Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 41: Memulai Kembali


__ADS_3

"Kamu adalah kuncinya." Stephen mengulang perkataan yang diucapkannya tadi dengan mata yang tertutup dan senyum yang lembut. Persis seperti orang yang mengucapkannya di manga.


Feronica memerhatikan betapa serius dan ramahnya pemuda yang bahkan belum ia kenal itu, namun meskipun begitu ia sama sekali tidak mengerti akan apa yang dikatakannya itu.


Bukannya pertanyaannya terjawab, jawaban dari pemuda yang bernama Stephen itu malah membuat pertanyaan yang lain saja. Seakan pemuda itu tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya. "Aku Stephen, salam kenal."


"A- ah, Feronica, salam kenal juga...." Feronica akhirnya menerima jabatan tangan pemuda itu, setelah terdiam karena tidak mengerti apa yang dikatakannya.


'Stephen? Nama yang unik, baru pertama kali aku mendengar nama seperti itu di desa.' Batinnya, Feronica akhirnya tahu ternyata memang dugaannya Stephen adalah pemuda yang berada di luar desa benar adanya.


Ia tidak pernah melihatnya di desa, bahkan Namanya pun tidak pernah terdengar sebelumnya, atas dasar itulah Feronica yakin akan hal ini.


"Apa maksudnya aku adalah kuncinya?" Feronica menatap serius Stephen yang masih tersenyum di sana. Berharap dapat jawaban yang bisa membuat rasa penasarannya terobati.


"Suatu saat kamu akan tahu." Stephen lagi-lagi mengelak dari pertanyaan Feronica. Membuat Feronica tidak bisa memaksa untuk tahu akan hal ini.


"Mulai sekarang, aku mohon bantuannya Feronica." Stephen sedikit membungkuk dan ketika hendak berbalik badan Stephen melihat sekelebat tanda api yang bercahaya di area mata kanannya persis seperti yang ia lihat sebelumnya.


"Itu...." Stephen memandanginya dengan teliti untuk memastikan apa yang dilihatnya, sementara dalam hatinya ia memang yakin ia pernah melihat tanda itu sebelumnya.


Tanda api yang bercahaya pada area bagian mata kanannya itu persis dengan sosok pria yang ia lihat sebelum ia tersegel di peti mati besar, ingatan ini tetap ada meskipun ia sudah tersegel dalam jangka waktu yang lama.


Sebelumnya, energi sihir yang terpancar dari gadis ini sudah cukup membuat Stephen yakin bahwa dia bukanlah gadis biasa, dan kini tanda yang ia lihat sudah cukup membuktikan bahwa memang dugaannya ini benar adanya.


"Ada apa?" Tanda api bercahaya pada area mata kanan Feronica dengan cepat menghilang, Dan Stephen malah memandanginya terus-menerus sembari meneguhkan keyakinannya itu.


"Ah, tidak ... kalau begitu sampai berjumpa lagi." Untuk kali ini Stephen benar-benar berbalik badan dan kemudian pergi dari area itu.


Ia meninggalkan Feronica yang masih keheranan akan banyaknya pertanyaan yang ada padanya saat ini.


"Astaga mengapa dia seperti menyembunyikan sesuatu?" Feronica agak gemas karena rasa penasarannya tidak kunjung reda juga, namun di sisi lain jika mengesampingkan fakta bahwa kemunculan pemuda yang sama yang pernah ditemuinya di di area pekuburan ini membuat nyawanya terselamatkan.


Bagaimana tidak? Apa yang bisa terjadi jika Stephen tidak muncul di sini dan serangan gabungan mengenainya dengan telak? Memikirkan hal ini membuat bulu kuduk berdiri saja, dan impiannya bisa berakhir di sini dengan tragis.


"Mengapa Rossa dan Fredirica begitu akhir-akhir ini ya?" Feronica merenung sejenak di malam yang kian beranjak dan udara yang terasa semakin dingin.


Feronica masih tidak percaya kedua temannya melakukan hal seperti ini padanya. Feronica selama ini selalu menuruti apa yang dikatakan oleh mereka berdua, namun permintaan mereka akhir-akhir ini? Bukankah terlalu berlebihan adanya?


"APA MEREKA INGIN MEMBUNUHKU YA?!" Feronica berteriak kencang sembari menghentakkan kakinya geram akan apa yang tadi terjadi. Ia yang tadinya antusias untuk beradu kekuatan malah harus dipermalukan dan bahkan nyawanya sendiri terancam akan hal itu.


Pada akhirnya keyakinan dan rasa percaya dirinya itu hanya bertahan sebentar saja, kenyataan yang keras pada akhirnya terlihat juga di sini.


'Aku masih tidak percaya Rossa dan Fredirica bisa melakukan sihir gabungan, serangannya begitu kuat dan jika saja kami tidak bertarung di area lapang khusus maka tidak bisa dibayangkan kerusakan yang terjadi akibat kekuatan yang begitu hebat ini.

__ADS_1


Pada akhirnya Feronica tidak mau berlama-lama memikirkan hal ini, Ia melangkahkan kakinya keluar area lapang khusus dan tepat ketika ia di luar, area lapang khusus yang tadinya berlubang besar disertai berbagai macam kerusakan yang parah berangsur-angsur kembali normal seperti sedia kala.


Feronica mengesampingkan pertanyaan yang memang masih ada dalam benaknya saat ini, ia seharusnya memikirkan alasan apa yang tepat ketika sampai di rumah, mengingat sama sekali belum memberi kabar apapun pada ibunya.


*


-Di malam yang sama, di meja makan rumah keluarga Elisabeth-


"Kamu bertarung dengan siswa lain?" Setelah makan malam, Elisabeth langsung bertanya pada intinya karena ingin tahu alasan lebih jelas mengapa putrinya bisa telat pulang ke rumah.


Feronica memang sebelumnya sudah menjelaskan hal ini sekilas ketika pertama kali datang ke rumah, benar saja dugaannya ibunya memang khawatir dan pada akhirnya sekarang ibunya butuh penjelasan lebih dari apa yang sebelumnya ia katakana.


"Ah lebih tepatnya berlatih," jawab Feronica sembari minum air putih, entah mengapa ia merasakan dahaga yang lebih kuat ketimbang hari-hari biasanya.


Gluk ... Gluk....


Mungkinkah itu karena ia menggunakan sebagian besar kekuatannya saat bertarung tadi? Bisa jadi seperti itu adanya. Namun tubuh Feronica tidak terasa begitu lemas dan masih punya waktu untuk berdiam diri sebelum akhirnya beristirahat, inilah kesempatan untuk bertanya sesuatu pada ibunya. Akan siapa sebenarnya pria yang telah menyelamatkannya sewaktu dulu.


"Bu, ibu kenal dengan seseorang yang bernama Stephen?" Feronica menatap ibunya dengan serius, karena memang ibunya pernah menyinggung soal ini.


"Dia pemuda yang ibu ceritakan dahulu. Kamu bertemu dengannya?" jawab Elisabeth sembari menanyakan pertanyaan selanjutnya.


"Ah iya bu, aku bertemu dengannya. Apa dia itu orang luar desa bu?" Feronica berusaha mencari informasi karena memang ini akan membantunya untuk lebih mengerti siapa sebenarnya Stephen ini.


"Apa ibu punya hubungan khusus dengannya? Barangkali dia adalah kenalan jauh atau saudara kita?" Feronica ingin tahu lebih jelas lagi akan hal ini, ada kemungkinan Stephen adalah pemuda yang secara tidak langsung memang mengetahui keluarga kecilnya di desa Wolfden ini.


"Saat dia menolongmu, itulah kali pertama ibu bertemu dengannya."


Feronica terdiam, ternyata memang Stephen tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarganya. Dari sini Feronica yakin Stephen itu memang pendatang dari luar yang secara tak sengaja bertemu dengannya di desa ini akhir-akhir ini.


Entah apa tujuannya yang sebenarnya namun yang pasti dia selalu hadir di saat Feronica membutuhkan bantuan. Tepat di saat ia tidak sadarkan diri di area pekuburan dan lagi ketika kedua temannya mendesaknya dengan berat.


Di waktu yang krusial itu, Stephen muncul tepat di sana. Feronica tidak tahu bagaimana bisa dan pula asalannya menolongnya.


Aura yang terpancar darinya pun memang tidak biasa adanya, terkesan tenang namun dalam seolah-olah tidak ada tolak ukur yang bisa menentukan seberapa besar kekuatan yang dimilikinya itu.


Feronica memang belum pernah merasakan aura seperti itu dari kebanyakan orang yang ia temui. Hal inilah yang membuat Feronica ingin lebih tahu lebih lanjut mengenai pemuda itu.


Namun tidak ada gunanya memikirkan semua teori yang belum tentu benar ini. Pada akhirnya Feronica harus membuktikannya sendiri di lapangan.


"Huaah...." Feronica tidak bisa menahan rasa kantuknya itu, tubuhnya ingin segera beristirahat setelah semua yang terjadi hari ini.


"Istirahatlah, hari besok tidak bisa menunggu seorang putri yang tidur pulas." Elisabeth beranjak dari kursinya sembari membereskan meja makan mereka.

__ADS_1


Feronica hanya tersenyum dan ikut membantu membereskan piring dan mencuci beberapa perabotan rumah kemudian masuk ke kamarnya sendiri.


Sekilas sebelum menutup pintu Feronica sedikit melirik ke arah meja jahit. Seperti biasanya setelah hari yang melelahkan, ibunya tetap bekerja tidak peduli waktu yang ada.


Feronica merenung, ia tahu semuanya itu dikerjakan dengan tulus hati oleh ibunya demi dirinya agar bisa terus menuntut ilmu di Akademi Sihir Wolfden, sekolah sihir ternama yang mencetak banyak ahli sihir berbakat di sana.


Ingatannya ketika kecil kini mulai terbayang, akan betapa besar jasa ibu padanya, bahkan dalam keadaan yang terbatas sekalipun tidak menghalanginya untuk menjembatani Feronica untuk mengejar mimpinya sendiri.


Menjadi seorang ahli sihir bukanlah perkara yang mudah, dibutuhkan lebih dari sekedar usaha keras untuk mencapainya. Banyak orang yang bermimpi sama, namun tidak semua sampai di tujuan yang mereka harapkan.


Ahli sihir sudah terasah dalam segala bidang, mereka adalah yang terhebat dan yang berpengaruh di kehidupan sosial, sederhananya mereka adalah orang-orang hebat.


Mereka tidak dipilih namun memilih untuk mengabdi dan mendedikasikan dirinya untuk orang banyak, mereka adalah idola dan jadi panutan bagi yang lain.


Perlahan namun pasti, sedikit air mulai terkumpul di pelupuk matanya, Feronica tahu betapa besar perjuangan ibu untuknya, namun di saat-saat tahun terakhirnya ia masih belum bisa untuk menunjukkan apa yang telah dipelajarinya selama ini.


Ia tidak bisa berbangga memperlihatkan nilai hasil ujian teori dan materi sihir yang bagus karena memang ada banyak hal yang masih belum di pahaminya.


Ia tidak mampu untuk menceritakan akan bagaimana pengalamannya lulus Tes Kemampuan Sihir dan maju ke tahap selanjutnya tanpa harus mengulang lagi.


Rasanya ia tidak bisa membalas usaha ibunya dengan cara yang telah dipikirkannya selama ini. Kenyataan yang terjadi malahan berbeda jauh dari apa yang ia harapkan.


Namun Feronica tidak pernah mendengar ibunya mengeluh ataupun mengatakan sesuatu yang melemahkannya. Ibunya tetap mendukung dengan caranya sendiri dan tetap seperti itu adanya.


Kini tanpa terasa hatinya mulai terasa sesak, tidak terima akan kenyataan, dan Feronica mulai terpikir akan hal yang tidak terpikirkan sebelumnya.


Apa tujuannya yang sebenarnya? Apa yang telah ia lakukan untuk mencapai tujuannya ini? Apakah usahanya ini sepadan dengan hasil yang telah ada?


Feronica kini sadar, ia memang tidak bisa hidup dalam harapan dan membohongi dirinya sendiri. Pada akhirnya yang bisa dilakukannya hanyalah berusaha lebih keras disbanding dengan sebelumnya.


Bagian diri yang menyalahkannya memang masih terus berbicara, namun Feronica tahu ia tidak bisa terus mendengar keputusasaan itu. Tidak ada yang bisa mengubah suatu hal kecuali dengan keyakinan, tekad dan pula usaha.


Feronica menguatkan hatinya, mengusap perlahan air dari pelupuk matanya dan kemudian menutup pintu kamarnya.


'Aku pasti menjadi ahli sihir yang hebat dan membuat ibu bangga.'


*


-Beberapa hari kemudian, pagi hari di sekolah sebelum Ujian Ulang Tes Kemampuan Sihir-


Tanpa terasa hari demi hari berlalu, Feronica menjalani hari-harinya dengan belajar dan pula memanfaatkan waktu luangnya untuk mengasah kemampuan fisik dan juga sihir.


Dan pada akhirnya tiba juga saat di mana ia akan mengulang kembali Tes Kemampuan Sihir yang akan menentukan apakah ia bia maju ke tahap selanjutnya ataukah tidak.

__ADS_1


'Aku pasti bisa!' Feronica menyemangati dirinya sendiri di tengah kerumunan siswa yang kini dikumpulkan, murid-murid lain yang sama sepertinya berusaha mengejar kemenangan di tes susulan ini.


__ADS_2