Replacement Lover

Replacement Lover
RiBeth Story : AMBYAARRR!!!


__ADS_3

.


.


.


@Pantry lantai 3, Dae-Ho Trip Building.


"Kamu enggak apa-apa, Beth?" tanya Fady dengan ekspresi cemas.


"Iya, aku enggak apa-apa kok, Fa!" jawab Beth lirih. Senyum tipisnya tersungging meski nampak dipaksakan.


Kedua perempuan itu duduk berhadapan di sebuah meja kecil di ruang pantry itu. Beth yang tidak jadi ke toilet akhirnya di bawa oleh Fady ke ruangan itu untuk menenangkan diri. Fady tidak ingin meninggalkan gadis itu sendirian sebelum ia yakin Beth benar-benar merasa sudah baik-baik saja.


Setelah para wanita penggosip tadi meminta maaf secara langsung di depan gadis itu, Beth pun memaafkan mereka dan membiarkan mereka pergi begitu saja. Tapi luka di hati gadis itu terlanjur tercipta. Mengalahkan nyeri yang sejak kemarin dirasakannya di kakinya yang bengkak.


Namun Beth begitu lega dan bersyukur memiliki Fady di sana sebagai pembela sekaligus pelindungnya.


Beth bersyukur Fady tidak termakan fitnah keji para wanita itu yang menyatakan bahwa dirinya lebih dulu ingin menggaet seorang Vynt Dae-Ho. Sahabatnya yang kini telah menikahi wanita yang duduk di hadapannya saat ini. Karena memang hal itu hanya omong kosong.


"Aku udah enggak apa-apa kok, Fa. Beneran! Kamu bisa balik kerja!"


Setelah cukup lama menenangkan diri di pantry ditemani oleh Fady, sekali lagi Beth berusaha meyakinkan istri sahabatnya itu bahwa dirinya baik-baik saja.


Tapi Fady tahu, gadis itu terlanjur sakit hati dilihat dari ekspresi wajahnya yang nampak masih murung. Tapi Fady pun tidak bisa berbuat banyak. Ia lalu mengangguk dan bangkit berdiri.


"Ya udah kalau kamu ngerasa udah lebih baikan. Kalau ada apa-apa lagi, jangan sungkan untuk bilang ya, Beth!" Fady mengusap-usap punggung gadis itu.


Beth mengangguk cepat, "Makasi ya, Fa, udah mau belain aku dan temenin aku di sini!" ucapnya tulus sambil mendongak ke arah Fady yang sudah berdiri di sampingnya.


Fady tersenyum lembut membalas ucapannya. "Kalau gitu aku duluan ya!" pamit wanita itu lalu berlalu pergi tanpa menunggu jawaban dari Beth.


Sepeninggal Fady, Beth segera mengirim pesan pada supervisornya yang mungkin sedang menunggu di ruang kerja mereka.


📮BETHSA PUTRY


Mbak Haning, aQ di pantry lg istrht. Bentar lg aQ balik koQ, maaf lama.


Beth menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat. Belum apa-apa udah begini, pikirnya.


Lo pasti bisa ngelewatin ini! Karena semua yang mereka omongin itu enggak bener!


Lo mampu kok ngatasin ini!


Lo kuat!


Lo kuat!


Lo kuat!


LO HARUS KUAT, Bethsa Putry!!!


SEMANGAT!!!


Beth berusaha mensugesti dirinya sendiri sepositif mungkin. Agar tidak mudah rapuh dan goyah saat ia diterpa gosip yang menyakitkan, dan saat ia harus memperjuangkan perasaannya terhadap Rizzi.


Ia lalu menepuk kedua pipinya secara bersamaan beberapa kali untuk mengembalikan semangatnya.


Tok. Tok.


Tiba-tiba saja Mbak Haning muncul dari balik pintu pantry setelah memberikan ketukan pelan di pintu ruangan itu.


"Heeii, Nduk! Habis baca pesanmu aku langsung ke sini. Butuh bantuan balik ke ruang kerja?" tanyanya dengan senyum mengembang.


Hati Beth langsung menghangat begitu melihat senyum tulus dari seniornya itu. Ia lalu mengangguk dengan antusias.


"Tapi ke toilet dulu aja deh, mbak! Mendadak jadi kebelet pipis lagi nih aku!" Beth meringis.


Mbak Haning terkikik geli melihat raut jenaka dari wajah juniornya itu, "Emangnya dari tadi belum, ke toiletnya?"


"Beluuumm, hehee! Tadi baru setengah jalan udah ngerasa cenut cenut lagi, makanya istirahat dulu di sini!" ujar Beth setengah berbohong.


"Salah sendiri, suka ngeyeell siihh!" omel Mbak Haning sambil tertawa. "Ya udah, yukk!!! Sekarang aku temenin!" ajak wanita berkerudung itu lalu meraih lengan Beth untuk membantunya berdiri pelan-pelan.


***


Setelah dari pantry, Fady tak langsung kembali ke ruang kerjanya sendiri. Melainkan pergi ke ruangan Direktur Utama di mana suaminya berada. Ia sudah ada janji sebelumnya dengan sang suami untuk makan siang bersama.


Tok. Tok. Tok.


Fady mengetuk pintu ruang kerja Vynt Dae-Ho itu sebelum membukanya. Meski dirinya adalah istri sang calon Direktur Utama tapi Fady tetap menjaga etikanya yang juga sebagai karyawan biasa di Dae-Ho Trip.


"Masuk!" jawab suara dari dalam.


"Permisi!" ucap Fady ketika membuka pintu ruangan itu.


"Oh, masuk, Fa!" pinta Vynt begitu melihat wajah istrinya menyembul dari balik pintu.


Fady melihat suaminya nampak sedang membahas sesuatu dengan dua orang pria yang ia kenali sebagai Wakil Direktur yang selama ini menggantikan posisi ayah mertuanya---Mr.Hwa Dae-Ho sebagai pemimpin di Dae-Ho Trip beserta asistennya.


"Oh, maaf kalau saya mengganggu! Saya akan kembali lagi nanti!"


"Tidak-tidak, tunggu saja sebentar!" pinta Vynt pada istrinya itu.


Fady mengangguk lalu melangkah masuk dan menutup kembali pintu itu pelan-pelan. Ia memutuskan untuk tetap berdiri di depan pintu yang cukup jauh dari sofa set yang sedang dijadikan tempat berdiskusi oleh ketiga pria dalam ruangan itu.


Ia tidak mau mengganggu apalagi lancang menguping apa yang tengah mereka diskusikan. Meskipun ia adalah istri sah dari pria dengan posisi tertinggi di sana, tapi bagi Fady, apa yang mereka diskusikan bukanlah urusannya. Dan ia tidak merasa punya hak untuk mencampurinya.


Dengan berdiri cukup jauh dari mereka, Fady merasa posisinya sudah benar dan tidak akan menyalahi etika kerjanya.


Untungnya tak berapa lama, diskusi yang terlihat cukup serius itu pun berakhir. Wakil Direktur dan asistennya berpamitan pada Fady saat mereka melewati wanita itu sebelum keluar dari ruangan yang kini ditempati Vynt.

__ADS_1


Fady mendekati suaminya setelah pria itu selesai membereskan beberapa dokumen dan kembali ke meja kursi kebesarannya. Meja dan kursi untuk Direktur Utama.


"Gimana hasil belajar kamu memimpin Dae-Ho Trip hari ini? Lancar?" tanya Fady. Ia berdiri tepat di depan meja kerja suaminya.


Vynt yang baru saja memasukkan semua dokumen ke dalam laci dan mematikan komputernya, melirik sekilas ke arah sang istri kemudian menjawab...


"Lumayan! Udah mulai terbiasa akunya." jawab Vynt sambil tersenyum.


Ia berjalan keluar dari balik meja lalu mendekati Fady.


"Kita makan sekarang?" tanyanya sambil merangkul pundak istrinya.


"Sebentar, ada yang harus aku omongin!" Fady mengangkat rangkulan suaminya itu dari pundaknya lalu menarik tangan Vynt untuk duduk di sofa yang tadi dipakainya berdiskusi.


"Mau ngomong apa sih? Serius banget kayanya!" tanya Vynt ketika mereka berdua sudah duduk berdampingan di sofa panjang di ruangan itu.


"Emang serius ini, tapi kamu janji dulu enggak bakalan emosi dan bertindak gegabah!"


"Seserius itu?"


Fady mengangguk mantap.


Vynt berpikir sejenak, "Kalau begitu aku butuh bantuan kamu untuk mengontrol emosiku!" pinta Vynt pada istrinya.


Fady kembali mengangguk. Melihat hal itu Vynt pun lalu ikut mengangguk menyanggupi untuk tidak kalap atas apapun yang akan ia dengar dari Fady.


Fady lantas menceritakan bagaimana hampir seluruh kantor Dae-Ho Trip menggosipkan hal yang absurd tentang Bethsa Putry. Fady juga mengatakan bagaimana beberapa wanita bergosip seenaknya sendiri tentang Beth sambil tertawa-tawa, tadi di toilet wanita di lantai tiga.


"Aku dengar sendiri, isinya mengerikan, sayang. Mereka menuduh Beth berpura-pura keseleo demi mendekati Rizzi setelah Beth gagal mendekatimu karena kita menikah!" lapor Fady.


Seketika ekspresi di wajah Vynt jadi menegang, "Serius???" tanyanya.


Fady mengangguk perlahan, "Dan yang paling parah. Ternyata Beth ada di sana waktu mereka menjelek-jelekkannya begitu. Beth mendengar semuanya, sayang. Dan aku yakin, sekarang hatinya pasti sangat terluka."


Fady kembali merasa iba kala mengingat mimik wajah Beth ketika ia meninggalkan gadis itu di pantry tadi.


Dan seperti yang sudah Fady duga, Vynt langsung terlihat sangat emosi setelah mendengarkan hal itu. Wajahnya memerah. Tangannya terkepal.


Tapi karena Vynt mengingat janjinya untuk tidak kalap, ia hanya melampiaskannya dengan meninju sandaran tangan pada sofa yang didudukinya.


Fady mengerti bagaimana suaminya akan bereaksi, jadi ia segera mengeratkan genggamannya dan menggosok-sosok punggung Vynt untuk menenangkannya.


"Sabar, sayang, sabaarrr...!" pinta Fady dengan lembut. "Tapi aku sudah membuat mereka yang bergosip itu, meminta maaf kepada Beth secara langsung! Dan Beth pun juga sudah langsung memaafkan mereka kok!"


"Benarkah???" tanya Vynt dengan menatap lurus ke arah istrinya.


Kali ini Fady mengangguk dengan cepat.


"Tapi apa yang bisa aku lakukan untuk membantu Beth, sayang?" Vynt tampak lesu saat menanyakan itu pada Fady. "Aku enggak bisa diam aja melihat sahabatku diperlakukan begitu di perusahaanku sendiri, Fa!"


"Aku rasa kamu bisa membuat Rizzi melakukan sesuatu untuk menghapus semua gosip itu, Yang!" Fady memberikan sarannya.


"Iya, sayang. Aku tahu harus apa sekarang!" jawab Vynt.


Vynt lalu mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Rizzi. Ia lalu menceritakan apa yang telah terjadi pada Beth seharian ini sesuai dari yang ia dengar dari istrinya.


Di seberang sana Rizzi tak kalah tersulut emosi setelah mendengarnya. Hatinya memanas membayangkan kalimat-kalimat pedas nan mengejek yang dilontarkan orang-orang yang tidak tahu apa-apa itu untuk gadis kesayangannya.


Vynt juga memberikan saran yang barusan terbesit di kepalanya kepada Rizzi. Rizzi terdengar antusias.


📱VYNT DAE-HO


Gue rasa ini kesempatan lo, Riz. Buktiin kalo lo selalu ada untuk ngelindungin Beth. Prove it that you worthy for her, buddy!


📱RIZZI RIYANT


Oke, Vynt. Gue ngerti maksud lo! Thanks infonya. Akan gue siapin semuanya sekarang.


📱VYNT DAE-HO


Gue tunggu action lo untuk sahabat gue!


📱RIZZI RIYANT


Gue enggak akan ngecewain lo, Vynt. Gue juga enggak akan ngecewain Beth! I'm promise!


📱VYNT DAE-HO


Siipp, sampe ketemu nanti sore!


***


Menjelang jam pulang kantor, Rizzi mengirimkan pesan kepada Beth untuk mengingatkan gadis itu agar tidak pulang lebih dulu, terlebih lagi pulang sendiri.


📩RIZZI RIYANT


Haaii, Beth. Jangan lupa pulangnya aku jemput kamu, ya!


Beth terdiam setelah membaca pesan dari Rizzi itu. Memorinya kembali mengingat gosip yang dibicarakan beberapa wanita di toilet tadi.


Haruskan gue bersikap cuek sama gosip yang sedang beredar??? Atau lebih baik gue ngehindarin Rizzi dulu sementara waktu???


Beth bertanya-tanya dalam hati, dengan mempertimbangkan keputusan mana yang terbaik untuknya. Namun akhirnya ia merasa yakin jika perasaannya terhadap Rizzi adalah yang utama. Bahkan jauh lebih penting di atas semua nyinyiran orang-orang sotoy di luar sana.


Dengan segenap optimisme yang akhirnya berhasil ia kumpulkan kembali, Beth lalu membalas pesan dari Rizzi.


📮BETHSA PUTRY


Haii juga, Riz. Oke! Tapi kamu tunggu di bawah aja ya! Enggak usah naik, aku bisa turun sama seniorku.


📩RIZZI RIYANT

__ADS_1


Bereesss, Tuan Putri!!! 👌


.


.


.


.


.


Ketika tepat jam pulang kantor, Rizzi kembali mengirim pesan pada Beth yang menyampaikan bahwa dirinya sudah stand by di depan pintu utama Dae-Ho Trip bersama mobilnya.


'Biar kamu enggak jauh-jauh jalan ke parkiran.'


Begitulah bunyi kalimat terakhir pada pesan Rizzi.


"Mbak Haning, turun sekarang yuk! Yang jemput aku udah di bawah nih!" ajak Beth pada supervisornya yang ramah dan baik itu.


Keduanya memang sedang menunggu kabar dari Rizzi sebelum akhirnya turun ke bawah.


"Oh, udah datang dia?! Ya udah, hayuk!!!" sahut Mbak Haning.


Di bantu Mbak Haning, Beth turun dengan perlahan ke lantai dasar. Sejak keluar dari lift, beberapa karyawan yang nyinyir ada yang secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi memandang ke arah Beth sambil berbisik-bisik.


"Cuekin aja, Nduk! ****** menggonggong, kafilah berlalu!!!" bisik Mbak Haning pada Beth.


Beth hanya tersenyum menanggapi ucapan yang dilontarkan seniornya. Peribahasa yang sangat cocok untuk kondisinya saat ini.


Untungnya tidak semua karyawan peduli dengan gosip yang beredar hari itu. Sebagian dari mereka tampak tetap menyapa Beth dan Mbak Haning dan bersikap seperti biasanya.


Lalu setibanya mereka di depan pintu utama DAE-HO Trip, begitu mereka melihat Rizzi yang sedang bersandar pada bagian belakang mobilnya. Beth dan Mbak Haning segera mendekatinya.


Namun sebelum Beth sempat menyapa pria jangkung itu, tiba-tiba Rizzi membuka bagasi belakang mobilnya ketika Beth sudah berada tepat di hadapannya.


Mendadak balon-balon helium berwarna pink dan putih keluar dari bagasi itu dengan membentangkan sebuah spanduk yang bertuliskan,


❤️ I LOVE U, BETHSA PUTRY ❤️


Sementara di bawah tulisan itu, berjajar bunga-bunga hidup aneka jenis dan warna di dalam pot-pot lucu yang memenuhi bagasi belakang mobil Rizzi.


Beth dan juga Mbak Haning seketika melongo melihat kejutan itu. Namun Mbak Haning lebih cepat tanggap, ia pun mundur dari sisi Beth setelah melepas perlahan pegangannya dari lengan gadis yang masih melongo itu.


"Good luck, Nduk!" sebuah bisikan lirih disampaikan supervisor tiketing internasional itu ke telinga Beth sebelum ia benar-benar melepaskan tangan Beth.


"Eh....Mbak!" Beth menoleh dengan kaget ke arah Mbak Haning yang sudah berjalan agak jauh darinya sambil melambaikan tangan.


Rizzi tersenyum melihat reaksi Beth yang luar biasa terkejut. Tapi tidak hanya Beth yang begitu, para karyawan Dae-Ho Trip yang hampir seluruhnya keluar dari gedung itu untuk pulang jadi turut melongo dibuatnya. Mereka mendapat tontonan gratis yang menghebohkan sekaligus bikin iri itu.


Rizzi beralih membuka pintu belakang mobilnya lalu mengeluarkan buket bunga super besar. Saking besarnya buket itu hingga nyaris menutupi sebagian tubuh Rizzi yang memeganginya dengan kedua tangan.


Setelahnya ia lalu kembali ke depan tulisan yang telah disiapkannya tadi dan juga dihadapan Beth. Dipasangnya wajah serius sebelum akhirnya ia mulai berkata-kata.


"Beth...Aku mungkin nggak sehebat Bandung Bondowoso yang bisa membangun ratusan candi dalam semalam, aku juga nggak sepuitis Dilan yang bisa bikin kalimat-kalimat romantis untuk Milea. Karena aku hanyalah seorang Rizzi, bujang lapuk yang jatuh cinta sama seorang gadis bernama Bethsa Putry!" ungkap Rizzi.


Beth menahan nafasnya mendengar kalimat demi kalimat yang diucapkan Rizzi. Beth melipat bibirnya dengan tegang. Perutnya mengencang, dan tangannya mulai berkeringat.


"Beth, maukah kamu nerima cinta aku?" tanya Rizzi dengan suara yang nyaris hilang karena bergetar.


Beth masih terdiam. Tenggorokannya langsung kering mendengar ungkapan cinta dari pria yang selama ini ditaksirnya mati-matian.


Beth tak menyangka, sama sekali tak menyangka akan di tembak Rizzi di tengah-temgah banyak orang yang seharian ini menggosipkannya.


Rizzi yang melihat Beth masih membisu akhirnya mengulang pertanyaannya, "Betsha Putry, maukah kamu menerima cintaku???" serunya kali ini dengan suara yang lebih lantang. Lebih tegas.


Rizzi tak peduli akan tatapan orang-orang sekitar sebab ia memang sengaja mengungkapkan perasaannya di depan semua orang agar seluruh karyawan Dae-ho Trip yang telah nyinyirin Beth menjadi ternganga.


"Buruan dong jawabnya, kaki aku dah gemeteran ini!!!" rengek Rizzi pada Beth.


Beth langsung tertawa geli mendengar rengekan Rizzi itu. Ia kemudian maju pelan-pelan lalu meraih salah satu pot bunga yang berjajar di bagasi mobil Rizzi.


"Baiklah, Riz! Aku...Bethsa Putry, hari ini....detik ini....menerima cinta Rizzi Riyant!" jawab Beth sambil mencium pot bunga yang dipegangnya itu.


"Beneran???" Rizzi tak percaya.


Beth mengangguk dengan semangat, "Iya, beneran!" jawabnya cepat.


"Tapi kok kamu enggak ambil buket bunga yang aku pegang?" protes pria itu.


"Ya enggak mungkin lah aku bisa bawa buket segedhe itu, orang kamu aja sampe enggak kelihatan bawanya, apalagi aku?!" jawab Beth.


Dan Rizzi yang baru menyadari bahwa buket bunganya memang terlalu lebay lantas hanya bisa tertawa terbahak. Namun sejurus kemudian, ia meletakkan buket bunga super besar itu ke atas mobilnya sebelum akhirnya meraih tubuh Beth ke dalam pelukannya.


Suasana masih hening ketika tiba-tiba sebuah tepukan tangan terdengar dari sepasang suami istri yang ternyata sudah berdiri tak jauh dari sana. Dan pasangan itu tidak lain adalah Vynt Dae-Ho dan istrinya, Fady Savira.


Melihat bos besar mereka bertepuk tangan atas peristiwa yang baru saja terjadi di antara Beth dan Rizzi membuat seluruh karyawan Dae-Ho Trip yang masih ada di sana turut bertepuk tangan mengikuti sikap atasan tertinggi mereka.


Tak lama, tepukan tangan mereka makin riuh diiringi dengan siulan-siulan dan seruan-seruan yang menggoda pasangan yang baru jadian itu.


"Ciyeeehh..ciyeehhh..."


Suit.....suiiitttt.....


.


.


.


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2