
.
.
.
Tyo yang masih merasakan getar dalam hatinya setelah menerima hadiah yang romantis dari sang istri hanya bisa terdiam sambil memandangi wajah Keira dengan rona bahagia.
"Udah dong ngeliatin akunya!" pinta Keira malu.
"Mas Tyo! Ini mau ditanda tangan atau nggak ya surat nikahnya?" tanya Pak Penghulu membuyarkan kebaperan Tyo terhadap istrinya.
"Eh, Iya Pak. Mau-mau. Saya mau tanda tangan kok." jawab Tyo kikuk.
Setelah sesi penanda-tanganan surat nikah di depan penghulu dan para saksi juga para orang tua rampung. Rizzi yang menjadi pendamping pengantin pria lalu melangkah maju mendekati Tyo untuk menyerahkan cincin pernikahan yang sedari tadi dibawanya.
"Moga-moga aja, setelah hari ini gue yang cuman jadi pendamping pengantin, dalam waktu dekat bisa buruan nyusul jadi pengantin juga!" Rizzi menggumankan do'anya dengan lirih sambil menyerahkan kotak kecil dari beludru itu ke tangan Tyo.
Tyo menahan tawanya mendengar do'a Rizzi yang terkesan ngarep banget itu. Sementara Vynt yang berdiri di belakang Rizzi dan juga mendengar gumaman pria itu langsung menepuk pundak Rizzi pelan.
"Cari calonnya dulu bang, baru boleh ngehalu!" goda Vynt.
Rizzi langsung merengut mendengar ucapan Vynt barusan, "Calonnya udah ada kok, cuman belom sempet gue lamar aja!" bisiknya sambil melirik pada Beth yang sedang berdiri di belakang Keira.
Gadis itu tak memperhatikan Rizzi yang sedang meliriknya karena fokus melihat sesi penyematan cincin yang sedang dilakukan oleh Tyo. Dimata Rizzi, Beth yang kala itu memegangi buket bunga sang pengantin wanita tampak bagaikan pengantin wanita itu sendiri.
Tyo tampak sumringah memasangkan cincin kawin berbahan Platina* dengan hiasan berlian di atasnya itu ke jari manis Keira yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Pertanyaannya, emang lo yakin tuh cewek bakalan langsung nerima lamaran lo?" Vynt terkikik geli melihat ekspresi bete Rizzi setelah mendengar ucapannya itu.
"Sialan lo, temen lagi baper malah dibikin tambah galau. Mak DEG hati gue nih denger omongan lo barusan!" omel Rizzi.
Mau tidak mau Vynt menutup mulutnya demi menahan tawa. Pasalnya eskpresi Rizzi memang menampakkan kebaperan yang begitu nyata. Nih orang beneran udah pengen kawin kayanya, pikir Vynt geli.
Meski telinganya samar-samar mendengar percakapan antara Rizzi dan Vynt namun Tyo memilih mengacuhkannya untuk sementara, padahal mulutnya begitu tergelitik untuk ikut mengomentari percakapan itu. Kapan lagi ada kesempatan membully Rizzi atas kejombloannya yang sudah akut.
Ketika Tyo telah selesai memasang cincin di jarinya, Keira lalu mengambil cincin satunya dengan desain yang lebih polos untuk ia pasangkan ke jari manis Tyo.
Setelah cincin pernikahan yang indah itu tersemat di jari manis kedua pengantin, keduanya pun lalu memamerkan simbol pernikahan suci mereka itu kepada para undangan sekaligus di hadapan fotografer yang selalu siap untuk mengabadikan setiap momen penting hari itu.
Dan momen itu jelas tak akan dilewatkan begitu saja oleh para undangan yang rata-rata masih saudara, baik saudara jauh maupun saudara dekat.
Mereka dengan sigap segera mengambil foto kedua mempelai yang tampak serasi dan sama-sama mempesona itu
dengan kamera ponsel mereka masing-masing.
Entah apa yang akan mereka lakukan dengan foto Keira dan Tyo dalam balutan busana pengantin itu.
"Pengantinnya kaya pemeran utama di drama Thailand Pink Sin itu nggak sih? iya nggak?" ujar salah seorang kerabat sambil menyikut saudara disebelahnya.
"Eh iya lho kalo diliat-liat lagi. Mirip bangeettt. Dua-duanya." timpal kerabat yang lain.
"Sapa-sapa? Nama pemerannya itu? Lupa gue." sahut yang lainnya lagi.
"Nama yang cowok, Pon Nawasch kalo nggak salah deh. Bentar-bentar gue tanya mbah Google dulu." jawab kerabat berikutnya. "Eh, bener loh. Mas Tyo mirip banget sama Pon Nawasch, nih liat!" ujar kerabat itu sambil menunjukkan gambar hasil pencarian Google-nya ke kerabat yang lain.
"Trus-trus ceweknya juga mirip tuh sama pengantin wanitanya, siapa tuh? Bua-Bua...sapaaaa gitu deh!" balas kerabat yang tadi.
"Bua Nalinthip!!!" tiba-tiba seorang kerabat lagi ikutan nimbrung.
"Oia bener, bener bangeett. Gilaakk, bisa mirip gitu ya mereka!"
Dan mereka pun menutup percakapan yang tidak penting namun menarik untuk disimak itu dengan saling berdecak kagum kepada kedua mempelai.
Dan ketika para undangan memasuki sesi ramah tamah, kedua mempelai menggunakan kesempatan itu untuk mengabadikan momen spesial mereka.
Lagi-lagi, ketika mengetahui kedua mempelai sedang berfoto, sebagian besar undangan malah lebih heboh mengerubuti pengantinnya untuk turut mengambil foto mereka bahkan melebihi tugas sang fotografer sebenarnya.
Bukannya malah mengerubuti bermacam-macam hidangan menggiurkan yang sudah disiapkan oleh pihak hotel untuk jamuan di acara akad nikah tersebut.
Setelah keseluruhan acara akad nikah yang berlangsung selama dua jam itu berakhir. Mbak Devy memberi jeda waktu untuk kedua pengantin beristirahat sejenak sekaligus mempersiapkan diri kembali untuk acara resepsi yang menurut jadwal akan digelar pukul enam sore ini.
Keira lalu digiring oleh Ibu dan Ibu mertuanya kembali ke ruang ganti. Beth pun tampak mengekor dibelakangnya karena turut membantu memegangi ekor gaun Keira yang menjuntai ke lantai.
__ADS_1
Sementara Tyo dan para teman cowoknya, secara beriringan menuju sebuah lounge yang disiapkan khusus sebagai tempat beristirahat kedua mempelai sekaligus keluarga inti.
Disana Tyo bertemu para Ayah yang ternyata sudah lebih dulu nongkrong sambil bercengkerama. Melihat kedatangan Tyo dan teman-temannya memasuki lounge itu, Pak Ruslan langsung memanggil Tyo untuk mendekat.
"Cieee, yang udah jadi kepala keluarga, sekarang nongkrongnya sama bapak-bapak! Xixixixi." celetuk Rizzi ketika Tyo baru saja menggangguk untuk menjawab panggilan Ayahnya itu.
"Berisik lo! Tolong ambilin gue minum donk, aus banget nih!" pinta Tyo pada sahabat itu.
"Gimana nggak aus lo, barusan nikahin bidadari. Kering-kering deh tuh tenggorokan nelen liur mulu." ocehnya sambil menuju ke meja khusus minuman.
"Ayah manggil?" tanya Tyo setibanya ia di meja yang berisikan Pak Ruslan, Pak Zein Imran, dan Pak Armand.
"Ayah sudah siapkan Bridal Suite buat kamu sama istrimu menginap malam nanti. Tapi kalian bisa pakai selama yang kalian mau sih. Tidak hanya untuk malam ini saja." kata Pak Ruslan.
"Trus, para orang tua gimana? Langsung pulang setelah acara?" Tyo melepas dasi kupu-kupu beserta jas pengantinnya.
"Nggak sih, nanti malam kita sekeluarga nginap di President Suites semua kok. Kecuali Pak Zein, karena besok beliau harus bekerja." jawab Pak Ruslan.
Terlihat Pak Zein Imran mengangguk untuk mengkonfirmasi ucapan Pak Ruslan itu.
"Ooohh, oke deh, kalo gitu aku minum dulu, Yah. Haus banget nih!" pamit Tyo.
"Makan sekalian, Nak! Takutnya nanti nggak sempat pas tamu-tamu udah pada dateng." titah Pak Ruslan pada putranya itu.
Tyo pun hanya menjawab dengan acungan jempol kepada Ayahnya sambil berlalu pergi ke menuju meja para bujangan yang diisi oleh Rizzi, Vynt, dan Said.
***
Selepas Maghrib, acara resepsi pun dimulai. Kedua pengantin yang sudah sama-sama berganti busana menjadi lebih mewah kali ini memasuki ballroom secara berdampingan.
Keira tampak glamour memakai gaun broken white dengan hiasan payet yang membentuk bunga-bunga timbul di seluruh bagian dada hingga ke pinggang. Berbeda dengan gaun akad putihnya yang berekor panjang, gaun resepsi ini memiliki rok yang sangat mengembang.
Tak jauh berbeda dengan Tyo yang juga makin menawan dengan jas yang senada dengan gaun Keira. Pria itu tampak bagaikan pangeran dari negeri dongeng yang menjelma nyata di hadapan para tamu undangan.
Satu per satu tamu undangan yang mencapai seribu orang itu hadir untuk memberi selamat kepada kedua mempelai. Beberapa karakter protagonis yang sempat muncul di episode-episode sebelumnya tampak turut hadir di pesta itu. Salah satunya Mbak Silvi, Owner dari Silvia and Joe Chocolate.
"Ya Ampuuunnn, Kei! Mbak nggak nyangka akhirnya bisa dapet undangan nikahan kamu sama Tyo juga. Udah tak angen-angen sejak lama lhoo." pekiknya langsung heboh kala tiba gilirannya untuk bersalaman dengan mempelai.
Keira yang teramat kangen dengan mantan bosnya itu pun langsung memeluk Mbak Silvi dengan erat.
"Sama-sama, sekali lagi selamat yaa buat kalian berdua. Moga langgeng moga samawa!" balas Mbak Silvi tak kalah tulusnya.
Setelah mengucapkan itu, Mbak Silvi lalu turun dari panggung pelaminan untuk bergantian dengan tamu lain yang sedang mengantri untuk bersalaman dengan mempelai.
Mengingat ada lima ratus undangan yang tersebar serta melihat jumlah tamu yang hadir, bisa dikatakan acara tersebut sukses besar karena dapat dipastikan jika seluruh undangan tidak ada yang tersia-sia.
Saat tamu-tamu undangan mulai mereda. Tyo dan Keira memutuskan untuk turun pelaminan dan bergabung dengan teman-teman mereka di round table.
"Serius amat gaes, udah kaya lagi ngadain konferensi meja bundar aja!" seru Tyo sambil menarik sebuah kursi untuk tempat duduk Keira. Setelahnya baru ia menarik kursi disamping istrinya itu untuk ia duduki sendiri.
Beth yang sejak acara akad tadi sudah takjub dengan kuku Keira langsung menarik tangan mempelai wanita itu agar dapat memperhatikan kuku Keira lebih seksama.
"Kuku lo cantik bangeett...Kei!" puji Beth tulus. "Ada bunga-bunganya nongol gitu!" matanya berbinar menampakkan kekagumannya.
"Sayang nggak bisa buat ngupil!" sahut Said ringan. "Gue curiga, jangan-jangan itu upil yang dibentuk bunga trus dikasih glitter biar kelap kelip." tebak Said kumat gesreknya.
"Omongan lo jijay banget sih!" gerutu Beth dan Keira bersamaan.
Vynt yang tadinya ikutan tertawa mendengar kekonyolan Said mendadak berdiri dari duduknya dengan eskpresi kaget campur heran. Seakan ia baru saja melihat sesuatu yang mengejutkannya.
"Lo kenapa, Vynt?" tanya Said yang bingung dengan tingkah Vynt yang tiba-tiba itu.
"Bentar ya gaes, kayanya ada kenalan gue nih di sini. Gue samperin dulu deh!" pamitnya kali ini dengan ekspresi yang sudah berubah menjadi berbinar-binar.
Melihat raut wajah Vynt yang jarang terlihat itu, sontak saja Keira, Beth, dan Said jadi penasaran. Siapakah gerangan orang yang diakuinya sebagai kenalan itu.
Secara otomatis, mata ketiganya lalu mengekori kemana pun langkah Vynt tertuju. Dan mereka lebih kaget lagi kala melihat Vynt mendekati seorang wanita yang nampak lebih dewasa dari Vynt namun cantik.
"Cewek itu siapa?" tanya Keira kepada siapapun yang ada disana.
"Gue belum pernah liat cewek itu sebelumnya." ujar Beth.
"Sama, gue juga baru kali ini liat cewek itu. Dan gue juga baru liat Vynt sedeket itu sama cewek selain lo berdua!" tambah Said dengan mata yang tak berkedip melihat kecantikan wanita yang kini sedang ngobrol dengan Vynt.
__ADS_1
Tyo dan Rizzi yang ikutan penasaran pun mengikuti ketiga sahabat itu menatap ke arah Vynt dengan kenalan wanitanya.
"Kayanya gue kenal!" tiba-tiba Tyo bersuara.
"Haahhh???" seketika semua kepala di meja itu berputar ke arah Tyo dengan kompak.
"Siapa?" tanya Keira pada suaminya dengan memicingkan mata.
"Jangan curiga dulu napa, Say! Masa kamu nggak inget, cewek itu kan tadi juga udah salaman sama kita?" Tyo malah balik bertanya.
"Ya ampun, Tyo. Gimana aku bisa inget kalo dalam beberapa jam harus salaman sama ratusan orang." balas Keira tak habis pikir.
"Hehehe." Tyo lalu terkekeh.
"Lha teruuuuuss???" tanya Rizzi gemas. "Cewek itu siapa jadinya?" imbuhnya lagi.
"Sepupu gue, keponakannya Ayah!" jawab Tyo singkat.
"Oooo...."
Tapi setelah mendengar jawaban Tyo, Said makin penasaran bagaimana Vynt bisa kenal dengan sepupu Tyo itu. Namun belum sempat ia bertanya lebih lanjut tiba-tiba terdengar suara genit yang menyapa.
"Haaaiiii, Tyo dan Keiraaa! Duuhh pengantinnya kok malah duduk di sini sih? Udah nggak betah di kursi pelaminan, hmmm?" pekik Andrea sambil mengalungkan lengannya pada leher Tyo.
Beth yang melihat Keira santai-santai saja mengetahui suaminya dirangkul wanita lain yang bahkan tak kalah cantik jadi bingung pada sahabatnya itu.
"Selamat ya, Kei!" ucap Andrew sambil mengulurkan tangan pada Keira.
Keira pun menerima uluran tangan Andrew dengan sumringah, "Thank you juga udah dateng. Tapi kok malem banget sih kalian?" tanyanya.
"Andrea tuh yang resek. Lama banget milih bajunya, belom dandannya!" tampak Andrew bersungut-sungut.
"Gue kan pingin nggak kalah cantik dari pengantin wanitanya. Makanya gue dandan habis-habisan. Tapi nyatanya tetep aja lo lebih cantik, Kei! Sumpah iri banget gue!" rengeknya genit. Dan kali ini ia malah memeluk leher Tyo dari belakang.
"Lepasin nggak! Engap nih gue!" perintah Tyo tegas.
Dan Andrea pun melepaskan rangkulannya setelah mendapat lirikan tajam dari Keira.
"Iya-iyaa gue lepasin laki lo, deeuuhhh....lirikanmu setajam silet, Buk! Takut ahh, eneng!" canda Andrea dengan genit. "Tapi congrats ya buat kalian berdua!" ujarnya kemudian sambil cipika cipiki pada Keira.
"Anyway, boleh dooonngg kita dikenalin sama temen-temennya ini!" pinta Andrea kemudian.
Memang, meski Rizzi dan Tyo berkawan dan Rizzi pernah dengar tentang Andrew yang adalah asisten Tyo di PT. PERKASA. Namun mereka sama sekali tidak pernah bertemu. Apalagi dengan Andrea.
Dan malam itu, Tyo pun berkesempatan mengenalkan kedua anak buahnya itu. "Kenalin gaes, yang cowok Andrew, yang cewek Andrea. Dua-duanya kerja bareng gue di PT. PERKASA."
Rizzi, Beth, dan Said pun bergantian menjabat kedua tamu Tyo itu. Said tampak begitu terpesona dengan Andrea. Ia merasa beruntung hadir di pesta Keira dan Tyo ini hingga berkesempatan bertemu dengan begitu banyak wanita cantik.
"Kalian bersodara? Blasteran?" tanya Rizzi setelah Andrea dan Andrew sama-sama ikut duduk di meja bundar itu.
"Iya, kita kembar!" jawab Andrew. "Dan memang campuran Finlandia dan Banyuwangi." imbuhnya.
Sementara Andrea yang duduk di antara Beth dan Said tampak sudah berbincang hangat dengan Said. Beth pun menyikut lengan Keira untuk memberi kode agar Keira melihat raut muka Said yang kentara sekali sudah terpesona pada Andrea.
Melihat hal itu Keira jadi terkikik geli. Pasalnya Said belum tahu apapun tentang Andrea kecuali kecantikannya.
To Be Continue...
.
.
.
.
*Platina atau platinum merupakan logam berwarna putih yang cukup banyak dipilih untuk cincin kawin. Meski begitu, cincin jenis ini tetap jadi pilihan bagi sebagian calon pengantin saat ini.
Selain warnanya yang menarik, desain dengan logam platina ini pun terus berinovasi. Bahkan, cincin platina yang 30 kali lebih langka dari emas ini, hampir tidak pernah menurun kualitasnya, meski mungkin sedikit mengalami pengurangan unsur platina, karena sumbernya yang semakin berkurang.
Namun, jika memilih platina sebagai bahan dari cincin kawin, maka tentu saja akan ada harga yang sesuai yang harus dibayar karena kualitas terbaiknya. Selain indah, logam ini juga unggul dalam hal anti alergi layaknya keunggulan yang dimiliki cincin palladium.
Bicara terkait model cincin apa yang pantas menggunakan bahan platina hanya tergantung bagaimana kesepakatan calon pengantin. Tidak masalah dengan model, ini hanya akan membuat cincin kawin lebih tahan terhadap goresan ataupun kerusakan karena pemakaian yang lama.
__ADS_1
***