Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 25: Rasa Penasaran


__ADS_3

Apa yang terjadi?


Feronica sadar tadi ia memang dikuasai amarah dan kesal mengingat apa yang dia katakan sama sekali tidak didengarkan oleh mereka berdua.


Entah mengapa kini dalam hatinya ada seperti kekuatan yang membuatnya bisa melawan perlakuan mereka berdua. Untuk pertama kalinya.


"A- ah ... Maaf ...." Feronica menyadari ia sedikit emosi tadi, segera setelah berkata begitu ia langsung meninggalkan mereka berdua.


Rossa dan Fredirica terdiam dalam keterkejutan yang mengherankan. Mereka tidak lagi berusaha untuk mencegah Feronica pergi kali ini.


Baru kali ini mereka berdua melihat bagaimana Feronica berlaku se-berani itu pada mereka berdua. Pada akhirnya Rossa dan Fredirica pun ikut tersinggung karena pertama kalinya pula mereka diacuhkan.


"Orang rendahan seperti dia mengacuhkan kita?!" Fredirica mengumpat dengan keras sambil menghentakkan kakinya ke lantai.


Brug! Brug!


Rossa, kakaknya terdiam padahal dalam hatinya juga ikut kesal akan perbuatan Feronica tadi. Namun dalam hatinya bertanya-tanya pula akan apa yang ia lihat pada Feronica sebelumnya. Sekelebat tanda seperti api yang menyala di area bagian kanan wajahnya... itu apa?


*


Sepanjang jalan ke kelas Feronica bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya terjadi tadi? Mengapa ia yang tadinya ketakutan dan terintimidasi malah bertindak sebaliknya dari yang dirasakannya itu?


Mengapa dia tiba-tiba punya keberanian di mana bahkan hampir tiga tahun terakhir ini ia hanya menerima mentah-mentah perlakuan kedua temannya itu?


Feronica menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tanda ia memang tidak sadar akan kekuatan yang muncul tiba-tiba itu.


Kekuatan hati yang mencerminkan perasaan hatinya yang sebenarnya. Feronica tahu memang selama ini ia hanya memendam perasaannya saja terhadap mereka berdua.


Untuk selanjutnya sudah bisa ditebak, Feronica selalu menerima apapun yang diinginkan oleh kedua temannya, namun kebanyakan perintah dan permintaan yang dilontarkan mereka tidaklah selalu baik adanya. Feronica hanya menjadi 'alat' Rossa dan Fredirica.


Namun apa yang ia lakukan tadi lain cerita. Sungguhlah momen di mana ia masih tidak yakin ia melakukan hal itu.


Feronica tidak merasa bersalah karena telah sedikit kasar tadi, pasalnya apa yang salah dengan mencurahkan isi hatinya sendiri? Semua usaha yang dilakukannya hanya berbuah dari penolakan orang yang meminta sesuatu.


Akan lebih baik jika tidak dilakukan jika begitu hasil akhirnya bukan? Feronica merasa usahanya sia-sia dan tidak ada artinya, mengapa ia harus susah-susah membuktikan sesuatu namun setelah itu mereka tidak percaya?

__ADS_1


Mengapa mereka tetap memaksa dan pada akhirnya tidak mau menerima jawaban? Feronica tidak mengerti dan pada akhirnya emosinya pun memuncak dengan perkataannya tadi.


Feronica mengarahkan pandangannya ke bawah, rasanya ia lebih lega karena telah mengeluarkan perasaan yang sebenarnya. Namun di samping itu ada hal lain yang ada dalam benaknya saat ini.


Pada akhirnya kedua temannya itu sudah pasti tidak senang akan apa yang telah dikatakannya itu. Feronica tahu akan hal itu namun tidak mau memikirkannya sampai pusing.


Ia kini hanya perlu fokus untuk menjalani acara utama dengan apa yang ia bisa, Tes Kemampuan sihir akan segera di mulai.


*


- Pagi hari\, Di kelas 3A\, sebelum jam belajar-


Feronica sampai di kelas dan duduk seperti biasa di mejanya, terkesan kumuh dan kotor, lebih tepatnya terlihat bangku miliknya itu lebih hitam dan tidak menarik ketimbang dengan bangku murid lain.


Namun Feronica sudah biasa dan bahkan memang bangku yang berbeda inilah yang selalu didapatkannya semenjak kelas satu. Entahlah mengapa bisa begitu, namun Feronica tidak banyak ambil pusing mengenai hal ini.


Namun ada saja yang menjadi pertanyaan dalam benaknya yang bahkan sampai sekarang ini belum diketahui jawabannya.


Mengapa kursinya dan meja belajar miliknya itu terlihat agak hitam dan terkesan kayunya rapuh dan memang agak bergoyang juga ketika Feronica menulis sesuatu di atas mejanya.


Feronica tidak tahu alasan pasti mengapa hanya bangku belajar miliknya saja yang terlihat dan terasa seperti itu. Padahal bangku murid lain terlihat indah, terbuat dari kayu kokoh nan coklat muda yang menarik.


Tidak masalah jika memang berbeda, toh itu juga masih bagus ia bisa mendapat bangku belajar yang fungsinya sama seperti orang lain, daripada tidak sama sekali bukan?


Hal lainnya yang bisa terlihat adalah sejak dari kelas satu Feronica selalu saja duduk di paling pojok dekat jendela. Feronica tidak ambil pusing juga karena memang ia tidak masalah dengan hal ini bahkan merasa nyaman duduk di pojok dekat jendela. Jika bosan bisa langsung melihat ke luar dan mungkin saja ada hal yang bisa menyegarkan mata.


Dan ini terlihat seperti seorang protagonis yang sedang belajar dan duduk di pojok jendela, dia sedang menatap ke luar dengan berpose menyangga dagu dengan tangannya, seolah terlihat bosan padahal tidak. Terkesan penuh makna juga dan keren.


"Oh...."


Feronica tersadar, ia sudah menjelajah beberapa hal dalam benaknya karena waktu terus berjalan maka agaknya ia harus memanfaatkannya sebaik mungkin.


Ia membuka tasnya dan mengambil buku sebagaimana yang biasa siswa dan siswi lakukan di sekolah.


Feronica mulai membuka dan membaca buku ajar sihir perlahan namun pasti. Di sana ia belajar mengenai kekuatan sihir ternyata begitu banyak jenisnya. Namun tidak semua kekuatan sihir yang dijabarkan di bukunya harus dikuasai semuanya olehnya.

__ADS_1


'Tidak harus' bukan berarti 'tidak boleh' bagus juga kalau menguasai berbagai macam ilmu sihir bukan? Hanya saja sebagai murid Akademi Sihir Wolfden, memang tidak ada batasan atau larangan mengenai sihir yang sedang dipelajari, selama dalam bimbingan para guru yang mengajar tentunya.


Mengingat semua murid di sini adalah yang terpilih dan memiliki kemampuan atau keahlian atau juga pengetahuan yang bagus maka, mempelajari banyak sihir adalah jalan di mana mereka bisa lebih dekat dengan tujuan mereka bersekolah di sini.


Yang pasti teori selalu beriringan dengan praktik dan tentunya mempelajari ilmu sihir dari awal adalah sebuah proses yang cukup membutuhkan usaha.


Feronica sebagai murid tingkat akhir Akademi Sihir tentunya sudah tahu akan materi dan praktik sihir yang diajarkan sebelumnya dari kelas satu dan dua di sekolahnya.


Dan kini maksud dari Tes Kemampuan sihir ini memang belum diketahuinya sama sekali, bahkan para guru pun tidak menberikan perjelasan detil mengenai hal ini.


Feronica tahu acara seperti ini memang pernah dibicarakan oleh beberapa murid di kelas dan juga sedikit ada pembicaraan di desa. Banyak asumsi dan teori akan apa maksud dari Tes Kemampuan Sihir ini.


Namun karena hal ini dijaga kerahasiannya, maka yang diketahui orang hanyalah nama dari kegiatan yang akan dilakukan 'Tes Kemampuan Sihir'. Sedang makna, maksud dan arti sebenarnya dari itu hanya bisa diketahui ketika sudah menjalaninya secara langsung.


Apakah itu hanyalah tes biasa yang dilakukan oleh para murid? Tes lisan dan praktik secara bersamaan?Ataukah memang ada sesuatu hal yang lain?


Mengingat dari sejak kelas satu dan dua pun memang tidak dijelaskan mengenai hal ini. Jadi bisa dibilang Tes Kemampuan sihir adalah acara khusus murid tingkat akhir akademi sihir saja.


Feronica cukup tertarik akan hal ini. Meskipun ia tidak bisa begitu mengerti akan buku ajar sihir tingkat tiganya itu dan bahkan memberikan jawaban asal-asalan pada kedua temannya itu, namun pada akhirnya ia memiliki semangat kembali untuk menjalani acara yang penting ini.


Suasana kelas ramai seperti biasanya, banyak siswa dan siswi mengobrol satu sama lain, bercanda, dan membuat kegaduhan di kelas adalah hal yang paling wajar setiap harinya.


Feronica sedikit memerhatikan dari balik buku yang tengah dibacanya itu, baru sebentar dibaca ia malah langsung merasa bosan.


"Hm.... Apa yang dibicarakan mereka ya?"


Sepertinya asyik jika ia bisa ikut bergabung bersama dengan murid lain di kelas. Feronica selalu berpikir mungkinkah ia bisa mengobrol seperti biasa dengan para murid lain?


TENG!


Bel sekolah berbunyi memecah lamunan Feronica dan seisi kegaduhan serta kesibukan di kelasnya. Para murid kelas 3A segera ke bangku mereka masing-masing.


Tak lama berselang muncullah Ibu Guru salah seorang pengajar sihir tingkat akhir. Namanya adalah Freiss Frans, seorang wanita muda berambut panjang, memiliki warna mata biru cerah, secara keseluruhan ia berparas cantik dan membuat siapapun terutama laki-laki akan betah melihatnya.


"Anak-anak siapkah kalian untuk memulai Tes Kemampuan Sihir hari ini?" Bu Freiss langsung memulai kelasnya dengan pertanyaan lembut dan anggun disertai nada yang naik dan turun.

__ADS_1


Senyuman tipis tergurat di wajah Ibu Freiss, tatapannya yang lembut perlahan berubah menjadi tajam seiring dengan apa yang akan dikatakannya selanjutnya.


"Persiapkan diri kalian ya! Kita akan langsung ke Area Lapang Akademi!"


__ADS_2