
@PT. PERMATA
Esoknya, di dalam ruang kantor Direktur Utama PT. PERMATA, Pak Zein jadi uring-uringan sendiri memikirkan begitu banyak masalah yang dihadapinya dalam satu waktu sekaligus.
Pria itu juga jadi tidak fokus bekerja karena mengingat pengakuan Ny.Rosa semalam. Emosinya yang jadi naik lagi membuat Pak Zein langsung membuang penanya sembarangan saking kesalnya.
Tanpa dapat dicegah, ingatannya langsung kembali ke kejadian semalam saat dirinya menginterogasi istrinya itu.
*flashback ON*
"Di mana surat-surat tanah dan rumah ini?" tanya Pak Zein yang berdiri dengan menahan amarahnya di sisi meja kerjanya sambil berkacak pinggang.
Sementara Ny.Rosa nampak berdiri di depan pintu ruang kerja yang tertutup itu sambil ketakutan dan gemetar.
"Di rumah ini, yang tahu sandi brankasku hanya aku dan kamu. Karena aku tidak bisa menemukan surat-surat itu saat aku membutuhkannya, itu artinya kamu yang tahu di mana surat-surat berharga itu. JAWAB!!!" Pak. Zein bertanya dengan satu gertakan.
Untuk beberapa saat, Ny. Rosa masih terdiam. Namun gesturnya menyiratkan seolah wanita itu sedang merangkai kalimat yang paling tepat sebelum diungkapkan terhadap suaminya.
Sedangkan Pak Zein yang merasa tak sabar akhirnya kembali bertanya lagi. "Apa kau menggunakan surat-surat itu sebagai jaminan hutangmu pada rentenir?" tanya Pak Zein sambil mengepalkan kedua tangannya.
Mendengar dugaan Pak Zein yang sangat tepat terhadapnya, membuat Ny.Rosa melupakan kata demi kata yang telah dirangkainya di dalam benaknya tadi dan hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Pak Zein.
Melihat anggukan dari kepala istrinya membuat Pak Zein tak dapat menahan emosinya lagi hingga ia lalu berteriak sambil mengobrak-abrik meja kerjanya dengan beringas sampai semua barang yang ada di atas meja itu berserakan kemana-mana.
"AKU TIDAK MAU TAHU!!! POKOKNYA CEPAT DAPATKAN KEMBALI SURAT-SURAT ITU!!! bentak Pak Zein pada Ny.Rosa sambil menggebrak meja kerjanya yang nyaris kosong. Membuat Ny.Rosa terjingkat saking kagetnya.
"SEKARANG PERGI!!! PERGI DARI HADAPANKU!!" usir Pak Zein berang.
Tanpa berkata apapun lagi, seketika Ny.Rosa keluar dari ruangan itu dengan tubuh yang gemetar hebat.
*flashback OFF*
Pak Zein menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Kepalanya terdongak ke atas dengan mata yang terpejam rapat.
Dalam benaknya ia berpikir, bagaimana mungkin istrinya bisa sebodoh itu? Sudah menggelapkan dana perusahaan, kini berani mencuri sertifikat tanah dan rumah mereka untuk dijadikan jaminan meminjam uang dari rentenir. Dengan ini makin panjang lah daftar dosa Ny.Rosa di mata Pak Zein.
Pak Zein khawatir jika sertifikat tanah dan rumah itu sampai hilang, bagaimana ia akan mencari uang pengganti yang dibutuhkannya? Bagaimana ia bisa menyelesaikan masalah-masalahnya? Bagaimana ia akan melanjutkan hidupnya?
Ketika Pak Zein sedang tenggelam dalam dilemanya sendiri, tiba-tiba terdengar pintu ruangannya diketuk dari luar. Dan tak lama muncullah Pak Iqbal dari balik pintu itu. Pak Iqbal nampak membawa sebuah paket di tangannya yang sepertinya ditujukan untuk Pak Zein.
"Permisi, Pak. Ada paket untuk anda." ujar Pak Iqbal lalu meletakkan paket itu di atas meja Pak Zein.
"Baik. Terima kasih." balas Pak Zein tanpa memandang ke arah Pak Iqbal tapi malah menatap lekat paket itu.
Pak Iqbal pun segera undur diri. Setelah Pak Iqbal menghilang dari balik pintu. Pak Zein mengambil paket itu dari atas meja lalu membolak balikkannya dengan kedua tangannya.
Pria itu mencari nama dan alamat pengirim namun nihil. Tidak ada tulisan apapun di bagian luar paket itu. Lalu dari siapa ini? Pak Zein bertanya dalam hati.
Pak Zein membuka paket itu secara perlahan. Ternyata di dalamnya terdapat surat-surat tanah dan rumahnya yang berharga yang semalam dicarinya, sebuah amplop kecil dan sebuah flashdisk.
Pak Zein memeriksa satu per satu surat-surat berharganya. Syukurlah ternyata masih lengkap. Ia lalu mengambil amplop kecil lainnya dan membukanya. Ada secarik surat dengan tulisan tangan di dalam amplop itu. Pak Zein lalu membaca surat tersebut.
"Salam,
Dengan ini saya menyatakan bahwa hutang Ny.Rosa sebesar satu milyar rupiah telah Lunas beserta bunganya. Untuk itu saya mengembalikan jaminan yang telah dititipkan Ny. Rosa di awal transaksi dan bukti-bukti pelunasan bunga yang tersimpan di dalam flashdisk.
Terima Kasih Atas Kerjasama yang Baik."
Salam Hormat,
YUSRON.
Pak Zein mengernyitkan keningnya. Bukti pelunasan macam apa yang ada di dalam flashdisk. Jika berupa invoice kenapa tidak langsung dalam bentuk print out. Kenapa harus repot-repot membuka flashdisk terlebih dulu.
Tapi karena penasaran akhirnya Pak Zein menancapkan juga flashdisk itu ke CPU komputernya. Setelah benda itu tersambung ke komputernya, barulah Pak Zein dapat melihat isinya yang ternyata hanya terdiri dari satu folder yang bertuliskan "Video Pelunasan Rosa".
Tidak ada file lain yang berbentuk pdf atau word layaknya salinan invoice pada umumnya. Pak Zein lalu meneruskan membuka satu-satunya folder di flashdisk itu.
Pak Zein makin mengernyit ketika melihat ada tiga video dalam folder itu. Apa ini? pikirnya. Apakah tiga video ini adalah rekaman video saat istrinya itu melakukan pelunasan yang dicicil dalam tiga kali pembayaran? duganya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang Pak Zein lalu mengklik salah satu video itu secara acak. Namun betapa terkejutnya ketika Pak Zein melihat rekaman kejadian saat istrinya sedang melayani nafsu pria lain dalam video itu.
Pak Zein menjadi murka seketika. Ia lalu coba membuka video-video lain yang ternyata isinya sama saja, sama-sama menjijikkannya.
Hanya berbeda di lokasi dan waktu pelaksanaannya saja. Namun dua orang pelaku di dalamnya tetap sama. Yaitu Ny. Rosa dan seorang pria yang sama, yang tak dikenalnya.
Pak Zein tak habis pikir, ternyata begini model pelunasan yang dilakukan istrinya itu. Sangat menjijikkan, pikir Pak Zein. Sungguh tak ia sangka jika istri yang ia banggakan melebihi istrinya terdahulu karena telah memberinya seorang anak lelaki ternyata malah bermoral serendah itu.
BRAK!!!
Pak Zein menggebrak meja kerjanya dengan emosi yang memuncak. Dasi yang dikenakannya bergerak naik turun seiring nafasnya yang cepat dan berat. Di cabutnya seketika flashdisk yang masih menancap di CPU itu dengan kasar lalu ia remmas dalam genggamannya.
Matanya melirik surat dari Yusron yang tergeletak di atas meja. Otaknya langsung berpikir, pasti Yusron inilah pria yang ada di dalam video bersama istrinya itu. Pasti pria bernama Yusron itulah rentenir yang dilayani nafsunya oleh Ny. Rosa. Pak Zein jadi semakin muak.
Seketika Pak. Zein melesat keluar dari kantornya sambil membawa flashdisk yang masih ada dalam genggamannya, langkahnya cepat dan lebar agar segera keluar dari gedung PT. PERMATA.
Pak Iqbal yang terlambat menyadari jika bosnya hendak keluar kantor segera berlari menyusul bosnya itu untuk mengkonfirmasi.
"Maaf, Pak. Bapak mau kemana?" tanya Pak Iqbal takut-takut.
"Pulang." jawab Pak Zein singkat dan cepat.
"Tapi nanti sore ada meeting dengan Dewan Direksi lagi, Pak." Pak Iqbal mencoba mengingatkan.
Pak Zein terpaku di ambang pintu mobilnya. Nampak berpikir sejenak, namun kemudian ia tetap memutuskan untuk pulang.
"Kamu urus sajalah, saya benar-benar sedang tidak fokus kerja! Oia, bereskan juga surat-surat tanah dan rumah saya di atas meja. Buat iklan atas penjualan rumah saya secepatnya." titah Pak Zein lalu langsung masuk ke dalam mobilnya.
Meninggalkan Pak Iqbal yang hanya bisa melongo melihat kepergian bosnya itu setelah meninggalkan setumpuk tugas tambahan untuknya.
"Kemana, Pak?" tanya sopir Pak Zein.
"Cepat antar saya pulang!" jawab Pak Zein geram seraya menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya.
***
Hari ini adalah hari kepulangan Keira dan Tyo beserta yang lainnya ke kota asal mereka. Mengingat kehamilan Keira yang masih rentan, akhirnya mereka semua pulang dengan menggunakan Kereta Api.
Tyo lalu menyuruh Rizzi dan yang lainnya untuk langsung pulang ke kediaman mereka masing-masing tanpa harus mengawal Tyo dan Keira lagi.
Mereka pun mulai berpamitan satu sama lain sebelum berpisah. Hanya Keira dan Tyo yang tetap bersama untuk langsung menuju rumah orang tua Tyo---kediaman keluarga Pratama dengan diantar oleh Pak Yusam.
Dalam perjalanan, ekspresi Keira seketika berubah muram. Dan Tyo langsung menyadari perubahan raut wajah Keira itu.
"Kamu kenapa? Ngomong sama aku, Keira! Biar aku ngerti apa yang kamu rasain dan apa yang kamu pikirkan." Tyo memegang tangan Keira yang ada di pangkuan gadis itu. Memasang ekspresi seriusnya, mencoba menyelami perasaan Keira.
"Aku takut, Tyo!" jawab Keira lirih.
Tyo tersenyum simpul lalu mengecup telapak tangan Keira yang dipegangnya itu. "Jangan khawatir, Kei!" pinta Tyo.
"Aku janji. Aku akan jadi orang pertama yang melindungi kamu jika orang tuaku memang berniat melukai kamu. Tapi aku jamin, orang tuaku tidak akan menyakiti kamu dalam bentuk apapun." Tyo berusaha menyakinkan Keira.
Keira menatap mata Tyo lekat. Ia melihat kejujuran dan ketegasan di sana. Seketika hati Keira menghangat. Ia tak lagi merasa takut, khawatir, atau semacamnya. Keira percaya pada Tyo. Pria yang kini dicintainya itu.
Tyo balas menatap mata Keira dengan penuh kesungguhan, "Kamu percaya aku kan?" tanya Tyo.
Keira menggangguk cepat, "Aku percaya kamu, Tyo!" jawab Keira seraya tersenyum.
***
Pak Zein pulang ke rumahnya dengan amarah yang meluap-luap. Darahnya telah mendidih setelah melihat video menjijikkan antara Ny. Rosa dan pria asing itu. Satu hal yang saat ini benar-benar ingin dan harus dilakukannya.
"ROSAAA!!!!" teriak Pak Zein memanggil istrinya sesaat setelah dirinya masuk ke dalam rumah. Pria itu langsung melepaskan jasnya lalu membantingnya di salah satu kursi di ruang tamu.
Bak orang kesetanan, ia mengendorkan dasinya lalu berdiri di tengah-tengah ruangan sambil berkacak pinggang.
Ny. Rosa tergopoh keluar dari kamar tidurnya untuk menemui suaminya itu di ruang tamu. Namun tak hanya Ny. Rosa yang datang, Daffi---anak mereka pun juga ikut hadir di ruang tamu setelah mendengar teriakan Papanya yang menggelegar.
"I-iya, Mas." jawab Ny. Rosa yang akhir-akhir ini selalu merasa sangat ketakutan saat berhadapan dengan suaminya itu.
__ADS_1
Pak Zein menatap tajam pada Ny. Rosa. Ia melirik sekilas pada Daffi yang melihat ke arah orang tuanya. Tapi Pak Zein sudah tak peduli. Ia sudah muak, teramat muak pada wanita yang sedang berdiri ketakutan di hadapannya itu.
"Segera kemasi barangmu dan angkat kaki dari rumah ini! Mulai detik ini, AKU CERAIKAN KAMU!" ucap Pak Zein dengan tegas.
Ny. Rosa dan Daffi kompak terbelalak. Mereka tak menyangka jika Pak Zein sampai melakukan ini. Ny. Rosa tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"Tapi kenapa, Mas? Kenapa sampai kamu tega menceraikan aku dan mengusir aku begini?" tanya Ny. Rosa dengan suara dan raut wajah memelas seolah dirinya adalah korban dan lupa sama sekali atas seluruh kesalahan fatal yang telah dibuatnya.
"Kenapa katamu???" Pak Zein menggertakkan gigi-giginya karena emosi. "KARENA INI!!!" Pak Zein melemparkan flashdisk yang sedari tadi digenggamnya ke arah Ny.Rosa.
Ny. Rosa yang tak tahu jika dirinya akan dilempar sebuah benda oleh Pak Zein pun tak siap untuk menangkap benda itu. Untungnya flashdisk itu hanya terbang melewati Ny.Rosa, terjatuh ke lantai lalu terpental hingga mendarat di dekat kaki Daffi.
Daffi memungutnya, lalu membawa flashdisk itu ke kamarnya untuk memeriksa isinya. Pak Zein yang melihat Daffi memungut dan membawa pergi flashdisk itu hanya diam saja. Ia sudah tak peduli pada apapun. Termasuk jika Daffi harus melihat video mesum ibunya dengan pria asing.
"KARENA BENDA ITU AKU JADI TAHU KEBUSUKANMU. Aku tak menyangka jika moralmu begitu rendah. Tidak hanya sekali, TAPI KAU MELAYANI NAFSU PRIA ITU SAMPAI TIGA KALI???!!! Kau benar-benar MENJIJIKKAN, Rosa!" maki Pak Zein pada istrinya.
Ny. Rosa terpaku dengan mata terbuka lebar. Selesai sudah, pikirnya. Jika suaminya sudah sampai mengetahui perbuatan kotornya, maka habislah sudah. Tamatlah sudah riwayatnya.
Merasa sudah terpojok dan tak mampu lagi membela diri, Ny. Rosa akhirnya hanya bisa terduduk di lantai sambil menangis meraung-raung seraya menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Sementara Pak Zein yang tak ingin lagi melihat wajah wanita itu barang sedetik pun seketika beranjak pergi dari ruang tamu lalu mengunci dirinya sendiri di ruang kerjanya di rumah itu. Di dalam ruang kerjanya, Pak Zein meratapi nasibnya sendiri.
***
Desas-desus tentang kebangkrutan Pak Zein dan tentang rumah Pak Zein yang akan dijual sampai juga ke telinga Pak Ruslan, tentunya melalui Pak Agus Choir yang selalu sigap melaporkan seluruh perkembangan nasib Pak Zein kepada Bos Besarnya itu.
"Lalu bagaimana dengan pembelian saham dari para Dewan Direksi di PT. PERMATA?" tanya Pak Ruslan.
"Sudah beres semua, Pak. Lima puluh lima persen saham PT. PERMATA telah berhasil kita kumpulkan dari membeli saham para Dewan Direksi di sana. Sisanya tinggal empat puluh lima persen saham milik Pak Zein Imran yang belum kita dapatkan." terang Pak Agus.
"Berarti kita tinggal membelinya dari pria itu agar PT. PERMATA resmi sepenuhnya menjadi milik Keira, begitu?" Pak Ruslan bertanya lagi.
"Betul, Pak. Dan menurut saya, hal itu tidak akan sulit mengingat posisi Pak Zein Imran yang sudah di ambang kehancuran." Pak Agus optimis.
"Bagaimana dengan kepemilikan ke lima puluh lima saham yang telah kita dapatkan itu? Apakah sudah atas nama Keira Permata?" Pak Ruslan mencoba memastikan.
"Sudah, Pak. Saya langsung mengatas namakan Nona Keira saat prosedur serah terima saham itu dilaksanakan. Demikian halnya nanti saat kita sudah berhasil mendapatkan sisa saham dari Pak Zein. Secara otomatis, Nona Keira akan langsung menjadi pemilik utama PT. PERMATA yang baru." jelas Pak Agus yakin.
"Bagus. Bagus sekali. Hadiah pernikahan yang tepat untuk anak menantuku." gumam Pak Ruslan sambil tersenyum puas.
Melihat reaksi Pak Ruslan yang merasa puas, Pak Agus jadi ikut merasa lega.
"Kalau begitu sudah saatnya kita mengundang Pak Zein untuk bertemu. Panggil dia ke TAKHTA GRUP besok. Suruh Tyo kesana juga tanpa Keira. Bagaimanapun Tyo harus memperkenalkan dirinya sebagai calon suami Keira di hadapan pria itu." perintah Pak Ruslan kepada Pak Agus.
Pak Agus mengangguk sebelum menjawab dengan lugas, "Baik, Pak!"
To Be Continue....
.
.
.
.
.
Ya Allaaahhhh aku sampe bener-bener NIAT begadang buat bikin bab ini (walopun seringnya juga nulis pas begadang siihh heheeπ )
.
Tapi jujur LEGAAAAAA banget udah ngelunasin KARMAnya si Bapak Durjana. πβοΈ
.
Moga hasilnya gak mengecewakan kalian yaa readersQ...moga alurnya gak berantakan dan tiap detil setting juga perasaan karakternya bisa nyampe dan mengena di hati serta imajinasi kalian semuaaa πππ
.
__ADS_1
β€οΈ U All πππ