Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 64: Keluar


__ADS_3

Feronica tertunduk seketika itu juga, sementara banyak hal yang berkecamuk dalam pikirannya.


Melihat kedua temannya ini adalah hal yang melegakan sekaligus menakutkan, tapi apa yang terjadi sebelumnya adalah hal yang tidak bisa dicegahnya jadi pada akhirnya memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi adalah hal yang tidak terlalu berguna.


Memikirkan kemungkinan terburuk adalah salah satu cara Feronica agar bisa lebih tenang dan dengan begitu jika memang terjadi maka ia tidak akan terlalu terkejut. Namun pada akhirnya cara seperti ini tidak akan membuat dirinya lebih tenang juga.


Memakai cara seperti ini terkesan seperti sudah putus asa dengan kejadian yang belum terjadi sama sekali. Sekilas terdengar aneh namun pada kenyataannya ini cukup sederhana.


TENG!


Bunyi bel sekolah membuyarkan lamunan Feronica, sementara itu ia mulai membuka tas dan buku yang penuh robekan, menunggu jam sekolah selesai.


*


"Apa?" Feronica mendapat surat dari Yelena, tepat ketika jam sekolah sudah berakhir dan semua murid telah pulang, termasuk Rossa dan Fredirica.


Yelena tidak mengucapkan sepatah kata apapun, memang begitulah dia adanya.


Oh, mungkin ada dari kita yang belum tahu, Yelena adalah ketua murid di kelasnya tentulah segala urusan soal sekolah disampaikan melaluinya. Terlepas dari kepribadiannya yang pendiam ini.


Dari logo sekolah dan amplop yang begitu rapi ini Feronica tahu betul akan surat apa yang tengah ada di tangannya ini, surat resmi dari sekolah tentunya.


"...." Tanpa menjawab keheranan yang dirasakan Feronica, Yelena hanya memandangnya dengan penuh arti dan kemudian meninggalkannya sendiri di kelas ini.


"Apa maksudnya?" Feronica bergumam pelan tanpa bisa mendapat jawaban.


Entah mengapa Feronica bisa melihat ekspresi Yelena yang cukup terlihat. Biasanya memang dia ini tidak begitu memperlihatkan emosinya, namun kali ini Feronica bisa tahu ada sesuatu yang berbeda.


Feronica selama belajar di Akademi sihir ini tidak pernah mendapat surat seperti ini, mengingat ia memang hanyalah murid biasa, seperti yang kita tahu tentunya.


Jadi dengan ia mendapatkan surat resmi seperti ini maka memang ada sesuatu yang terjadi entah mengapa Feronica merasa dugaannya semakin menguat perlahan ketika ia membuka surat ini.

__ADS_1


Sret.


Feronica membuka amplop dan dengan segera membaca apa yang ada di dalam isinya. Bola matanya bergerak perlahan benar-benar memerhatikan setiap kata yang tengah dilihatnya.


"!"


Sampai di satu titik ia hanya terdiam sejenak. "Ternyata benar-benar terjadi...." Feronica hanya menatap isi surat itu dengan sedikit tersenyum, padahal memang isinya benar-benar mengejutkan bilamana ia pertama kali melihatnya tanpa persiapan sebelumnya.


Di antara kita pasti sudah tahu akan isi surat ini bukan? Bahkan dari ekspresi Feronica yang kita lihat sekarang ini menegaskan bahwa memang apa yang ada dalam surat ini bukanlah kabar yang menggembirakan.


Feronica merasakan hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya sekarang, ia tertunduk dan terduduk di lantai, rasanya ia tidak mau melakukan apa-apa lagi.


'Apa yang salah denganku? Mengapa bisa jadi begini?'


Perasaan sesak langsung mendatangi dirinya, ia tidak mengerti mengapa bisa jadi seperti ini, hanya bisa menyalahkan diri sendiri tanpa tahu alasan mengapa terjadi hal-hal yang tidak dipikirkannya.


Padahal selama dua tahun sebelumnya ia menjalani kehidupan di sekolah dengan damai, meskipun tidak selalu begitu adanya, namun jika dibandingkan dengan sekarang memang berbeda sekali adanya.


Namun dengan apa yang terjadi sekarang... "Aku harus bilang apa pada ibu?"


Feronica masih tertunduk, ia memegang memegang baju seragamnya dengan keras, dan air mata pun tidak tertahankan untuk berjatuhan ke bawah.


*


"Aku pulang...." Feronica sampai di rumah setelah beberapa saat berdiam diri sejenak di kelasnya, ibunya seperti biasa membukakan pintu dan kemudian menatap putrinya dengan heran.


Tidak biasanya mata Feronica terlihat sembab begitu, dan pula ia terlihat lemas padahal di hari sebelumnya ia terlihat biasa saja.


Memang sebelumnya Elisabeth pernah melihat hal ini, terutama saat di mana perlakuan rekan-rekan putrinya itu berubah yang akhirnya membuat penampilan Feronica berubah juga, emosi yang dikeluarkannya benar-benar sama seperti pada saat itu.


"Ada ap-" Belum sempat Elisabeth bertanya Feronica sudah lebih dahulu memeluknya sembari terisak.

__ADS_1


"Bu... aku dikeluarkan...."


"Apa?" Elisabeth tidak percaya dengan apa yang didengarnya ini, sementara ia membiarkan Feronica tenang dahulu di pelukannya dan kemudian membawanya masuk ke dalam.


Setelah menenangkan diri Feronica duduk di perapian kecil di rumahnya itu, sedang ibunya mengambil teh hangat untuknya.


"Terima kasih bu...." Feronica menerima segelas teh hangat dan kemudian kembali menatap perapian kecil.


Feronica hanya menatap perapian dengan api kecil dengan lesu, tidak tahu akan apa yang ia bisa lakukan, semangatnya sudah hilang sebelumnya dan tidak lagi tersisa.


Surat yang dikeluarkan secara resmi oleh sekolah menegaskan bahwa memang dalam waktu-waktu ke depannya ia akan dikeluarkan dari sekolah dengan alasan yang memang sudah terpikirkan sebelumnya.


Tidak banyak hal yang bisa dilakukannya selain menunggu pemberitahuan resmi selanjutnya bahwa memang ia telah dikeluarkan dari sekolah.


Jadi bisa dibilang surat yang telah diterima dari Yelena sebelumnya hanyalah pemberitahuan awal mengenai kabar ini. Untuk besok Feronica masih diizinkan untuk masuk seperti biasanya sampai pemberitahuan akhir mendatanginya.


Tentu saja masih bisa masuk sekolah adalah hal yang menyenangkan baginya, namun mendengar kabar seperti ini membuat ia merasa tidak ada gunanya lagi juga ia pergi ke sekolah jika memang pada akhirnya ia tidak bisa menyelesaikan studinya.


Elisabeth hanya terdiam melihat putrinya yang hanya menatap perapian kecil di sana, tidak ada lagi semangat yang biasa di lihatnya setiap pulang sekolah. Yang ada hanyalah suara api perapian yang berbunyi halus.


Elisabeth sebagai ibunya pun hanya bisa menghargai keheningan yang terjadi ini, tanpa berusaha untuk mengatakan sepatah kata apapun pun sekarang.


'Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa putriku bisa dikeluarkan dari sekolah? Apa Jack tahu sesuatu?' batin Elisabeth, ia sebenarnya masih belum percaya akan apa yang dikatakan putrinya. Namun memang Feronica sudah menyerahkan surat resmi dari sekolah yang isinya sejalan dengan perkataan putrinya.


'Aku harus mencari tahu alasan dibalik ini!' Elisabeth tahu ia telah membaca surat yang diberikan oleh Feronica dengan seksama, namun tidak ada alasan yang begitu jelas alasan mengapa Feronica dikeluarkan dari sekolah.


Yang ia tahu dalam surat itu hanyalah keterangan bahwa memang putrinya telah melanggar aturan sekolah dengan serius dan mengakibatkan terjadinya hal seperti ini. Tidak dijelaskan lebih lanjut akan hal ini akan apa yang dilakukan Feronica, dan tentu saja ini menimbulkan pertanyaan baginya.


Elisabeth hanya bisa duduk dekat putrinya, menemaninya untuk sementara waktu tanpa mengucapkan apa-apa dan kemudian mengantarnya ke kamar untuk beristirahat setelah Feronica menghabiskan tehnya yang kali ini sudah tidak hangat lagi.


Elisabeth kembali teringat pula akan impian yang kerap kali diutarakan oleh Feronica ini, akan bagaimana dia ingin menjadi seorang ahli sihir terhebat, dan semuanya itu harus terhenti hanya karena sepucuk surat dari sekolah yang bahkan tidak menjelaskan semuanya.

__ADS_1


"Aku harus mencari tahu besok...." Elisabeth kembali ke meja kerjanya, melanjutkan kembali kerjaannya yang masih menumpuk, namun kali ini terasa lebih berat karena terbeban dengan apa yang ada dipikirannya.


__ADS_2