Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 140: Pulang


__ADS_3

Padahal Stephen yakin keberadaan mereka bisa diketahui dengan cepat!


“….” Felicia terdiam, dia benar juga sih.


Kenapa tak ada satu makhluk pun yang terpancing dan penasaran dengan apa yang terjadi semalam?


Bukankah ledakan dan energi dari pertarungan bisa membuat perhatian makhluk kuat?


Apalagi mereka bertarung di dekat area dimana para ahli sihir tersohor berdiam.


“Mu- mungkin mereka sibuk oleh urusan lain?” Feronica berusaha menjawab, meski hanya tebakan saja sih.


“….” Untuk sementara itu alasan yang cukup masuk akal. Stephen dan Felicia tak membantah.


Tapi tetap saja pertarungan yang terjadi sebelumnya pasti cukup menyita perhatian, namun mungkin tidak cepat-cepat ketahuan.


Kini mereka tak ada urusan lagi di tempat ini.


“Apa rencanamu Felicia?” tanya Stephen.


“Apa urusanmu?” Felicia kelihatan tak mau menjawabnya.


“Penasaran saja?” Sebagai rekan lama, tentu ia akan tenang kalau tahu apa yang akan dilakukannya.


“Nona takkan kembali ke sisi gelap kan?” Feronica memandang khawatir.


Yah setelah semua kepercayaan yang dibangun, rasanya sedih juga kalau nona ini kembali ke jalan setan.


“Kamu bercanda?” Felicia memegang kepalanya tipikal orang pusing.


Ia kan sudah berkhianat dan mengambil jalan lain, tak mungkin balik lagi lah.


“HORE!” Feronica senang dan memeluknya.


“Hei.” Felicia sesak, tapi tak menolak dipeluk juga.


“….” Stephen terdiam, mereka jadi akrab lebih cepat dari perkiraannya.


Yah Feronica dan Felicia banyak mengobrol di malam sebelumnya, dan mereka bisa mengerti satu sama lain.


Feronica merasa punya kakak yang baik dan Felicia menganggap gadis kecil ini, adik yang tak terlalu nakal.


“Lupakan tentangku, kalian harus segera pulang kan?” Felicia menghimpun kekuatan.


“Oh!” Benar juga! Ibu pasti khawatir menunggu di rumah!


Sring.


Seketika itu juga lingkaran sihir biru tercipta.


“Terima kasih Felicia.” Stephen tak menyangka rekan lama yang jadi musuhnya kini membantunya.


“Hmh.” Felicia tersenyum kecil. Akhirnya ia benar-benar bisa menolong dua makhluk ini.


Kondisinya sudah bugar, dan sangat memungkinkan memakai sihir teleportasi.


SRRRIINGG!


Cahaya kebiruan menyala terang seolah menelan siapapun yang berada di atas lingkaran sihir itu.


*


-Area Desa Wolfden-


“Uh.” Cahaya menyilaukan itu perlahan menghilang, dan Feronica membuka matanya.


“….” Ia terdiam, apa yang dilihatnya memang familiar.


“Haaaah….” Stephen menghirup udara segar.


Akhirnya setelah semua yang terjadi ia bisa pulang juga.


Inilah dia, tempat dimana semuanya dimulai.

__ADS_1


“KUBURAN?” Terdengarlah suara tak asing.


“Eh?” Feronica dan Stephen terdiam, dan melihat ke sisi mereka.


“NONA!?”


“FELICIA!?”


Kenapa dia bisa ada di sini!?


“Hm?” Felicia heran, kenapa mereka berlebihan begitu?


“Bukannya kau punya urusan sendiri ya!?” Stephen pikir tadi itu salam perpisahan!


“Dimana aku berada … bukan urusanmu kan?” Felicia tersenyum gelap dengan raut wajah tidak peduli.


“….” Stephen terdiam, yah itu benar sih.


“NONA!” Felicia langsung memeluknya lagi.


Ia senang Nona Felicia tak benar-benar di jalan setan lagi.


“Jangan buat tempat ini jadi neraka.” Stephen langsung menatap tegas, penuh keseriusan, dan sedikitpun tak main-main.


“Hmh.” Felicia tersenyum kecil, lihat saja nanti bagaimana kelanjutannya.


Akhirnya inilah yang terjadi.


Felicia memutuskan ikut dengan Feronica dan Stephen, dan menjalani tujuan barunya di tempat kecil ini.


“HYAH!” Feronica meregangkan badannya.


Yah itu membuat ketegangannya berkurang drastis.


GREP.


Feronica langsung memegang tangan Stephen dan Nona Felicia.


“Ayo kita ke rumah!” Feronica tersenyum hangat.


***


“Aku pulang!” Feronica sangat bersemangat.


Tak lama ada seorang yang membuka pintu.


“FERONICA!? NAK DARIMANA SAJA KAMU!?” Elisabeth, ibunya terlihat begitu khawatir dan langsung memeluknya.


Putrinya mengalami hal buruk, dan tiba-tiba menghilang. Bagaimana mungkin sang ibu baik-baik saja!?


Keduanya menghabiskan momen mengharukan bersama.


Memang baru sebentar, tapi rasanya begitu lama bagi Elisabeth.


Ia tak punya pilihan selain percaya dan menunggu putrinya.


“Masuklah nak. Ah?” Elisabeth terdiam melihat dua orang lain yang bersama putrinya.


“Nak Stephen? Dan …?” Ada satu nona cantik yang kelihatannya tidak nyaman…


“Nona Felicia, Bu, dia kakak baruku….” Feronica tersenyum.


“A- ow!?” Felicia tiba-tiba kesakitan.


“Selamat pagi bu.” Stephen tersenyum kecil.


Elisabeth terdiam, jadi selama pergi putrinya tak sendiri? Itu lebih melegakannya.


“Mari masuk, kita makan bersama.” Elisabeth masuk ke dalam sembari memegang tangan putrinya.


“Hei!” Felicia berteriak dengan nada pelan. Kenapa dia menginjak kakinya tadi!?


“Jangan buat dia sedih, oke?” Stephen terlihat serius dan masuk ke dalam.

__ADS_1


“….” Felicia terdiam, memang dia ingin menjelaskan bahwa mereka tak sedekat itu sih, tapi kalau dipikir-pikir bisa jadi melukai hatinya sih.


“Okey?” Felicia akan mengingatnya dan masuk ke dalam.


***


Momen kebersamaan di pagi hari yang damai.


Akhirnya Feronica bisa menikmati masakan ibu lagi. Bersamaan dengan kehangatan kakak-kakak yang  makan bersamanya.


“Whoa.” Felicia terkesan dengan makanan yang masuk ke perutnya.


“Enak kan!?” Feronica sudah menduganya.


“Hmh.” Stephen dengan lahapnya menyantap apa yang ada di depannya.


Elisabeth terdiam dan tersenyum lembut.


Kehangatan terasa dan mengalahkan setiap perasaan cemas dan khawatirnya. Elisabeth begitu gembira putrinya sudah ceria lagi.


TOK! TOK!


“Hm?” Suara ketukan pintu terdengar tepat setelah sesi makan bersama.


“Ah, biar aku saja bu.” Feronica beranjak dari kursinya dan membuka pintu.


Klek.


“!” Terlihatlah sosok tak asing di depan pintu rumahnya.


“YELENA?”


“F- Feronica?”


“Rekanmu?” Felicia ikut nimbrung.


“Hei, jangan asal nyerobot.” Stephen menariknya menjauh. Privasi dong ya.


“….” Yelena terdiam, ia tak menyangka bakal seramai ini.


“Ada apa?” Feronica tak mau membuang waktu berharga rekannya ini.


“A- ah, ada yang mau kubicarakan. Empat mata.” Yelena berbalik dan langsung berjalan menjauh.


“… oke?” Liu tak tahu apa maksudnya, namun kelihatannya penting.


“Bu! Aku pergi dulu! Tolong jaga kakak-kakak ini ya!” Feronica menutup pintu dan langsung menyusulnya.


‘Kok seolah aku tinggal di sini?’ Felicia memasang ekspresi heran dan tak menyangka.


Felicia pun duduk kembali, ia agak tak enak lama-lama di rumah orang begini.


“Pyuh.” Stephen menselonjorkan kakinya, yah rileks sedikit bagus juga sih.


“HEI, KAU TERLALU SANTAI.” Felicia mendekat dan bicara pelan namun tegas.


Sayang sekali ucapannya tak digubris sama sekali, Stephen keburu memejamkan mata dengan raut wajah yang damai.


“Ah, santai saja Nona Felicia.” Elisabeth membereskan bekas makan mereka di belakang.


“Ah ada yang bisa kubantu bu?”


Felicia pun membantu membereskan bekas makan mereka sebelumnya, dan diiringi dengan cerita kecil dengan ibu tua satu ini.


Felicia mengerti keadaan di sini.


Feronica dulunya tak seceria ini, terutama di kehidupan sekolahnya dan di antara teman-temannya.


Namun kini dia punya seseorang yang dipercayainya, yang akhirnya bisa membuat senyuman di wajahnya.


“….” Felicia pikir Feronica adalah gadis kecil nakal yang suka buat onar dengan kekuatannya, namun ternyata tidak begitu ya.


Malahan kisahnya lebih menyedihkan dari dugaannya.

__ADS_1


__ADS_2