Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 63: Sedikit Berubah


__ADS_3

Feronica heran kenapa Yelena mengajukan diri untuk menggantikannya? Padahal ia tahu benar Yelena bukanlah tipe orang yang mau melakukan hal ini.


Apa alasannya? Feronica yang tahu betul kepribadian Yelena masih memikirkan hal ini.


Dengan suara dengan nada kecil namun masih terdengar jelas, Yelena membuat Feronica tercengang dan tidak percaya akan apa yang ia lakukan.


"Apa? ... baiklah, tolong bacakan Yelena." Ibu Guru bahkan terdiam sebentar karena cukup kaget melihat Yelena yang mengajukan diri itu.


Dan untuk selanjutnya Yelena membacakan apa yang menjadi isi buku tersebut, sedang Feronica hanya bisa terdiam dan bertanya-tanya.


'Mungkin memang dia bosan diam terus-terusan di kelas, toh Yelena yang tak banyak bicara itu memiliki prestasi yang besar apalagi jika ia aktif di sekolah?' Feronica mulai mengomentari dalam hati akan alasan mengapa Yelena bertingkah berbeda sekarang.


Atau mungkin memang ia ingin mencari angin segar dengan melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.


Apapun alasan yang bisa terjadi Feronica pada akhirnya terselamatkan berkat Yelena yang mnggantikannya itu. Padahal Feronica yakin memang mungkin pada akhirnya ia kena marah juga, namun ternyata sekarang tidak begitu adanya.


Tak lama berlalu hari sudah beranjak siang, Feronica segera mengambil bekal dalam tas sekolahnya, buatan ibunya yang benar-benar ia tunggu. Sementara kebanyakan murid di kelasnya banyak memilih untuk pergi ke kantin dan makan di luar.


Mungkin memang akan terasa lebih menyenangkan daripada harus makan sendiri di kelas yang sepi, pikiran seperti ini terkadang terbesit dalam benak Feronica.


"Hei monster tidak ada teman ya? Hihi...." Dua orang teman perempuan sekelasnya menatap kasihan padanya seraya meninggalkan ruangan kelas.


Dan banyak di antara teman-teman sekelasnya yang memberikan pandangan seperti itu, tapi Feronica hanya bisa terdiam dan tidak melakukan apa-apa.


Feronica akhirnya mulai membuka bekalnya itu, dan entah mengapa ia rasa ada sesuatu yang aneh.


Plak!


"Ups...." Salah seorang siswa dibelakangnya dengan sengaja menyenggol makanannya yang mengakibatkan semua lauk yang ia tunggu dari pagi tumpah dengan bebas di lantai kelas.


"...." Siswa sekelasnya itu tidak peduli dengan apa yang sudah dilakukannya itu dan tidak berhenti di sana ia malah menginjak juga makanan Feronica dan meninggalkan kelas tanpa rasa bersalah.


"Haah...." Feronica berjongkok seraya membersihkan bekal makanannya yang sudah tumpah semua itu, sedang perutnya agak berbunyi karena memang ia lapar.


Namun makanan yang telah tumpah itu sudah kotor karena diinjak sepatu siswa sekelasnya tadi. Mau tetap dimakan pun Feronica yakin rasanya sudah tidak seperti semula tadi.


'Duh lapar....' Setelah Feronica selesai membersihkan makanannya yang tumpah itu, ia segera duduk kembali ke kursinya dan hanya melihat ke luar jendela. 'Waktu istirahat masih lama... ke kantin saja atau jangan ya?'


Feronica tergoda untuk pergi ke kantin namun setelah beberapa saat ia tidak kunjung beranjak dari kursinya juga. '....'


Feronica melihat bajunya sendiri, begitu kotor dan penuh coretan yang tidak bisa dihapus meskipun sudah dicuci sekalipun. Jika ia pergi ke luar maka seluruh pandangan yang tadi dilihatnya itu akan ia lihat kembali, hanya saja kini lebih banyak mata lagi yang akan melihatnya.


Yah meskipun tanpa perbedaan yang terlihat dari luar seperti ini pun Feronica memang sudah merasa dirinya berbeda dari mereka. Pikiran ini yang kerap kali mendatanginya ketika melihat pandangan orang padanya.


Meskipun sudah melihat bagaimana pandangan orang lain padanya, namun ketika Feronica mengalaminya ia memang merasa tidak terbiasa sama sekali.


Jadi daripada ia harus uji nyali- ah bukan... uji mental keluar kelas dan pergi ke kantin dengan risiko yang telah dipikirkannya itu maka lebih baik ia di kelas saja sampai istirahat berakhir.


Feronica hanya memainkan rambutnya sembari melihat jendela, berusaha menghabiskan waktu dengan perut yang keroncongan. Yah melihat pemandangan dari lantai atas ini tidak buruk juga.


Rambutnya sudah lebih rapi daripada sebelumnya, terima kasih kepada ibunya yang membuat rambutnya lebih terlihat alami tanpa memotong banyak bagian, ini membuat Feronica merasa lebih percaya diri ketimbang sebelumnya.


Ia memang sebelumnya menolak tawaran ibunya namun setelah beberapa hari berpikir akhirnya ia setuju juga, karena memang ia sempat khawatir akan kehilangan rambut panjangnya itu.


Pada akhirnya Feronica bisa melewati sesi istirahat dan bahkan sampai bel pulang sekolah sore hari berbunyi, ia tidak segera pulang melainkan menunggu dulu di kelas, sebagaimana yang seringkali ia lakukan akhir-akhir ini.


Apalagi ketika penampilannya mencolok seperti ini, akan terasa lebih baik baginya untuk menjauhi keramaian demi menghindari hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


Kruuuk...


Feronica bisa mendengar suara yang berasal dari perutnya, ia memegang perutnya dan duduk saja di bangkunya. Beberapa saat kemudian ia bersegera membereskan peralatan sekolah di mejanya itu.


"Ini...."


Tiba-tiba terdengar suara yang dikenal Feronica, suara pria nyaring dan jelas ini....


"Tuan Jack?" Feronica melihat Tuan Jack menyodorkan sebungkus roti yang cukup besar di mejanya, sontak ia terhening sejenak.


"Makanlah, itu memang tidak cukup mengenyangkan tapi setidaknya bisa mengisi perut," ujar Tuan Jack sambil tersenyum lembut.


Feronica sadar, perasaannya mengatakan penampilan Tuan Jack ini agak berbeda dari sebelumnya.


"Ah...." Feronica akhirnya sadar akan mengapa ia merasa penampilan Tuan Jack ini berbeda adanya.


"Kenapa?" Jack malah heran mengapa gadis ini melihatnya seperti itu.


"Tuan Jack maaf soal topimu...." Feronica pada akhirnya megatakan hal yang sebenarnya, ia tidak bisa menjaga pemberian dari seorang yang baik padanya itu.


"Oh Begitu.... hahaha, jangan terlalu dipikirkan, buang saja kalau tidak suka," jelas Jack tanpa memusingkan akan hal ini setelah mendengar pengakuan Feronica.


"Ah bukan begitu maksudnya Tuan...." Feronica malah tidak enak karena Tuan Jack mengatakan hal seperti ini.


"Tidak apa... toh itu cuma topi biasa, bisa beli di desa juga 'kan?" Jack menjelaskan ini pada Feronica yang terlihat murung.


"Lagipula sekarang kamu sepertinya sudah tidak butuh lagi topi...." Jack melihat bagaimana penampilan rambut Feronica jauh lebih rapi daripada hari kemarin ia lihat, ini menunjukkan bahwa memang Feronica jauh lebih cocok tanpa topi.


Feronica sedikit tersenyum lega, ia memang menganggap pemberian Tuan Jack adalah sesuatu yang penting, mengingat di Akademi tidak ada yang seperti Tuan Jack (dalam hal kebaikan tentunya).


"Jangan lupa pulang sebelum hari gelap ya!" Tuan Jack meninggalkan ruangan kelas setelah menyampaikan pesan terakhir (bukan dalam arti meninggal).


"Terima kasih Tuan...." Feronica mengambil roti besar yang ditinggalkan Tuan Jack di mejanya dan menikmatinya sembari melihat langit sore yang agak kekuningan.


***


"Sial kenapa dia bisa mengalahkan kita kak?!" Fredirica terbaring dan kesal di kasurnya, tidak terima dengan apa yang telah dilakukan Feronica padanya.


Sudah sepanjang hari mereka terbaring di kasur dan hanya menerima perawatan dari pelayan pribadi keluarga Reiss. Fredirica di perban dengan cukup tebal pada kedua tangannya dan Rossa pada kedua kakinya.


Kondisi mereka jika dilihat memang tidak terlalu parah adanya, namun cukup untuk membuat mereka harus berdiam di satu tempat saja.


'Dia bisa mengalahkan kami dengan mudah....' batin Rossa, ia tidak menyangka bisa terjadi hal seperti ini. Padahal setidaknya dengan kekuatan yang telah mereka miliki ini maka akan tidak sulit untuk mengatasi Feronica, namun ternyata tidak demikian.


Rossa akhirnya sadar seberapa kuatnya Feronica ketika tanda merah itu muncul padanya, yang asal usulnya masih tersembunyi itu. Perbedaan kekuatannya ketika dalam kondisi biasa dan ketika tanda itu muncul padanya terpaut jauh sekali.


Kini Rossa dan Fredirica hanya bisa merenung sepanjang hari, masih tidak percaya dengan kejadian yang mereka alami kemarin. Yang pada rencana awalnya mereka hanya ingin mengobrol sebentar dengannya harus berakhir dengan cara yang tidak terbayangkan.


Setelah beberapa hari terakhir tidak bertemu dengan Fredirica karena dia jadi populer membuat Fredirica dan kakaknya ini sulit untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh gadis ini.


Mereka jadi kurang leluasa mengamati dengan tujuan memperoleh jawaban akan pertanyaan yang ada pada diri mereka itu


Pertemuan kembali setelah beberapa hari tidak bertemu berakhir dengan cara yang cukup memalukan.


Setelah beberapa saat suasana hening terasa di kamar besar yang ditempati oleh kedua bersaudara ini, Fredirica akhirnya terpikir akan suatu hal.


"Tapi kak, apa yang sebenarnya terjadi kemarin?" Fredirica tidak begitu tahu akan mengapa Feronica bisa tiba-tiba menghilang sebelumnya. Di saat-saat yang tepat pula.

__ADS_1


Fredirica sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi apabila Feronica tidak menghilang dengan serangan sihir berkekuatan super itu, selain memang hal terburuk yang bisa dipikirkannya.


"Aku merasakan hawa kekuatan sihir tepat ketika dia menghilang...." Rossa menyampaikan apa yang ia rasakan kemarin.


"Benarkah kak? Bukankah itu hawa kekuatan dari Feronica saja?" Fredirica hanya merasakan hawa kekuatan Feronica yang begitu kuat dan tidak menyadari hal lain.


"...." Rossa bisa memakluminya karena memang ia sendiri hampir tidak bisa membedakan akan hawa sihir yang muncul kemarin, mengingat aura kekuatan sihir Feronica yang begitu mendominasi.


"Jangan-jangan!" Fredirica hampir bangun dari tidurnya karena menyadari sesuatu. "Aduh- duh!" Dan seketika itu juga ia merasa nyeri pada tangannya dan bahkan menular ke seluruh badannya, seketika itu juga ia sadar untuk tidak bergerak banyak di sini.


"Pemuda yang bersamanya kak!" Fredirica menatap saudaranya dengan cukup serius.


"Tidak menutup kemungkinan...." Rossa sendiri memang sudah memikirkan ini dari awal namun ia sendiri masih belum tahu pasti hawa siapa yang muncul tiba-tiba ini.


Namun tidak ada hal lain yang bisa menjelaskan akan sekelebat hawa kehadiran yang muncul tiba-tiba itu, entah itu orang asing pun Rossa sendiri tahu Feronica bukanlah seorang yang memiliki banyak teman ataupun kenalan.


Kehadiran ibunya? Tidak mungkin juga, Rossa tahu Elisabeth hanyalah seorang penjahit yang tidak memiliki kemampuan sihir apapun, jadi selain kandidat yang telah diucapkan oleh saudaranya itu memang tidak ada lagi yang lain.


Memang Rossa sendiri tidak begitu yakin pasti akan perasaannya ini, namun sekali lagi ia tidak memiliki teori lain yang lebih masuk akal daripada yang dipikirkannya ini.


Fredirica terdiam melihat ke arah lampu besar ruangan kamar ini, kepercayaan diri yang terbangun begitu kokoh seolah kini mulai terguncang. Ia bisa melihat kilas balik akan apa yang terjadi sehari sebelumnya.


Kenyataan bahwa dia tidak berkutik ketika berhadapan dengan Feronica yang notabene hanyalah seorang yang berasal dari kalangan bawah dan biasa-biasa saja itu. Mengapa bisa begitu?


Fredirica tidak mengerti, padahal sebelumnya ia bisa mengalahkannya dengan sangat mudah, namun mengapa kali ini terjadi yang sebaliknya?


Dibalik pertanyaan yang ada di benaknya itu, Fredirica memang tidak bisa untuk menuduh sembarangan, ia tahu kakaknya ini lebih baik dalam menganalisa ketimbang dirinya, jadi ia hanya perlu untuk tetap tenang dan tidak terbawa perasaan.


Kini yang bisa mereka berdua lakukan hanyalah beristirahat sampai benar-benar bisa pulih kembali seperti semula, kini tak lama kemudian hanyalah keheningan yang bisa ditemukan di tempat ini.


Dan terlihat di meja di pojok kamar terdapat sebuah surat yang masih tertutup rapi dengan cahaya pada setiap hurufnya, begitu indah dan menarik bagi siapapun yang melihatnya, namun entah mengapa kedua saudara ini tidak kunjung membuka surat ataupula menyuruh pelayannya untuk membuka dan membacakannya.


*


'Apa lagi nanti?' Rasanya waktu begitu cepat berlalu, memang rutinitas sekolahnya tidak berubah sama sekali, tetap sama seperti biasanya, ini hari ketiga Feronica tidak melihat rekan sekelasnya yang tak lain tak bukan adalah Rossa dan Fredirica.


'Mengapa aku mengkhawatirkan mereka? Mereka itu dari kalangan atas... bisa melakukan apapun, sedangkan aku bisa apa?' Feronica sadar kekhawatirannya itu tidak akan mengubah apapun yang akan terjadi nanti, di pagi hari di saat kelas belum masuk pun ia tidak henti-hentinya menatap pintu keluar kelas memerhatikan siapa saja yangv keluar masuk kelasnya.


Entah mengapa perasaan Feronica seolah diombang ambing, ia merasa ketidakpastian situasi ini membuatnya tidak tenang, tapi menguatkan hatinya adalah satu-satunya pilihan yang menguntungkannya kali ini.


Memang perlakuan rekan-rekan sekolahnya ini jadi lebih kurang baik pasca ia menyakiti Yelena karena itulah Feronica pikir dengan hal serupa yang terjadi maka apa yang akan terjadi setelahnya cukup sulit dibayangkan.


'Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi yang pasti aku harus siap dengan apapun yang terjadi!' Feronica menguatkan batinnya, jika memang bukan dirinya sendiri yang kuat maka siapa lagi? bahkan perkataan orang sekalipun tidak bisa mengubah perasaannya jika memang tanpa seizinnya.


Klek...


TENG!


"!" Feronica melihat kedua rekannya yang tengah dipikirkannya itu masuk ke ruangan kelas dan duduk di kursi mereka masing-masing tanpa melihat ke arahnya.


'Rossa ... Fredrica ...." Feronica memerhatikan bagaimana kondisi kedua temannya itu, jika dilihat dari luar memang mereka nampak biasa saja, namun Feronica tahu tidak hanya sekedar hal ini yang bisa disadarinya sekarang.


'Hawa kehadiran mereka ... melemah?' Feronica sadar akan hal ini, ia bahkan tidak begitu menyadari akan kedatangan mereka berdua ke kelas, padahal ketika biasanya bahkan ketika mereka berdua belum sampai ke kelas, ia sudah bisa merasakan hawa kehadiran mereka berdua.


'Apa mungkin pengaruh akan kejadian beberapa hari sebelumnya?' Feronica hanya bisa menduga itu saat ini, dan ketika ia masih memerhatikan keduanya, Rossa perlahan menatapnya dengan tatapn yang tegas seolah ia berbicara keras padanya.


"...." Feronica hanya terdiam seiring dengan dugaan yang ia pikirkan, mungkin memang bisa terjadi dengan mudah.

__ADS_1


'Apa aku akan dikeluarkan dari sekolah?'


__ADS_2