
“Tidak ada apa-apa.” Stephen tersenyum kecil dan menyembunyikan kedua tangannya di belakang.
MALAH KELIHATAN LEBIH MENCURIGAKAN.
Apa kak Stephen tak punya trik yang lebih baik?
“HM.” Feronica terus menatapnya serius dan tidak mau berhenti sebelum tahu kebenaran.
“Hei lihat, langitnya indah!” Stepehen menunjuk ke atas dengan semangat.
“HMPH~” Feronica menggembungkan pipinya, pengalihan topik takkan berhasil!
“….” Stephen terdiam, yah pada akhirnya ia tidak bisa menyembunyikan soal ini.
Ia hanya tidak mau membuatnya khawatir.
SRET.
Stephen menunjukkan telapak tangannya.
“!?” Feronica terdiam, dugaannya benar.
“Tanda itu, kenapa kak?” Feronica ingin mendengar penjelasan lebih lanjut.
Kini di tangan pemuda ini ada tanda seperti tato merah menyala, mirip dengan yang suka muncul di tubuhnya.
“….” Stephen benar-benar tidak ingin membuatnya cemas dan menyembunyikan semua ini.
“Kak….” Feronica tidak bisa tenang sebelum mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
Namun karena sudah ketahuan, apa boleh buat. Ia pun menjelaskan semuanya.
“!?” Jadi kak Stephen yang menyelamatkannya dari rasa sakit tanda merah ini?
Apa itu artinya tandanya pindah?
“Kurasa bukan begitu.” Stephen hanya menstabilkan kekuatan tanda merah Feronica, yang akhirnya membuatnya terpapar kekuatannya.
“….” Feronica tak menyangka jadi rumit begini.
Namun itulah kenyataannya.
Tandanya tidak menghilang sendiri, melainkan kak Stephen membantu meredakan sakit dan penderitaannya.
Tapi bagaimana bisa?
Feronica baru tahu kak Stephen punya kemampuan seperti ini.
TAPI KOK MALAH TANDA MENGERIKANNYA JADI PINDAH?
“Aku tidak tahu.” Stephen menatap lengannya. “Tapi tak usah khawatir!” Dan langsung ceria lagi.
“….” Yah inginnya sih begitu. Tapi Feronica merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan terpancar dari tanda merah itu.
“Kakak tak usah melakukan itu….” Feronica sangat terbantu dengan pertolongannya tapi bukan berarti mengambil risiko begini….
“Ini keputusanku.” Stephen tersenyum lembut, ia malah akan menyesal kalau tak melakukan apapun.
“….” Feronica terdiam. Padahal itu adalah risikonya sendiri, kenapa kak Stephen mau menanggungnya juga.
Sekarang ia tak tahu apa yang harus dilakukan.
TANDANYA BAKAL HILANG SENDIRI NGGAK YA?
Itulah pertanyaan terpenting yang tidak bisa dijawab sekarang.
“Yah setidaknya aku belum matoi, haha.” Stephen tersenyum.
“Waah benar ya kak.” Feronica langsung terpancing.
Stephen tidak mau gadis ini terus memikirkannya. Ia harus menyelamatkan masa depannya!
Swush!
“!”
ADA YANG DATANG!?
Stephen menatap tajam, mengerahkan semua kemampuan inderanya.
“Ada apa kak?” Kok tiba-tiba serius?
‘Hanya perasaanku?’ Stephen terdiam. Tak ada siapapun di area pepohonan ini.
Tanpa sadar mereka sudah lumayan berjarak dengan kota Frost.
Tapi bukan tidak mungkin para penjaga datang cepat dan mengejar mereka.
“HI!” Feronica ngeri, apa ia bakal dipenjara!?
“Te- tenang saja.” Memang ide buruk menjelaskan apa yang ia pikirkan. Yang ada malah membuat gadis ini jadi khawatir.
__ADS_1
Stephen terdiam, entah kenapa di situasi tenang begini, malah tidak tenang.
Ia sudah meminta Feronica beristirahat dahulu. Dia masih perlu memulihkan tenaganya.
Dan kini ia melihat situasi sekitar, hanya inilah yang bisa ia lakukan sekarang.
Pihak kota Frost pasti sudah tahu soal area luar yang hancur dan akan segera menginvestigasinya.
Namun ia yakin masih butuh waktu bagi mereka untuk sampai ke sini.
‘Apa yang harus kulakukan?’
Tidak ada yang lebih baik dari diam saja ataupun berjalan gegabah.
Banyak yang sudah berubah sejak terakhir kali ia ke tempat ini.
SRING!
Tiba-tiba ada cahaya tak jauh dari tempat mereka!
“!” Musuh!? Cepat sekali!
Stephen tidak menyangka.
SRING.
Sorot matanya berubah kuning, bulu-bulu halus mulai tumbuh, aura kekuatannya meningkat!
Tak ada pilihan selain serius dari awal. Stephen tak mau membiarkan bahaya lain begitu saja!
Cahaya itu perlahan menghilang, terlihatlah sosok perempuan bergaun putih.
“Felicia!?” Tak disangka malah rekan lamanya yang muncul!
Apa dia masih belum puas ingin menghabisinya?
Terlihatlah ekspresi datar dari perempuan cantik ini.
Stephen siap untuk kemungkinan apapun.
Rekan lamanya ini memang kuat, namun Stephen sudah belajar dari kesalahan!
Sret.
Stephen memasang kuda-kudanya.
“Sepertinya situasimu sulit.”
Untunglah dia mengerti, lalu apa? Mau tertawa puas?
“Aku bisa membantumu.”
“!”
Stephen terdiam, ia tidak menyangka kata-kata manis itu bisa mengejutkan juga.
“Terima kasih?” Stephen tetap waspada.
“Aku serius.” Felicia terlihat meyakinkan dengan ekspresinya yang begitu.
Stephen sudah lebih kebal, ia tahu bagaimana sifatnya. Merayu dan penuh trik sudah ada di dna-nya.
“Kakakku yang seharusnya kau khawatirkan.” Stephen yakin kakaknya butuh bantuan setelah semua yang terjadi.
“Tuan Alex bisa menunggu.” Felicia hanya ingin menemuinya saja dan memberi penawaran ini.
Makin mencurigakan….
Kenapa dia ada di dua sisi?
Kamuflasenya terlihat jelas, sia-sia saja.
Stephen tidak mungkin melupakan bagaimana loyalnya dia pada kakaknya.
Inikah rencana cadangannya? Menghancurkannya diam-diam dengan kata-kata manis?
“Gadis itu telah menyadarkanku.” Felicia menatap seksama Feronica yang terlelap.
“….” Feronica?
“Aku telah dibutakan oleh dendamku sendiri.” Felicia tertunduk kecil.
“….” Harus diakui tingkahnya lumayan beda sekarang.
Bagian dendamnya itu benar.
“Gadis itu tak ada urusannya dengan masalah kita.” Stephen tak bosan-bosannya mengatakannya.
“Bukan begitu.” Felicia agak kesulitan menjelaskannya.
Felicia mengambil nafas panjang. Sulit juga mengucapkan apa yang ada dalam hatinya.
__ADS_1
“Bertarung dengannya membuatku sadar.”
“….” Sadar?
Stephen yakin mereka belum lama bertemu, sadar bagaimana?
“Kelemahanku.”
“….” Stephen terdiam, entah kenapa rasanya perkataan itu cukup dalam.
Memang adalah sifat alami Felicia yang sangat percaya diri dengan kemampuannya.
Ia terampil dengan berbagai hal dan sebagian besar bisa dilakukannya dengan mudah.
Termasuk bagaimana cara menumbangkan lawan dengan cara se-efesien mungkin.
Stephen termasuk korbannya.
Bertarung dengan gadis kecil membuatnya sadar, ia tidak bisa melakukan apapun, termasuk membalaskan dendamnya.
Seberapa sakit yang ia rasakan, membalaskannya tidak akan membuatnya lebih tenang.
Balas dendam hanya mengantarkannya pada kesusahan yang lain.
“….” Stephen tak menyangka Felicia sadar dengan apa yang dilakukannya.
“Kesalahanmu memang besar Stephen, tapi itu masa lalu.” Felicia memandangnya penuh arti.
“Aku tidak bermaksud menyakitimu.”
“Aku tahu.” Felicia sudah menduga akan kata-kata itu.
Stephen terdiam. Ia memang merasa Felicia seolah berubah.
“Tapi aku tetap musuhmu.” Tidak peduli dendamnya sudah hilang, tetap saja tujuan mereka berseberangan satu sama lain.
Tidak ada untungnya membantu musuh.
“Dia bisa mengakhiriku kapan saja.” Felicia tersenyum kecil, untuk pertama kalinya ia banyak bicara tentang orang lain.
Dan Stephen jadi saksi bagaimana Felicia sepanjang waktu membanggakan apa yang bisa dilakukannya.
Stephen paham. Yah ia jadi penasaran bagaimana jalannya pertarungan mereka berdua.
Kalau melihat reaksinya pastinya sangat terkejut sampai bisa sadar begini.
“Dia tak membunuhmu ya.” Stephen tersenyum kecil.
“Kau ingin aku mati?” Felicia membalas senyumannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama Stephen merasa ada yang berbeda.
Rekan lamanya begitu menyakinkan dan tidak menunjukkan niat tersembunyi apapun.
“Terima kasih Felicia.” Stephen memandangnya penuh arti.
“….” Felicia terdiam, akhirnya dia mengerti juga.
“Tapi kau tak perlu melakukannya,” lanjutnya.
“!”
“Kakakku akan tahu soal ini dan kau bisa mati.” Stephen tetap terdengar serius.
“….” Felicia terhening.
“Aku bisa berasalan.” Ia tetap ingin membantunya.
“Aku yakin kau lebih tahu tentang kakakku dibanding aku.” Stephen menatapnya serius, tak mundur dari argumen ini.
Hubungan darah memang tidak terpisahkan, namun ada kalanya orang lain lebih dekat dari seorang saudara.
Stephen yakin Felicia yang paling mengerti kakaknya sekarang.
“….” Felicia terdiam, niatnya tak berjalan mulus, malah sebaliknya ia dikhawatirkan.
Ia sudah memikirkan risiko yang akan terjadi dan itu adalah masalahnya.
Namun tetap saja pemuda ini tak mau tahu dan tak membiarkan dirinya dalam bahaya.
“Aku bukan siapa-siapamu.” Felicia memandang serius.
Mungkin dulu mereka pernah berhubungan satu sama lain, namun itu hanya masa lalu.
Sekarang mereka jadi asing, dia tak perlu memikirkan nasibnya.
“Kau berharga bagi kakakku.”
“!”
Perkataan Stephen meluluhkan hati perempuan cantik ini.
__ADS_1