
"Pemuda itu berpenampilan rapi dan cukup tinggi. Ibu tidak pernah melihatnya di mana pun di desa." Elisabeth akhirnya menjelaskan siapa yang menolong Feronica kemarin.
Penjelasan yang sederhana dan tidak detail ini tidak membuat Feronica bingung. Malahan sebaliknya, ia mulai bisa menduga siapa sebenarnya yang dimaksud oleh ibunya ini.
Pemuda asing tampan yang ditemuinya di area pekuburan Wolfden tengah malam ketika ia hendak pulang ke rumah ... apakah dia yang dimaksudkan ibunya?
"Bu, sepertinya aku tahu siapa yang dimaksud oleh ibu," kata Fredirica dengan cukup serius dengan pandangan mata yang tajam.
"Kau mengenalnya?"
"Tidak."
"Lantas bagaimana kamu bisa tahu?"
Elisabeth memandang kebingungan putrinya.
"Aku bertemu seorang pemuda dan kriterianya mirip seperti yang dikatakan Ibu," jelas Feronica.
"Ah begitu ...." Elisabeth akhirnya tahu, putrinya pun tidak mengenal siapa pemuda yang menolong dia itu.
"Tapi aku hanya bertemu dengan pemuda yang ibu sebutkan itu. Tepat ketika aku mau pulang." Feronica akhirnya mengungkapkan apa yang ia tahu mengenai pemuda yang dibahas oleh ibunya ini.
Memang benar ia bertemu dengan pemuda tampan rupawan itu. Namun Feronica terlalu kelelahan untuk mencari tahu siapa sebenarnya pemuda berkharisma kemarin malam yang ditemuinya.
Jadi ia hanya melihatnya sekilas seolah hanya angin lewat, namun pada akhirnya karena begitu tampan dan berkharismanya pemuda yang dilihatnya itu, Feronica agaknya memang malah ingat terus meskipun hanya sebentar melihatnya seolah penampilan pemuda itu sudah menempel erat di ingatannya.
Namun satu hal yang dia tahu, dia memang tidak mengenali siapa pemuda itu.
Dan lagi yang ia ingat hanyalah sebatas pertemuannya itu. Tidak kurang tidak lebih.
"Apa kamu yakin tidak ingat apa-apa lagi?" tanya ibunya memastikan kembali.
"Hmmm...." Feronica memejamkan matanya sembari mengeluarkan apa yang ia bisa untuk mengingat apa yang terjadi setelah pertemuannya dengan pemuda tampan itu.
"Maaf bu aku memang tidak ingat apa-apa lagi...." Feronica akhirnya menyerah mengingat apa yang terjadi. Pasalnya ia memang lupa dan setiap kali mencoba mengingatnya pikirannya seolah kembali lagi mengingat pertemuan itu saja.
__ADS_1
Elisabeth terdiam. Jadi kali ini ia benar-benar yakin bahwa memang putrinya itu benar-benar tidak mengingat siapa sebenarnya pria yang telah menolong dia itu.
"Lalu apa ibu mengenalnya?" tanya Feronica penasaran barangkali ibunya memang tahu identitas dari pemuda itu.
Elisabeth menggelengkan kepalanya. "Tidak, ibu pun tidak mengenalnya."
"Begitu ya...." Feronca termenung, lalu melanjutkan kembali perkataannya. "Maafkan aku bu karena telah membuat ibu khawatir, aku hanya mementingkan perasaan sendiri saja."
Feronica masih merasa bersalah akan perbuatannya yang seenaknya itu, rasanya masih agak aneh tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia tidak mau membuat situasi jadi lebih runyam dari ini.
"Kamu putri ibu satu-satunya Feronica, kamu sudah dewasa pula. Jadi ibu tidak bisa mengawasimu terus." Elisabeth memandang putrinya sembari menarik nafas yang dalam.
Elisabeth tahu ia punya putri yang sudah beranjak dewasa, di mana putrinya itu sudah tahu akan yang baik dan buruk.
Dengan mengekang dan melarang sesuatu hanya akan membuat putrinya itu tertekan dan merasa tidak punya pilihan. Maka dari itu Elisabeth hanya memberikan nasihat yang di mana putrinya itu bisa menangkapnya dan melakukannya dengan baik.
"Jangan lakukan hal yang berbahaya, keselamatanmu lebih penting dari apapun."
"Iya ibu, aku akan selalu mengingat itu." Feronica menatap ibunya dengan penuh keyakinan. Kali ini ia tahu memang rumor yang ada di desa hanyalah rumor belaka, tidak ada yang perlu ditakutkan.
Apa yang dimaksudkan oleh ibunya itu adalah bagaimana dia harus berhati-hati dalam memutuskan serta melakukan sesuatu, terutama yang berbahaya.
"Bu, mengapa rumor di area pekuburan itu—"
JDER!
Suara kilat menggema di langit malam memotong perkataan Feronica dan membuat gadis itu serta ibunya tersentak kaget.
Setelah gemuruh dan cahaya kilat itu berlalu, Elisabeth melihat keadaan di luar, malam yang gelap yang kembali tenang seperti biasanya.
Seolah alam pun memberi peringatan akan hal apa yang tengah mereka bicarakan malam ini.
"Kita di desa tidak lagi boleh membicarakan rumor itu." Elisabeth memperingatkan Feronica.
"Begitu ya...." Padahal Feronica baru saja ingin mengatakan kebenaran yang ia peroleh dari kunjungannya kemarin malam. Namun mengingat hal ini memang dilarang ibunya, ia harus mengurungkan niatnya.
__ADS_1
***
Pada akhirnya malam pun berlalu, Feronica kembali beristirahat di kasur di kamar kecil yang sederhana. Udara dingin masuk mudah sekali hingga akhirnya rasanya terasa sejuk namun lebih mengarah pada agak dingin tentunya.
Feronica sudah terbiasa dengan situasi seperti ini dari sejak kecil, ibunya memberikannya berbagai macam hal yang bisa ia lakukan untuk menghangatkan diri. Salah satunya adalah tidur di dekat perapian sederhana ruang tengah, namun perapian itu pun tak jarang padam di tengah malam yang dingin.
Cara itulah yang dipakai Feronica ketika ia kecil, sementara ibunya tetap terjaga mengerjakan berbagai macam pekerjaan menjahit, ibunya kerap kali pula menyalakan perapian yang padam agar Feronica kecil tidak rewel terbangun karena hawa dingin yang masuk ini.
Namun kini cara lama tidak lagi digunakannya, Feronica bukanlah anak kecil yang lemah lagi. Kini ia sudah tumbuh menjadi dewasa dan kuat, jadi suhu seperti ini bukanlah masalah yang besar, meskipun begitu terkadang ia juga bersin sewaktu-waktu sih.
Feronoca menikmati waktu istirahatnya di malam yang gelap dan tenang ini. Memikirkan hal yang tadi Feronica merasa ia tidak punya seseorang di mana ia bisa menceritakan akan keadaan sebenarnya di tempat yang di rumorkan berbahaya itu.
Bercerita dengan teman-temannya? Sudah dilakukan, ingat bukan dengan Rossa dan Fredirica yang telah meminta bantuannya namun pada akhirnya tidak percaya sama sekali?
Feronica sebelumnya berpikir, mungkin saja ia memiliki kesempatan untuk menceritakan mengenai hal ini pada orang terdekatnya, dalam hal ini ibunya tentunya.
Namun rencananya untuk menjelaskan semua yang ia lihat dan tahu pun tidak berjalan sebagaimana yang ia harapkan. Bukannya menyakinkan ibunya dengan mengatakan hal yang sebenarnya, malahan kini ibu dan dirinya mendapat pertanyaan yang belum terjawab sampai saat ini.
Apa itu? Apalagi kalau bukan pemuda berpakaian rapi dan tampan yang ditemuinya malam kemarin?
Kini tidak ada yang bisa menjelaskan siapa sebenarnya pemuda yang telah menyelamatkannya itu. Ibunya yang bersosialisasi dengan banyak orang tidak mengenalnya apalagi dirinya.
Namun kini setelah tahu kenyataan ini, Feronica ingin segera bertemu kembali dengan pemuda tampan yang menyelamatkannya itu, setidaknya ia ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan yang diberikan tepat ketika ia membutuhkannya.
Memikirkan di mana keberadaan pemuda itu membuat Feronica tidak bisa memikirkan tempat manapun. Mengingat Desa Wolfden memang desa yang penuh dengan pepohonan dan area hutan alam yang cukup luas.
Tidak banyak tempat umum dan tempat di mana orang beramai-ramai ada, selain memang di pasar dan beberapa tempat di mana ada pemandangan indah di sana.
Namun kini di tengah keinginannya untuk berterima kasih, Feronica juga harus memperbaiki nilai Tes Kemampuan Sihir, di mana dalam waktu seminggu ke depan ia akan mengadakan tes ulang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Maka dari itu ia tidak bisa hanya memikirkan pemuda tampan itu, meskipun dengan memikirkannya entah mengapa hatinya merasa senang dan hangat. Padahal ia baru saja melihatnya sebentar bahkan belum sempat mendengar suaranya sekalipun. Tapi entah mengapa ia merasakan perasaan yang seperti ini.
Apakah memang ini hanya reaksi alami hatinya? Atau mungkin memang ada sesuatu yang lain? Feronica tidak tahu penyebab pastinya.
Yah mungkin saja memang itu adalah hal biasa yang dirasakan ketika melihat seseorang dengan penampilan menarik bukan?
__ADS_1
Feronica tahu impresi awal melihat pemuda itu memanglah baik adanya, namun ia berusaha untuk tidak terpancing untuk melihat hanya yang terlihat dari luar saja. Pada akhirnya ia juga harus melihat apa yang tidak bisa dilihat di luar.
Feronica berusaha tidak lagi memikirkan hal ini dan menarik selimutnya perlahan menutupi seluruh tubuhnya. Udara tidak lagi terasa dingin sekarang....