
Yah tak banyak yang terjadi tadi, ia hanya menahan serangan lawannya saja.
Lebih tepatnya, menyerapnya.
Benar, untuk pertama kalinya Feronica menggunakan kemampuannya yang ini.
Yah bisa saja sih pakai sihir tanah, namun rasanya akan lebih merepotkan.
Shh….
Perlahan namun pasti mereka kembali ke tempatnya sebelumnya, yakni rumah kosong keci.
Perempuan cantik itu masih tersungkur diam tak melakukan apapun, sudah selesai.
Brugh.
Feronica terjatuh juga, perlahan tanda merah disekujur tubuhnya menghilang.
“Uuuh.” Gadis itu memegang kepalanya, rasanya berat.
“HAH!?” Kenapa nona cantik ini terbaring begitu?
Feronica berusaha bangkit menggunakan sisa tenaga yang ada padanya.
“No- nona?”
“JANGAN DEKAT-DEKAT!” Felicia terperanjat dan mundur ke sisi dindin.
‘Ke- kenapa?” Feronica heran. Nona ini seperti melihat hantu saja.
‘A- apa aku sejelek itu?’ Feronica meraba wajahnya, yah ini sudah bawaan lahir, ya mau gimana lagi.
“Felicia.”
“!” Terdengarlah suara seorang pria!
“KAK!?”
“Stephen….?” Felicia terdiam, pemuda itu sudah sadar dari pengaruh tekniknya.
“Sudah cukup.” Stephen memandang penuh arti.
“….” Felicia terdiam, entah kenapa ia merasa kalah.
Yang pada kenyataannya benarlah begitu.
Ia kalah oleh … gadis kecil.
Padahal dirinya di masa lalu sering bertarung dengan pemuda ini dan bisa mengimbanginya.
Lantas kenapa sekarang ia malah kalah menyedihkan begini?
“Eh?” Jadi mereka berdua saling kenal? Feronica baru sadar.
“Nona ini pacarmu kak?”
“EH!?” Felicia terkaget.
“Hmm….” Stephen tak mengatakan sepatah katapun.
“Gadis ini tidak ada urusannya dengan masalah ini,’ ujar Stephen tegas.
Felicia terdiam dan perlahan bangkit, membersihkan pakaiannya yang agak kotor.
“Kenapa kau berhubungan dengan monster sepertinya?”
“MO- MONSTER!?” Lain di sekolah pun hinaan tetap datang juga!
Tapi yah Feronica tidak bisa mengendalikan pendapat orang, jadi mau gimana lagi.
“Jangan bawa-bawa dia.” Stephen makin terdengar tegas, sekaligus terlihat tegas pula.
“Heh.” Felicia terdiam, ia tak berminat lagi terus ada di sini.
“Tuan Alex pasti membalas kalian berdua!”
WUSH!
Perempuan cantik itu menghilang dalam sekejap mata.
__ADS_1
Blugh.
“Feronica!?”
“Ah, kakiku lemas kak.” Rasanya seluruh tenaganya tersedot habis.
Stephen terdiam, ia paham dengan apa yang terjadi.
Adalah wajar kalau gadis ini kelelahan.
Mengingat apa yang sudah dilaluinya, bertarung dengan rekan masa lalunya.
Stephen tak menyangka gadis kecil ini bisa mengalahkan Felicia.
Pemuda ini tahu bagaimana kekuatan rekannya, dan mengalahkannya butuh lebih dari sekedar kekuatan besar.
Dan gadis kecil ini berhasil melakukannya.
“Kak?” Kok Kak Stephen melamun?
“Ah.” Dengan cepat Stephen membantu Feronica keluar dari rumah kecil rusak ini.
***
Di sisi luar kota Frost, area hijau terbuka. Menjelang pagi.
“Maaf aku tidak bisa membawamu ke klinik.” Stephen tidak bisa merisikokan identitasnya lebih lama lagi di dalam kota.
“Ah tidak apa kak.”
Kini mereka berdua sedang duduk dibawah pohon besar.
Akhirnya setelah semua yang terjadi, ia bisa bertemu lagi dengan kak Stephen.
“Haaaah….” Rasanya lega.
Ia tidak sendirian lagi sekarang.
Feronica menutup matanya, kini ia bisa beristirahat dengan tenang (bukan mati).
“Pasti kamu kaget.” Stephen memandang langit gelap indah ini.
“Kalau aku….” Stephen tidak melanjutkan perkataannya.
“!?” Stephen terdiam dalam kaget.
Feronica tersenyum kecil. “Tenang saja kak.”
Ia sudah tahu dari dulu kok, jadi tak perlu merasa bersalah sudah merahasiakannya.
“SUDAH TAHU?” Stephen tidak bisa menahan kakagetannya.
“Hehe.” Feronica menggaruk pipinya, entah kenapa merasa bangga.
Stephen terdiam, apa ia kurang ahli menyembunyikan rahasia ya?
Pasti terlihat bodoh menyebunyikan rahasia yang sudah terbongkar, haduh.
Tapi yah mau bagaimana lagi juga sih.
Feronica sudah mencium bau-bau keanehan dari pemuda satu ini, dan kenyataannya memang benar, dia bukanlah manusia.
“Tenang saja kak, aku malahan monster.” Feronica tertawa kecil.
“….” APA ITU SEMACAM HUMOR GELAP? Stephen tidak tahu gadis ini menyukai candaan seperti ini.
“Jangan begitu.” Stephen kurang suka dengan orang yang menghina dirinya sendiri.
“Beneran kok.” Feronica memandangnya penuh arti.
Tiap kali tanda merahnya muncul, entah kenapa ia seolah jadi orang lain.
“O-oh.” Kalau begian itu-nya benar sih, tapi tetap saja Stephen tidak suka dengan panggilan kasar begitu.
“Itu kekuatan spesialmu, bukan monster.” Stephen berusaha meluruskan pandangannya.
“AH!?” Kok rasanya berbunga-bunga sih?
Kalau dibilang begitu kan … jadi malu ….
__ADS_1
Feronica tertunduk, ternyata ada sisi positif dibalik tanda aneh yang seringkali muncul di tubuhnya ini.
Yah Feronica sendiri tidak ingat jelas soal pertarungannya sebelumnya.
“Terima kasih Feronica.” Bukannya menyelamatkan, ia sendiri yang diselamatkan.
Feronica tersenyum kecil, itu hanya keberuntungan belaka, dan semoga saja terulang lagi di masa depan.
Akhirnya mereka berdua menikmati sang surya terbit, indah dan menghangatkan.
***
Feronica dan Stephen beranjak lagi setelah beristirahat.
Yah mereka bukan manusia super yang bisa melakukan semua dengan cepat.
“Kak?” Feronica tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.
“Kita ada di tempat orang.” Stephen melihat gerbang kota megah dari kejauhan.
‘Kota Frost….’ Tempat dimana ahli sihir hebat yang tersohor….
Entah kenapa Feronica jadi ingin bertemu dengan mereka. Yah mumpung ada di sini.
Karena sayang sekali kalau ia harus pulang dengan tangan hampa.
Yah Stephen sendiri belum kepikiran pulang juga. Pasti butuh biaya yang besar untuk kembali ke desa.
Entah itu pakai kendaraan konvensional, ataupun pakai jasa tukar sihir yang ada di kota.
Namun di sisi lain, Stephen jelas anti dengan kota ini.
Yah kota ini masuk ke daftar kota yang tidak boleh dikunjunginya.
Makhluk non-manusia sepertinya bisa jadi sasaran empuk para ahli sihir.
Ia belum mau jadi kelinci percobaan, kebebasannya terancam di sini.
“KAMU MAU MENEMUI DUA AHLI SIHIR TERHEBAT?” Yang benar saja dong!
“Eh?” Emangnya ide buruk ya?
Feronica pikir mereka bisa belajar banyak dari para ahli.
‘Aku bisa bertemu Nona Cylene!’ Hatinya begitu menggebu.
Dan jangan lupakan pasangannya Tuan William!
Keduanya adalah ahli sihir terhebat yang pernah dikenal, dan kini jarak mereka tak terpaut jauh!
]Bertemu dengan sosok favoritnya ketika kecil adalah impiannya.
Dengan begitu ia bisa sombong juga sama ibu, huehe.
“TIDAK BISA.”
Stephen menolak mentah-mentah usulan Feronica.
“Yaaaah.” Ya mau gimana lagi dong.
Ia tak bisa sombong sama ibu-nya ya.
Stephen terdiam, Felicia sengaja membawanya kemari demi membuat situasi lebih sulit.
Dan memang terbukti begitu.
Kini ia harus cari cara agar bisa cepat kembali!
‘Kenapa kak…?’ Kak Stephen kelihatan sangat serius dan agak pucat.
Mungkinkah dia tidak suka ada di kota besar?
Yah itu wajar sih, pasti butuh waktu beradaptasi di tempat ini.
Yah siapa yang tidak kaget, dari yang tadinya di desa kecil tiba-tiba terdampar di kota besar?
‘Sial!’ Ide cemerlang belum menyambarnya, namun Stephen berusaha tetap tenang dan memikirkan cara lain.
Shhh….
__ADS_1
“Kenapa buru-buru?”
TIBA-TIBA DATANGLAH SOSOK BERJUBAH HITAM!