
Keira keluar dari gedung perkantoran itu dengan langkah gontai. Hatinya perih. Didekapnya erat tas dokumen yang diterimanya tadi seolah-olah tas itulah satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.
Meski terdengar miris tapi memang tas itu sangat berharga bagi Keira saat ini. Karena isi tas itulah satu-satunya bekal hidup yang dia miliki setelah Papanya memutuskan hubungan dengannya.
Gadis itu terus melangkah tanpa arah dan tujuan. Semakin lama semakin cepat. Hatinya terlalu terluka. Otaknya seakan menolak untuk memikirkan apa-apa. Yang dia inginkan hanya terus berjalan. Terserah langkah kakinya akan membawanya kemana.
__________________________________
@Kafe Teluse
"Duuuhhh Keira kok belum ngabarin kita yah?" Beth mengetuk-ngetukkan kukunya di atas meja. Sementara sebelah tangannya lagi sedang menopang dagunya.
"Iya nih dah hampir 2 jam masa' gak kelar-kelar??? Said tak kalah khawatir.
Vynt yang sedari tadi duduk tegak sambil memandangi layar ponselnya mengambil napas panjang lalu menghembuskannya cepat. Dia pun kemudian menyandarkan punggungnya yang mulai kaku karena bertahan dengan posisi duduk yang tidak nyaman untuk waktu yang cukup lama.
"Coba aku telpon aja kalik ya?!" tawar Beth yang langsung dibalas anggukan setuju oleh kedua temannya.
Beth mencari kontak Keira pada ponselnya lalu menekan icon untuk menelpon. Tak lama nada sambung pun berdering. Sedetik...Dua detik...hingga 15 detik berlalu namun panggilan Beth tak kunjung dijawab Keira.
Bagaimana mungkin panggilan Beth tersambung jika pikiran Keira sedang kalut sementara ponselnya ter-silent di dalam tas selempang yang dipakai gadis itu.
Ekspresi Vynt dan Said menjadi keruh saat mereka lihat Beth menggeleng tanda usahanya menelpon Keira gagal sudah.
"OK GOOGLE, mencari nomor telepon PT. Permata." Vynt berujar sambil mendekatkan bibirnya pada spiker smartphonenya.
"Lo ngapain Bro nyariin nomor telpon kantor Papanya Keira???" tanya Said bingung dengan tingkah temannya.
Beth pun kaget namun dia hanya diam menyaksikan. Vynt pasti tahu harus melakukan apa.
"Gue mau ngecek, Keira masih disana atau dah balik." jawab Vynt datar.
__ADS_1
Vynt langsung memainkan jari-jarinya menekan nomor telepon yang sudah dia dapatkan. Jujur firasat Vynt mulai tidak enak tentang Keira. Dalam hati dia berdo'a semoga temannya itu baik-baik saja.
"Selamat Siang, PT. Permata dengan Wendy ada yang bisa kami bantu?" sebuah salam pembuka yang terdengar memastikan bahwa nomor yang ditelpon Vynt tidak salah sambung.
"Siang, boleh disambungkan dengan bagian resepsionis?" Vynt yang emang berotak encer dari sononya langsung paham di divisi mana dia harus menanyakan perihal keberadaan Keira.
"Baik, mohon ditunggu." jawab staff bernama Wendy itu kemudian.
"Selamat Siang, bagian resepsionis dengan Atika bisa dibantu?" akhirnya Vynt terhubung ke bagian yang ditujunya.
"Siang, apa benar tadi pagi ada tamu bernama Keira datang untuk menemui Bapak Zein Imran?" ucap Vynt membuka pertanyaan.
"Maaf dengan siapa saya bicara?" resepsionis itu balik bertanya.
"Nama saya Vynt, temannya Keira. Saya mau jemput dia tapi Keira tidak bisa dihubungi." jawab Vynt.
"Memang betul tadi Nona Keira sudah menemui Pak Direktur dengan diantar langsung oleh sekretaris beliau ke ruangannya." Resepsionis itu menjawab lugas karena memang dirinyalah yang menerima kedatangan Keira tadi pagi jadi dia tahu pasti apa yang terjadi.
"Nona Keira sudah keluar dari kantor sejak kira-kira satu jam yang lalu, sekretaris Direktur sendiri yang mengantarnya sampai ke Pintu Utama." jelas staff bernama Atika itu lebih lanjut.
"OHH, SIAL!!!" umpat Vynt dalam hati.
"Baik, terima kasih informasinya." Klik. Vynt langsung menutup telponnya tanpa menunggu jawaban dari seberang.
"Gaes, buruan cabut, gue rasa Keira ada masalah." Vynt bergegas berdiri dari duduknya dan setengah berlari menuju pintu keluar kafe.
Beth dan Said yang kebingungan pun mau tidak mau mengikuti Vynt dengan tergopoh.
"Keira kenapa Vynt???" tanya Beth dan Said bersamaan.
"Gue gak tau, pokoknya kita harus cari Keira dulu." jawab Vynt dengan raut muka mengeras. "Siniin kunci mobil lo, biar gue yang nyetir." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Haahh, tapi Vynt??!!" Said mendadak panik.
Vynt yang langsung mendelik tajam pun otomatis membuat Said keder. Dengan terpaksa diberikannya kontak mobil kesayangannya itu kepada Vynt.
__________________________________
Keira masih saja berjalan tanpa tujuan. Ketika hampir mendekati zebra cross, dengan pikirannya yang masih kosong tentu saja Keira tidak melihat lampu lalu lintas yang sudah berubah hijau ketika dirinya tetap melangkah lurus menerobos jalan raya.
Hanya dalam dua langkah ketika kaki Keira mulai menapak di atas aspal tiba-tiba saja terdengar bunyi ban mobil berdecit yang melengking kencang memekakkan telinga siapapun yang sedang melintas di area itu.
CKIIITTTTTT!!!!!!!
To Be Continue....
.
.
.
.
.
Nah lhoo...naaahh lhooo....
kira-kira apa yang terjadi yah sama Keira?
.
MAKASII BANYAK buat yang dah LIKE & baca tulisan ala kadarnya ini, moga kalian gak bosen baca terus sampe tamat yaa πππ
__ADS_1