Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 48: Diskusi


__ADS_3

-Di sebuah ruangan para Guru Akademi Sihir Wolfden, sore hari setelah acara Tes Kemampuan Sihir telah selesai-


Terlihat beberapa guru sedang berkumpul satu dengan yang lainnya, sedang berdiskusi akan bagaimana jalannya acara Tes Kemampuan Sihir susulan yang tadi telah selesai itu.


"Sudah kubilang, acara susulan ini akan lebih menarik daripada acara awalnya bukan? Haha." Terdengar suara lelaki yang berat dan agak serak. Dia pria paruh baya dengan badan yang besar dan rambut serta janggutnya berwarna coklat sedikit bersinar.


Dia ini tentunya adalah salah satu guru pengajar murid tingkat akhir di sekolah ini.


"Benar, Joseph aku pikir acara ini akan membosankan," timbal Freiss sembari menyilangkan tangannya di dada, pendapat yang dilontarkan oleh rekannya itu disetujuinya dengan cepat.


"Hei Housen, bagaimana pendapatmu? Jangan diam saja hahaha!" Joseph menepuk pundak seorang pria lain dengan penampilan yang lebih kecil dan terkesan kurus.


Dia terlihat seperti seorang pria dengan penampilan rambut pendek hitam pekat tanpa ada janggut ataupun kumis di wajahnya, postur tubuhnya lebih kecil dan pendek di antara mereka.


Pria bernama Housen ini masih muda kira-kira seumuran dengan Freiss. Sedari tadi ia hanya menyimak akan apa yang diobrolkan oleh para pengajar lain di tempat ini, dan satu hal lagi ekspresinya terlihat serius dari tadi dan membuat sebagian kecil yang melihatnya mungkin merasa salah tingkah.


"...." Pria berpenampilan biasa dengan postur tubuh yang lebih kecil itu tidak mengatakan apapun, nampaknya memang ia ini tidak begitu mau berkomentar saat ini. Dan perlu diingat lagi, dia adalah salah satu pengajar murid tingkat akhir di akademi.


"Ahaha ... ha...." Joseph melanjutkan tawanya yang sama sekali tidak diperlukan hanya demi mengusir keheningan yang sementara terjadi saat ini.


"Freiss, kita banyak menyeleksi siapa saja yang layak untuk menjadi murid tingkat akhir. Apakah kau sudah kebal melihat ekspresi mereka yang menyedihkan itu?" Joseph menatap Freiss yang terdiam, ia menanyakan hal yang biasa terjadi setiap tahun dan menanyakan bagaimana pendapat perempuan itu.


Apa yang dimaksud oleh Joseph itu adalah sederhana adanya, di setiap tahun setiap murid yang tidak bisa lolos tes ini maka akan merasakan sedih yang bukan main-main, mengingat impiannya harus tertunda atau bahkan tidak sediikit di antara mereka juga menyerah dan memilih jalan lain.


"Jika takdir tidak memilih mereka maka apa lagi yang bisa diperbuat?" jawab Freiss dengan nada yang cukup serius, sebagai ahli sihir ia tidak memikirkan hal ini dalam-dalam dan memberikan jawaban yang sederhana seperti ini.


Mungkin jawabannya ini terdengar kejam bagi kita yang mendengarnya, tapi yang Freiss coba sampaikan adalah bahwa memang untuk menjadi seorang ahli sihir dibutuhkan lebih dari sekedar kemampuan saja.


"Kalau begitu bagaimana dengan pertarungan si gadis yang memakai serangan bunuh diri itu?" tanya Joseph dengan serius, kini ia ingin mendengarkan pendapat para pengajar yang lain mengenai hal ini.


"....'" Freiss terdiam, tiba saatnya juga ia dan rekannya mendiskusikan hal ini dan tentunya membicarakan hal ini bukanlah hal yang mudah juga.


Mengingat hasil akhir yang terjadi di luar perkiraan mereka sebagai ahli sihir sekaligus pengajar murid tingkat akhir.


Freiss masih terdiam memikirkan pendapat apa yang tepat mengenai pertarungan antara Feronica dan Yelena sebelumnya.


"Sederhana saja ... mereka berdua gagal." Tanpa bisa diduga siapapun, Housen membuka mulutnya. Suaranya terdengar lembut seolah ia memang masih muda dan memang dia ini masih muda juga sih.


"Hmmm." Joseph meragukan pendapat rekannya itu, menurutnya akan mudah menilai di satu sisi sementara di sisi lain padahal sama pentingnya untuk diperhatikan.


"Mereka berdua sama-sama tidak bisa melepaskan diri dan harus dihentika. Tidak satupun diantara mereka yang menang." Housen mulai berargumen dengan serius, naluri ketegasannya sebagai pengajar sihir mulai terasa.


Tidak ada yang salah dengan pendapatnya itu. Freiss juga sempat memikirkan hal ini namun jika dipikir lebih lanjut memang benar kata Joseph, tidak sesederhana itu.


"Hmmmm....." Joseph sedikit mengerang, dalam nadanya itu ia memang meragukan apa yang menjadi pendapat rekannya itu dan dengan begini berarti ia memang tidak sependapat dengannya.


"Dalam pertarungan tidak tertulis harus ada satu pemenang saja. Dan juga tidak tertulis harus ada yang kalah." Setelah beberapa saat Freiss akhirnya menyatakan pendapatnya juga.

__ADS_1


Freiss bersiap mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Yelena, murid berbakat dari kelas 3A menunjukkan aura sihir yang hebat, bahkan aku sudah berpikir pertarungan tadi akan berat sebelah, namun aku salah."


"Feronica yang sudah kuperkirakan akan kalah dengan mudah malah bisa menekan lawannya meski harus merugikan dirinya sendiri."


"Bukankah itu membuktikan strategi yang baik juga bisa melawan situasi yang sulit?"


"Kalau ia tidak melancarkan serangan itu. Sudah pasti dia akan gagal di sini...."


"Tapi pada kenyatannya tidak begitu...."


Perkataan Freiss terhenti sebentar, raut wajah Housen malah terlihat lebih serius dari sebelumnya, sepertinya dia ini memang beda pendapat dari awal.


"Kau bilang serangan bunuh diri adalah strategi yang baik?! Bagaimana mungkin serangan yang berbalik ke diri sendiri itu baik?!" Housen mendekati Freiss, menyebarkan tekanan yang cukup membuat situasi di area ruang guru jadi memanas.


"He- hei, tahan dirimu, kita sedang berdiskusi." Joseph berusaha untuk mencairkan suasana, sementara ia sendiri mulai melihat Housen dan Freiss mulai bertatapan serius satu dengan yang lainnya.


Perbedaan pendapat kerap mengundang keributan, dan itulah yang sekarang terjadi diantara para guru ini.


"Aku tahu, tapi apa kau lihat apa serangan yang dipakainya itu?" Freiss menahan nada bicaranya agar tidak terlalu tinggi.


Ia sedikit terbawa emosi karena perkataan rekannya itu.


Housen terdiam, raut wajahnya masih serius dan terlihat kesal karena melihat pendapat rekan-rekannya itu berbeda dengannya.


"Kekuatan sihir tanah: Perubahan Tempat adalah sihir tingkat menengah, hampir menyamai tingkat tinggi. Kenapa dia bisa mengeluarkan sihir jenis ini?" Joseph akhirnya mengutakan apa yang dipikirkannya. Ia akhirnya sadar setelah sempat mengabaikan apa yang dilihatnya mengingat ia sendiri memang terlalu terbawa suasana saat pertarungan berlangsung.


"Sihir tingkat menengah wajar untuk dikuasai murid tingkat akhir. Kenapa kalian menurunkan standar akademi?" Housen bersikeras menyatakan pendapatnya itu. Itu membuat Freiss harus lebih melakukan usaha lagi agar tidak terbawa suasana.


"Dengan aura sihir miliknya? Terlihat mustahil bagiku." Freiss menjawabnya pendek.


"Benar! Apa yang dikatakannya ini memang benar!" Joseph malah kini semakin sadar akan apa yang dibicarakan Freiss, gadis bernama Feronica yang bertarung tadi seharusnya tidak bisa menggunakan sihir jenis itu ketika dalam kondisi kekuatannya saat itu.


Namun yang terjadi ia mampu untuk melakukannya. Ini membuat Housen terdiam untuk berpikir, ia tidak bisa menyangkal apa yang dikatakan oleh Freiss adalah benar adanya.


"Gadis bernama Feronica itu mengeluarkan sihir yang cukup berat, melakukannya saja sudah risiko yang besar dan ia tetap melakukannya demi mencegah kekalahannya." Freiss kembali menjelaskan.


"Di sisi lain Yelena bisa saja mengalahkan Feronica dengan cepat jika saja ia tidak terlambat mengantisipasi serangan lawannya itu.


Freiss menjelaskan pendapatnya itu dari dua sisi, hingga akhirnya tidak berat sebelah dan membuat kedua rekan lainnya bisa mencerna apa yang dikatakannya.


"...." Pada akhirnya Housen dan Joseph terdiam, sepertinya mereka berdua mulai bisa memahami pendapat Freiss dengan lebih baik.


"Karena itulah tenanlah dulu, pikirkan lagi akan pertarungan mereka tadi. Lalu kita buat keputusan akhirnya." Freiss kemudian melanjutkan diskusi antar pengajar di ruangan guru.


Untuk beberapa saat selanjutnya diskusi terus berlangsung, kini suasana antar mereka lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


Housen juga tidak lagi berbicara dengan nada tinggi karena memang ia akhirnya dapat memahami pendapat rekannya dengan baik. Dan Joseph malah terus setuju akan pendapat Freiss, bukan karena ikut-ikutan, namun karena ia memang benar-benar sepemahaman dengannya.


*


-Kembali ke ruangan pusat kesehatan, ruangan perawatan tempat Feronica terbaring, sore hari-


Feronica sadar ia tidak merasakan sakit yang berarti selain dari kelelahan yang dirasakannya ini, padahal sebelumnya ketika ia berada di tempat ini sudah past  ia merasakan dampak yang besar seperti rasa nyeri dan sakit yang sulit dijelaskan, namun kali ini ia merasakan hal yang berbeda.


'Hmm aneh tapi ya sudahlah....' Feronica akhirnya menerima kenyataan yang ada, sementara tiba-tiba tanda yang ada di wajahnya sedikit muncul tanpa disadarinya dan menghilang dengan cepat ketika seseorang membuka tirai ruangan tempat dirinya terbaring.


"Ah, Ibu Freiss?" Feronica yang masih duduk di kasurnya sedikit kaget melihat gurunya yang tiba-tiba mengunjunginya.


"Syukurlah kamu sudah sadar.." Freiss tersenyum kecil, ia merasa lega anak didiknya ternyata bisa sadar secepat ini terlepas dari luka yang dia terima saat bertarung sebelumnya.


"Ba- bagaimana dengan Yelena?" Feronica sekarang penasaran bagaimana kondisi Yelena sekarang, pada akhirnya ia malah teringat bagaimana ekspresi serius Yelena sementara mereka bertarung sebelumnya.


"Dia masih belum sadar...." Freiss mengatakan ini dengan pelan dan tenang. "Tapi jangan khawatir dia baik-baik saja kok," lanjutnya dengan cepat.


Feronica termenung, ia memang merasakan lelah yang cukup berarti namun tidak dengan rasa sakit meskipun seluruh tubuhnya dipenuhi perban.


Tapi bagaimana dengan Yelena? Feronica hanya bisa berharap Yelena bisa segera sadar dan pulih kembali kondisinya.


Untuk beberapa saat Feronica mengobrol berbagai macam hal dengan gurunya. Kini ia tahu Tes Kemampuan Sihir ternyata sudah selesai adanya, lebih cepat dari yang diperkirakannya hingga pada akhirnya gurunya ini bisa menyempatkan diri menjenguknya.


"Bagaimana hasilnya bu?" Feronica tidak sabar ingin tahu hasil pertarungannya itu.


Freiss terdiam, ia sendiri sudah mendiskusikan hal ini dengan para guru yang lain dan hasilnya muncul kesepakatan yang cukup unik.


"Hasil akhir akan diumumkan ketika kondisimu dan Yelena sudah lebih baik." Pada akhirnya Freiss mengatakan apa adanya, sebuah jawaban yang tidak terlalu memuaskan dan terkesan menggantung.


"Aah..." Feronica berusaha untuk mengerti dan sabar meskipun dalam benaknya sekarang muncul kemungkinan apa saja yang bisa saja terjadi akan hasil akhir pertarungannya itu.


'Yang penting aku sudah melakukan yang terbaik.'


Feronica mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlalu larut dengan pikirannya.


Tidak peduli hasil akhirnya, ia tetap masih bisa puas karena sudah melakukan apa yang dibisanya.


"Kalau begitu beristirahatlah sampai benar-benar pulih." Dengan begitu Freiss meninggalkan Feronica agar dia memiliki waktu untuk memulihkan tenaganya.


Begitu gurunya meninggalkan ruangan tersebut. Feronica menghela nafasnya karena belum percaya akan salah satu guru hebat mengunjunginya barusan.


'Astaga, Ibu Freiss benar-benar menawan. Benar kata orang-orang, beliau berkharisma dan ramah!'


'Apa aku ini orang sepenting itu sampai-sampai beliau mengunjungiku?!' Feronica tidak bisa menahan perasaan bangga dan senangnya itu.


Sementara sampai saat ini Feronica memang tidak menjadi murid yang menonjol yang akhirnya menjadi perhatian para guru.

__ADS_1


Dan sekarang idola banyak murid. Ibu Freiss menyempatkan diri untuk mengunjunginya, bukankah itu hal yang hebat?


__ADS_2