
.
.
.
.
.
Waktu pun bergulir dan tanpa terasa, tibalah hari yang telah di nanti-nanti oleh seluruh keluarga Pratama.
Hari di mana Tyo dan Keira akan terikat dalam janji suci mereka berdua untuk sehidup semati bersama-sama melakoni lembaran baru dalam fase kehidupan. Sebuah babak baru yang bernama mahligai Rumah Tangga.
Siang itu, menurut jadwal yang sudah di atur oleh Mbak Devy selaku Koordinator Acara, pukul dua belas lebih lima belas menit acara akad nikah akan dilangsungkan.
Menurut rencana yang sudah disepakati oleh pihak keluarga, lokasi akad nikah akan dilaksanakan di meeting room hotel bintang lima milik Takhta Grup yang berada di lantai satu dan hanya mengundang kurang lebih lima puluh kerabat.
Penataan lay out ruangnya di bentuk Teather Style yaitu kursi-kursi yang dijejer beberapa baris menyerupai deretan kursi yang ada di dalam ruang bioskop.
Hal ini dimaksudkan agar seluruh tamu undangan dapat melihat dengan jelas tampilan prosesi akad nikah melalui layar LCD yang terpasang di ujung bagian paling depan dari kursi para tamu.
Sementara acara resepsi, akan dilaksanakan di ballroom hotel tersebut yang terletak di lantai dasar yang memiliki kapasitas jauh lebih besar daripada meeting room.
Mengapa lokasi akad dan resepsinya berbeda? Karena keluarga Pratama hanya mengundang sekitar lima puluh kerabat untuk acara akad nikah, sementara untuk acara resepsinya sendiri, keluarga Pratama mengundang kurang lebih lima ratus tamu malam itu.
Jumlah undangan ini relatif minim untuk gawe besar sekelas keluarga Pratama, namun apa boleh dikata. Karena faktor terbatasnya waktu dan kondisi kesehatan mempelai wanita akhirnya diputuskan hanya sejumlah itulah undangan yang disebar.
Hari itu, sang mempelai wanita sudah bersiap-siap sejak pagi. Di sebuah kamar hotel yang disiapkan sebagai ruang rias dan ganti baju khusus wanita, Keira dikelilingi tiga orang sekaligus yang membantunya berdandan.
Satu orang mengerjakan rambutnya, satu orang merias wajahnya, dan satu orang lagi menghias kukunya dengan nail art tiga dimensi yang sedang kekinian.
Belum lagi orang-orang kiriman dari butik gaun pengantin yang akan membantu keira mengenakan baju pengantinnya yang berekor panjang.
Tiba-tiba Ny.Naina dan Ny.Mustika yang sudah sama-sama cantik mengenakan kebaya berwarna soft grey muncul di dalam ruang rias itu.
"Gimana mbak-mbak? Pengantinnya dah siap belum nih? Akadnya udah mau dimulai tuh!" seru Ny.Naina pada para staff.
"Sebentar lagi, Bu. Tinggal finishing aja!" jawab salah seorang staff sambil memasangkan sebuah tiara ke atas kepala Keira. "Ok. DONE!!!" serunya kemudian sambil menyemprotkan hair spray lagi-lagi di atas kepala Keira.
Para staff lalu membantu Keira untuk berdiri dan memegangi ujung gaunnya. Saat itulah Ny.Naina dan Ny.Mustika melihat penampilan Keira yang mempesona.
"Wooowww, pantesan si Tyo keplek-keplek. Orang calon istrinya kaya begini!" gumam Ny.Naina sambil menjawil lengan Ny.Mustika yang juga terperangah melihat hasil make over Keira. "Sini-sini, Kei. Berdiri di sini! Ibu mau foto dulu buat update status!" ujar Ny.Naina.
Dengan dibantu para staff, Keira akhirnya berdiri di salah satu sudut ruangan untuk difoto oleh wanita yang sebentar lagi akan menjadi ibu mertuanya itu.
Ny.Naina berdecak kagum melihat hasil jepretannya sendiri. Baru pakai kamera ponsel saja hasilnya sudah bagus sekali, gimana nanti kalau difoto pakai kamera profesional, pikir Ny.Naina takjub.
"Kamu bener-bener cantik pakai gaun putih itu, Kei!" puji Ny.Mustika pada putrinya.
Seluruh acara pernikahan Keira dan Tyo hari itu memang bernuansa monokrom. Keira dan Tyo memilih konsep tersebut karena keduanya penyuka warna-warna natural. Khususnya putih. Karena itulah seluruh dekorasi akad serta pelaminan pun di dominasi warna putih.
***
Di dalam meeting room...
__ADS_1
Ruangan akad nikah itu nampak sudah di penuhi oleh tamu undangan. Sementara Tyo sendiri sudah duduk manis di hadapan bapak penghulu dan di pit oleh Pak Ruslan dan Pak Zein Imran serta para saksi pernikahan.
Teman-teman Keira dan Tyo pun sudah duduk di kursinya masing-masing yang berada di barisan paling depan dekat dengan meja tempat Tyo akan melakukan ijab kabul.
Tak terkecuali Vynt yang sengaja mengambil cuti magang selama beberapa hari demi menghadiri pernikahan sahabatnya itu.
"Pengantin wanitanya mana ini?" tanya Pak Penghulu.
"Pengantin wanitanya diumpetin dulu, Pak! Nanti akan bergabung setelah ijab kabul." jawab Mbak Devy.
"Oo, begitu! Baiklah, pengantin pria mana tangannya?" Pak Penghulu nampak mengulurkan tangan untuk menjabat Tyo.
Tangan Tyo yang dingin karena gugup tentunya langsung dapat dirasakan oleh bapak Penghulu kala kedua tangan mereka sudah saling berjabatan.
"Wadduh, Masnya grogi ini kayanya. Sampe tangannya dingin panas...eehhh kliru, panas dingin." canda bapak Penghulu dengan logat Jawanya yang medhok mencoba bergurau agar suasana tegang dalam ruangan tersebut sedikit mereda.
Ia juga berharap agar Tyo lebih tenang sebelum melafalkan kalimat Ijabnya. Seketika ruang meeting room menjadi riuh mendengar gurauan dari bapak penghulu tersebut.
"Santai aja, Mas. Rileeekks! Nanti kalau kliru omong sampe tiga kali, nggak jadi ena'-ena' lho nanti malem!" bapak Penghulu kembali melontarkan candaannya.
"Bapak ini pelawak atau penghulu si?" Tyo jadi sedikit keki.
"Main job saya penghulu, Mas. Tapi side job saya pelawak." balas Pak Penghulu dengan santai. Sama sekali tidak tampak tersinggung dengan nada bicara Tyo yang kaku tadi.
"Hmm, pantess..." guman Tyo.
"Mau latihan dulu atau mau langsung ijab ini?" tanya Pak Penghulu pada Tyo.
"Langsung aja, Pak!" jawab Tyo tegas.
"Okeh, baiklah. Karena pengantin prianya sudah tidak sabar dan siap tempur. Maka kita mulai saja prosesi akad nikah yang akan dilakukan oleh saudara Tyo Pratama bin Ruslan Pratama." Pak Penghulu memulai kalimat pembukanya.
Beliau pun kemudian merapalkan doa-doa terlebih dahulu sebelum akhirnya meminta Pak Zein Imran sebagai wali Keira untuk berjabat tangan dengan Tyo lalu mengucapkan kalimat wajibnya yang dituntun oleh Pak Penghulu.
Untungnya Tyo berhasil menyelesaikan kalimatnya itu dalam satu kali tarikan nafas, tak hanya para saksi dan wali namun justru seluruh tamu undangan yang hadir turut memekikkan kata 'SAH' sebagai penanda suksesnya prosesi ijab kabul tersebut.
Lalu tepuk tangan meriah pun bergema ke seluruh ruang meeting room menyambut suka cita resminya Tyo menyandang status barunya sebagai suami, serta Keira dengan statusnya sebagai istri dan menantu dari pemilik Takhta Grup.
Tepuk tangan para undangan makin riuh terdengar kala sang pembawa acara memanggil Keira untuk hadir ke ruangan melalui mikrofon.
"Kepada mempelai wanita, dipersilahkan memasuki ruangan." ucap pembawa acara menyerukan panggilannya.
Tyo berdiri dari kursinya lalu berbalik badan bersiap untuk menyambut kedatangan Keira yang kini resmi sebagai istrinya. Tak lama Keira pun muncul dari balik pintu yang dipasangi tirai-tirai sutra dengan diapit oleh ibunda Tyo dan Ibunda Keira.
Seketika seluruh tamu undangan menoleh ke belakang untuk melihat pengantin wanita yang muncul dari arah belakang tempat duduk mereka.
Namun tampaknya Keira tak langsung melangkahkan kaki untuk mendekat ke arah Tyo. Keira malah berhenti tepat di depan tirai pintu itu entah untuk apa.
Tyo merasa bingung campur heran ketika tampak Mbak Devy menyodorkan sebuah mikrofon kepada Keira. Tak hanya Tyo yang merasa demikian tapi juga seluruh tamu undangan yang hadir.
Setelah menerima mikrofon itu, Keira pun berucap, "Untuk pria yang baru saja resmi menjadi suamiku, Tyo Pratama." ujarnya sambil tersenyum penuh arti.
Tiba-tiba sebuah denting piano mengalunkan lagu dari sudut ruangan yang berisikan para pengisi acara hiburan.
Dan di hadapan semua keluarga serta para kerabat, Keira mulai melantunkan lirik dengan makna yang menyentuh untuk mengiringi alunan lagu dari piano tersebut.
#Akankah kau beri 'ku kesempatan
Setelah 'ku pergi jauh meninggalkanmu
__ADS_1
Tapi dulu bukan maksudku meruntuhkan perasaan
Yang telah lama kita bangun bersama#
Seketika Tyo terpaku. Dirinya tak pernah menyangka jika Keira akan memberinya kejutan semanis ini. Dengan suara merdunya, Keira terus melantunkan lagi itu sambil mulai melangkah menuju ke arah Tyo berdiri.
#Lama kutunggu datang hari ini
Di mana kau dan aku dipertemukan kembali
Tak bisa lebih lama lagi aku tatap mata itu
Tempat bersembunyi banyak rasa rinduku
Ingin 'ku bahagia bersamamu
Akan kujaga cintamu untuk selamanya
Ingin kugenggam erat hatimu, kekasih
Oh, tetaplah bersamaku hingga nanti#
Tak terasa air mata Tyo meleleh merasakan ketulusan cinta Keira dari lirik lagu yang dinyanyikannya. Keira menghapus bulir air mata Tyo dari wajah suaminya itu. Mereka lalu berpelukan dengan Keira yg masih menyanyikan lagu itu hingga akhir.
#Dan inilah saatnya kutumpahkan
Lautan perasaan cinta terindah*
Tak bisa lebih lama lagi aku tatap mata itu
Tempat bersembunyi kisah masa lalu
Ingin 'ku bahagia bersamamu
Akan kujaga cintamu untuk selamanya
Ingin kugenggam erat hatimu, kekasih
Oh, tetaplah bersamaku hingga nanti#
(Lagu: Cintaku Kini, by Ashira Zamita)
Semua orang yang melihat Tyo menangis turut merasakan keharuan perasaan sang pengantin pria yang tengah berbahagia.
Dan di akhir nyanyiannya, Keira menyelipkan kalimat 'I Love You' yang ia bisikkan di telinga Tyo. Tak dapat menahan perasaannya lagi, Tyo oun langsung mendaratkan kecupan di kening istrinya itu.
Membuat sorak sorai sekaligus tepuk tangan tak henti-hentinya bergemuruh di ruangan itu. Dan hampir seluruh tamu undangan merekam momen akad nikah yang manis nan mengharukan itu dengan ponsel mereka masing-masing.
To Be Continue.
.
.
.
.
ada lirik yang ditandai * sengaja di ganti oleh Keira, dari 'cinta pertama' menjadi 'cinta terindah' πβοΈ
__ADS_1
β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ
πππππππππ