
Apa yang tadi didengarnya ini? Feronica merasa tidak asing dengan apa yang pria ini katakan.
'Stephen....?' Feronica tidak lagi memperkuat cengkeraman tangannya, ia berhenti di sini untuk memikirkan apa yang muncul di kepalanya sekarang ini.
-FERONICA, MENGAPA BERHENTI? SEDIKIT LAGI KAMU BISA MENGALAHKANNYA!-
"A- apa?" Feronica sadar ia mendengar suara lain, bukan dari pria inimnamun suara perempuan bernada berat, padahal tidak ada siapapun lagi di sini selain dirinya dan pria ini.
Feronica lagi-lagi merasa tidak asing dengan suara yang didengarnya ini, kini dalam benaknya muncul berbagai pertanyaan.
SIIIINGG....
Feronica memegang kepalanya, terasa sedikit berat sekarang. Ketika ia mendengar perkataan pria itu sebelumnya dan juga suara yang muncul di telinganya ini.
"Uh...." Rasa berat yang ada di kepalanya berubah menjadi nyeri yang cukup membuatnya terganggu. Entah mengapa dua hal tadi membuatnya berpikir keras sekarang.
Ia tidak mengerti mengapa bisa begini, kepalanya berat untuk memikirkan apa yang datang dan rasanya aneh sekali.
"Kenapa aku....?" Sorot mata Feronica mulai berubah, tidak ada lagi tatapan tajam dan raut wajah puas seperti sebelumnya. Kini ia malah terdiam dan merasa heran. Pandangannya jadi kabur dan sulit melihat apa yang di depannya ditambah sulit berkonsentrasi karena rasa nyeri yang terasa tidak kunjung hilang ini.
Sedang pria itu yang ternyata tak lain tak bukan adalah Stephen, hanya bisa terdiam dan juga heran mengapa gadis kecil ini berhenti di sini. Ia bisa merasakan cengkraman pada lehernya tidak bertambah kuat lagi sekarang.
"Hahh... haah...." Stephen hampir kehabisan nafas setelah beberapa saat lehernya dipegang oleh gadis itu, jika saja dia terus menguatkan kepalan tangannya, maka agaknya dirinya akan lebih kesusahan dibandingkan saat ini.
-AYO ... KEMENANGAN SUDAH DI DEPAN MATA!-
__ADS_1
Lagi-lagi suara perempuan tadi terdengar, membuat Feronica jadi makin tidak mengerti. Dengan semua yang ada di pikirannya dan rasa nyeri yang mengganggu ini membuatnya hanya bisa tertunduk dan terlihat kesakitan sendiri di sana.
"Uuhh...." Feronica hanya menggeram, rasanya suara yang ada di kepalanya itu terus mengatakan hal yang sama. Dan ia sendiri tidak bisa terlalu banyak memerintah tubuhnya sekarang.
Dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dan lagi tidak tahu akan apa yang telah terjadi ini membuat Feronica mencoba menenangkan dirinya.
'Feronica ... tenang ....' Ia kini mencoba untuk mengesampingkan apa yang ada dalam pikirannya dan suara aneh yang didengarnya ini, mencoba berdamai dengan rasa sakit terlebih dahulu.
'Ayo bergerak!' Feronica memerintahkan tubuhnya yang kaku ini untuk segera bergerak. Ia perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Jadi sia-sia saja jika ia sadar namun tidak tahu akan apa yang terjadi di sekitarnya.
Shhhhh....
Feronica mulai bisa merasakan sesuatu pada kulitnya, seperti terpaan sesuatu, ini adalah perubahan yang cukup baik, namun beberapa saat kemudian Feronica malah makin meringis kesakitan dibuatnya.
'Sakit!' Bagian kulitnya terasa panas, seperti dekat dengan sumber api. Namun meskipun Feronica belum bisa melihat dengan jelas, rasanya perkiraan pertamanya itu tidaklah terlalu tepat adanya.
Tubuh Feronica sedikit bergetar, membuat Stephen makin heran dengan apa yang sedang terjadi di sini. Ia tahu gadis itu kini berhenti di tengah jalan sekarang, namun kekuatan sihir yang ada padanya masih tetap kuat, dan ia masih merasa lemas juga sekarang.
Apa ini berarti sesuatu? Stephen tidak terlalu mengerti, namun bibirnya kini terangkat naik sedikit melihat lawannya bersikap aneh seperti ini.
"Manusia tetap punya batasan ... hehe ...." Stephen cukup terhibur meskipun ia masih dalam kondisi yang cukup berbahaya sekarang. Bisa saja gadis itu kembali melakukan apa yang ditundanya ini dengan tiba-tiba, dan tentunya bisa merepotkan bilamana itu terjadi.
Tapi memang benar akan pikirannya tadi, mengapa ia harus khawatir akan apa yang tejadi sekarang? Toh memang apa yang diperkirakannya sebelumnya memang benar adanya.
Kini tanda merah pada Feronica berangsur-angsur menghilang dan hanya menyisakan luka darah yang sebelumnya di sekujur tubuhnya. Stephen kemudian menunggu saat di mana ia bisa menggunakan kekuatannya, di saat itu juga ia hendak menjalankan rencana yang seharusnya ia lakukan dari tadi.
__ADS_1
Namun beberapa saat berlalu, Stephen hanya melihat gadis itu terdiam meringis kesakitan saja, masih memegang lehernya dengan erat pula. 'Apa dia masih punya sisa kekuatan?'
Stephen mulai curiga di sini, mengapa setelah tanda itu menghilang mengapa kekuatan lawannya itu masih tetap besar? 'Apa dia akan melakukan hal yang sama?'
Stephen hanya bisa menduga, bisa saja terjadi hal yang sama seperti sebelumnya. Ia kembali harus dikejutkan dengan perbuatan lawan yang tidak disangka-sangka. Namun pada akhirnya memang di keadaannya yang seperti ini tidak ada gunanya waspada juga.
"UHUK!" Feronica kembali terbatuk, pandangannya masih mengarah ke bawah, setelah beberapa saat berlalu indera perasanya mulai berfungsi, dan benar saja seluruh badannya kini mengalami hal yang sama seperti kepalanya tadi.
Namun memang tidak ada yang bisa dilakukannya selain mencoba untuk menerima rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya itu, seperti rasa panas yang benar-benar belum pernah ia rasakan sebelumya, dan angin yang berhembus di sekitarnya malah membantunya lebih bisa meresapi rasa sakit yang ada ini.
-KAU MAU DIKALAHKAN OLEHNYA?! AKU TAK PERCAYA!- Sedari tadi tidak henti-hentinya suara yan sama terus terdengar dari dalam dirinya, Feronica kini mulai bisa menerima suara itu dan menanggapinya dengan tenang.
'Si- siapa?' Feronica masih bertanya dalam hatinya, meskipun perasaannya dengan kuat sudah menjawab pertanyaannya ini.
-AKU BUKAN DIRIMU! AKU LEBIH KUAT, KAU LEMAH!- Suara itu bernada serius dan sedikit menghina, Feronica sedikit tersentak namun beberapa saat kemudian ia bisa tenang lagi.
'Aku ... bukan monster yang akan melakukan apapun....' Feronica berusaha untuk mengangat kepalanya, dan perlahan apa yang diusahakannya itu mulai bisa terlihat meskipun sedikit demi sedikit. Sebuah kemajuan yang bermakna karena sedari tadi memang tubuhnya hanya kaku dan tidak bisa digerakkan sama sekali.
Feronica mulai bisa memikirkan ini lebih jauh lagi sekarang, biasanya memang ia mengalami kejadian aneh, sama seperti dahulu, dan sekarang juga terjadi lagi.
Inilah yang menyebabkan ia keluar dari sekolah, padahal hanya tinggal sebentar lagi saja ia bisa lulus dan setidaknya mendapat bekal untuk menjadi seorang ahli sihir, namun karena deretan kejadian aneh yang terjadi akhirnya rencananya itu kandas di tengah jalan.
Mengapa bisa begini? Feronica tidak mengerti, bahkan sampai sekarang sekalipun, hal yang ia ingat pertama kali ketika ia sadar tadi adalah nama seorang kenalannya.
"AAAAHHH!" Feronica berusaha untuk memperoleh kembali kendali atas tubuhnya, ia ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi di depannya, dan setelah bergumul beberapa saat pandangannya yang kabur mulai kembali normal, perlahan namun pasti ia mulai bisa melihat apa yang ada di sekitarnya sekarang.
__ADS_1
Sedang suara-suara yang ia dengar sebelumnya perlahan sudah mereda dan kini berganti dengan rasa sakit yang tidak mengenakkan yang dialami oleh tubuhnya sekarang.
Feronica berusaha untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi, dan seketika itu juga ia terbelalak melihat apa yang dihadapannya, mengapa ia malah memegang leher seseorang dan itu adalah....