
Feronica akhirnya memutuskan untuk berjalan jalan sejenak keluar rumah setelah selesai sarapan bersama tadi, mendinginkan pikiran dengan melihat alam sekitar adalah pilihan terbaik untuknya saat ini.
Dalam pikirannya memang masihlah terpikir mengenai mimpi dan tanda aneh itu, namun pada akhirnya tak ada suatu pun yang bisa memuaskan rasa penasarannya itu.
"Ah masa bodoh...." Feronica akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menganggap apa yang tadi dialaminya. Mengingat ia punya tanggung jawab lain yaitu untuk lulus pada Tes Kemampuan Sihir minggu depan.
Waktu yang sungguh amat singkat baginya untuk kembali mengasah kemampuan sihirnya demi lulus ujian tingkat akhir. Namun suka atau tidak memang begitulah peraturannya.
Bisa mengulang kembali adalah hal yang cukup baik dibanding dengan benar-benar gagal dan tidak lulus Tes Kemampuan Sihir. Memang acara itu adalah jembatan di mana para siswa-siswi bisa mnejadi ahli sihir yang sesungguhnya.
Feronica mengarahkan matanya ke arah langit biru cerah, rasanya menenangkan seolah semua beban yang ada padanya menghilang. Keindahan alam memnaglah bisa menjadi sarana penyegaran pikiran yang mudah dan murah, bahkan gratis.
Feronica sampai di area dekat lapang desa, ia memilih tempat yang tenang untuk menghabiskan waktu luangnya, berusaha tenang di tengah kondisi hati yang terkadang tidak tenang ini.
Ia kemudian duduk di atas rerumputan hijau yang bagus dan terlihat bersih dan beberapa saat kemudian merebahkan tubuhnya di lapang rumput yang kosong itu. Mencoba membersihkan pikirannya dari berbagai macam hal yang ada di dalamnya.
"Aaaah, rasanya seluruh tempat ini punyaku saja...." Feronica tidak melihat siapapun di sini, orang dewasa bahkan anak-anak yang biasanya bermain pun tidak ada.
"Feronica mengarahkan lengan kanannya menutupi pandangannya yang mengarah ke langit, tanpa terasa suasana hangat dan angin yang sejuk berangsur-angsur menjadi cukup panas. Dan meskipun begitu Feronica masih tetap berada di area lapang hijau yang luas itu.
"Aku harus segera berlatih...." Feronica bangkit dari tidurnya dan segera berlatih saat itu juga di tempat yang sama. Ia mneghabiskan waktu luangnya untuk melatih fokus dan pengendalian sihir dan tak terasa hari sudah mulai gelap dan Feronica memutuskan untuk pulang ke rumah.
"Aku harus bisa meningkatkan kemampuan sihir dan lulus ujian sekolah!" Feronica menyemangati dirinya sendiri di sepanjang perjalanan.
Tak lama Feronica sampai di tempat di mana Rossa dan Fredirica tinggal, rumah pribadi yang besar yang membesar dan megah yang membuat semua orang yang melihatnya berpikir siapa yang punya rumah seluas dan sebagus ini? Feronica tentunya salah satu dari orang yang memiliki pertanyaan begitu pada awalnya.
Namun ia sudah lama mengenal Rossa dan Fredrica meskipun hanya ketika pertama kali masuk ke Akademi Sihir Wolfden, setidaknya Feronica memang tahu sebagian kecil dari Rossan dan Fredirica.
Mengapa hanya sebagian kecil saja? Feronica tahu ia tidak perlu menggali dalam-dalam hidup orang lain, terutama saat hidup orang lain itu memang tidak ingin diganggu oleh apapun, dan hal lainnya adalah Feronica memang bukanlah murid dari keluarga terpandang ataupun punya pengaruh yang membuatnya tidak terlalu menonjol di sekolahnya.
__ADS_1
Feronica penasaran bagaimana penampakan dalam rumah sebesar dan sebagus itu, namun pada akhirnya ia tidak bisa tahu bagaimana isi dari rumah yang besar itu mengingat apa yang telah dikatakan oleh Rossa padanya sebelumnya.
Jadi rasanya memang melihat dari luarnya saja sudah cukup. Feronica berpikir seandainya ia dan ibunya juga memiliki rumah sebesar dan sebagus ini maka rasanya pasti akan menyenangkan. Tidak ada lagi hawa dingin masuk ke rumah dan bisa menghangatkan diri sepuasnya di perapian yang besar dan jangan lupakan kasur yang besar dan empuk tentunya.
"Sedang apa kau di sini?" Terdengar suara tak asing terdengar dari belakang Feronica tepat ketika ia masih dalam lamunan.
Feronica sedikit tersentak dan menoleh perlahan, tidak disangka ia bertemu dengannya di sini. "Ah, Rossa? Maaf aku menghalangi jalanmu." Feronica segera menyingkir dari depan rumah besar itu setelah tahu Rossa ada di sana.
Feronica yang tadi melihatnya sekilas bertanya-tanya pula mengapa hanya ada Rossa di sana? Sangat jarang melihat Rossa dan Fredirica tidak bersama-sama.
Tapin itu sama sekali bukanlah urusannya, ia penasaran namun tidak mau membuat masalah lagi dengan
Tap.
Namun langkahnya terhenti karena ada yang memegang tangan kanannya, genggaman yang sungguh erat dirasakannya, pikiran Feronica malah melayang ke mana-mana saat ini, menyesal karena tidak langsung lewat saja sedari tadi.
Rossa terdiam dan wajahnya tidak terlihat seperti biasanya, Feronica sedikit heran mengapa Rossa terlihat berbeda saat ini. Wajahnya serius dan terkesan penasaran akan sesuatu, Feronica menunggu Rossa untuk mengatakan sesuatu.
Namun setelah beberapa saat berselang Rossa tak mengatakan sepatah kata pun dan malahan terjadi keheningan yang cukup berarti saat ini. "Emm, Rossa?"
"Ah...." Rossa akhirnya tersadar dari lamunan sesaatnya itu.
"Mengapa kamu sendirian sekarang?" Feronica akhirnya mengutarakan rasa penasarannya.
"Bukan urusanmu...." jawab Rossa pendek.
"Ahaha...." Feronica tidak berharap Rossa akan menjawab pertanyaannya itu sih.
"Jika tak ada sesuatu lagi aku mau pulang sebelum gelap." Feronica tahu ia tidak bisa selamanya menunggu Rossa bicara pada akhirnya besok adalah hari sekolah, ia ingin istirahat lebih awal di rumah.
__ADS_1
"Tanda apa itu?" Rossa menatapnya dengan tajam, akhirnya mengutarakan alasannya menghentikan Feronica tadi.
"Tanda?" Feronica bingung akan hal yang dibicarakn temannya itu, tanda? Apa yang dia maksud? Tidak bisakah dia menjelaskan lebih detil lagi?
"Jangan berlagak tidak tahu." Rossa mendekat dengan wajah yang semakin serius dibanding sebelumnya.
Feronica mulai kembali melihat sisi sebenarnya dari Rossa, memanglah seperti ini adanya. Mungkin inilah sebabnya dia bersikap aneh tadi karena rasa penasarannya itu?
Feronica hanya terpikir satu hal mengenai ini dan itu adalah hal yang berusaha tidak dipikirkannya tadi pagi tadi, dan memang setelah ia menjalani sesi latihannya ia lupa akan hal itu sampai saat sebelum Rossa bertanya padanya.
Sebelumnya Feronica tidak pernah berpikir ada seorang pun yang tahu akan hal ini bahkan orang terdekat seperti ibunya pun belum mengetahuinya, dan kini mengapa Rossa yang notabene hanyalah temannya itu bisa tahu mengenai hal ini?
Apa hal 'itu' yang dibicarakan oleh Rossa saat ini? Kalau begitu apa yang dilihatnya di cermin pagi tadi adalah hal yang nyata adanya? Apakah itu tanda yang dimaksud oleh Rossa saat ini?
Jika memang benar mengapa dia bisa melihatnya? Kapan dan di mana? Feronica bertanya-tanya. Kini ia sudah tahu akan apa yang dimaksud oleh Rossa.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Feronica dengan nada rendah dan penuh hati-hati. Pasalnya juga memang tidak mau membicarakan hal ini di luar secara terbuka dan terlebih dengan temannya ini, tapi malah semuanya itu terjadi saat ini.
Feronica masih belum tahu pasti apa arti tanda yang muncul di tubuhnya itu, karena terkesan menakutkan maka pikirannya tentang hal ini cenderung ke hal yang negatif.
"Aku melihatnya saat kau marah kemarin." Rossa akhirnya menjawab pertanyaan tadi, karena ia melihat tanda aneh di wajah Feronica tepat di saat ia dan saudaranya mengobrol dengan Feronica.
"Apa itu berarti Fredirica tahu?" Feronica khawatir semakin banyak orang yang tahu akan hal ini maka tentunya bisa menimbulkan pertanyaan yang besar dari orang-orang yang mendengar hal ini, sedangkan ia sendiri belum tahu apa arti dan tanda yang ada padanya.
Dengan menutupi hal yang terjadi ini maka agaknya tidak akan membuat yang lain penasaran dan bertanya-tanya namun di sisi lain Feronica memang butuh orang lain yang dapat dipercaya untuk membantunya mencari tahu apa maksud dari tanda yang tiba-tiba muncul padanya itu.
"Aku tidak tahu," jawab Rossa pendek, ia mengatakan hal yang sejujurnya karena memang ia hanya fokus pada Feronica saat ia melihat tanda itu dan tidak memerhatikan saudaranya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi ... tanda apa yang ada padamu kemarin?"
__ADS_1