
Kring!
Terdengar suara bel bergermerincing kecil tiap kali pintu dua setengah ukuran yang terbuat dari kayu di buka. Feronica melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah makan yang terlihat sederhana.
Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari tempat mereka bertemu tadi, hanya terus masuk ke dalam jalan kecil tadi dan berhenti di jalan besar satunya lagi. Jelasnya hanya menyebrangi celah jalan antar kedua bangunan tadi sih.
Jika dilihat dari luar, nuansa tempat makan yang sekarang di datangi Feronica begitu sederhana. Tempatnya cukup luas dengan dekorasi yang cukup. Feronica memandangi ruangan ini sepuasnya karena ini kali pertamanya masuk ke rumah makan.
"Hei, berikan kursi bagi nona ini!" Dengan cepat pula pria besar memerintahkan salah satu pegawainya untuk menjamu Feronica.
"Baik Tuan," sahut pelayan wanita dengan seragam coklat muda rapi yang kemudian mengarahkan Feronica pada mejanya sendiri.
"Nikmati waktumu di sini nak." Pria besar pemilik rumah makan itu meninggalkan Feronica. Dan kini Feronica jadi sedikit canggung.
'Tidak perlu diperlakukan semewah ini bukan?'
Feronica hanyalah seorang pengunjung biasa dan bahkan tidak membayar apapun untuk ini. Baginya tidak masalah juga bilamana hanya dapat makanan sisa, namun ternyata pelayanan yang ia dapatkan benar-benar hebat.
Feronica akhirnya sampai di tempatnya dan segera duduk, tak lama kemudian pelayan wanita tadi datang kembali dengan menawarkan selebaran kertas yang penuh tulisan dan gambar.
"Ah...." Feronica memegang kertas itu dengan kedua tangannya, ia bisa melihat menu yang apa saja yang tersedia di sini, matanya jadi agak besar dengan mulut yang penuh air liur, semuanya terlihat lezat baginya.
Setelah berpikir sebentar, Feronica akhirnya memilih pilihan makanannya dan pelayan pun pergi menyiapkan pesanannya.
Feronica mengarahkan pandangannya ke sekelilingnya. Suasananya tidak terlalu ramai, namun para pengunjung yang datang terlihat menikmati makanannya masing-masing.
"Maaf menunggu...."
Klek....
Pesanan Feronica pun datang, asap kenikmatan langsung menyerbu ke sistem pernafasan Feronica.
"Terima kasih. Selamat makan...." Feronica dengan cepat memakan hidangan yang telah tersedia itu. Dan menu pilihannya memang terasa enak. Feronica melupakan dahulu apa yang dipikirannya dan menikmati makanan yang ada.
Tak berapa lama kemudian Feronica akhirnya selesai menyantap menu yang dipesannya dan kini yang ada di depan mejanya hanyalah piring dan gelas minum yang sudah kosong.
Feronica melihat ada tisu di sana. Biasa dipakai untuk membersihkan mulut, Feronica biasanya menggunakan sapu tangan kecil jika di rumah. Jadi sebagai gantinya ia menggunakan tisu juga.
"Bagaimana makanannya?"
Sret.
Pria besar pemilik rumah makan ini kembali datang dan kemudian duduk berhadapan dengan Feronica.
"Ah enak Tuan, Terima kasih banyak atas makanannya." Feronica tidak menyangka akan ada tempat makan yang bisa kelezatannya hampir bisa menyamai masakan ibunya sendiri.
"Syukurlah kalau begitu...." Pria besar itu terlihat senang sekarang.
"Siapa namamu nak?"
"Feronica, Tuan...." Feronica ingat memang sedari tadi ia juga belum tahu nama tuan pemilik rumah makan ini.
"Aku George, salam kenal Feronica."
"Sa- salam kenal juga Tuan George...." Feronica bisa merasakan kemewahan dari nama tuan ini. Memang orang-orang di kota ini sudha tidak diragukan lagi punya nama yang unik.
"Namamu tidak terlalu asing, kamu berasal dari sini?"
__ADS_1
"Ah tidak Tuan... sebenarnya saya tersesat dan sedang mencari rekan saya yang menghilang."
"Tersesat?" Nada bicara George terdengar heran.
Feronica masih belum tahu alasan mereka berdua terpisah, jika tadinya mereka di tempat yang sama, namun karena suatu alasan berpindah tempat, maka seharusnya mereka masih bersama bukan?
"Bagaimana kamu bisa tiba-tiba tersesat?" George jadi makin tertarik dengan cerita Feronica. Ia ingin mendengar lebih banyak lagi mengenainya.
"Ah soal itu...." Feronica memegangi kepalanya sendiri. Ia ingin menjawab pertanyaan Tuan George, namun sayangnya ia sendiri juga tidak tahu jawabannya.
"Ingatanku pudar Tuan...." Feronica merasa ia seperti menyembunyikan sesuatu di sini, padahal ia sama sekali tidak melakukannya.
"...." George melihat gadis kecil ini seperti kesulitan menjawab pertanyaannya tadi, baginya sendiri pertanyaannya tadi tidak aneh dan seharusnya mudah di jawab.
Seolah memang gadis bernama Feronica itu benar-benar tidak tahu akan jawaban dari pertanyaan itu.
Feronica tidak bisa memberi informasi apapun, karena kenyataannya sekarang ia banyak tidak tahu soal keadaannya ini.
Suasana hening akhirnya tercipta. Feronica tidak bisa menjelaskan banyak hal dan George hanya memerhatikan Feronica dengan tidak mengharapkan penjelasan lagi.
"Kau tahu Feronica, kota Frost punya banyak hal untuk dilihat...." George akhirnya memecah keheningan yang tercipta beberapa saat tadi.
"Apa?" Feronica berhenti memegangi kepalanya dan menunduk ke bawah. Aksinya ini ia lakukan agar Tuan baik hati ini tidak mencercanya dengan pertanyaan yang menyudutkannya.
'Kota Frost?' Feronica sadar ia pernah mendengar nama kota ini. Yang pasti ketika ia masih belajar di Akademi.
'Kota besar yang juga tempat berdiamnya ahli sihir terkemuka di dunia ini....' Feronica jadi berdebar ketika mengingat kembali apa yang pernah ia baca tentang kota ini.
'Nona Cyclene dan Tuan William ada di kota ini!'
"Tentu saja," jawab George pendek, ia tahu apa yang dimaksud oleh gadis muda ini.
"Wah... hebat sekali...." Feronica jadi tidak sabar untuk melihat di mana kediaman ahli sihir yang jadi panutannya itu.
Tapi bagaimana ia bisa menemukan letak keberadaan kediaman kedua orang tersohor itu?
"Kamu ingin mengunjunginya?" tanya George. Membuat Feronica spontan mengangguk tidak sabar.
"Kalau begitu kenapa kita tidak sekalian berjalan-jalan saja sembari melihat-lihat kota? Mungkin kamu bisa menemukan rekanmu di jalan bukan?" tawar George.
Feronica melihat tawaran ini sangat sempurna baginya, namun di saat yang bersamaan ia tidak yakin bisa menerima tawaran seperti ini.
"Tuan George punya urusan bisnis bukan? Saya tidak apa keliling sendiri. Saya tidak bisa membalas kebaikan Tuan atas makanan yang sudah disajikan...." Feronica jadi keberatan dan tidak layak untuk menerima bantuan yang sudah diterimanya ini.
Ia bertemu dengan seorang yang begitu baik hati menerima orang asing sepertinya dan memberinya makan secara percuma, dan sekarang beliau mau merepotkan dirinya lebih jauh lagi. Bagaimana mungkin Feronica malah senang?
"Ah jangan sungkan. Urusanku di sini sudah kuserahkan pada yang bekerja. Kamu sudah tidak lapar sekarang dan itu bagus. Dan sekarang kita akan berkeliling kota, apa kamu tidak mau?" George dengan ringkas mengatakan apa yang terjadi tadi sekaligus menawarkan lebih tegas lagi apa yang ada dalam benaknya.
"...." Feronica terdiam dan masih belum yakin, ia bisa saja merepotkan Tuan George lebih lagi dan membuatnya masuk ke dalam masalah pribadi miliknya.
'Tuan George benar-benar baik... aku hampir tidak percaya akan ada orang sebaik beliau....'
'Maka dari itu aku berniat untuk menerima kebaikannya sampai di sini saja, agar Tuan George tidak perlu tercampur dalam masalahku ini... tapi apa aku harus tetap menolak saja ya?'
Feronica memikirkan ini kembali, jika ia menolak maka kesempatannya untuk melihat kediaman ahli sihir tersohor pun akan tertunda, ia hanya akan menghabiskan waktu berjalan tanpa arah dan tanpa petunjuk mengenai keberadaan rekannya sendiri.
Ia bahkan bisa tersesat dan tidak pernah bisa menemukan rekannya dan juga jalan pulang....
__ADS_1
"Hiiii...." Feronica jadi takut ketika memikirkan seperti itu.
"...." George tetap senantiasa menunggu jawaban dari gadis muda ini, dalam hatinya memang ia hanya berniat untuk menolongnya saja, tidak lebih tidak kurang.
Karena Feronica adalah pengunjung sekaligus pendatang kota ini, maka otomatis dia butuh seorang pemandu bukan, George pikir itulah peran yang bisa ia ambil saat ini.
"Aku tidak mau membiarkan pendatang sepertimu jadi seperti aku dahulu...."
"!" Feronica sedikit terkaget, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria besar ini.
'Tadi Tuan George bilang dia adalah pendatang juga....'
"Memangnya ada apa Tuan?" tanya Feronica penasaran, ia kembali duduk di kursinya sendiri.
"Bagaimana reaksi orang-orang ketika kamu sampai di sini?" George menatap Feronica dengan seksama, menuntut jawaban yang sejujurnya.
"...."
Feronica terdiam dan kemudian berkata pelan, "Tidak banyak yang peduli...."
"Itulah yang kumaksud...." George pikir Feronica seharusnya bisa tahu apa yang dimaksud olehnya sekarang.
Feronica mengerti apa yang dimaksud oleh George. Di tempat seperti ini orang asing sepertinya sulit mendapat perhatian orang lain.
Tadi pun hanya dua orang yang langsung pergi dengan urusan mereka juga, tepat sebelum Feronica tahu siapa mereka berdua.
Selain itu siapa lagi orang yang mau menolongnya?
'Apa Tuan George khawatir dengan pendatang sepertiku dan tetap mau membantuku?'
Feronica bisa paham bantuan sebaik apa lagi yang bisa datang padanya saat ini selain apa yang ditawarkan padanya?
'Tuan George orang baik... aku percaya padanya, jikalau beliau tidak keberatan maka aku dengan senang hati menerimanya....'
Feronica akhirnya tidak lagi berpikir tetang dirinya sendiri. Ia memang tidak tahu apa-apa di sini dan harus mengakui hal itu. Dengan menerima bantuan dari Tuan George maka apa yang direncanakannya tidak akan seberat yang ia pikirkan dari awal.
"Sebelum kita pergi, ada baiknya kamu mengganti pakaian dahulu bukan?" George melihat penampilan luar Feronica tidak terlalu baik.
"Ah...." Feronica melihat bagaimana pakaiannya sendiri, memang benar apa yang dikatakan oleh Tuan George. Setelah beberapa saat berlalu pakaiannya tidak terlihat indah, sedikit kotor dan robek di beberapa bagian.
"Ah tidak apa Tuan, saya tidak bawa baju ganti."
"Ah, bagaimana kalau kamu pakai baju pelayan saja?" George kembali menawarkan hal lain pada Feronica.
"Ah tidak apa-apa Tuan, saya lebih suka baju yang sekarang dipakai...." Feronica berkata apa adanya. Tidak peduli dengan pakaiannya yang sekarang ini ia tetap tidak mau menggantinya.
"Hm, baiklah kalau begitu." George sebenarnya berniat untuk memberikan baju pelayan perempuan yang tak terpakai padanya, namun gadis muda ini tidak mau untuk menerima tawarannya ini.
"Lagipula pakaian saya masih bisa dipakai. Terima kasih banyak atas tawarannya Tuan...." Feronica menundukkan kepalanya tanda terima kasih.
"Kalau begitu mari kita berangkat?" George bangkit dari kursinya.
"Bagaimana saya bisa membalas kebaikan Tuan?" Feronica khawatir ia tidak bisa membalas kebaikan dari seorang pria besar yang di temuinya ini.
George menggelengkan kecil kepalanya seraya berkata, "Kalau kamu datang ke kota ini lagi, jangan lupa mampir ke sini."
*
__ADS_1