Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 47: Bangga


__ADS_3

-Sementara itu di luar area lapang tempat pertarungan.-


"Kak, tanda itu lagi...." Terdengar sebuah suara dari luar area lapangan, sedikit jauh dari area pertarungan, ada dua orang siswi yang sedang berdiri mengamati tes kemampuan sihir yang berlangsung.


"Benar dugaan kita Fredirica. Sejak ada tanda aneh di wajahnya itu dia jadi aneh." Nada bicara sang kakak ini terdengar lebih serius seperti biasa.


Kedua orang ini tak lain tak bukan adalah dua bersaudara Rossa dan Fredirica yang memutuskan untuk melihat Tes Kemampuan Sihir susulan ini berlangsung.


Rossa menyilangkan tangannya dan mengingat akan bagaimana kekuatan Feronica seolah meningkat drastis dari pada yang seharusnya tepat ketika ia melihat tanda yang sama ketika mereka bertarung kemarin.


"Akhir-akhir ini si Feronoica memang terlihat aneh, tidak hanya tanda aneh yang ada di wajahnya, tapi ada juga pemuda tampan yang melindunginya kak!" Fredirica terdengar protes ketika mengatakan hal ini.


Rossa terdiam sejenak, ia tidak menyangkal bahwa memang pemuda asing yang ditemuinya itu memiliki penampilan yang menarik. Tidak heran juga adiknya itu protes sekarang.


Melihat Feronica yang hanyalah dari kalangan rendah namun memiliki kenalan yang berpenampilan menarik dan juga kekuatannya itu....


"Ah." Rossa menyadari sesuatu. Aura kekuatan pemuda yang kemarin menolong Feronica itu belum sepenuhnya dikeluarkan, artinya ia dan saudaranya masih belum tahu jelas seberapa besar kekuatan pemuda itu.


Namun mengingat aura kekuatan pemuda itu sudah terasa sejak awal dan mereka sudah memprediksi dia akan melindungi Feronica yang ternyata memang perkiraan mereka tepat adanya.


"Bagaimana kalau pemuda tampan itu terlambat menolongnya kak? Apa yang akan terjadi?" Fredirica berandai-andai apa yang terjadi apabila memang prediksi mereka tidak tepat sebelumnya.


"Serangan kita akan membuat nyawanya dalam bahaya," jawab Rossa dengan sederhana.


Saking sederhananya itu membuat Fredirica ngeri juga memikirkannya, tapi untunglah memang prediksi mereka benar adanya.


"Kita harus tahu apa penyebab Feronica berubah akhir-akhir ini kak, dan juga siapa sebenarnya pemuda tampan yang melindunginya." Fredirica akhirnya mengungkapkan tujuan mereka yang notabene sudah dipikirkan sejak awal oleh kakaknya.


"Itulah yang akan kita lakukan," balas Rossa dan kemudian mereka berdua berbalik badan meninggalkan area lapang pertarungan.


'Apa yang kau sembunyikan Feronica?' batin Rossa dalam hatinya.

__ADS_1


*


-Di area Pusat Kesehatan, di kamar ruangan yang sama ketika Feronica pertama kali dibawa ke tempat ini, sore hari-


"Uhhh..." Kini terlihat seorang gadis dengan pakaian serba putih yang tengah berbaring di tempat tidur. Ia membuka matanya dan cukup terdiam melihat tempat yang tidak asing baginya.


"Oh aku masih hidup...." Feronica malah sedikit tersenyum sekarang. Ia tidak ingat kejadian apa yang terjadi setelah dirinya dan Yelena ketika terjebak dalam sihir yang dilancarkannya itu.


Sebelumnya Feronica menyangka tidak ada yang menghentikan pertarungan mereka dan mungkin malah akan meskipun mereka terjebak mungkin saja akan ditunggu siapa yang akan bisa membebaskan dirinya dan menjadi pemenang.


Namun apa yang terjadi jika di antara mereka berdua tidak ada yang mampu untuk melepaskan diri? Jika dipikirlagi rasanya agak menakutkan.


'Tapi tidak ada cara lain....' batin Feronica, ia merasa tidak begitu puas karena harus menggunakan cara seperti ini, akan lebih baik dan wajar apabila ia bisa menang dengan cara biasa seperti halnya orang kebanyakan.


Tapi karena alasan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Itulah yang membuat Feronica tidak bisa terus berada dalam tekanan karena tahu itu hanya akan membuat lawannya seenaknya saja.


Memulihkan diri dari tekanan akan lebih susah ketimbang dengan meminimalisir tekanan itu terjadi. Kita kembali diingatkan dengan alasan sederhana ini dan pada akhirnya Feronica sekarang harus berada di tempat yang sama ketika ia kalah sewaktu melawan Fredirica.


Sepertinya ia sudah berada cukup lama di sini mengingat di jendela dekat ruangannya tidak terlalu terlihat sinar matahari yang memancar dari sana.


Di saat yang terakhir pun ia tidak begitu tahu akan kondisi lawannya, namun di saat itu Feronica tidak merasa kekuatannya itu diganggu oleh yang lain, yang dalam arti kemungkinan besar Yelena memang tidak berhasil untuk melepaskan diri. Seberapa pun usaha yang dikeluarkannya.


'Aku tidak mau tertinggal mengejar impianku.' Feronica berusaha mengangkat badannya yang memang terasa kaku. Ia baru sadar sebagian besar kepala, tangan, badan, bahkan kakinya terasa seperti ditutupi sesuatu. Dan Feronica melihat banyak perban yang ada di badannya.


"Uh...."


'Haaah ... capek!'


Feronica merasa keringat sudah membanjiri tubuhnya seolah ia sudah melakukan pekerjaan berat. Dan memang tidak salah juga sih karena memang sebelumnya Feronica mengeluarkan kekuatan yang tidak sedikit untuk menjalankan strateginya itu.


Inikah efek menggunakan kekuatan sihir yang besar ini? Feronica sama sekali tidak memikirkannya.

__ADS_1


Dan beruntungnya ia tidak memikirkannya, karena kalau memikirkannya tidak akan membuaat tekadnya kuat ketika melakukan teknik itu.


Feronica merenung menatap langit-langit ruangan, sorot matanya tenang, ia menerima apa yang terjadi dengan tubuhnya.


Mungkin enak kalau ia sudah lebih kuat, tentu ia tak perlu berada di sini. Namun rasanya berlebihan juga sih.


Feronica sudah berusaha sadar diri dari awal, jadi kalau memaksakan diri ya sudah pasti seperti ini jadinya.


Perban yang memenuhi tubuhnya bukanlah tanda kelemahan, namun tanda tekad yang membuatnya menantang diri sendiri lebih jauh, dan ia bangga akan hal itu.


Ia tidak mungkin tidak mengeluarkan segenap kemampuannya di acara sepenting ini.


Apa yang ia alaminya ini bukanlah apa-apa dibandingkan penderitaan yang bisa terjadi akibat menyia-nyiakan kesempatan yang ia punya.


Ada harga yang harus dibayar. Feronica belajar berpikir jauh dan besar, tidak peduli kenyataannya seperti apa.


Kepercayaan itulah yang membuatnya bisa bertahan melawan siswi berbakat di kelasnya!


Entah apa jadinya kalau ia tak percaya dan menyerah, sama saja mengabaikan mimpinya selama ini, Feronica tidak mungkin melakukannya!


Dan saat ini Feronica tidak mau jadi sad-girl melihat keadaannya yang tidak begitu baik.


Di saat sendirian dan terbaring mudah sekali over-thinking. Namun Feronica berusaha tenang dan fokus pada satu hal.


Tidak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan percaya pada pihak sekolah. Ia sudah merepotkan guru atas kelakuannya. Namun hal begini kerap terjadi dan ia bukan satu-satunya siswi yang sedang dirawat di sekolah.


"!" Feronica terdiam, raut wajahnya menandakan ia punya pertanyaan mendadak.


Ia memang merasa lelah dan tidak berdaya, ya itu sudah jelas sih akibat pertarungannya sebelumnya, namun kenapa ia tidak merasa sakit juga ya?


Bukankah seharusnya ia juga merasa sakit atas semua luka yang ada di tubuhnya ini?

__ADS_1


__ADS_2