Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 123: Bertemu... lagi


__ADS_3

-Beberapa saat sebelumnya, lanjutan pembicaraan Stephen dan perempuan berjubah putih yang sempat terpotong tadi-


"Apa maksudmu?" Stephen tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh suara bergema ini.


"Rekanmu akan segera datang ke sini...." Suara Perempuan berjubah putih itu mengatakan lagi dengan lebih jelas, membuat Stephen bisa menangkap maksudnya dengan baik.


"!"


'Feronica?!'


"Darimana kau tahu?!" Stephen jadi terbawa suasana, ia jadi seorang yang bertanya hal yang sama seperti yang ditanyakan oleh suara bergema tadi.


"Kau tidak bisa merasakannya ya? Syukurlah efek minumanku bekerja."


'Minuman?' Stephen tidak mengerti apa yang dimaksud oleh suara bergema itu.


Kret.


"!" Stephen sedikit terkejut dengan pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka, dan dari balik pintu terlihat seorang wanita muda bergaun putih.


"Kau?!" Stephen tidak bisa menyembunyikan kekagetannya soal apa yang dilihatnya sekarang.


"Kau ini bukan bawahannya!" Stephen sedikit berteriak, ia menyadari ada sesuatu yang tidak benar di sini.


"Kenapa? Tuan Alex lebih kuat dariku." Perempuan bergaun putih itu memainkan rambut panjangnya sendiri.


"Felicia...." Stephen memandang perempuan muda di depannya dengan tatapan yang tidak biasa.


Apa maksudnya? Sorot mata Stephen terlihat tidak percaya akan apa yang dilihatnya sekarang.


'Kenapa aku tidak sadar dari sebelumnya?' Stephen heran mengapa ia tidak sadar akan kebaradaan seorang yang dikenalnya ini.


'Aku yakin dia tidak hanya menyamarkan penampilannya, melainkan juga hawa energi sihirnya juga....' Alasan itulah yang paling masuk akal saat ini.


'Dia menyembunyikan identitasnya sebelumnya dan kini dengan mudahnya mengungkapnya? Apa yang sedang dipikirkannya?' Stephen tidak begitu mengerti strategi yang digunakan oleh seorang yang dikenalnya itu.


Sorot mata Stephen terlihat menyesali sesuatu. Entah apa itu, hanya dia sendiri yang tahu mengapa ia melihat seorang yang dikenalnya seperti itu.


"Kenapa kau menyerang kami?" Stephen berusaha untuk menggali informasi di sini. Tidak peduli di hadapannya ini adalah orang yang dikenalinya sekalipun.


"Perintah Tuan Alex, lama tidak berjumpa ya, Stephen...." Felicia sedikit tersenyum, dari senyumannya itu dia sepertinya memang ingin bertemu dengan Stephen.


Dengan jawaban yang langsung pada intinya dan juga masih sempat-sempatnya untuk menyapa Stephen di saat seperti ini.


Stephen tahu perempuan muda bergaun putih ini, dia adalah Felicia, seorang perempuan yang paling dekat dengan kakaknya.


"Kau tahu? Rasa yang kau berikan bertahun-tahun lalu masih terasa sampai sekarang...." Felicia tertunduk, nada bicaranya jadi sedikit berubah jadi rendah sekarang.


'Bertahun-tahun?' Stephen bahkan tidak bisa menyebut kejadian yang sudah lama itu hanya 'bertahun-tahun' saja.


Kata 'bertahun-tahun' memang memiliki arti yang luas, namun kebanyakan dari orang yang mendengarnya akan beranggapan bertahun-tahun itu bukanlah waktu yang lama. Dan mungkin sebagian orang akan berpendapat sebaliknya.


Stephen berada di kubu di mana menganggap kata 'bertahun-tahun' ini adalah waktu yang singkat saja.


Stephen memandang Felicia dengan serius, ia paham betul apa yang dimaksud oleh Felicia ini.


"Aku tidak menciptakan rasa itu, kau sendiri yang menyiksa diri." Suara Stephen bergetar ketika menjawab perkataan Felicia. Seolah Stephen sendiri sudah menyiapkan jawaban lansung ke-intinya, ia mengatakannya dengan keberanian yang dipaksakan.


Stephen berusaha untuk langsung pada intinya di setiap perkataan yang ia keluarkan. Setelah ia tahu ternyata seorang yang menyerang dan membawanya ke tempat ini adalah seorang yang dikenalnya, Stephen tidak mengubah bagaimana caranya bicara.


"Dicampakkan olehmu rasanya tidak enak sekali...." Felicia melanjutkan pernyataannya sebelumnya, nada suara yang dikeluarkannya terdengar memelas, dan siapapun yang mendengarnya bisa merasakan emosi yang keluar dengan kuat.


"Aku tidak ingat kita pernah menjalin hubungan sebelumnya." Stephen tidak terbawa perasaannya sendiri. Entah mengapa ia merasa seperti harus bertanggung jawab di sini.


Bertanggung jawab untuk apa? Stephen tidak merasa ia mencampakkan Felicia, mengapa ia harus terbawa suasana sekarang?


Bukankah kata 'dicampakkan' hanya berlaku bagi kedua orang yang telah menjalin hubungan spesial? Stephen tidak melihat hal itu dari dirinya dan juga Felicia


"Kasar sekali~" Felicia memainkan rambut panjangnya dengan semakin intens. Bahkan bisa dibilang ia malah sedikit mengacak-acak rambutnya sendiri.

__ADS_1


"Jangan terus menyiksa dirimu Felicia," saran Stephen, ia tidak menyangka Felicia tidak banyak berubah semenjak ia terakhir kali bertemu.


"Kau yang membuatku begini Stephen. Apa kau sudah lupa akan semua yang sudah kita lalui?" Felicia mendekati Stephen, berusaha membuat pemuda itu mengerti apa yang dimaksudkan olehnya.


Stephen terdiam sejenak, memang ia tidak berniat untuk mengingat apa yang menjadi masa lalunya itu. Tujuannya sekarang adalah menjalani kehidupan yang baru tanpa terganggu dengan masa lalu.


"Semudah itu kau melupakannya?!" Raut wajah Felicia nampak begitu kecewa dengan reaksi yang ditunjukkan Stephen.


Felicia terlihat dan terdengar menuntut sesuatu dari Stephen, yang di mana Stephen sendiri terdiam seperti tengah memproses apa yang sekarang terjadi.


Mengapa Stephen tidak mengerti apa yang dimasudkan olehnya?


Stephen masih terdiam di bawah, ia tidak menyangka bisa bertemu dengan rekan lamanya yang sudah lama pula tak ditemuinya. Pertemuannya ini juga tak disangka, seperti yang terjadi sebelumnya, pertemuannya dengan kakaknya sendiri.


'Aku tidak menyangka bisa jadi seperti ini....' Stephen merasa rumit sekarang. Ia pikir masalah ini hanya dengan kakaknya saja, namun siapa sangka juga akan melibatkan seorang yang ia kenal juga?


'Seharusnya aku bisa menduga ini dari awal...." Stephen pikir kakaknya itu akan mengirim orang yang sama sekali tidak ia kenal dan membuat semuanya jadi mudah.


Namun pada kenyataannya siapa yang di perintahkan kakaknya itu malah seorang yang ada pada masa lalu Stephen sendiri.


"Bukankah kita masih berteman?" tanya Felicia, ia kemudian sedikit berjongkok menatap Stephen dengan tatapan yang berarti.


Stephen jadi bingung dengan pola pembicaraan yang sering berubah seperti ini. Felicia tadi begitu marah dan menuntut pengakuan darinya, dan kini sekarang dia jadi tenang dan malah menanyakan hal yang lain.


"Hanya sebatas itu, jadi kenapa kau harus tersiksa?" Stephen tidak menyangkal apa yang ditanyakan oleh Felicia. Memang dari dulu ia selalu menganggapnya teman.


Jadi kalau begitu tidak perlu ada pembicaraan seperti pada awal tadi bukan? Stephen pikir Felicia sudah mengerti situasi di sini sekarang.


Felicia beranjak berdiri kembali seraya berkata, "Masih banyak hal yang ingin kubicarakan denganmu, tapi targetku akan segera datang ke sini."


Felicia tersenyum kembali. Stephen tidak bisa menebak apa maksud dari ekspresi wajahnya itu. Dari dulu pun Felicia sudah seperti ini.


"Untung saja Tuan Alex masih menyayangimu ya Stephen."


Stephen terdiam, ia paham dengan hubungan antar saudara yang harmonis, namun ia sama sekali tak bisa merasakannya dengan kakaknya sendiri.


"Jadi kau akan membebaskanku di sini?" tanya Stephen cepat dan tanpa berharap.


"...." Stephen sampai di tahap di mana ia kembali bisa mengingat bagaimana temannya ini dahulu. Semenjak pertemuannya terakhir kali, Stephen punya trik untuk menghadapi sifatnya yang berubah-ubah seperti ini, namun sekarang setelah banyak waktu berlalu, ia sama sekali tidak tahu harus bagaimana (bahkan Stephen juga bisa lupa akan sesuatu).


'Felicia... kenapa kau berpihak pada kakakku?'


Rasanya ingin sekali Stephen menanyakan hal itu, namun ia mengurungkannya karena tidak mau membuat situasi yang semakin runyam di sini.


'Aku tidak tahu perasaan hatinya yang sebenarnya. Dia bisa melakukan apapun sekarang....' Stephen sadar akan posisinya di sini. Secara garis besar ia memang sudah jadi tahanan di sini.


Tidak ada yang bisa dilakukannya, bahkan mengumpulkan kekuatan fisik yang orang biasa bisa lakukan saja sudah sulit sekali dilakukan.


'Berusaha melupakan masa lalu ternyata tidak selalu baik 'huh?' Stephen sadar sesuatu di sini, ia memang berusaha melupakan sebagian besar ingatannya yang lama, demi mengukir hidup yang lebih baik.


Dan memang ia berhasil melupakannya, dan Stephen tidak mengira akan berurusan dengan seseorang yang hadir di masa lalu.


Stephen yang sudah memutuskan hubungan (dalam arti tidak lagi berkomunikasi) dengan kakaknya itu pun, pada akhirnya bisa bertemu kembali.


Dan sekarang ia bertemu dengan seorang temannya yang cukup unik, sayangnya ia lupa akan bagaimana cara menghadapinya dengan baik.


'Dia ini memang berbahaya... aku harus hati-hati....' Stephen cukup beruntung tadi beberapa kali ia meresponnya dengan tegas, namun ia masih hidup sampai sekarang.


Tapi respon tegas itu juga tidak sepenuhnya salah. Akan semakin runyam juga apabila ia memberikan jawaban yang membingungkan bukan? Stephen tidak mau membuat Felicia salah paham lebih jauh lagi.


Felicia sangat pintar dalam berakting. Dengan penampilannya yang seperti itu tidak sulit baginya untuk membuat lawan bicara jadi berpihak padanya.


Dan di saat itulah keberadaannya berbahaya, dia pandai menyelesaikan sesuatu dengan diam-diam, dan menyelesaikan tugasnya dengan baik.


Namun di kasus sebelumnya memang tidak diam-diam, melainkan dia menyembunyikan identitasnya dengan baik sampai sekarang.


"Kau tidak membunuhku saja di sini? Bukannya aku sudah membuatmu sakit hati?" Stephen dengan cepat berbicara sebelum Felicia berbalik dan meninggalkan ruangan ini.


Stephen mulai ingat apa yang dimaksudkan oleh Felicia, yaitu soal masa lalunya, tentang bagaimana mereka sering menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


'Apa itu yang diinginkan oleh Felicia selama ini?' Stephen tidak sadar sampai saat ini. Ia menganggap Felicia adalah teman dekatnya, dan tanpa disadari ia telah menyakiti hatinya dan membuatnya tersiksa selama ini.


Tanpa perlu mengulang apa yang telah dikatakan Stephen sebelumnya. Ia memang sudah mengatakannya dengan jelas, bahwa semua yang mereka lalui bersama semua itu tidaklah lebih dari pertemanan yang dekat belaka.


Namun Stephen tidak menyadari fakta dibalik itu. Yaitu perasaan Felicia sendiri.


"Aku ingin, tapi akan lebih repot lagi kalau Tuan Alex marah." Felicia tersenyum kecil, ternyata ia lebih mementingkan tujuannya daripada perasannya sendiri saat ini.


Stephen sadar, setelah banyak momen yang mereka habiskan bersama, sampai di satu titik hubungan mereka berdua tidak lagi dekat seperti biasanya.


Di saat itulah kakaknya hadir dan selalu menghibur Felicia, di saat itulah Stephen memang sudah benar-benar putus hubungan dengan Felicia.


Mengapa mereka berdua bisa putus hubungan yang dekat seperti ini? yang mengetahuinya tentu hanyalah Stephen dan juga Felicia sendiri.


'Aku tidak mau mengungkit masa lalu, tapi kupikir Felicia berada di sisi yang baik bersama dengan kakak....' Stephen dari dulu berpikir seperti ini, dan sampai ketika ia tahu ia dan kakaknya juga berbeda jalan hidup, Stephen pikir Felicia akan menjalani kehidupan dengan jalannya sendiri.


Namun ternyata tidak seperti itu, Felicia mengambil jalan hidup yang sama dengan kakaknya. Sebuah jalan hidup yang tidak mau Stephen ambil.


'Jadi dia sekarang ada di sisi lain bersama dengan kakak ya?' Stephen akhirnya jadi tahu mengapa Felicia bisa mementingkan tujuannya sendiri dibandingkan dengan keinginannya sendiri.


'Jika saja aku bertemu Felicia yang berada di jalan hidupnya sendiri....'


'Maka mungkin aku sudah....'


Stephen tahu akan kemungkinan yang bisa terjadi itu. Dengan perasaan benci yang kuat tentunya tidak sulit bagi Felicia melakukan apapun padanya sekarang.


'Jadi aku masih beruntung ya....' Stephen yang sekarang tidak bisa apa-apa ini hanya bisa terdiam saja. Jika bukan karena kakaknya yang ingin ia tetap hidup. Maka apa yang terjadi saat ini bisa saja berakhir dengan cara yang berbeda.


'Kakak memang hanya peduli pada tujuan utamanya saja.' Stephen sepertinya bisa tahu mengapa kakaknya itu ingin ia tetap hidup.


Alasannya sederhana saja, yaitu karena memang dia bukanlah target utamanya, melainkan Feronica.


'Syukurlah aku tidak membiarkan Feronica sendiri waktu itu.' Stephen teringat akan bagaimana serangan Felicia yang tak terduga itu tiba-tiba datang. Bilamana ia tidak ada di sana maka mungkin Feronica akan hilang tanpa sepengetahuannya.


'Aku masih punya tujuan, aku tidak bisa membiarkan Feronica sendiri.' Stephen ingat akan tujuannya, yang begitu berhubungan erat dengan Feronica. Jadi untuk mencari tahu kebenaran tentu ia butuh keberadaan Feronica.


Ian tentu tidak bisa membiarkan Feronica berada dalam keadaan bahaya bukan?


'Aku harus melepaskan diri dari sini....' Stephen memutar kembali otaknya agar bisa keluar dari sini.


Namun seperti yang telah ia tahu sekarang, ia tidak banyak bisa berbuat apa-apa saat ini, selain hanya terduduk dan menerima keadaan tubuhnya yang malah terasa semakin lemas.


Stephen mulai merasa matanya semakin berat, ia tidak paham mengapa kekuatannya terasa seperti keluar tanpa sebab yang jelas, seolah kekuatannya dipaksa keluar tanpa izinnya sendiri.


"Minumanku bekerja dengan bagus! Yey!" Terdengar Felicia bangga di sini.


Stephen berusaha mengangkat kepalanya yang semakin terasa berat.


"Minu- man?" Stephen terdengar penasaran, dari awal memang ia sudah mendengar Felicia bicara soal minuman. Minuman apa yang dia maksud?"


"Ah, seharusnya kau berterima kasih padaku Stephen, berkat minuman spesialku, kamu akan beristirahat lamaaa sekali~" Felicia akhirnya mengatakan sesuatu tentang minuman yang ia maksud.


"A-apa?"


'Jadi itu alasannya aku sangat mengantuk sekarang?' Stephen menduga Felicia memberinya minuman itu ketika sedang tidak sadarkan diri sebelumnya.


'Sial!' Pandangan Stephen mulai gelap, perlahan namun pasti kesadarannya juga menghilang perlahan.


Tok....


Tok...


"Lihat tamu kita sudah datang, aku harus menyiapkan minuman spesial juga untuknya!"


"Selamat istirahat Stephen!"


'Feronica?!'


'Ja- jangan... minum ... air itu...."

__ADS_1


*


__ADS_2