Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 82: Berdamai


__ADS_3

"Hm?" Stephen melihat pakaiannya sendiri, harus ia akui perkataan Feronica memang benar adanya; pakaiannya ini banyak sekali robekan dan tidak terlihat rapi lagi.


"...Sepertinya aku harus berganti pakaian ahaha...." Stephen tersenyum kecil, tidak menjawab dengan jelas alasan mengapa bajunya bisa seperti saat ini.


Feronica mengamati ini dengan serius, sepertinya memang ia pernah melihat baju yang dipakai oleh kenalannya ini, dengan robekan yang sama namun pada orang yang berbeda.


Feronica juga bertanya-tanya mengapa pakaian kenalannya itu bisa begini? Banyak kemungkinan yang bisa terjadi, namun yang pasti dia tidak akan melakukannya dengan sengaja bukan?


Lagipula siapa juga yang dengan tanpa alasan yang jelas merusak pakaiannya sendiri? Feronica merasa merasa penasaran akan apa yang terjadi pada pakaian kenalannya itu, meski memang sudah dijawab dengan jawaban yang tidak terlalu memuaskan.


"Memangnya kenapa?" Stephen pada akhirnya bertanya pada Feronica, alasan mengapa dia begitu penasaran dengan setelan baju hitamnya yang sudah seperti ini.


Harus diakui memang pakaiannya yang compang-camping sekarang tidak terlalu enak untuk dilihat orang luar, tapi apa boleh buat mengingat memang ia tidak punya lagi pakaian lain untuk dikenakan.


"Ah... tidak, aku pernah melihat seseorang berpakaian sama seperti Kakak...." Feronica menjawab apa adanya, memang yang ada dalam pikirannya memang seperti itu sih.


"Hm? Benarkah?" Stephen sedikit tertarik mengenai hal ini, siapa lagi yang berpakaian sama sepertinya di sini? Ia pikir mungkin saja memang pakaian yang dipakainya ini ekslusif (terbatas) yang di mana sulit untuk menemukan seorang dengan setelan baju seperti ini.


Namun ternyata tidak begitu pada kenyataannya. Jadi sebenarnya siapa yang berpakaian sama sepertinya?


"Ah, aku tidak mengenalnya, hanya melihatnya saja." Feronica menjawab dengan apa adanya lagi; apa mungkin ini hanya kebetulan saja?


Apa yang bisa menjelaskan kesamaan dibalik pakaian kenalannya ini dan pria misterius dengan tampang tak biasa kemarin malam? Feronica sendiri memang merasa aneh dengan ini, namun kini hanya bisa di sembunyikan dalam hati saa.


Jika yang sama adalah setelan pakaian hitamnya saja mungkin memang bisa terjadi, tapi bagaimana dengan bajunya yang sudah rusak ini begitu sama adanya?

__ADS_1


'Apa mungkin....?' Pikiran Feronica mulai melayang kemana-mana berusaha mencari alasan selain kebetulan yang bisa menjelaskan akan hal ini.


"Ah, lupakan saja soal bajuku, bisa diganti nanti. Yang penting mengapa kamu bisa dikeluarkan dari sekolah?" Sangat terdengar jelas bagaimana Stephen begitu penasaran dengan apa yang terjadi.


Dan ditengah rasa aneh yang memang sedang dirasakan Feronica, ia tidak punya pilihan lain selain menjelaskan semua ini.


"Ah jadi begitu...." Stephen sedikit tertunduk setelah mendengar rangkaian cerita ini, terlihat jelas memang ia tidak terlalu terkejut akan hal ini seolah memang ia sudah tahu hal ini akan terjadi.


Feronica memang tidak berharap simpati lebih juga dari kenalannya ini, namun sejujurnya keberadaan seseorang yang mendengarkan ceritanya memang lebih baik ketimbang harus bicara sendirian di tempat ini.


"Aku yakin ada yang bisa dipetik dari kejadian ini...." Stephen berusaha menghibur Feronica, dengan cara yang tidak biasa; dan ini memuat Feronica sedikit canggung.


Yah, perkataan yang begitu sering ia temukan di buku pelajaran sekolah kini di dengarnya secara langsung. Dan memang tidak ada yang salah juga dalam perkataannya sih.


Apa contohnya? Yah, sebut saja dengan begini dapat dipastikan para guru dan murid lain di sekolah tidak perlu khawatir lagi akan bahaya yang bisa terjadi akibat dirinya, dan tanpa kehadirannya bisa dipastikan kondisi sekolah akan normal lagi seperti biasa.


Jika dilihat dari sudut pandang ini memang begitu besar manfaatnya, pikiran Feronica kini tidak terpusat lagi pada kesedihan, pembelaan dan pembenaran dirinya sendiri. Kini ia tidak mengizinkan lagi perasaan pribadinya menguasai dengan lama.


Sudah cukup sebentar saja perasaan ini datang padanya. Dan dengan melihat dari sudut pandang lain, maka apa yang terjadi sekarang terjadi karena suatu alasan yang baik.


Apa dengan begitu Feronica mengabaikan mimpinya dan menyerah karena memang jalan baginya untuk menjadi seorang ahli sihir yang hebat telah tertutup?


"Aku yakin apapun yang terjadi sekarang... tidak akan bisa menghentikan mimpiku...." Feronica tersenyum kecil, mengatakan hal positif ketika sedang mengalami hari yang baik adalah biasa, namun lain halnya ketika apa yang terjadi sekarang adalah mimpi terburuknya.


Stephen sedikit tersenyum juga, ia bisa menilai gadis ini tidak hanya sekedar tersenyum saja, namun terlihat begitu tulus dan menerima apa adanya.

__ADS_1


"Terima kasih kak sudah datang ke sini...." Feronica menatap langit biru cerah, kini ia memang tidak merasa sendirian lagi, tidak peduli apapun yang terjadi nanti, selama ia masih punya harapan maka itu sudah lebih dari cukup.


Stephen hanya tersenyum kecil juga, ia sendiri memang tadinya tidak mau menemui siapapun sebelum ia menemukan pakaian baru, tapi apa boleh buat sampai sekarang ia masih belum menemukan setelan baju baru, di tambah ia melihat Feronica yang sendirian di sini, tidak mungkin ia mengabaikannya bukan?


Meskipun jika dipikir lebih seksama lagi, dengan pakaian yang compang-camping seperti ini pasti juga tidak akan membuat yang melihatnya jadi nyaman juga, tapi syukurlah Feronica tidak begitu mempersoalkan hal ini.


Stephen memang tidak punya urusan dengan apa yang sekarang dialami oleh Feronica, namun ia sendiri juga bisa merasakan aura yang terpancar darinya memang lemah dan tidak semangat; tidak seperti Feronica yang biasanya.


Tapi sekarang setelah berbincang sebentar Stephen mulai bisa merasakan akan adanya semangat yang baru terpancar darinya, dan itu adalah langkah awal yang sangat bagus.


Feronica masih menikmati suasana di sekitarnya, tidak lagi berurusan dengan perasaannya sendiri, karena ia tidak bisa menang dengan cara pikirnya sendiri. Kak Stephen yang membuka sudut pandang yang baru baginya, dan ia ingin tetap tenang seperti ini untuk beberapa saat lagi.


Ia tidak punya alasan untuk menyalahkan siapapun lagi di sini, bahkan dirinya sekalipun. Feronica belajar untuk berhenti menuduh dirinya sendiri dan berdamai dengan hati, perasaan dan pikirannya sendiri.


"Kalau begitu, kak mau mampir ke rumah?"


"Apa?" Stephen sedikit terkejut akan tawaran dari Feronica ini, ada apa gerangan gadis itu mengajaknya ke rumah?


"Ah tidak, aku hanya mau mengajakmu bertemu ibu... keahlian menjahitnya sudah tidak perlu diragukan lagi...." Feronica sedikit tersenyum, tanpa ia katakan dengan panjang lebar pun sudah pasti kenalannya itu akan mengerti.


"Oh?" Stephen melihat kembali bagaimana pakaiannya dan memang agenda utamanya sekarang menemukan pakaian yang baru.


"Bolehkah?" Stephen tentu tertarik dengan tawaran Feronica ini, dari siapa lagi ia bisa memperoleh baju dengan gratis? Siapa juga yang tidak mau gratisan?


"Kalau begitu ayo kita ke rumah!" Feronica dengan semangat beranjak dari tempat duduknya, dan entah mengapa perhatian Stephen tertuju pada bercak darah yang terlihat dari kepala tangan Feronica yang menempel di rumput.

__ADS_1


__ADS_2