Replacement Lover

Replacement Lover
Said Story : MENAHAN RASA


__ADS_3

.


.


.


Meski awalnya hanya menawarkan tempat beristirahat dan juga teh kepada Ny.Bilqis, tetapi kenyataannya Milla menyuguhkan seluruh kudapan yang ia miliki kepada tamunya itu. Di dalam apartemen milik Keira yang Milla tinggali untuk sementara, kedua perempuan yang baru saling mengenal itu berbincang dengan hangat.


Ny.Bilqis menanyakan apakah Milla baru pindah ke apartemen itu, karena ini adalah kunjungannya yang kedua dan yang ia tahu kamar yang saat ini Milla tempati adalah milik Keira, dan sedang dalam kondisi kosong.


Milla kembali tersenyum sebelum menjawab, "Saya memang baru sebulanan tinggal disini. Dan saya cuman menumpang. Saya bisa tinggal disini atas kebaikan hati Mbak Keira."


"Memangnya orang tua Nak Milla ada di mana?" tanya Ibunda Said merasa heran.


"Saya yatim piatu, Bu. Sejak kecil saya tinggal di panti asuhan. Begitu masuk kuliah, saya ngekos dengan biaya sendiri. Tapi suatu hari saya kena musibah, dan harta benda saya nyaris hilang sepenuhnya. Makanya Mbak Keira dan keluarganya membantu saya. Tapi semua itu juga berkat Kak Said."


Mendadak Ny.Bilqis terdiam. Seolah langsung menyesali pertanyaannya barusan setelah mendengar jawaban Milla yang terus terang dan terdengar begitu memilukan.


"Maafkan pertanyaan saya ya!" sesalnya kemudian.


Milla menggeleng, "Tidak apa-apa, Bu! Anda tidak perlu merasa bersalah, karena saya bersyukur atas hidup saya sekarang. Walaupun berat, tapi berkat Kak Said, saya jadi mengenal orang-orang baik dan hebat seperti Mbak Keira dan keluarganya."


Ny.Bilqis menyunggingkan senyumnya sembari menatap Mila lekat. Diam-diam ia salut atas ketegaran hati gadis muda yang tampak rapuh itu. Percakapan mereka semakin panjang saat Ny.Bilqis menceritakan tentang keluarga Said.


Beliau menjabarkan jika keluarga Said tidak tinggal di kota itu. Ny. Bilqis dan adik Said tinggal di rumah utama keluarga mereka di daerah puncak Trawas. Rumah yang lebih mirip villa dengan berbagai fasilitas itu adalah rumah peninggalan mendiang Abinya Said. Orang tua lelaki Said yang asli Timur Tengah membangun rumah itu untuk istri dan anak-anaknya agar mereka dapat hidup nyaman jauh dari hingar bingar perkotaan.


Menurut Ny. Bilqis, Said adalah anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya lelaki. Kakak tertuanya yang bernama Safaraz, sudah menikah dan karena memiliki usaha di Riyadh jadi ia sekarang tinggal di sana bersama istrinya. Sedangkan sang adik yang bernama Saghir, masih sekolah dan tinggal bersama Ny. Bilqis di kediaman mereka di Trawas.


Berbeda dengan Said yang berjiwa petualang, sang adik yang lebih introvert memilih bersekolah dengan sistem Homeschooling. Saghir merasa lebih nyaman melakukan segala sesuatu dari rumah ketimbang harus keluar dan bersusah payah melakukan perjalanan yang melelahkan hanya untuk pulang pergi sekolah. Alasan lainnya, karena Saghir tidak ingin meninggalkan sang Ummi di rumah sendirian.


Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba saja sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar Milla. "Itu mungkin Kak Said yang datang," seru Milla sambil berdiri. Gadis itu mengintip lebih dulu ke lubang pintu sebelum akhirnya membuka pintu sambil tersenyum lebar.


"Assalamu'alaikum." Said mengucapkan salam saat pintu terbuka di hadapannya. Milla dan Ny.Bilqis kompak menjawab salam tersebut.


Said meminta maaf kepada Milla karena telah merepotkan gadis itu atas kedatangan sang Ummi. Ketika Said dan Milla sedang berbincang singkat di depan pintu, Ny.Bilqis nampak memperhatikan ekspresi keduanya dengan seksama. Merasa menyadari sesuatu, beliau pun lantas berdiri sembari membawa tas jinjingnya dan melangkah ke arah pintu.

__ADS_1


"Nak Milla, karena ini sudah siang, saya ingin mengajak Nak Milla makan siang sama-sama. Tolong jangan menolak dan jangan menganggap ini sebagai balasan dari kebaikan kamu yang telah menjamu saya. Saya cuman masih belum puas ngobrol sama kamu. Gimana? Mau ya?" tanya Ny.Bilqis yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Milla.


Milla yang kaget tak mampu langsung menjawab, tetapi Said lebih dulu memastikan bahwa gadis itu akan makan siang bersamanya dan sang Ummi.


"Udah jangan kebanyakan mikir, Mill! Kamu sekarang buruan siap-siap, aku juga udah laper nih. Tapi karena aku mau ganti baju dulu, lima belas menit lagi kita keluar. Oke!" Said mengerling sambil berlalu menuju pintu kamarnya sendiri.


Sementara Ny.Bilqis tampak tersenyum lebar sambil melambai ke arahnya sebelum memasuki kamar sang anak.


Siang itu, mereka bertiga akhirnya makan bersama di sebuah restoran keluarga tak jauh dari apartemen mereka. Momen yang tak pernah terbayangkan bahkan dalam angan-angan terliar seorang Millana Risty bahwa ia berkesempatan makan bersama Said dan Umminya yang begitu ramah.


Keramahan Ny. Bilqis terasa begitu tulus, membuat Milla merasa begitu diterima. Entah kenapa sejak mengenal Said, Milla lebih banyak bertemu dengan orang-orang yang baik terhadapnya. Padahal sebelumnya, ada lebih banyak orang yang mengabaikannya dari pada yang memperlakukannya selayaknya manusia lainnya.


Tidak heran jika akhirnya Milla menganggap Said sebagai pembawa keberuntungan dalam hidupnya, karena memang sejak pertemuan kali keduanya dengan pemuda itu, hidupnya menjadi jauh lebih mudah.


***


@Bandara Internasional,


Akhirnya, hari yang paling ditakuti Said dalam beberapa minggu terakhir ini tiba juga. Hari keberangkatan Milla ke Singapura. Ia dan sahabat-sahabatnya yang lain mengantar gadis itu ke Bandara untuk memberikan dukungan mereka.


Namun, tetap saja kenyataan itu terasa begitu pahit bagi Said. Seandainya saja ia bisa merubah aplikasi OJTnya menjadi ke Singapura dan bukannya ke Riyadh sesuai dengan tujuan awalnya, mungkin saja saat ini ia turut berangkat bersama gadis itu.


Merasa tak ingin berjauhan dengan Milla, Said pernah mencoba mengubah tujuan OJTnya ketika Umminya berkunjung kemarin. Namun sayangnya, aplikasi OJTnya sudah terlanjur masuk ke perusahaan yang ditunjuk pihak kampus di Riyadh. Jadi sudah sangat terlambat baginya saat itu untuk mengubah tujuannya.


Said tersenyum miris meratapi sebongkah penyesalan yang mendadak muncul dalam dirinya. Ia yang awalnya begitu berharap dapat diterima magang di salah satu perusahaan di Riyadh agar bisa berkumpul dengan keluarga sang kakak, kini merasa tidak lagi bersemangat berangkat ke negara itu.


Di ruang tunggu Bandara, Said menatap nanar ke arah Milla yang sedang duduk diapit oleh Keira dan Beth. Gadis itu tampak bahagia bercengkerama dengan kedua sahabatnya. Tawa ceria tak pernah lepas dari wajah Milla. Berbanding terbalik dengan kegelisahannya sendiri pada detik-detik terakhir kebersamaannya dengan gadis itu. Membuat Said semakin merutuki diri sendiri.


Tiba-tiba saja Said teringat percakapannya dengan sang ummi sepulang dari makan siang bersama Milla hari itu ....


"Gadis itu baik sekali ya? Sopan dan manis," pancing Ny.Bilqis.


Said yang saat itu merasa begitu rapuh hati hanya bisa tersenyum kecut menanggapi pertanyaan sang ummi. Merasa pancingannya tak terlalu berhasil, Ny. Bilqis pun mencoba sekali lagi dengan lebih terang-terangan.


"Kamu naksir Milla kan?" tanya Ny.Bilqis tepat sasaran.

__ADS_1


Said tersentak mendengar pertanyaan umminya yang to the point. Ia tak menyangka jika umminya akan langsung mengetahui perasaannya secepat itu.


Meski kembali tak mendapatkan respon yang diharapkannya dari sang anak, tetapi Ny. Bilqis belum mau menyerah. Ia pun mencoba kembali memancing perasaan Said. "Ummi lihat dia juga ada rasa sama kamu."


Said yang sedang membuka kulkas untuk mengambil air mineral dingin tiba-tiba berhenti bergerak. Ny. Bilqis menatap tajam pada reaksi yang ditunjukkan putranya. Meski tanpa kata-kata, wanita itu sudah mendapatkan jawaban yang nyata dari sikap Said.


"Tapi ummi yakin kamu belum berani nembak dia. Iya kan?" Sekali lagi tebakan umminya tepat sasaran. Membuat Said hanya bisa meringis sambil menyodorkan segelas air dingin di hadapan wanita yang melahirkannya itu.


"Memang belum, Mi. Aku masih galau karena Milla mau nerusin kuliah di Singapura sementara aku sendiri sudah diterima OJT di Riyadh," aku Said dengan menyandarkan kepalanya ke pundak sang ummi. Mencoba mencari kenyamanan dengan bermanja pada satu-satunya orang tuanya yang tersisa.


Ny. Bilqis mengelus kepala putranya dengan kasih sayang seorang ibu, "Jangan gantungkan nasib gadis sebaik Milla hanya demi keegoisanmu, Nak. Kalian masih terlalu hijau untuk menjalin hubungan jarak jauh. Jika salah melangkah, ummi yakin hasilnya tidak akan baik. Biarkan Milla menikmati hidup barunya dulu, biarkan dia meraih apa yang menjadi cita-citanya, biarkan dia membuktikan pada dunia bahwa dia berharga. Dan kamu, Id. Buktikan dulu kalau kamu adalah pria yang pantas untuk Milla, buktikan dulu jika kamu mampu melindungi dia kelak dari bahaya apapun!"


Setelah mendengar nasihat sang ummi dan memikirkannya matang-matang, pada akhirnya Said memutuskan tidak jadi menyatakan perasaannya kepada Milla demi kebaikan mereka. Bahkan meski bibirnya gemetar menyembunyikan kegetiran hatinya saat melihat Milla dan Pak Agus yang akhirnya masuk ke boarding lounge sebelum memasuki pesawat. Said mencoba tetap tegar bertahan.


"Lo nggak jadi nembak Milla?" tanya Vynt yang hari itu juga turut mengantar ke bandara meski belum terlalu mengenal Milla. Vynt ada di sana lebih sebagai supir Keira atas permintaan Tyo yang hari itu tidak bisa mengantar sang istri.


"Nggak! Gue enggak mau membebani Milla yang lagi memulai langkah awal menata hidupnya. Gue enggak mau jadi cowok yang egois buat dia."


"Tapi kalau begini, elo nggak bisa apa-apa kalau nanti di sana dia ditaksir dan ditembak cowok lain." Rizzi yang datang untuk mengantar Beth turut menambahkan.


"Kalau emang begitu akhir kisah yang ditulis si author di story gue ini, gue ikhlas kok! Gue anggep, gue sama Milla emang enggak ada jodoh." Said tersenyum getir.


Vynt yang prihatin langsung merangkul pundak Said yang meski terlihat tegar namun gemetar. Sedangkan Rizzi menunjukkan supportnya dengan menepuk-nepuk kepala pemuda itu ringan.


Setelah berpisah dengan yang lainnya, Said berdiam diri cukup lama, sendirian, di dalam mobilnya. Sabuk pengaman sudah terpasang, tetapi entah kenapa ia begitu enggan untuk beranjak dari sana. Seolah tubuh dan hatinya telah terpasung di tempat itu.


Lambat laun, Said merasakan aliran hangat yang membasahi pipinya. Menyadari air matanya terurai dengan sendirinya, Said pun menarik napas dalam-dalam untuk melegakan dadanya yang mulai sesak.


"Ya Allah ... Belum apa-apa aku udah merindukan salah satu ciptaanMu," gumam Said sambil tersedu. Pemuda itu membenamkan wajahnya pada lipatan tangan yang bertengger di atas kemudi, berusaha menyembunyikan tangisnya di sana.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2