Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 60: Sadar Dan Menerima


__ADS_3

"Khhhh...." Feronica menggeram kembali, kini matanya tertutup dengan alis yang menurun tajam. Raut wajahnya terlihat lebih serius daripada sebelumnya.


Dari sini Stephen tahu kekuatan pengendali pikirannya ternyata berhasil sebagaimana mestinya.


Perlahan namun pasti aura kekuatan Feronica mulai menurun dan kembali normal, diiringi dengan menghilangnya tanda merah yang menyala di sekitaran wajah dan bahkan seluruh badannya.


"Hhh... Haaah ...." Stephen terlihat terengah-engah. Untuk menarik nafas rasanya berat, namun ia tetap harus bernafas agar tetap hidup.


'Untuk masuk ke dalam pikiran orang memang mudah ... tapi kali ini ...." Stephen tidak menyangka begitu besar kekuatan yang harus dikeluarkannya demi mengerti perasaan yang sedang dialami gadis ini.


Stephen baru tahu, gadis ini menutup rapat-rapat perasaannya bahkan sampai tidak lagi terlihat ke luar Ini Membuktikan bagaimana pintarnya Feronica menyembunyikan perasaannya sendiri, yang dimana tidak semua orang bisa melakukan hal yang sama.


Stephen masih mengatur pernafasannya sekarang. Baru kali ini ia merasakan lelah yang seperti ini setelah sekian lama berlalu.


Memang teknik ini terlihat sepele, namun sebenarnya cukup ampuh untuk mengatasi masalah. Buktinya adalah kini memang berhasil adanya.


Stephen merasa lega karena Feronica akhirnya bisa kembali sadar setelah ia menggunakan cara ini, karena memang apa lagi cara yang bisa digunakannya?


Cara lain yang bisa digunakan tentulah dengan melawannya lebih jauh lagi yang akan membuat dampak buruk yang sama juga pada seorang yang ia coba tolong ini.


Stephen tidak mau jika usahanya itu hanya akan membuat Feronica lebih kesusahan lagi, maka dari itu sekali lagi ia memang merasa lega, kini ia tidak perlu khawatir akan cara apa lagi yang bisa digunakannya demi menolong gadis ini.


"HAH!" Feronica membuka matanya, mengejutkan siapapun yang saat ini tengah melihatnya. Kecuali Stephen yang masih sedang berpegangan tangan dengannya sekarang (dalam rangka adu kekuatan yang terjadi sebelumnya).


"Kak...." Feronica melihat seorang pemuda yang belum lama dikenalnya itu tengah terengah-engah dan bahkan sesekali terbatuk. Tak lupa ia melihat sekilas juga kondisi di sekitarnya, namun ia tidak bisa melihat apapun selain ruangan serba putih.

__ADS_1


Feronica berusaha untuk tidak terkut meskipun memang ia sudah terkejut dari awal, ia heran mengapa bisa berakhir di tempat seperti ini dengan Kak Stephen, di tambah lagi mereka saling berpegangan tangan, Feronica bisa merasakan tangan kakak ini sedikit berkeringat.


Kini Feronica hanya bisa memandang Stephen yang kini memang masih mengambil waktu untuk mengambil nafas. Sedang ia memang punya banyak pertanyaan dalam hatinya, ia berusaha untuk tidak menganggu seorang yang sedang terlihat kelelahan ini.


Feronica merasakan genggaman tangan Stephen mengendur perlahan dan akhirnya melepaskan tangannya.


"Kak apa yang terjadi?" Feronica langsung pada inti dari segala inti, ia tidak begitu mengingat apa yang terjadi sebelumnya. Maka dari itu ia bertanya padanya.


Stephen tersenyum kecil, raut kelelahan yang terlihat dari dirinya itu belum sepenuhnya menghilang. "Aahaha...." Stephen malah bingung harus menjawab apa akan pertanyaan gadis yang dihadapannya ini.


"Hmmm...." Feronica melihat Kak Stephen memang sepertinya enggan menjawab pertanyaannya itu yang pada akhirnya ia berusaha mengingat apa yang sebelumnya terjadi.


"Ah ...." Tak butuh waktu lama, ada bola lampu bersinar di kepala Feronica (hanya kiasan saja) yang menandakan ia sepertinya sudah mendapat jawaban akan pertanyaannya itu.


"Aku hanya ingin ngobrol saja... sepertinya kita tidak banyak bicara akhir-akhir ini 'kan?" jawab Stephen dengan nada yang rendah, nada bicaranya pun tidak bisa menyembunyikan keadaannya saat ini.


Feronica terdiam, entah mengapa ia merasa seperti ada yang disembunyikan oleh Kak Stephen. Apa hanya ini yang ia ingat?


Feronica langsung tidak setuju dengan pikirannya itu, jelas-jelas ia tadi sedang berada di ruangan penjara aneh dan ada suara aneh serta suara kak Stephen, tentulah ituh ada sebabnya bukan?


Sesuatu yang berkaitan dengan perasaan. Feronica memegang dadanya, rasanya memang ada sesuatu yang menunggu untuk dikeluarkan, namun karena suatu alasan ia tidak jadi melakukannya.


Stephen tahu ia memang tidak bisa menyembunyikan kebenaran dari gadis ini, terlebih lagi ia memang sedang mencari kebenaran versi-nya. Jadi Stephen akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan semua padanya.


"Feronica, aku tidak akan memaksamu untuk mengerti. Ada hal yang harus kamu ketahui...." Stephen memulai pembicaraannya, Feronica sedikit terlihat serius ketika mendengar hal ini. Dan Stephen akhirnya menjelaskan apa yang terjadi dari awal, dengan ringkas, jelas, dan mudah dimengerti.

__ADS_1


"... Apa?" Feronica terdiam ketika selesai mendengarkan penjelasan itu. Ia tidak menyangka apa yang terjadi padanya sungguhlah mengejutkan.


"Tanda aneh itu muncul kembali?" Feronica menelan ludahnya sendiri. Ia yang tidak begitu tahu tanda apa itu kini hanya bisa was-was sesudah mendengar cerita itu.


"Tepat saat kamu menyerang kedua temanmu...." Stephen lagi-lagi tidak keberatan menekankan poin penting yang terjadi tadi, demi menyakinkan Feronica sampai ke titik maksimal.


Feronica hanya bisa menatap ke bawah, sorot matanya melebar tidak percaya dengan apa yang yang terjadi padanya. Memang ia sendiri tidak bisa membohongi perasaannya ketika berhadapan dengan Fredirica dan Rossa.


"Beberapa hari terakhir memang terasa berbeda, dan akhirnya aku meluapkan semuanya pada mereka berdua...." Feronica mengakui hal ini, soal emosi memang siapa yang bisa mengetahuinya selain diri sendiri? Begitu banyak kejadian yang terjadi yang membuatnya lelah secara fisik dan mental.


Maka dari itu ia berpikir, mungkin saja tidak ada salahnya untuk jujur pada diri sendiri dan bersikap sebagaimana yang ia mau. Yang pada akhirnya hanya membawanya pada perasaan masa lalunya.


Perasaan yang tersembunyi dan diabaikannya pada akhirnya meluap, menciptakan suara-suara aneh yang ia dengar sebelumnya. Feronica lagi-lagi tidak bisa terus mengabaikan perasaannya karena mungkin saja suatu saat bisa meluap kembali.


Tapi berkat bantuan Kak Stephen ia kini tidak lagi dikuasai dengan perasannya yang dulu itu, yang ternyata membuatnya jadi seorang yang berbeda, bahkan tidak bisa mengendalikan dirinya yang berujung membahayakan orang lain.


Stephen sendiri terdiam. Ia memang tidak bisa lebih bersimpati dengan mengatakan 'aku mengerti' karena memang pada kenyataannya ia yang sudah merasakan sebagian kecil emosi gadis itu merasa apa yang terjadi padanya sungguhlah sulit dinilai satu sisi.


Stephen tidak tahu seberapa besar kesabaran yang dimiliki olehnya, atau seberapa pintar ia menyembunyikan perasaannya itu, namun yang pasti Stephen merasa Feronica adalah gadis yang hebat karena bisa melalui berbagai macam hal yang ada dalam hidupnya dengan apa adanya.


"Ahaha, apa yang dikatakan mereka memang benar. Aku adalah monster yang bertindak semaunya sendiri...." Feronica hanya bisa tersenyum kecil mengerti dengan apa yang ia dengar sebelumnya.


Stephen melihat senyum tulus Feronica, sebuah ekpresi yang menandakan ia telah menerima perasaannya dengan cara lain, bukan dengan meluapkannya sekaligus seperti yang hendak terjadi tadi.


Sebuah senyum penuh kesadaran yang mengundang kesedihan. Begitulah kini Feronica terlihat.

__ADS_1


__ADS_2