Replacement Lover

Replacement Lover
PENANTIAN KEIRA


__ADS_3

@Cafe Teluse


Hari kedua pengerjaan tugas kelompok Tour Planning masih dilakukan di Cafe milik Rizzi itu.


Alasannya karena nyaman dan juga tersedia wifi gratis yang sangat dibutuhkan oleh empat sekawan Vynt, Keira, Said, dan Beth untuk menggali informasi yang mereka butuhkan dari dunia maya.


Pembagian tugas masing-masing anggota kelompok sudah diberlakukan sedari kemarin.


Vynt bertugas mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai tempat-tempat menarik yang sedang happening di kota mereka.


Keira membuat alur rute yang akan bus mereka lewati beserta perkiraan waktunya.


Said bertugas menyusun naskah guiding serta memikirkan games apa yang akan mereka tampilkan selama on board.


Sedangkan Beth mendapat bagian mencari informasi general dan historical mengenai kota mereka sebagai informasi pembuka dan penutup dari perjalanan mereka nantinya.


Mereka nampak fokus menatap layar laptop masing-masing. Namun dari keempatnya, hanya satu orang yang terlihat tidak fokus mengerjakan tugasnya.


Raut wajah Keira nampak sedang gundah gelisah, pasalnya sejak kemarin ponsel Argha tidak dapat dihubungi, padahal dirinya menantikan kabar mendaratnya sang kekasih kembali ke tanah air.


Keira juga sudah mencoba menghubungi kakak Argha---Tyo, tapi ponsel pria itu pun tak jauh berbeda dengan sang adik yang mendadak tidak bisa dihubungi.


Keira membuka kembali chat terakhirnya dengan Argha kemarin lusa. Disana Argha menulis sedang menunggu boading pada pukul sepuluh lebih tiga puluh menit.


Menurut jadwal reguler yang tersebar di internet, kemungkinan Argha ikut jadwal penerbangan siang yaitu pukul sebelas lebih lima puluh menit dari Singapura yang berarti tiba di kota mereka sekitar pukul setengah dua siang karena estimasi penerbangan dari Singapura ke kota ini biasanya hanya dua setengah jam.


Sebagai seorang mahasiswa Kepariwisataan, Keira paham betul seluk beluk aktivitas penerbangan.


Sekalipun terjadi delay atau penundaan jadwal penerbangan pun biasanya tidak akan selama itu. Lalu delay macam apa yang memakan waktu sampai lebih dari dua puluh empat jam.


Dan jikalau ada kemungkinan, Argha dengan terpaksa---karena sesuatu hal, jadi merubah jam penerbangannya ke jadwal yang paling akhir pada hari itu pun, seharusnya pemuda itu sudah sampai di Tanah Air tidak lebih dari jam sepuluh malam.


Yang artinya, seharusnya kemarin kekasihnya itu sudah bisa dihubungi kembali. Tapi nyatanya tidak demikian.


Keira bahkan sempat memikirkan beberapa alasan yang memungkinkan bagi Argha menjadi susah dihubungi. Mungkin saja Argha merasa kelelahan dengan penerbangannya atau mungkin juga ada urusan yang sangat penting yang harus diselesaikannya terlebih dahulu sehingga lupa untuk menghubungi Keira.


Namun alasan-alasan itu dengan cepat ditepisnya mengingat kekasihnya belum pernah mengabaikannya barang sehari pun bahkan untuk urusan sepenting apapun, Argha pasti selalu akan memberikan kabarnya minimal hanya sebuah chat singkat kepada gadis itu.


Lalu apa yang sebenarnya terjadi, pikir Keira. Kenapa Argha dan Tyo sama-sama tidak bisa dihubungi dalam waktu yang bersamaan. Kenapa kakak beradik yang biasanya selalu fast respon terhadap Keira itu seolah-olah kini kompak menghilang bagai ditelan bumi.


Lagi-lagi Keira hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Dirinya hanya bisa pasrah menunggu dalam penantian yang entah sampai kapan.


Vynt yang menyadari ketidak fokusan Keira hari itu jadi ikut menghentikan kegiatannya yang sedang berselancar di dunia maya untuk mencari spot-spot iconik nan menarik di kota ini yang akan mereka masukkan dalam perencanaan City Sightseeing Tour mereka.


"Lo kenapa, Kei?" tanya Vynt pada akhirnya.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan Vynt, membuat Said dan Beth ikut menoleh pada Keira.


"Gak tau, feeling gue gak enak banget." jawab Keira sambil menyentuh dadanya yang sedikit sesak.


"Argha masih belum bisa dihubungi, Kei?" Beth ikut bertanya.


Keira hanya menggangguk lesu.


"Udah coba hubungi Tyo? kali aja kakaknya tau Argha kenapa gak bisa dihubungi gini?" saran Vynt.


"Tyo juga gak bisa dihubungi. Mereka berdua sama-sama gak bisa dihubungi dari kemaren." suara Keira melemah kala mengatakan fakta itu. Entah kenapa sesak di dadanya semakin berat semakin Keira memikirkannya.


Ketiga temannya hanya bisa berpandangan tanpa tahu harus merespon apa lagi. Mereka bertiga pun hanya diam membisu.


Tiba-tiba dering ponsel Beth membuyarkan keheningan yang jauh dari rasa nyaman itu.


"Halo. Iya, Riz?" jawab Beth. "Keira? sama aku disini, di Cafe kamu. Kita lagi ngerjain tugas berempat sama Vynt dan Said juga." terang Beth. "Oh Oke." tutup Beth.


"Kenapa Rizzi? nanyain Keira?" tanya Vynt.


"Iya, dia nanya nomor ponselnya Keira trus Keira dimana. Aku bilang aja Keira lagi disini sama kita ngerjain tugas." Beth mengulang percakapannya dengan Rizzi ditelpon tadi.


"Trus? Mau apa dia?" tanya Vynt lagi.


"Gak tau." Beth mengedikkan bahunya. "Tapi tadi katanya dia mau kesini." tambah Beth.


"Kita rehat dulu aja bentaran. Percuma diterusin juga udah gak fokus lagi." akhirnya Vynt berkomentar sambil menutup laptopnya yang langsung diikuti oleh Said.


Beth hanya menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa yang didudukinya, sekilas dirinya melirik pada Keira yang masih menampakkan raut gelisah di wajah cantiknya.


Jujur, Beth pun jadi bertanya-tanya kenapa Rizzi sampai repot-repot menanyakan Keira pada dirinya. Ada urusan apa Rizzi mencari Keira, pikir Beth.


Beberapa waktu berlalu hingga sosok Rizzi muncul di Cafe miliknya dengan ekspresi tak terbaca. Dengan membawa sebuah notepad yang dijepitnya di ketiak kiri, Rizzi mendekati meja bundar tempat Keira dan teman-temannya mengerjakan tugas mereka sedari tadi.


"Keira, ikut aku ke ruanganku." pinta Rizzi to the point. "Kita harus bicara." tambah pria itu.


Keira dan ketiga temannya langsung mendongak begitu menyadari keberadaan Rizzi ditengah-tengah mereka berempat.


"Cuma, Keira?" tanya Vynt.


Rizzi terdiam sesaat seperti sedang berpikir. Tapi akhirnya dia kembali bicara.


"Kalian bisa ikut masuk juga." jawab Rizzi sambil menunjuk pada pintu bertuliskan 'CHIEF' dengan ibu jarinya.


Pria itu lalu berbalik badan untuk kemudian berjalan memasuki ruangannya terlebih dahulu.

__ADS_1


Satu per satu teman Keira berdiri dari duduknya dengan rasa canggung dan bingung. Apa yang sebenernya terjadi hingga Rizzi bersikap serius begitu terhadap Keira.


Tapi mereka tak bisa menebak apapun alasannya. Maka yang bisa mereka lakukan hanya menyaksikan sendiri pembicaraan serius apa yang akan disampaikan Rizzi pada Keira.


Keira sendiri tak kalah bingungnya. Sejak Rizzi memintanya bicara berdua di ruangannya jantung Keira langsung memacu cepat. Perutnya terasa amat mual tanpa alasan. Dia pun hanya bisa pasrah melangkahkan kakinya ke dalam ruangan Rizzi ditemani teman-temannya yang lain.


Di dalam ruangannya, Rizzi sudah duduk di salah satu sofa di tengah-tengah ruangan itu. Notepad yang tadi di jepitnya di ketiak kini sudah diletakkannya di atas meja dengan posisi tegak sedikit mendongak karena harus disandarkan pada ring holder dibelakangnya.


"Kamu duduk disitu, Kei." Rizzi menginstruksi Keira yang baru masuk keruangannya untuk duduk tepat berhadap-hadapan dengan Rizzi.


Keira menurut saja. Semakin terlihat jelas ketegangan di raut wajah Rizzi. Keira menelan salivanya dengan susah payah. Sesak di dadanya makin menyiksa ketika harus berada disituasi yang serba membingungkan ini.


Ketika teman-teman Keira pada akhirnya sudah ikut duduk di tempatnya masing-masing dalam diam, Rizzi mulai mencondongkkan tubuhnya ke arah notepadnya.


"Kamu harus lihat ini, Kei." ucap Rizzi sambil mengetuk tiga kali pada layar Notepadnya.


Sebuah video kemudian mulai diputar di layar Notepad milik Rizzi, video yang menyiarkan berita tentang jatuhnya pesawat komersil yang berangkat dari Singapura menuju kota mereka dengan jadwal penerbangan yang persis seperti yang ditumpangi Argha kemarin lusa.


Keira mengeratkan genggaman tangannya yang bertengger di depan dadanya. Tenggorokannya seketika tercekat menyaksikan tayangan pada layar notepad yang menampilkan bangkai pesawat yang sudah hancur porak poranda disertai kegaduhan dari orang-orang yang turut terekam di dalam video itu.


Nafas Keira makin putus-putus saat dilihatnya beberapa orang Tim Sar yang menggotong kantong-kantong berwarna jingga yang diketahuinya sebagai kantong mayat yang berisikan korban-korban kecelakaan pesawat nahas itu.


Pikirannya kembali kepada Argha. Bagaimana nasib Argha. Selamatkah ia? Namun Keira tak mampu berkata-kata. Matanya yang mulai mengembun bahkan tak sanggup berkedip menyaksikan video itu.


"Apa ini, Riz?" tanya Vynt yang tak mengerti, atau lebih tepatnya tak yakin akan sesuatu yang sempat terbesit di pikirannya sendiri.


Rizzi tampak menghela nafasnya berat sebelum mengumpulkan kekuatannya untuk mulai bicara.


"Ini pesawat yang ditumpangi Argha kemarin lusa untuk balik ke Indonesia. Pesawat itu jatuh di salah satu pulau terpencil di Indonesia tak lama setelah boarding. Penyebabnya masih belum ketemu. Tapi informasi yang sudah pasti..." Rizzi menggantungkan kalimatnya dengan menatap nanar pada Keira.


"Semua kru pesawat dan penumpangnya dipastikan tewas, Kei." sambung Rizzi dengan suara serak yang nyaris hilang karena menahan emosinya sendiri.


Keira diam. Nafasnya teramat berat seolah oksigen disekitarnya tak lagi bersisa. Keira hanya mematung menatap Rizzi tanpa kedip.


Lalu perlahan air matanya mengalir dengan sendirinya. Dan tak perlu waktu lama pandangan mata Keira berubah gelap, gadis itu pun pingsan di dera rasa pilu yang teramat dalam di hatinya.


*To Be Continue....


.


.


.


.

__ADS_1


Jujur yaa,,,saya galau bkin bab ini, mewek sendiri sampek suami ikutan bgng dikira saya kenapa-kenapa πŸ˜…


Padahal cuman baper ama novel yg ditulis sndiri πŸ˜…πŸ€£πŸ€£πŸ€£*


__ADS_2