Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 106: Keputusan


__ADS_3

Tidak mungkin pertarungan dengan intensitas yang tinggi ini tidak diketahui orang banyak bukan? Jika memang tidak terlihat secara langsung, namun mereka masih bisa mendengar suara gaduh yang ditimbulkan bukan?


Begitulah pertanyaan yang ada pada Feronica sekarang, dan seketika itu juga Stephen seolah tersadar akan sesuatu, mungkin dia juga punya pertanyaan yang sama dengan Feronica?


"Jangan khawatir 'kan ada itu. " Freiss menunjukkan jari telunjuknya ke atas, lebih tepatnya ke langit.


"Ada langit?"


"Sepertinya tidak sesederhana itu ya Feronica...." Stephen tidak setuju dengan pendapat rekannya ini.


"Hm?" Feronica memiringkan kepalanya sendiri, dan menatap kembali gurunya dengan rasa penasaran yang masih ada.


"Sihir pelindung sekolah tidak hanya menetralkan kekuatan dari dalam, tapi juga semua yang terjadi di dalamnya, termasuk kekuatan sihir secara kasat mata dan juga suara yang ditimbulkannya," jelas Freiss, kini penjelasannya memang terdengar lebih bisa dimengerti dibanding sebelumnya sih.


Feronica memfokuskan matanya untuk melihat apa yang ada di atasnya, dan akhirnya ia bisa melihat lingkaran pelindung sihir transparan yang ada di area ini.


"Ah begitu!" Feronica memukulkan tinju pada telapak tangannya sendiri, tanda ia mengerti sekarang.


"Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan ya...." Stephen terlihat ikut senang juga, karena tak ada yang perlu dikhawatirkan lebih lanjut soal pertarungan yang mendadak ini.


Feronica bisa merasakan ada dua energi sihir yang lemah, yang bisa dipastikan adalah kedua guru yang sebelumnya bertarung dengan seorang berjubah hitam.


Dari sini Feronica tahu memang begitu besar usaha yang dilakukan untuk membuat tamu tak diundang itu untuk pergi dari tempat ini. Ada harga yang harus di bayar demi membuat keadaan menjadi tenang kembali.


Feronica memandang ke arah kedua sumber energi sihir yang lemah itu, dan memang ia bisa melihat Tuan Housen yang memandangi tajam dari kejauhan, dan Tuan Joseph yang masih terbaring di tanah.


Seharusnya memang ia tidak punya urusan di sini. Lagipula ia bukanlah murid akademi lagi. Apa memang kehadirannya di sini benar-benar membantu? 'Kan sudah ada para guru tingkat akhir yang melawan seorang berjubah hitam dan pada akhirnya usaha mereka tidak sia-sia.


Stephen terdiam, perhatiannya tidak lepas dari Feronica. Entah mengapa ia masih bisa melihat adanya ketidakpastian yang terasa dari rekannya saat ini.


"Ada apa?"


"Ah...." Feronica sadar ia kembali di lamunannya lagi.


'Tidak ada apa-apa kak hehe...." Feronica menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Terima kasih atas bantuanmu Feronica." Freiss tersenyum lembut. Senyum tanpa paksaan yang membuat Feronica merasa berarti di sini.


*


Sementara itu Feronica dan Stephen pulang dari akademi setelah melihat keadaan yang sudah menjadi normal kembali. Bukan berarti tidak ada kerusakan akibat pertarungan yang berlangsung tadi, ada lubang yang cukup besar di tanah dan juga kerusakan lain selain bangunan sekolah yang menjadi saksi akan apa yang terjadi tadi.


Di sepanjang perjalanan Feronica memikirkan soal apa yang terjadi pada dirinya tadi. Mendengar ia melakukan hal yang baik dengan tanda aneh yang ada di tubuhnya itu adalah hal yang melegakan, namun pada akhirnya ia memang tidak bisa menjamin apa yang dilakukannya itu sesuai dengan kehendaknya sendiri.


'Apa tanda merah yang selalu muncul ini bukanlah hal yang buruk?' batin Feronica bertanya mengenai hal ini.

__ADS_1


Tapi berkaca dari kasus sebelumnya Feronica tidak lupa akan fakta tanda aneh itulah yang membuatnya harus berhenti sekolah.


"Maaf Feronica...." Tiba-tiba tiada angin tiada hujan Stephen mengatakan hal seperti ini.


"Maaf untuk apa kak?" Lamunan Feronica buyar seketika, tidak ada lagi yang tersisa, kini ia heran mengapa rekannya meminta maaf seperti ini.


"Aku tidak melakukan apapun tadi." Stephen memandang Feronica sejenak dan kemudian mengalihkan matanya seolah menyesal akan keputusannya itu.


"...." Feronica terdiam. Karena ia tidak ingat akan apapun yang terjadi tadi, mengenai perkataan rekannya ini, ia tidak begitu memikirkannya.


"Ah, tidak apa kak, yang penting semuanya bisa selamat dari kejadian tadi...." Feronica tersenyum kecil yang kemudian langsung dilihat oleh Stephen.


"Tapi apa kakak tahu motif dari seorang berjubah hitam itu?"


"Dia adalah kakakku."


"Ah... begitu ya...."


Feronica tidak sepenuhnya lupa akan kejadian yang terjadi tadi, melainkan tetap ingat beberapa momen yang salah satunya adalah fakta yang didengarnya ini.


Namun apa yang terjadi sebelumnya berlalu begitu cepat sampai-sampai Feronica tidak punya waktu untuk memproses fakta ini di lapangan.


'Jikalau seorang berjubah hitam itu kakaknya kak Stephen, apa mungkin....?'


"Aku tidak tahu apa yang direncakannya."


Namun tidak begitu kenyataannya. Bahkan setelah apa yang dilalui oleh para guru tadi, masih belum cukup untuk membongkar apa yang direncanakan oleh seorang berjubah hitam misterius itu.


Dan baru pertama kali Feronica tahu akan hal ini, yaitu fakta soal seorang berjubah hitam itu kakak kak Stephen. Sebelumnya dia tidak pernah mengungkit soal silsilah keluarganya sih.


Feronica tidak punya urusan dengan keluarga orang lain, dan ia yakin Kak Stephen pun tidak berniat mengungkit anggota keluarganya sendiri.


Privasi adalah hal yang penting bukan? Feronica tahu dan menghargai apa yang dibicarakan oleh rekannya sekarang.


Stephen terdiam, ia tidak punya banyak hal untuk dikatakan sekarang. Terlalu dini untuk membicarakan apa yang direncakan oleh saudaranya ini.


Mengingat rencana saudaranya itu begitu tersembunyi dengan rapi dan membuat Stephen tidak punya petunjuk banyak untuk dikatakan.


"...." Feronica paham dengan keheningan yang terjadi di sini. Ia sebenarnya ingin tahu lebih lanjut akan seorang berjubah hitam itu, namun di saat yang bersamaan ia berusaha mengurungkan niatnya.


Akan lebih mudah untuk membahas seorang berjubah misterius dengan kak Stephen jika memang dia tidak punya hubungan apapun dengannya. Mereka bisa bebas berdiskusi dan saling menggali informasi.


Dan lagi-lagi keadaan tidak seperti yang diharapkan. Untuk tahu lebih lanjut soal seorang berjubah hitam itu terasa sulit karena kak Stephen punya urusan pribadi di sini.


Feronica tidak punya banyak akses untuk membicarakan hal ini lebih lagi. Tidak peduli seberapa banyak pertanyaan yang ada padanya sekarang.

__ADS_1


Feronica perlahan memandang bagaimana keadaan rekannya sekarang selagi mereka masih berjalan, dan seketika itu juga kak Stephen melihat padanya juga.


"Ah...." Feronica dengan segera melihat kembali ke depan, padahal tadinya ia hanya ingin tahu apa yang dipikirkan oleh rekannya ini, tapi setelah beberapa saat pun Kak Stephen tidak terlalu termenung akan masalah ini.


*


"Aku pulang...." Feronica membuka pintu rumah perlahan dan melihat ibunya sedang bekerja seperti biasa di meja kerjanya. Menjahit baju dengan sepenuh hatinya tentunya.


"Selamat datang." Elisabeth melihat sekilas kedatangan putrinya dan kembali lagi bekerja seperti biasa. Hari yang sibuk seperti biasa.


Feronica melepaskan alas kakinya dan segera berjalan ke dalam ruangan. Baginya waktu terasa cepat sekali berputar. Hari sudah beranjak sore dan sinar matahari yang kekuningan membuat rumahnya terlihat indah.


Feronica selalu suka suasana sore yang cerah seperti ini, rasanya begitu damai dan menyenangkan hati.


Feronica langsung pergi ke kamarnya dan membaringkan diri.


'Kekuatannya memang berasal dari energi gelap... tidak heran kalau dia punya hubungan dengan Kak Stephen.'


Feronica akhirnya tahu fakta ini. Keberadaan kak Stephen sebagai pendatang yang baru saja tinggal di desa memang adalah hal yang sudah ada sejak awal. Dan kemunculan seorang berjubah hitam itu dengan tiba-tiba dengan tujuan yang belum jelas itu meninggalkan pertanyaan yang baru.


'Aku rasa kak Stephen dan saudaranya tidak dalam hubungan yang baik....' Feronica berkesimpulan sederhana di sini, yang pasti memang tujuan saudaranya berbeda dengan Kak Stephen sendiri.


Meski hawa kekuatan yang dipancarkan sama, namun Feronica tetap bisa merasakan perbedaan yang dasar. Di mana Kak Stephen berusaha untuk menyamarkan keberadaannya, sedangkan seorang berjubah hitam itu tidak.


'Apa mungkin sedang terjadi sesuatu di antara mereka?' Feronica hanya bisa menduga di sini, tapi kenyataan yang pasti memang hanya Kak Stephen saja yang tahu.


Feronica perlahan menutup matanya, rasanya banyak hal yang diluar dugaan yang kembali terjadi, dan di luar kendalinya. Tapi kini ia tidak berniat untuk kembali menyalahkan dirinya sendiri seperti sebelumnya.


'Jikalau aku benar-benar membantu di sana... aku bersyukur....'


*


-Sementara itu di sisi lain di dekat area pekuburan Wolfden. Di hari yang sama, menjelang petang.


'Aku tidak bisa menyembunyikan diri dari kakak lagi....'


'Kemana pun aku pergi... selalu ada cara untuknya bisa menemukanku....'


Stephen sedang duduk merenung dekat salah satu kuburan dan pohon yang besar di area itu. Memikirkan kembali tentang pertemuannya dengan saudaranya sendiri.


'Dan kali ini ia tidak berurusan denganku, tapi tetap saja....'


Stephen yang pada rencananya itu tidak ingin berurusan dengan saudaranya pada akhirnya tetap kembali di momen seperti dahulu.


'Aku ingin menjalani kehidupan yang baru ... tanpa melihat lagi ke belakang....'

__ADS_1


Stephen mengangkat tangan kanannya dan memegang lehernya sendiri. Rasa hausnya benar-benar tak main-main.


'Aku tidak peduli ... aku tidak mau menjadi diriku yang dulu....'


__ADS_2