
Ledakan energi yang cukup besar tiba-tiba terjadi, membuat area sekitar tertutup debu asap yang tebal. Sulit untuk melihat apa yang terjadi sini.
'Sial!' Terlihat seorang sedang berlari susah payah dari area pepohonan ini, yang tak lain tak bukan adalah Stephen sendiri.
'Aku tidak mungkin lari jika keadaanku tidak seperti ini!' Stephen terlihat begitu kesal akan keputusan yang telah dibuatnya ini.
Namun apa daya, ia yang sudah terpojok dan kekuatannya tidak stabil tidak mungkin terus merisikokan keselamatannya di sana.
'Aku tidak percaya... Mengapa manusia sepertinya begitu berbahaya?!' Stephen tidak paham akan hal ini, jika saja gadis tadi tidak melonggarkan cengkraman tangannya, maka situasi akan lebih sulit lagi ia jalani.
"Haaah.... haaah...." Berlari sempoyongan dengan nafas yang terengah-engah, tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Kekuatannya memang sudah mulai kembali dan itu dibuktikan dengan tadi ia bisa mengeluarkan salah satu tekniknya, tapi energi kekuatannya masih belum stabil jika ia harus bertarung dengan serius kembali di sini.
Bisa-bisa kekuatannya kembali tak bisa dikeluarkan lagi yang pada akhirnya tidak menguntungkannya sama sekali. Jadi pilihan inilah yang dipilihnya untuk mencegah hal tersebut terjadi.
'Apa dia mengejarku?' Sembari berlari pria itu sesekali menoleh ke belakang, namun yang ia lihat masih kepulan debu asap yang membumbung tinggi ke atas.
Stephen masih merasakan kekuatannya tertahan sampai sekarang, di tangannya ada tanda merah yang bercahaya yang dugaannya adalah penyebab mengapa ia tidak bisa mengeluarkan tenaganya dengan leluasa.
Gadis itu berhasil memperdayanya dengan berlagak seolah tadi dia hanya menghancurkan realitas buatannya saja. Namun pada kenyataannya lebih daripada itu, gadis itu ternyata melancarkan teknik lain yang bisa membuat ia tidak bisa menggunakan kekuatannya dengan normal.
Teknik yang brilian dari sisi pemakainya, memang tidak ada cara kotor dalam pertarungan. Yang ada hanyalah cara untuk lebih unggul dari lawan dan menang dengan cara apapun.
Setelan baju Stephen cukup rusak akibat pertarungan sebelumnya, yang membuat banyak robekan di mana-mana dan jika terus dipakai maka lambat laun helaian kain yang ada malah bisa makin menghilang adanya.
Tapi penampilan bukanlah segalanya di sini, masih bagus jika ia kehilangan pakaiannya karena itu bisa diganti nanti, daripada ia kehilangan suatu hal yang lebih penting dari itu bukan?
'Lagi-lagi aku dipermalukan seperti ini!' Stephen geram, raut wajahnya tidak menandakan ia sedang dalam kondisi hati yang baik sekarang. Ia teringat akan masa lalunya yang tidak ingin ia ingat ini.
__ADS_1
Tapi sulit baginya untuk tidak mengingat kejadian yang serupa seperti ini. Mau seberapa keras ia mengabaikan apa yang ada dalam pikirannya yang ada malah ingatan itu tetap terbayang jelas dalam benaknya.
'Jika bukan karena kejadian itu! Aku pasti sudah lebih kuat dari sekarang!' Stephen pada akhirnya mulai terbawa akan masa lalu yang memalukan itu.
"Mengapa harus menghabiskan waktu di segel seperti itu?!" Stephen tidak terlihat tenang lagi sekarang melainkan terus menggerutu sembari berlari sejauh yang ia bisa sekarang.
Ia masih sesekali melirik ke belakang meskipun ia sudah berada cukup jauh sekarang, ini menandakan Stephen memang masih tetap waspada akan apa yang bisa terjadi sekarang.
Tidak berlebihan untuk mengatakan Stephen sekarang tidak mau dipermainkan seperti tadi, lebih baik menunggu kesempatan yang baik di mana kondisinya sudah pulih benar sekarang ini, meski memang bagian dalam dirinya menolak akan keputusannya ini.
Ia adalah pengguna kekuatan gelap yang begitu hebat dalam kekuatannya ini, namun siapa sangka bisa tunduk pada seorang gadis kecil dengan kekuatan sihir manusia?
Tapi memang teori tidak sesuai dengan kenyataannya kali ini, Stephen tahu ternyata memang ada sesuatu yang berbeda di sini. 'Kekuatan gadis itu tidak asing bagiku....'
Mungkin terlambat untuk menyadari hal ini sekarang karena memang kini ia sudah lari dari gadis itu, tidak ada yang bisa dilakukannya selain memikirkan apa yang terjadi tadi.
Memang masih banyak kemungkinan yang bisa menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi. Mungkin saja memang ras manusia ini sudah jauh lebih kuat dan mengembangkan berbagai macam teknik yang lebih hebat ketimbang sebelumnya, atau memang tidak ada alasan lain, pada kenyataannya memang kekuatan gadis itu seperti itu adanya.
Alasan pertama lebih rumit dan sulit dibuktikan, karena memang dirinya belum berhadapan dengan banyak orang selama ia sadar di sini. Dan alasan kedua memang sederhana dan terkesan hanya pandangan sekilas saja, namun lebih masuk akal dan tidak berlebihan jika memikirkan ini.
Mengingat memang gadis itu tidak hanya mengeluarkan kekuatan sihirnya saja, namun di seluruh tubuhnya juga ada semacam tanda yang penuh dengan kekuatan yang menguasai tubuhnya. Kemungkinan besar tanda itulah yang membuat sihirnya yang biasa jadi tidak biasa seperti tadi.
Kekuatannya jadi lebih besar dan aura di sekitar gadis itu pun jadi berubah adanya. Stephen lagi-lagi merasa tidak asing juga dengan tanda yang ada pada gadis itu.
"Haaah... haaaah ...."
Stephen berhenti di salah satu pohon besar, rasanya ia sudah berlari cukup jauh dan berhenti sejenak untuk menghela nafas bukan hal yang buruk juga.
__ADS_1
Stephen masih belum bisa melonggarkan kewaspadaannya sekarang, pasalnya selain kekuatannya yang seperti masih 'tertahan' karena tanda merah yang ada padanya sekarang, kemampuan pendeteksiannya terhadap apa yang ada di sekitarnya menurun tajam.
Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan umum yang biasa di kuasai oleh seorang yang belajar sihir, pendeteksian terhadap hawa kehadiran, kekuatan dan masih banyak lagi.
Kehilangan kemampuan sesederhana seperti ini tentu saja menyakiti kebanggaannya sebaggai pengguna kekuatan gelap, ia yang punya kekuatan paling utama dari semua jenis sihir yang ada tidak bisa mendeteksi hawa sekitar? Memikirkannya saja membuat Stephen tersinggung.
"Gadis itu punya kekuatan aneh, sama seperti seorang yang menyegelku dahulu...." Stephen bersender di pohon besar itu dan perlahan terduduk, rasanya sungguh lelah ketika ia berusaha untuk memaksa kekuatannya untuk keluar.
Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya, mengapa Stephen bisa menggunakan kekuatannya tadi untuk membuka kesempatan pelariannya ini? Padahal seharusnya ia masih belum bisa mengeluarkannya karena teknik gadis itu?
'Memaksa kekuatanku keluar lebih berat daripada yang kubayangkan... dan itu membiuat kondisiku jadi makin lemah. Tapi jika tidak dilakukan maka kesempatan mana lagi yang ada nanti?' Stephen tahu, momen di mana cengkeraman leher di longgarkan oleh gadis itu, maka memang itulah di saat ia bisa 'memaksa' kekuatan gelapnya untuk bisa digunakan kembali, menciptakan peluang ia bisa menjauhi gadis itu.
Memaksa kekuatan tidak bisa ia lakukan sesuka hati, dan tidak dijamin berhasil juga saat dilakukan. Biasanya Stephen tidak perlu sampai menggunakan teknik seperti ini karena memang kekuatannya sudah superior dari awal.
"Uh...." Stephen merasa dadanya sedikit sesak sekarang, dan itu bisa dipastikan karena pengaruh memaksa kekuatan yang sebelumnya ia lakukan itu.
Kini memang tidak ada lagi harga dirinya yang bisa dipertahankannya. Niat hati ingin memuaskan dahaga setelah sekian lama tertidur, malah ada seorang gadis dari antah berantah yang mengganggu rencananya.
Kini Stephen hanya bisa menunggu saat di mana pengaruh kekuatan dari gadis itu hilang, dan soal kekuatan aneh dari gadis ini, Stephen hanya bisa memikirkannya nanti, pembuktian akan apakah memang kekuatan gadis itu mirip dengan kekuatan yang pernah dijumpainya dahulu memang jadi fokusnya sekarang.
Ia kini tidak bisa meremehkan lagi akan keberadaan gadis yang telah dilawannya itu, meskipun tidak tahu namanya, namun ia bisa mengingat dengan baik akan bagaimana penampilannya dan itu adalah modal yang cukup baginya untuk menyusun rencana selanjutnya.
Stephen kemudian menatap bulan purnama yang semakin tertutup oleh awan, hampir menghilang. Mata tajam berwarna kuningnya itu begitu memerhatikan apa yang ada di langit ini.
"Aku pasti akan membalasnya...."
"Gadis kecil itu... suatu saat nanti...." Perlahan namun pasti Stephen menutup matanya, dan bersandar di pohon besar itu, dengan tekad baru yang ada dalam hatinya, berusaha untuk mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya.
__ADS_1