
Stephen termenung melihat bulan purnama yang begitu besar malam ini, tepat setelah ia mengantar Feronica ke rumahnya. Ia kembali ke tempat biasa, yaitu area bukit pekuburan Wolfden.
'Untunglah tidak ada pertumpahan darah tadi....' Stephen merasa lega karena kekhawatirannya ini tidak terjadi.
Pertarungan tadi mengingatkannya pada masa lalu, setelah sekian lama berlalu akhirnya ia merasakan kembali bagaimana adrenalinenya meningkat.
Tidak terlalu sulit baginya untuk beradaptasi dengan kemampuan yang sudah lama tidak dikeluarkannya itu, namun seiring dengan berjalannya ingatan masa lalunya itu, ada hal yang memang ingin ia hindari.
Soal tentang apa tanda merah di sekujur badan gadis itu dan pula darimana kekuatannya berasal masih menjadi pertanyaan, Stephen sebenarnya bisa saja menanyakannya langsung, namun akan lebih baik apabila memang pertanyaan itu terjawab dengan sendirinya.
Kini setelah mengetahui bagaimana perasaan Feronica dan apa yang telah dialaminya, sulit bagi Stephen untuk tidak bersimpati. Ia sudah melihat bagian yang tak terlihat di luar, dan dari sini Stephen mulai memikirkan rencana selanjutnya.
*
Di pagi hari berikutnya, kita tidak lagi berada di rumah Feronica, sekarang kita akan melihat bagaimana suasana kota Frost, sebuah kota besar yang letaknya cukup jauh dengan desa Wolfden.
Setelah kita berada di pedesaan cukup lama, maka sesekali ke kota dan melihat bagaimana kemajuan yang ada bukanlah hal yang buruk bukan?
Seperti kota besar pada umumnya, keadaan di Kota Frost pagi hari memang sudah cukup ramai, banyak bangunan yang cukup besar di sekitaran jalan kota dan tidak lupa juga toko dan pusat perbelanjaan yang siap memenuhi kebutuhan warganya di sana.
Di kota inilah tinggal orang tua dari Rossa Reiss dan Fredirica Reiss. William Reiss dan Cylene Reiss, sepasang ahli sihir yang terkenal dan memiliki kemampuan yang hebat.
Mereka berdua tinggal di rumah yang cukup mewah, di lokasi strategis di pusat kota itu, di hari ke hari kepadatan aktivitas mereka memang sudah tidak perlu ditanya lagi.
Kini kita melihat William sedang menatap jendela ruang tengah di lantai dua rumahnya, ia melihat pagi yang cukup cerah dan damai di kota ini, namun ia memandang keluar dengan tatapan yang tidak biasa.
Seperti ada sesuatu yang dipikirkannya, begitulah cara untuk menjelaskannya dengan singkat, padat, dan jelas. Cylene hanya terpaku melihat keadaan di luar seolah memang ia hanya peduli dengan apa yang tengah dilakukannya sekarang.
"Ada apa?" William, suaminya datang menghampirinya karena sadar akan tingkah William sekarang.
"Ah, tidak ada, aku hanya khawatir soal putri kita di luar...." Cylene langsung menyebutkan alasan mengapa ia seperti terbebani pikiran, dan memang yang ada dalam pikirannya itu adalah kedua putrinya.
William sedikit tertunduk, sebagai ayah yang juga sedari kecil merawat dan memerhatikannya, ia bisa merasakan perasaan isterinya itu, naluri sebagai ayah yang ingin bertemu dengan anaknya juga.
"Kita bisa mengunjunginya...." kata William pelan, mengajukan solusi akan masalah yang sedang dialami isterinya itu.
Namun Cylene hanya terdiam mendengar hal itu, sedang pandangannya masih tertuju ke luar.
"Aku tidak bisa...." Nada suaranya terdengar berat setelah diam beberapa saat, sorot matanya terlihat layu dan tidak bersemangat.
__ADS_1
Tidak peduli secerah dan secerah apapun di luar namun tetap tidak membuat perasaan Cylene jadi lebih baik, ini adalah masalah hatinya.
William terdiam pula, ia sendiri telah mengatakan solusi pamungkas yang bisa mengatasi masalah keduanya tapi isterinya itu tak kunjung setuju juga dengan usulannya.
"Mereka pasti aman dengan para pengasuh khusus kita, jangan terlalu dipikirkan...." William akhirnya mencoba cara lain untuk menenangkan isterinya.
Namun perkataannya itu tidak serta merta langsung membuat keadaan Cylene terhibur. Mungkin memang alasan se-umum itu kurang cukup meyakinkan baginya.
Cylene masih saja memandang ke luar dengan tatapan khawatir yang tidak bisa terucapkan dengan kata-kata, ia memang mendengar usulan dari suaminya namun tidak begitu bisa menerimanya.
William tidak berhenti mencari cara agar isterinya itu tidak dirundung kesedihan berlebih. "Kalau begitu bagaimana kalau kita menulis surat lagi pada mereka?"
Cylene menatap William dengan perlahan. "Mereka bahkan tidak membalas...."
Memang benar, sejak akhir-akhir ini kedua putrinya itu tidak membalas lagi surat yang mereka kirimkan. William tahu benar akan hal ini namun masih berpikiran positif.
"Ayolah mereka sudah beranjak dewasa... wajar saja kalau mereka sibuk dengan kegiatan bukan? William menjawab dengan nada yang meyakinkan, padahal ia sendiri memang tidak tahu alasan pasti kedua putrinya itu tidak menjawab surat yang mereka kirimkan.
Tapi dengan berkata begitu William berharap memang itulah kenyataan yang ada dan bisa mengobati rasa khawatir yang sekarang dirasakan.
Cylene memikirkan ini, memang tidak dapat dipungkiri apa yang dikatakan suaminya itu memang benar, kedua putri mereka sebelumnya memang cukup rajin bertukar surat namun waktu terus berjalan dan tidak ada yang tetap sama.
"Aku yakin dia juga baik-baik saja, tenang saja... dia adalah gadis kuat...." William tersenyum kecil, mengatakan apa yang menjadi keyakinannya, dan setelah mendengar hal itu Cylene merasa lebih baik dan akhirnya menyetujui untuk kembali menulis surat pada putri mereka.
William melihat bagaimana isterinya menulis surat dengan penuh perasaan hatinya, ia juga tidak mau kalah dengan mengatakan berbagai ide dan pesan sebagai pengobat rindu pada kedua putrinya itu.
*
Setelah menulis dan mengirimkan surat, Cylene dan William keluar rumah untuk menjalani hari-hari mereka dengan segala kepadatan acara yang harus mereka jalani. Wajar saja untuk sekelas ahli sihir seperti mereka tentulah memang seperti ini adanya.
Di tengah perjalanannya menuju suatu acara William terpikir akan bagaimana kondisi makhluk yang ia segel belasan tahun sebelumnya, memang sejak penyegelan itu ia tidak pernah mengecek kembali ke tempat itu. Namun mengingat ia tidak atau setidaknya belum merasakan efek dari segelnya bereaksi, maka ia berkesimpulan makhluk itu masih tersegel.
William mempertimbangkan bilamana ia mengecek keadaan segel yang telah digunakannya itu, karena tidak menutup kemungkinan memang apa saja bisa terjadi di luar apa yang diketahuinya, namun untuk saat ini ia belum bisa melakukannya karena begitu padat aktifitasnya ini.
Dan memang bukan pertama kali William memikirkan tentang hal ini, namun seiring dengan berjalannya waktu memang ia belum sempat untuk merealisasikan rencananya itu.
Namun ia berharap dengan tak ada 'alarm' yang berbunyi dari segelnya itu menandakan bahwa semuanya baik-baik saja sekarang.
*
__ADS_1
Pagi menjelang siang di tempat yang berbeda, di mana lagi kalau bukan di Akademi Sihir Wolfden tempat Feronica menuntut ilmu? Kini Feronica sedang mengikuti pelajaran teori di kelasnya.
'Rossa dan Fredirica tidak ada....' Feronica sadar ketika meihat ke arah kedua bangku yang kosong di kelasnya itu, yang memang bangku kedua temannya.
Sontak Feronica teringat akan cerita Kak Stephen kemarin, akan bagaimana dirinya yang membuat kedua temannya itu jadi tidak masuk sekarang.
Memang sulit untuk memercayainya karena memang ingatan Feronica samar-samar mengenai hal ini, namun ia tidak bisa menyangkal fakta bahwa memang ia sudah mendengar kesaksian orang lain tentangnya. Jadi bukti kuat apa lagi yang bisa ia dapat?
Feronica sendiri yakin Kak Stephen tidak mengarang cerita ini, atau dalam kata lain berbohong padanya. Karena memang Feronica sendiri masuk ke dalam efek sihir dari Kak Stephen.
Tidak mungkin tanpa alasan yang jelas pemuda itu menggunakan teknik sihir padanya. Dan tidak lupa didukung dengan bagaimana ia yang kehilangan kesadaran setelah merasakan emosi yang memuncak ketika berhadapan dengan kedua rekannya kemarin.
Jadi bukti apa lagi yang bisa meyakinkannya tentang kejadian kemarin yang dilupakannya itu? Kita bahkan sampai bertanya dua kali tentang hal ini. Feronica jadi lebih yakin sekarang ada yang aneh dalam dirinya ini.
Entah apa itu karena memang baru pertama kali ia mengalami hal seperti itu. Yang ia tahu sekarang secara garis besar adalah dirinya yang terbawa emosi dan hampir-hampir kehilangan seluruh kesadarannya, namun untunglah ada pertolongan yang cepat tanggap dari Kak Stephen.
'Apa mungkin karena perasaanku?' Feronica mulai menduga tanda merah dengan cahaya yang ada pada dirinya itu bisa saja merupakan gambaran dari bagaimana perasaannya yang sebenarnya yang pada akhirnya membuatnya kehilangan kesadaran.
Jadi tanda merah itu apa sebenarnya? Bahkan ketika Feronica merasa baik-baik saja pun tanda itu bisa saja muncul tiba-tiba dan setelah emosinya meningkat tanda itu menguasainya dan bahkan membuatnya tidak sadarkan diri (dalam arti ia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya).
Tanpa disadari Feronica, Yelena yang duduk di depannya sedikit melirik ke belakang memperhatikannya dengan cepat dan detil, dengan pandangan yang sedikit penasaran akan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Feronica.
"Feronica!"
"Ya bu?!" Feronica segera berdiri ketika namanya dipanggil, membuyarkan apa yang ia pikirkan sebelumnya, Yelena yang tadi memerhatikannya pun kembali memerhatikan pelajaran sebagaimana mestinya.
"Coba bacakan buku teori ajar sihir halaman 32!"
"... ah ... tapi ...." Feronica segera mengambil buku ajar sihirnya, ia bisa sedikit tahu halaman yang dibukanya itu persis dengan perintah gurunya, namun sisanya alias isinya penuh dengan coretan dan juga robekan di sana-sini. Rasanya sulit baca apalagi dimengerti.
"Ada apa?!" Ibu Guru mulai curiga terhadap Feronica yang hanya tergugup dan berkata pelan, muridnya itu sama sekali tidak melakukan apa yang diperintahkannya.
Feronica sedikit tertunduk, mau dibaca sepatah atau dua patah kata saja mungkin bisa, namun percuma juga karena tidak akan membuat situasi sekarang lebih baik.
Kini Feronica hanya menghadapi dua kemungkinan, satu adalah ia dimarahi karena tidak melakukan perintah dan satu lagi ia dimarahi karena tidak melakukan perintah dengan serius.
Jadi pilihan terbaik apa yang bisa dilakukannya sekarang selain diam? Mau mengaku bukunya sudah tak tertolong lagi tidak akan membuat Ibu Guru jadi bersimpati dan malah bisa menjadi kemungkinan ketiga ia dimarahi.
"Bu biar saya saja yang bacakan...." Terdengar suara seorang pelan namun jelas terdengar, dia berdiri dan seketika itu Feronica hanya bisa menatap dengan mata yang lebar.
__ADS_1
'Yelena?'