
"Kamu bukanlah monster," kata Stephen dengan nada yang cukup serius, menandakan ia tidak begitu setuju dengan perkataan Feronica. Stephen memang bisa mengerti akan apa maksud orang bahkan sampai memanggil Feronica seperti itu, namun ada ada hal yang tidak bisa diterimanya ketika Feronica setuju dengan hal ini.
Tipikal orang yang patah semangat dan menyerah dengan keadaanlah yang setuju dengan pendapat buruk orang. Stephen yakin Feronica bukanlah gadis yang lemah karena memang ia sudah melihat sendiri buktinya dengan mata kepalanya sendiri.
Jadi mengapa harus berlagak susah dan memiliki mental korban? Mungkin memang dengan begini seorang akan merasa lebih baik karena tak usah lagi membela diri karena itu melelahkan. Namun cara ini tidak bisa dilakukan untuk semua hal.
Sedikit saja ada pikiran yang lemah maka pasti itu berdampak pada cara pandangnya, Stephen tidak Feronica hidup dari apa kata orang lain.
Feronica yang tadi merenung dengan dalam kini menatap Stephen dengan penuh arti. Ia memang tidak begitu mengharapkan pengertian dari orang lain, karena memang jarang sekali ia bisa dimengerti kecuali oleh ibunya sendiri.
Jadi apa yang ia katakan tadi adalah refleksi dirinya yang memang sudah lelah dengan perasaan yang dirasakannya selama ini. Sesekali ia perlu untuk setuju dengan pendapat orang dan tidak ambil pusing, namun pada akhirnya tetap saja ia butuh dorongan untuk bisa kembali bangkit.
Yang ternyata dorongan itu bisa langsung didapatkannya dari Kak Stephen.
"Ah, terima kasih kak...." Feronica sedikit terhibur karena tahu ternyata tidak semua orang sama seperti yang ia pikirkan.
"Maaf atas semuanya kak...." Feronica akhirnya menyadari bahwa memang apa yang dilakukannya itu salah adanya. Ia tidak mampu untuk mengatasi perasaan yang ada dalam dirinya yang menyebabkan dirinya yang hilang kendali.
Stephen menggeleng kecil. "Tidak apa, tidak masalah jujur dengan diri sendiri." Stephen sendiri memang tidak bisa menghakimi Feronica melakukan hal yang salah, semuanya ini terjadi bukan karena kesengajaan.
"Aku tidak menyangka sudah melukai teman-temanku...." Feronica memikirkan hal yang tadi diceritakan Kak Stephen padanya.
Pertama kali dalam hidupnya ia berlaku sampai sejauh ini, belum lagi dengan masalah yang terjadi setelah ia secara garis besar melukai Yelena, kini dengan kedua teman dekatnya yang sama juga terluka, tidak terbayang lagi akan seperti apa jadinya.
"Tidak apa, semuanya akan baik-baik saja...." Stephen mengejutkan kembali Feronica yang kembali merenung, seketika itu juga Feronica tersenyum kecil karena terhibur dengan perkataan itu.
Pada akhirnya memikirkan hal ini dengan berlebihan tidak akan membuat masalah langsung selesai. Kini Feronica berupaya untuk mengendalikan pikirannya agar tidak kemana-mana lagi.
"Entah apa jadinya kalau kakak tidak ada di sana...." Feronica sadar, keberadaan Kak Stephen yang selalu muncul di saat yang tepat sudah banyak membantunya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Karena memang sebelumnya ia memang selalu berurusan sendiri dengan setiap hal yang ia alami, menyembunyikan masalahnya dari ibu dengan tujuan agar tidak membebani pikirannya.
Dan kali ini ketika mendapatkan bantuan di saat yang tepat membuat Feronica merasa berbeda. Rasanya seperti menemukan dan mengetahui hal baru yang membuatnya tidak berpikir sama lagi seperti kemarin.
"Apa kamu baik-baik saja sekarang?" Stephen melihat bagaimana kondisi Feronica yang memang terlihat biasa saja dari luar, namun apa yang terlihat dari luar bisa saja salah adanya.
Seperti yang sebelumnya, Stephen sejak awal tidak merasakan adanya hal berbeda dari Feronica, namun siapa sangka dalam hatinya berkecamuk berbagai hal?
"Ah, aku baik... bagaimana dengan kakak?" Feronica menjawab apa adanya karena memang ia merasa tidak ada yang aneh dalam dirinya, perasaannya yang kalut sudah berlalu dan kini ia sudah merasa seperti biasanya.
Stephen terdiam, bahkan dengan begitu banyaknya kekuatan yang dikeluarkannya gadis ini tetap bugar seperti biasanya dan itu adalah hal yang baik tentunya. Jika bukan karena kekuatan yang muncul dalam diri dia, Stephen rasa akan butuh waktu lama agar seseorang bisa mencapai tingkat kekuatan seperti ini.
"Ah kalau begitu kita sama." Stephen tersenyum, energinya yang cukup banyak terkuras tadi kini mulai terisi kembali. Ia sekarang berada di kondisi yang baik.
"Aahaha...." Feronica memegang kepalanya dan sepertinya ada sesuatu yang kurang di sana.
"Ah...." Feronica sadar apa yang kurang itu, dan seketika itu juga ekspresinya berubah.
"Topiku hilang...."
"Topi?" Stephen bahkan tidak memerhatikan detil kecil itu, ia sedari tadi hanya fokus bagaimana caranya menghentikan Feronica dari amukannya itu.
Feronica tidak menganggap pemberian Tuan Jack adalah hal yang biasa, yang diberikan padanya adalah topi yang selalu dikenakannya sejak dulu. Tidak merawat bahkan sampai hilang setelah beberapa saat tentunya tidak terlalu bagus.
"Tuan Jack maaf...." gumam Feronica, ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga pemberian berharga itu, namun pada akhirnya memang apa lagi yang bisa dilakukannya?
"Aku yakin Tuan Jack pasti mengerti...." Stephen mencoba meyakinkan Feronica yang kini memang terlihat murung itu. Ia mengerti sesederhana apapun suatu hal pasti ada suatu hal juga yang membuatnya berharga.
*
__ADS_1
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya Stephen melepaskan teknik perubahan ruangnya dan kini mereka kembali ke tempat semula, di depan gerbang Akademi.
Feronica melihat kondisi sekitarnya, memang sudah malam adanya. "Astaga ibu pasti khawatir!"
Feronica panik saat itu juga, membuat ibu khawatir adalah salah satu hal yang berusaha dihindarinya. Lagipula siapa seorang anak yang ingin membuat orang tuanya khawatir?
"Jangan khawatir, waktu tetap sama di saat kita masuk ke teknik sihirku." Stephen angkat bicara, ia terdengar bangga dan menyakinkan.
"Benarkah?" Feronica menatap kagum akan Stephen, bagaimana tidak? Teknik dengan pemindahan tempat dengan memanipulasi waktu adalah hal yang hebat!
"Kalau begitu ayo pulang, ibumu pasti sudah menunggu di rumah." Stephen berjalan sedang Feronica masih terlihat diam di sana. Ia tahu Kak Stephen pasti akan mengantarnya pulang ke rumah.
"Pulang bersama memang menyenangkan...." gumam Feronica sembari tersenyum kecil.
*
-Di ruangan kamar Feronica, di hari yang sama-
Feronica menatap lampu cahaya di atasnya, entah mengapa malam ini ia belum mengantuk, padahal sudah jelas-jelas ia mengalami banyak hal sepanjang hari.
Namun Feronica tidak bisa banyak protes, ia kini memanfaatkan waktunya untuk merenung apa yang sebenarnya terjadi padanya.
'Tanda merah itu muncul lagi, bahkan lebih parah lagi dari sebelumnya....'
Feronica sadar akan hal ini, jika tanda merah menyala-nyala seperti api ini hanya muncul sebelumnya, kini malah lebih dari itu, sampai menguasai dirinya sepenuhnya.
Hal ini membuat Feronica tidak bisa menganggap sepele tanda aneh itu, karena tidak bisa diprediksi tanda itu muncul, dan terlebih lagi ia takut terjadi hal yang sama seperti sebelumnya.
Ia tidak mau disebut monster oleh rekan-rekannya, maka dari itu yang bisa ia lakukan adalah untuk mengatasi tanda aneh itu agar tidak muncul kembali.
__ADS_1
Feronica bangun dan melihat ke arah jendela kamarnya, di langit yang malam ini ada bukan purnama indah yang memberinya cahaya terang.
'Ah benar juga, mengapa aku tidak menanyakan soal tanda ini pada Kak Stephen ya?' batin Feronica dalam hatinya.