
Amukan Feronica sama sekali tak bisa diatasi oleh siapapun di sini
"Kenapa?"
Blugh.
Housen, sang pengajar dingin pun tumbang tak berdaya, tak lama setelah menghina gadis ini.
"ITU SAJA!?" Kenapa membosankan begini!?
"HII!" Para murid lain tak berani melihat kengerian yang terjadi ini.
Apa yang mereka lihat lebih mengerikan dari sekedar menonton film horor di malam hari.
Ini jauh lebih mengerikan dari itu!
Semua guru terbaik dan terkuat akademi tumbang begitu saja.
Semua murid sudah pingsan tak berdaya.
Tak kuat dengan
AH BOSAN.
BOSAN. BOSAN. BOSAN.
BOSAN!
Feronica tak mendapat kepuasan yang diinginkannya.
Ia ingin kepuasan!
Tak adakah yang bisa memberikannya itu!
Aaah....
Ide brilian menyambar pikirannya.
Bagaimana kalau semuanya rata dengan tanah?
Siapa yang bisa bertahan ... itulah yang bisa memuaskannya!
IDE BAGUS!
SANGAT BAGUS!
"Fero .... nica ...."
Terdengarlah suara tak asing.
Feronica terdiam, raut wajah ganasnya mulai berubah.
Ada pemuda menyedihkan yang berusaha datang padanya.
Dia terkapar namun tetap berusaha mendekatinya.
Kenapa makhluk ini?
"Hen ... ti ... kan...."
"...." Suaranya tak asing.
Ah.
"Kak?" Akhirnya ia ingat.
Dia ini makhluk yang selalu bersama dengannya.
Stephen, ya itulah namanya.
Yah tadi dia berusaha menghentikannya sih, yang pada akhirnya sama saja, tumbang semua.
Lantas kenapa, masih ingin ngobrol?
Tapi sayang sekali ia tak mau menghabiskan waktu dengan makhluk lemah.
"Feronica." Ada satu gadis cantik juga yang tak berdaya memanggilnya.
Yang tak lain tak bukan adalah Felicia.
"Tidurlah yang nyaman kak, tak lama lagi semuanya akan tamat." Felicia tersenyum lembut.
Kesabarannya sudah habis, dari tadi.
Waktunya untuk meratakan tempat ini.
SRIING!
"!?"
Tiba-tiba saja ada sinar terang yang seolah menelannya.
***
Di area pertarungan lapang luar Akademi Wolfden.
Terlihatlah sesosok wanita dengan setelan hitam.
Yang tak lain tak bukan adalah sosok yang bertemu dengan Feronica sebelum gadis itu mengamuk brutal.
'Semuanya lancar... semuanya berjalan lancar!'
'Tahu rasa! Rasakan itu!'
BIARLAH DIA MERASAKAN KESAKITAN YANG SUDAH DIPERBUATNYA PADANYA.
"Reina."
Terdengarlah suara pria tak asing dibelakang.
"!?"
Sosok perempuan serba hitam itu berbalik ke arah asal suara itu.
"KALIAN!?"
Terlihatlah dua sosok tak asing untuknya.
Dua ahli sihir yang sangat ia benci.
"William ... Cylene...." Nada kemarahan terdengar pada sosok yang dipanggil Reina ini.
"Kenapa?" Cylene terdengar tak percaya.
Kenapa bisa-bisanya dia melakukan ini pada putri tercintanya?
"Kenapa katamu?" Reina tertunduk dan tertawa kecil.
"Jangan biarkan masa lalu menguasaimu." William terdengar serius.
"Kau ... kau mana tahu apa yang kurasakan...." Reina sedang tak berminat menjelaskan dasar perbuatannya ini.
Kenapa dia membiarkan Feronica mengamuk di sekolah.
"Aku tak melakukan hal buruk pada anak kalian, dia hanya sedang jadi dirinya sendiri saja." Reina menatap tajam.
Kini terlihatlah raut wajah kegeraman dan kemarahan padanya.
Apa jadi diri sendiri itu tidak boleh?
William dan Cylene terdiam.
Mereka seolah kehabisan kata-kata untuk menanggapinya.
"Aku tahu apa yang terjadi padamu dengan suamiku...." Cylene angkat bicara.
"...." Reina terdiam.
__ADS_1
"Itu hanya masa lalu." William menjelaskan.
William memang pernah menjalin hubungan cukup lama dengan Reina, namun pada akhirnya cintanya tak bertahan dan William meninggalkannya.
Cintalah yang membuatnya jadi seperti ini.
"Para putri-ku tak ada hubungannya dengan masalah ini." Cylene terdengar serius.
"Heh." Reina hanya tertawa kecil.
Rasa sakit yang ditinggalkan di masa lalunya tak bisa hilang dengan mudah.
Ia sangat mencintai William dan rela melakukan apapun untuknya.
Namun semua usahanya sia-sia dan sosok yang dicintainya malah makin menjauh.
Karena itu bukankah ia berhak membagi rasa sakitnya dengan keluarga baru yang sudah diciptakan mantan kekasihnya ini?
Ia berkali-kali menanamkan kutukan pada anak mantan kekasihnya itu yang pada akhirnya selalu berujung kegagalan.
Namun pada di saat terakhir dan di saat putus asanya, satu kutukan itu akhirnya berhasil mengenai bayi bungsu mereka, Feronica.
"Kamu sudah merenggut kebahagiaan kami dengannya." Cylene terlihat emosi.
Kalau saja bukan karena tanda kutukan yang tak mengizinkannya terus berada dekat dengan putrinya.
Pasti ia bisa menghabiskan waktu berharganya sebagai ibu untuknya.
"Sakit? Kita sama-sama merasaka nnya." Reina tak mengelak.
Berbagi rasa sakit bukanlah hal buruk kan?
Akhirnya ketahuan juga dirinyalah dalang dari semua ini.
"Ini masalah kita berdua Reina." Wiiliam terdengar serius.
Ia pikir sudah menyelesaikan semuanya dengan mantan kekasihnya itu, ternyata belum.
Semuanya salahnya.
Kalau saja ia menyelesaikan semuanya baik-baik di masa lalu, tentu hal ini takkan terjadi.
Anak istrinya tak seharusnya menanggung kesalahannya ini.
Namun pada akhirnya semuanya sudah terjadi.
Waktunya untuk menyelesaikannya, sekali untuk selamanya.
"Semuanya sudah selesai Reina."
"SELESAI? AKU BARU SAJA MULAI!"
HUSH!
Reina melesat cepat!
DEG!
"!?"
Namun pergerakannya tiba-tiba saja berhenti.
'Kenapa ini!?' Ia tak mengerti, baru saja ia hendak memberi pelajaran pada mereka berdua!
"Ke- keluarlah...." Tubuhnya berat dan tak bisa melakukan apapu ... tapi ia masih punya kartu as!
ALEX!
SWUSH!
Sosok pria muncul dari belakang dan bersiap menerkam dua targetnya sekaligus!
DEG!
BRUGH!
Namun serangannya berhenti dan dia malah terjatuh!
"!?"
Kenapa bisa-bisanya tak bisa menyerang begini?
"Kekuatan keluarga lebih besar dari yang kamu kira." William menjelaskannya.
'Ah begitu ya.' Reina terdiam.
Dia berdua pakai teknik gabungan kuat bersama-sama.
Pantas saja ia tak bisa melakukan apapun.
Ah, ia jadi iri... kalau saja ia punya keluarga seperti itu....
Reina menyadari kekalahannya dan menutup matanya.
"Apa mereka baik-baik saja?" Cylene terlihat khawatir.
Ia dan suaminya sudah mengerahkan teknik berkekuatan besar yang menahan pergerakan mereka.
Ia takut kalau itu berdampak buruk pada mereka.
"Tenang saja." Mereka bisa memanfaatkan waktunya untuk merenung sebelum sadar kembali.
Kini masih ada satu hal lagi yang harus mereka lakukan.
"Siap sayang?" William memastikan kesiapan istrinya.
"Huh ...." Cylene sudah mengambil nafas dalam dan mengangguk kecil.
Sring.
Seketika itu juga sinar terang muncul seolah menelan keberadaan mereka berdua.
***
"...." Felicia terdiam.
Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba saja ia ada di ruang putih tak berujung.
SWUSH.
Dengan cepat ia menguatkan aura kekuatannya.
Ia tak senang dengan trik murahan begini.
Ia takkan memaafkan makhluk iseng di sekolah yang melakukan ini padanya.
....
Entah kenapa ia masih belum keluar dari ruang putih ini.
Kalau trik murahan harusnya ia sudah bisa keluar sih.
Tapi kok?
"Feronica."
"!?"
Tiba-tiba saja ada suara perempuan di belakangnya.
Dengan cepat Feronica melihat ke arah sumber suara itu.
Dan terlihatlah sang dua sosok yang berdiri tak jauh darinya.
"...." Feronica terdiam.
Rasanya familiar.
__ADS_1
Mereka ini siapa?
"Kalian yang membawaku kemari?" Feronica tak mau basa-basi.
"Putriku...."
Grep.
Sang perempuan berpakaian mewah itu langsung memeluk Feronica.
"?" Feronica terdiam.
Jarang-jarang ada makhluk asing memeluknya begini.
Ini membuatnya kembali ke pertanyaan awalnya, mereka ini siapa?
"Lama tak berjumpa nak." Sang sosok bapak dengan luka di dekat mata tersenyum lembut.
"???" Felicia makin tak mengerti.
Ia ingin marah karena rencananya sudah diganggu.
Tapi entah kenapa pelukan perempuan ini hangat dan membuatnya tak emosi lagi.
"Maaf sudah meninggalkanmu Feronica...."
"!?"
Feronica tak bisa menahan raut wajah terkejutnya.
"Ka- kalian...?"
"Kini kita tak terpisahkan lagi." Sang pria memeluk eratnya juga.
"...."
Feronica terdiam.
Entah kenapa air menetes dari matanya.
Padahal ia ini sedang marah dan tak terima.
Tapi kenapa air mata membasahi wajahnya begini.
Perlahan namun pasti tanda api menyala-nyala pada sekujur tubuhnya menghilang.
"Hauaa!" Gadis ini tak bisa menahan emosinya dan menangis sejadi-jadinya.
....
Beberapa saat kemudian....
Ketika putrinya sudah tenang, William akhirnya menjelaskan semuanya.
"A- A- AKU ANAK KALIAN!?" Felicia tak bisa menahan kekagetannya.
Yah wajar saja tadi ia setengah sadar dan masih dalam pengaruh kekuatannya, kini ia sudah sepenuhnya sadar.
"Hm~ hm~" Cylene mengelus rambut putrinya.
'Ya ampun, apa ini mimpi?' Tolong jangan dibangunkan ya.
"Ini nyata." William tersenyum.
"!?" BISA TAHU PIKIRANNYA!?
Felicia terdiam.
Ia sudah mendengar semuanya dengan jelas.
Ia tak hanya seorang anak yang tidak bisa apa-apa yang bermimpi jadi ahli sihir di desa kecil.
Tapi ia adalah putri dari dua ahli sihir terhebat yang jadi idolanya.
Siapa sangka?
"Jadi Rossa dan Fredirica...?"
"Mereka saudaramu." Cylene tersenyum lembut.
"Mereka pati banyak membuat masalah, tolong maafkan mereka.
William terlihat tidak enak.
Y- yah, bagian itunya benar sih.
Mentalnya diuji habis-habisan kalau ketemu mereka.
Tapi siapa sangka? Mereka saudarinya!
Kenapa baru sekarang?
Kenapa tak dari dulu saja?
Semuanya sudah dijelaskan.
"Begitu ya." Felicia mengerti.
"Eh?" William terdiam.
Ia tak menyangka putrinya dengan mudah menerima semua ini.
Ia pikir putrinya akan menyalahkan mereka berdua dan tak mau terima apa yang terjadi.
"Ah? Ayah dan ibu melakukannya demi melindungiku. Kenapa harus marah?"
Felicia tahu betul tanda merah yang kerap muncul itu terkadang mengganggu dan bahkan membuat situasinya jadi sulit.
Namun tak bisa dipungkiri tanda itulah juga yang bisa membuatnya melewati situasi sulit yang ada.
Tanda yang sama yang ada pada ayahnya.
Karena kutukan mantan kekasih ayahnya, ia membangkitkannya sebelum waktunya.
Itu bisa membahayakannya, ditambah keberadaan ayah dan ibunya didekatnya bisa membuat situasinya makin parah.
Namun ayah dan ibunya berhasil mencari momen dimana akhirnya ia bisa menciduk perbuatan jahat kekasih ayahnya.
Sekaligus menghentikannya.
"Kami sudah membuatmu dalam situasi sulit nak...." Cylene masih tak bisa menerima apa yang ia lakukan pada putrinya sendiri.
Ia sudah gagal sebagai seorang ibu.
"Tak apa bu." Felicia tersenyum lembut dan memegang tangan ibunya.
"Dari dulu aku selalu bermimpi bisa bersanding dengan ibu."
"Aku merasa aman saat melihat ibu di buku pahlawan." Felicia teringat masa kecilnya lagi.
Sekarang semuanya sudah terungkap.
"WAH AKU BANYAK MENGACAU DI DUNIA NYATA YA!?" Felicia langsung sadar.
Yah rasa-rasanya ia sudah jadi jahat sih!
"Ahaha, kita akan memperbaikinya sama-sama anakku." William menepuk pundak putrinya.
"Mari kita temui semuanya." Cylene sudah siap.
"A- ah, kita bisa mencoba masakan i ... bu..." Felicia agak kagok menyebutkan nama sosok yang merawatnya dari bayi ini.
"Dia tetaplah ibumu." Cylene tak masalah putrinya memanggilnya dengan sebutan ibu, karena memang beliaulah yang sudah merawat putrinya selama ini.
"Ki- kita bisa makan masakan rumahan ibu, ayah ibu pasti menyukainya!" Felicia terdengar semangat.
Ditambah dengan kehadiran kak Stepen, Felicia, Yelena, saudara-saudarinya, ibu Freiss, dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Semuanya pasti menyenangkan!
"Ahaha, baiklah kita berangkat." William dan Cylene memegang tangan putrinya dengan erat.