
Ibu Guru Freiss menatap pertarungan yang sedang terjadi, hampir seluruh area lapang tertutup oleh tanah keras yang bergelombang bak air yang terus memenuhi area di sana.
Dan kini kedua siswa yang tengah bertarung itu pun masing-masing hanya terdiam karena memang mereka hampir tenggelam oleh tanah keras yang kian banyak itu. Tidak ada yang terlalu berusaha melakukan apapun.
Ini memang bukankah kompetisi untuk melihat siapa yang akan tetap diam dan tidak melakukan apapun di kala situasi di sana sudah terlihat mulai genting adanya.
Mungkin agak sedikit aneh karena yang sedang bertarung di sana malah terlihat tenang-tenang saja seolah tidak ada sesuatu yang genting, sementara di sisi penonton yaitu para murid sudah mulai ramai karena tidak percaya aka napa yang mereka lihat itu.
Jika diibiarkan terus menerus maka apa yang dikatakan para muridnya bisa terjadi adanya, Freiss merasakan aura kekuatan sihir Feronica tidak kunjung reda, yang itu menandakan ia tidak akan menghentikan sihirnya dalam waktu dekat ini.
Sementara yang memang harus dilakukannya adalah menghentikan sihirnya itu demi keselamatan dirinya malah tak kunjung dilakukan juga.
Ini membuat Freiss heran, mengapa siswi yang Bernama Feronica itu menggunakan sihir seperti ini? Memang tidak ada aturan tertulis yang menyatakan bahwa ada sihir yang dilarang gunakan, namun mengingat ia mengeluarkan sihir yang begitu kuat dan memiliki efek yang luas digunakan tentunya menimbulkan pertanyaan juga.
Apa pertanyaannya? Sederhananya mengapa Feronica mengeluarkan sihir yang begitu kuat itu di awal padahal ia bisa menyimpannya di saat terakhir sebagai kartu as-nya? Dan tidak berhenti di sana, jika memang itu adalah sihir terhebat yang bisa digunakan maka mengapa tidak memilih yang risikonya kecil saja?
Maksudanya adalah mengapa dia tidak mengeluarkan sihir yang hanya akan merugikan lawannya sebagaimana strategi yang digunakan kebanyakan orang? Bukankah dengan begitu makai a akan lebih diuntungkan dan tidak menerima risiko yang besar?
Kini pertanyaan seperti ini muncul di benak banyak para murid dan juga guru-gurunya, mereka heran dan semakin lama terasa was-was juga akhirnya.
KRAK!
"Apa?" Bu Guru Freiss tersentak karena mendengar suara yang cukup keras terdengar dari area lapang, tempat Feronica dan Yelena sedang bertarung.
"Sihir Angin: Penghancuran." Tanpa diduga Yelena menggunakan kembali sihir anginnya yang menghempaskan sebagian besar batu keras yang mulai terukir di tubuhnya itu.
Memang untuk sementara batu-batuan keras itu terhempas dan terlihat setengah badannya ikut terluka karena begitu kuatnya bebatuan yang menghimpitnya itu.
"UGH...."
"Hah tidak semudah itu Yelena!" Feronica berseru dengan penuh semangat dari seberang. Raut wajahnya begitu terihat tertarik seolah antusias dengan apa yang sedang terjadi di sini.
"...." Yelena memandang Feronica yang penuh semangat itu, dan di saat yang bersamaan ketika ia menghempaskan bebatuan tanah itu, bebatuan kecil lain di sekitarnya mulai kembali ke tubuhnya seolah seperti dirinya adalah magnet bagi bebatuan kecil, keras nan tajam itu.
__ADS_1
SSHHH!
KRAKKK!
SHHH!
KRAK!
Jadi seberapa banyak ia gunakan sihir anginnya itu pun, pada akhirnya bebatuan keras coklat di sekitarnya itu tetap menghampirinya dengan cepat. Lebih cepat ketimbang dengan ia menggunakan sihirnya berkali-kali.
Jadi semua yang dilakukan oleh Yelena berujung pada kesia-siaan. Memang benar kekuatan sihir anginnya punya dampak yang luas pada sekitarnya, memporak-porandakan sebagian kecil area bertanah batu dan bergelombang ini, namun pada akhirnya tidak cukup untuk menghentikan kegilaan gelombang sihir milik lawannya ini.
"Kenapa?" Yelena tidak mengerti, raut wajahnya kini menandakan ia punya pertanyaan dalam benaknya, dan ketika Feronica melihatnya dia merasa sedikit puas.
"Sederhana saja! Ini adalah sihir terkuat yang pernah kupelajari!" Feronica berkata dengan lantang, ia memang tadi merasakan sihirnya sempat terganggu karena upaya yang dikeluarkan oleh lawannya itu.
"!" Yelena menatap Feronica lagi, raut wajahnya tetap heran dan tidak percaya mengapa lawannya melakukan hal ini.
"Kau ... tidak bisa menang ... dengan cara ini..." Yelena menatap tajam pada lawannya, sadar akan usaha yang dilakukannya itu tidak begitu berpengaruh banyak di saat ini pada akhirnya setelah sekian lama diam akhirnya ia mulai membuka mulutnya meskipun dengan suara yang lembut dan pelan.
"Kau tidak bisa … menang." Yelena mengatakan hal yang sama, masih terdengar pelan dan lembut namun lebih jelas dari sebelumnya.
"...." Feronica terdiam sejenak, di kondisinya yang seperti ini akhinya ia mulai terpikir kembali, apakah memang ini adalah cara terbaik yang bisa digunakannya?
Di saat ia ber-espektasi menang dengan cara yang wajar dan keren, namun pada akhirnya yang terjadi adalah hal yang tidak sesuai dengan apa yang dipikirkannya.
'Apakah ini sepadan dengan apa hasil latihanku selama beberapa hari terakhir?'
Pada akhirnya Feronica terbawa kembali mengingat, hari-hari sebelumnya ia berlatih demi mempersiapkan diri mengikuti Tes Kemampuan Sihir susulan ini.
*
-Satu hari sebelumnya, Pagi hari ketika libur sekolah di area lapang khusus tempat pertarungan para ahli sihir-
__ADS_1
'Cuaca hari ini mendung, suram sekali rasanya.' Feronica mengomentari apa yang dilihat sekeliling dalam hatinya. Cuaca malam hari yang cukup gelap membuat ia jadi kurang semangat berlatih, padahal hari-hari sebelumnya bahkan ketika malam pulang sekolah pun ia sering berlatih di tempat yang sama.
Kini di satu hari menjelang hari yang penting mengapa malah ia kehilangan semangatnya? Bukankah itu tidak biasa? Feronica merenung memikirkan hal ini.
Ingatan demi ingatan hari sebelumnya memanglah tidak dilupakannya, meskipun harus lelah sepulang sekolah namun ia tetap menyempatkan waktunya sampai malam demi berlatih mengasah kemampuan sihir, semuanya itu demi mempersiapkan diri di esok hari.
Namun mengapa di saat seperti ini ia malah kehilangan semangatnya dengan cukup drastis? Bukankah itu seharusnya ada penjelasannya? Feronica tidak tahu mengapa ia tiba-tiba kurang bersemangat hari ini.
'Selepas kejadian kemarin aku memang tidak lagi diganggu, dan itu bagus tapi....' Feronica mulai berbicara dalam batinnya, ada keraguan yang kini muncul dalam dirinya.
'Apakah aku sudah cukup berusaha?' Feronica mengangkat kepalanya, menatap awan berawan agak gelap, seperti tanda-tanda akan hadirnya hujan di tempat ini.
Tidak ada gangguan dari luar bukanlah alasan baginya untuk terlalu percaya diri akan hasil latihan yang selama beberapa terakhir dijalaninya ini.
'Yang paling kukuasai adalah sihir tanah, tapi apakah sihirku ini mampu untuk bersaing dengan yang lain?' Feronica mulai mengungkapkan keraguan dalam hatinya ini. Pada akhirnya ia tidak bisa mengabaikan pertanyaan sepenting ini.
Sementara akhir-akhir ini ia hanya memikirkan bagaimana cara untuk lebih kuat dari sebelumnya, itu adalah hal bagus… tapi akhirnya ia sadar ada hal lain yang patut untuk dipikirkannya juga.
'Aku sudah melihat bagaimana kekuatan sihir api milik mereka, jika dibandingkan dengan kekuatanku.' Feronica teringat kembali bagaimana pertarungannya yang berat sebelah dengan Fredirica dan bahkan ketika ia pikir semuanya sudah berakhir ketika melawan kedua bersaudara di tempat ini.
Dengan memikirkan kekuatan mereka saja membuat Feronica mulai membandingkan, akan tetapi jika dibandingkan maka rasanya tidak sebanding juga sih.
'Sebesar apa perbedaan kekuatanku dari waktu kemarin?' Feronica merenungi hal ini, ia berasumsi kekuatan sihirnya sudah pasti akan meningkat jika diasah dalam waktu yang lama, akan tetapi bagaimana jika ia hanya punya waktu selama beberapa hari saja?
Tentunya hasilnya akan berbeda bukan? Jika dibandingkan dengan berlatih cukup lama. Analogi sederhana seperti ini mudah sekali untuk dipahami.
Feronica masih menatapi langit dengan tatapan yang penuh pengertian, semangatnya masih belum kunjung datang. Padahal di saat seperti ini ia membutuhkan apa yang sedang hilang ini.
'Tapi aku harus bisa lulus dalam tes besok,siapapun lawanku besok.'
Feronica tahu, murid-murid tingkat akhir yang berada di sekolahnya itu tentulah punya kekuatan dan kemampuan mereka masing-masing, mereka punya tujuan yang sama dengan dirinya yaitu menjadi ahli sihir yang hebat.
Memangnya siapa juga yang masuk ke sekolah sihir namun tidak berniat untuk menjadi ahli sihir? Feronica tahu hal ini sedari tahun pertamanya dan ia berniat untuk menjadi yang terbaik terlepas dari perbedaan yang ada antara dirinya dengan yang lain.
__ADS_1
Setelah melihat bagaimana kemampuan Fredirica dan saudaranya Rossa, kini Feronica jadi punya gambaran tentang bagaimana kemampuan murid tingkat akhir seharusnya, dan kini ia mulai terpikir kembali mengenai hal ini.
Kesempatan yang dimilikinya, kesempatan kedua yang akan datang esok hari, apakah itu akan berpihak padanya? Ataukah sebaliknya?