala semangatku mulai surut atau disaat aku kekurangan ide ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


LOVE U ALL** โค๏ธโค๏ธโค๏ธ


__ADS_2