Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 115: Bertemu


__ADS_3

"Ah, maaf Nyonya...." Feronica dengan segera sedikit melangkahkan kaki ke belakang dari ibu muda yang penampilannya begitu anggun dan cantik itu.


Kejadian seperti ini bisa terjadi kapan saja, mengingat memang Feronica dari tadi berdiri saja di tengah jalan. Saking seriusnya berpikir ia sampai tidak sadar menghalangi jalan orang yang sedang berlalu lalang di sini.


Sebelum ia beraksi, tentu harus punya rencana dahulu bukan?


Dan kini ia tidak bisa terus berpikir setelah tahu keberadaannya menghalangi orang yang sedang lewat.


Mata Feronica bergulir ke bawah melihat sekilas pakaiannya sendiri, memang benar apa yang dikatakan ibu muda cantik ini.


'Pakaianku masih basah... Itu berarti jeda waktu perpindahanku tidak lama....' Feronica sampai tidak sadar akan hal ini karena begitu terpana dengan tempat ini.


Rasa hangat sinar dari atas membuat Feronica tidak merasa dingin walaupun pakaiannya masih belum kering.


Feronica melihat Ibu muda ini memakai topi coklat mewah yang sedikit menghalangi wajahnya, namun masih bisa terlihat juga. Parasnya menarik dan terlihat ramah.


'Hmmm....'


Di sampingnya ada lelaki dewasa yang juga memakai pakaian mewah dan topi coklat yang sama. Dari sini Feronica beranggapan mereka berdua adalah pasangan yang sedang berjalan-jalan.


Di antara sekian banyak yang berlalu lalang hanya tuan dan nyonya ini saja yang sadar akan keberadaannya?


'Mungkin Tuan dan Nyonya ini tidak sibuk seperti yang lain....' Itu alasan yang cukup masuk akal bagi Feronica, sekaligus terasa aneh.


Tapi yah, Feronica tidak bisa berharap seorang asing sepertinya dipedulikan di sini, hanya saja pemandangan seperti ini pernah ia lihat sebelumnya.


'Pandangan mereka tidak jauh berbeda dari teman-temanku di sekolah....' Feronica tidak hanya melihat orang-orang lalu berlalu lalang dengan biasa namun kerap kali ada pandangan tajam yang terarah padanya, meski Feronica tidak melihat balik, namun tetap saja ia bisa merasakannya.


Pandangan tajam bagaimana? Hanya Feronica yang tahu pastinya.


Terlalu awal untuk menilai sikap orang dari luar. Apa lagi-lagi ia terbawa perasaannya sendiri? Perasaan yang ia rasakan di akademi sebagai satu-satunya orang yang berbeda di antara orang lain?


Feronica pikir akan lebih nyaman jika ia bisa jadi sama seperti orang lain. Maka mungkin saja perlakuan yang ia dapatkan juga tidak akan berbeda. Tentu dengan begitu tidak ada yang perlu dipikirkan bukan? Semuanya akan terasa ringan.


'Sepertinya menyenangkan....'

__ADS_1


Namun siapa juga yang bisa menentukan segalanya sesuai dengan keinginan? Feronica tahu harapannya ini jauh dari kenyataan dan apa yang bisa dilakukannya selain dengan menerimanya?


Apa dengan berandai-andai akan membuat semuanya jadi lebih baik? Merubah hidupnya secara drastis? Feronica mencoba berpikir realistis sekarang.


'Aku tidak sama dengan yang lain....' Feronica sadar akan hal ini. Berapa kali pun ia memikirkannya, tetap saja jawabannya sudah ia tahu dari awal.


Kekebalannya terhadap perlakuan orang sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Tapi jauh dalam lubuk hatinya, ia masih manusia biasa, bukan robot yang tidak berperasaan.


Feronica tahu perasaannya itu tidak mengubah apapun dan malah memberinya beban. Jadi ia memang tidak bisa mengabaikan perasannya, namun mengoreksinya adalah suatu keharusan.


'Aku punya Ibu....' Feronica punya alasan kuat untuk tidak lagi berandi-andai hanya demi meringankan masalahnya. Ia masih punya mimpi, dan mimpi itu tidak akan terwujud jika ia masih belum teguh akan perasannya sendiri.


Apa yang telah ia jalani sampai sekarang, dan apapun pandangan orang lain padanya. Tidak akan pernah bisa mendikte kehidupannya sekarang ataupun nanti.


'Aku kuat!' Feronica menyemangati dirinya sendiri, memaksa mengalirkan energi positif demi mengalahkan perasaannya sendiri.


'Orang-orang itu tidak semuanya sama....' Feronica berusaha agar tidak berpikir macam-macam di sini. Jika memang semua orang yang punya derajat tinggi semuanya sama saja, lalu bagaimana dengan kedua orang dewasa yang sedang di depannya?


Sudah cukup dengan apa yang ada di masa lalu. Kini yang terpenting adalah bagaimana ia bisa mengatasi situasi yang tengah terjadi.


'Aku Feronica Greiss, punya mimpi!' Feronica terus mengobarkan semangatnya. Tidak memberikan perasannya sendiri mengalahkannya.


"Ah...." Feronica terpana melihat mata yang penuh kepedulian dari ibu muda cantik ini.


Mengapa ibu muda cantik ini bisa bersikap baik pada orang asing sepertinya?


Sejujurnya baju yang basah seperti ini bukanlah masalah besar baginya. Yang terpenting sekarang adalah....


'Tunggu....' Feronica memerhatikan lebih lanjut lagi ibu muda yang memegang pundaknya ini.


'Nyonya ini....' Feronica bisa melihat kilas balik ingatannya sendiri, meski beliau memakai topi yang menutupi kepalanya, namun di jarak sedekat ini Feronica bisa melihat wajahnya dengan jelas.


"...." Untuk beberapa saat Feronica memerhatikan wajah dari ibu muda cantik ini, dan semakin lama ingatannya semakin jelas.


"Nyonya apa kita—"

__ADS_1


'!' Belum sempat Feronica menyelesaikan perkataannya, di sekitaran mereka ia bisa mendengar bisikan-bisikan dan sorot mata yang mengarah pada mereka.


Mata Feronica pun bergerak perlahan memerhatikan apa yang dirasakannya itu, dan memang benar kini orang-orang yang berlalu lalang dan para pedagang benar-benar memperhatikannya lebih dari sebelumnya.


"Pssst... apa mereka berdua?"


"Kau benar... jangan-jangan ... pssst?"


"Orang-orang mulai sadar keberadaan kita...." bisik Pria dewasa di samping ibu muda itu. Karena dekat, otomatis Feronica bisa mendengarnya.


"Tapi gadis ini sendirian...." ucap ibu muda itu pelan, dari nadanya ia terdengar bersikeras ingin tetap berada di sini.


"Dimana orang tuamu?" tanya ibu muda itu, kini dengan tatapan yang khawatir.


"Ah...." Feronica terhening tidak tahu harus jawab bagaimana. Sedang bisikan orang-orang yang terdengar dan juga tatapan-tatapannya malah makin menjadi-jadi.


"Jangan khawatir Nyonya. Terima kasih atas perhatiannya...." Feronica menunduk memberi hormat dan di saat yang bersamaan tuan dan nyonya yang menyapanya pergi dari hadapannya.


"Ah...." Ibu muda itu seperti tidak punya pilihan lain dan terdengar masih ingin bersama dengan Feronica lebih lama lagi.


"Pssst...." Namun situasi jadi semakin ramai, membuat Feronica tidak bisa terus-terusan berada di sini kuga.


DEG!


Sssshhhh.....


"Uh...." Feronica merasa ada yang hangat dari sekitaran wajahnya, ini bukanlah hawa hangat yang ia rasakan dari atas, melainkan ada sesuatu yang lain.


Feronica berjalan meninggalkan orang-orang yang menatapnya tadi. Ia tidak begitu suka ketika diperhatikan lama-lama seperti itu, rasanya tidak nyaman.


Belum lagi dengan rasa hangat yang sekarang dirasakannya, membuatnya cukup heran.


'Wajahku sedikit panas....' Feronica melihat sekitarnya, dan kebetulan sekali ada cermin umum yang dipasang di luar toko pakaian tak jauh darinya.


Dengan cepat Feronica melangkahkan kakinya dan demi tahu apa yang sekarang dirasakannya sekarang.

__ADS_1


Apa itu luka lama bekas pertarungan dahulu atau...?


"Kenapa ... muncul lagi?"


__ADS_2