Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 59: Menerima Kenyataan


__ADS_3

"Aku yakin kamu bukanlah orang yang akan menyakiti teman-temanmu...." Stephen sekarang mulai bisa mengerti.


Di tengah adu kekuatan fisik ini ia bisa merasakan sedikit perasaan gadis itu mengalir.


Perasaan yang begitu kuat ketimbang sebelumnya dan perlahan Stephen mulai bisa mengerti apa yang sedang terjadi dengan gadis ini.


HUSSSHHH!


Stephen masih mengunci gerakan Feronica dan begitu pula sebaliknya. Untuk beberapa saat ini memang mereka mengandalkan kekuatan fisik mereka dan tidak memberi celah sedikitpun untuk mengendurkan kekuatan.


'Dia berhasil membuatku mengeluarkan kekuatan sebesar ini. Aku akui itu, namun sampai berapa lama lagi tubuhnya bisa bertahan?'


Stephen melihat tidak ada penurunan kekuatan yang terjadi pada gadis ini, malahan stabil dan terus beranjak naik adanya. 'Aku tidak mungkin membiarkan kekuatannya itu membahayakan dirinya....'


"Sihir Tanah: Pengerasan...."


"?!" Stephen terbelalak tidak menyangka gadis itu mengeluarkan kekuatan sihir di tengah adu kekuatan fisik ini.


Perlahan namun pasti tangan Stephen terlapisi dengan tanah keras yang membuatnya sulit untuk mengontrol kekuatannya.


'Dia ingin mengubahku jadi patung?! Kekuatan sihirnya tidak hanya membatasi gerakanku... tapi juga mengganggu kekuatanku....' Stephen tidak bisa terus berdiam diri dan mengabaikan kondisi ini.


Krrk....


"Hehe...." Feronica sedikit tersenyum karena tahu serangannya itu ternyata berhasil juga. Kini ia hanya tinggal menunggu waktu sampai pria yang ada di depannya ini berubah sepenuhnya.


"Feronica... kamu adalah gadis yang kuat... kamu bisa melalui ini...." Stephen menatap Feronica dengan seksama, perlahan ia sudah bisa mengatasi kekuatannya yang terganggu tadi dan kini memfokuskannya kembali.


Sihir pengerasan tanah Feronica masih menjalar di tubuhnya, dan kini hampir mengeraskan seluruh bagian tangannya, jika dibiarkan maka tidak lama lagi badannya pun ikut tertutup oleh tanah keras.


"Sihir Kegelapan: Pengendali Pikiran!"


BUM!


Seketika itu juga muncullah gelombang hitam transparan yang meledak di sana. Stephen kembali melancarkan serangannya dan kini perlahan tanah keras yang ada menutupi kedua tangannya berhenti menjalar.


"Aku tidak mau kamu berakhir sepertiku... dikuasai oleh perasaanmu itu....' Stephen menatap tajam Feronica yang kini seperti terhenti seluruh gerakannya, energi sihirnya tidak terasa keluar melimpah lagi dan mulai menurun.


*


"FERONICA!"


"Hah?!"

__ADS_1


SYUT!


Cahaya merah yang tadinya perlahan menutupi ruangan penjara ini tiba-tiba berangsur-angsur menghilang dan keadaan kembali seperti semula.


"Aku belum keluar dari tempat ini? L- lho?..." Feronica sedikit memegang kupingnya, jelas-jelas ia mendengar suara lain tadi.


Feronica berusaha tenang dan memusatkan perhatian lebih lagi pada keadaan di sekitarnya.


"Suaranya aku kenal... apa mungkin perasaanku saja ya?"


"FERONICA!"


"Wah terdengar lagi... kak Stephen?" Fenonica melihat ke sekeliling dan lagi-lagi tidak menemukan sumber suara yang didengarnya.


Ia yang tadinya sudah bersemangat untuk keluar dari tempat ini pada akhirnya bertanya-tanya mengapa kini ia mendengar suara kenalannya?


-MENGANGGU SAJA....-


"Nah lho...." Feronica mendengar suara lain yang tentunya suara yang memerintahkannya untuk tidak lagi menahan perasaannya. Suara yang sedari tadi ada bersamaan dengan cahaya merah terang yang berada di depannya itu.


"JANGAN MEMBIARKAN PERASAANMU MENGUASAIMU!"


DEG!


Feronica terdiam, ia benar-benar lupa akan hal ini. Mengingat yang sedari tadi dipikirkannya hanyalah dirinya sendiri dengan perasaan yang menggebu-gebu dan tidak peduli dengan hal lain.


'Aku dikendalikan oleh perasaanku sendiri?' Feronica merenungkan hal ini, ia mengingat bagaimana kacaunya perasaannya sendiri ketika mengingat kilas balik kehidupan miliknya ini.


Tidak berusaha untuk melebih-lebihkan, namun memang begitulah kenyataannya. Entah mengapa ketika ia mengingat masa lalu perasaan sedih dan lainnya muncul beriringan yang kemudian berubah menjadi perasaan yang ia acuhkan selama ini.


Jadi suara yang dari perasaannya itu apa kalau bukan isi perasaannya selama ini. Apa yang terjadi ketika ia pada akhirnya mengeluarkan semuanya?


Feronica berpikir dua kali, dan bahkan tiga kali. Ia yang tadinya begitu yakin akan suara batin dalam dirinya ini akan menuntunnya ke arah yang benar, kini malah tidak terasa seperti itu.


'Aku tidak mau mengingat perasaan itu lagi...." Feronica sudah menegaskan pada dirinya untuk tidak lagi mengingat perasaan buruk yang ada dalam dirinya itu. Memang ia berhasil melakukannya namun di beberapa kesempatan perasaan masa lalunya bisa kambuh kembali.


"TERIMA DIRIMU APA ADANYA FERONICA! PERCAYALAH DENGAN KEKUATAN HATIMU!"


Suara Stephen semakin jelas terdengar, hal ini membuat Feronica semakin yakin dan menetapkan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.


"JANGAN MENDENGARKANNYA FERONICA! DENGAR APA KATA DIRIMU SENDIRI!"


Feronica menutup matanya, merefleksikan apa yang sekarang di dengarnya, keputusannya itu memang berubah tiba-tiba, dan menurutnya ini adalah hal yang terbaik untuknya. Terlepas dari suara lain yang telah ia dengar dari tadi.

__ADS_1


Perasaan Feronica bisa lebih tenang, tidak lagi begitu berlebihan seperti sebelumnya. Ia tetap berusaha mempertahankan perasaannya sekarang.


'Aku tidak mau menjadi orang lain! Aku adalah Feronica Greiss!'


Perlahan Feronica membuka mata dan ia bisa melihat cahaya merah di depannya berubah perlahan menjadi putih. Dan itu terlihat indah sekali.


-DASAR PENGGANGGU... FERONICA, TERIMALAH PERASAANMU DAN TUNJUKKANLAH PADA DUNIA!-


"...." Baru pertama kali ini Feronica mendengar dua suara yang berbeda. Terdengar lebih aneh dari sebelumnya namun tidak menutup fakta bahwa memang ia mendengar suara-suara ini dengan jelas.


"Aku...." Feronica melihat kembali lubuk hatinya yang terdalam. Apa yang sebenarnya ia inginkan sekarang.


Feronica merasakan kesesakan kini mulai terasa pada dadanya. Tepat di saat ia berhenti untuk menerima perasaannya sendiri.


"APA KAU MAU TERUS MEMBOHONGI DIRIMU SENDIRI?"


Suara-suara berat dan bergema ini terus-terusan muncul, Feronica tidak bisa mengendalikan dan hanya bisa mendengarkan saja. Suara ini terus memintanya untuk menerima perasaannya dan keluar dari tempat ini.


"KAMU LEBIH KUAT DARI PERASAANMU SENDIRI FERONICA!"


Sedangkan suara Kak Stephen terus-terusan memintanya agar tidak menyerahkan perasaannya. Di mana memang selama ini ia sembunyikan dalam-dalam adanya.


Jadi apa yang sebenarnya harus dilakukannya? Feronica berpikir keras, rasa sesaknya menghilang karena ia menerima perasaannya sendiri, namun di saat ini apa yang dikatakan Kak Stephen tidaklah salah adanya.


Seperti ada dua pilihan yang sama-sama penting baginya. Ia ingin agar terlepas dari perasaan yang membebaninya itu dan di sisi lain ia tidak mau di kuasai perasaan yang telah dilepaskannya itu.


'Aku ingin jujur pada diriku sendiri, tapi apa itu adalah pilihan terbaik?' Feronica memikirkan ini dengan baik-baik. Jika dilihat lebih dalam ke dalam dirinya maka memang ia tidak bisa berbohong dengan perasaannya sendiri, seperti yang suara yang telah terdengar dalam dirinya sebelumnya.


-TUNGGU APA LAGI? APA KAU MAU TERUS SEPERTI INI?-


Setelah beberapa saat berpikir Feronica akhirnya menemukan keputusan yang paling tepat baginya, meskipun sangat tidak nyaman memilih pilihan ini.


"Kak Stephen! Apa yang harus kulakukan?" Feronica kini mencari bantuan rekannya itu, suara lain dalam dirinya malah berontak dan berisik, tidak suka dengan pilihan yang sekarang diambilnya.


-DASAR LEMAH! KAU HANYA MAMPU UNTUK LARI DARI KENYATAAN! KAU INI BUKAN DIRIKU!-


"Aaaah berisik! Terserah apa yang mau kamu katakan suara aneh! Aku tidak mau dikendalikan olehmu!"


"BERTAHANLAH FERONICA!"


Cahaya putih di ruangan penjara itu kini telah sepenuhnya menghilangkan sinar merah di sana, dan bersamaan dengan itu suara-suara perempuan yang berisik itu perlahan menghilang juga.


Feronica merasa sedikit aneh karena tidak mengakui perasaannya yang sebenarnya. Ia yang tadinya begitu bersemangat untuk menunjukan siapa dirinya pun akhirnya sadar sekarang.

__ADS_1


'Ha- hangat....' Cahaya putih kini menyinari seluruh ruangan tempat Feronica berada, rasa sesak di dadanya sedikit terobati ketika merasakan kehangatan ini.


__ADS_2