
Gerbang sekolah sudah ada di hadapan mereka saat ini, terbuka lebar bagi siapapun yang ingin masuk ke dalam. Feronica melihat sekeliling dan merasa ada yang berbeda di sini.
"Kemana murid yang lain?" Feronica menatap Jack heran. Ia pikir akan langsung bertemu dengan wajah-wajah siswa-siswi lain sesampainya di sini.
Karena memang biasanya pagi pun sudah ramai di akademi. Dengan ketiadaan murid lain tentu saja membuat Feronica bertanya-tanya.
"Ah, pihak sekolah menunda dulu pembelajaran sampai pemberitahuan lebih lanjut." jelas Jack.
"Ah...." Feronica baru mendengar soal ini. Tuan Jack tidak mengatakan ini dari awal juga sih.
Jarang sekali Akademi Wolfden meniadakan kelas, kecuali libur musiman. Selain hari itu Feronica tahu rasanya harus tetap belajar di Akademi tidak peduli akan kondisi apapun.
Karena kehadiran sangat berpengaruh di Akademi yang berkelas seperti ini, berhubungan langsung dengan nilai teori dan juga praktik.
Jika ada murid yang punya nilai bagus dalam teori dan praktik namun kehadirannya tidak bagus. Maka sia-sia juga kedua hal yang diunggulkan darinya.
Para murid akademi dituntut untuk selalu hadir, seminggu penuh. Tidak ada akhir pekan santai untuk seorang yang belajar sihir. Satu hari tidak belajar di akademi maka itu akan membuat perbedaan satu dengan yang lain.
Para murid tidak bisa memakai standar mereka masing-masing. Jika soal mengasah ilmu dan kemampuan, hanya ada dua pilihan. Belajar dengan serius atau tidak belajar sama sekali.
Maka dari itu Feronica selalu berusaha hadir di kelasnya, semuanya itu demi mimpinya sendiri. Menjadi ahli sihir yang hebat. Dan tidak hanya ia seorang diri yang ingin mencapai tujuan itu.
Ia tahu akan keterbatasannya soal ilmu sihir teori dan praktik, namun tetap ada hal lain yang dinilai, yaitu kehadirannya sendiri. Feronica jadi paham betapa ketatnya persaingan untuk jadi yang terbaik di sini.
Jika pihak akademi sampai meniadakan kelas, maka tentu ada alasan dibalik ini bukan? Feronica terpikir satu kemungkinan yang bisa terjadi di sini....
'Apa ada hubungannya dengan kejadian kemarin ?"
*
"Permisi...." Tangan kanan Feronica meraih pegangan pintu ruangan yang besar dengan tangan kanannya, dan memberikan tenaga, di saat yang bersamaan perlahan pintu besar itu bergeser dan ia pun berjalan masuk ke dalam.
Feronica memegang dadanya sebentar, ia bisa merasa dadanya berdegup kencang sekarang. Entah apa alasannya. Mungkinkah ia grogi karena berada di ruangan orang-orang hebat? Ataukah ada alasan lain?
Perasaan tegang masih ada dalam dirinya, dan mengetahui bahwa dirinya sendiri yang dipanggil membuat perasaannya itu tidak lebih baik.
__ADS_1
Mungkin akan terasa lebih enak jika ada murid-murid lain di sini. Meski sebagian besar tak ia kenal, namun setidaknya ia bisa merasa tidak benar-benar sendirian di sini (di antara orang dewasa yang ada).
Sebelumnya ia pikir sudah benar-benar putus hubungan dengan sekolah. Dan tidak ada lagi apapun menyangkutnya soal sekolah.
Namun ternyata tidak seperti itu adanya, bahkan di hari yang sama ia mendapatkan kabar buruk itu, di saat itulah ia terpanggil untuk melakukan sesuatu.
Feronica hanya menuruti apa kata hatinya. Maka dari itu tidak peduli ia masih jadi murid atau bukan.
Apa keputusannya ini adalah hal yang baik? Ataukah....
Bola mata coklat gadis itu bergulir melihat ke sekitaran ruangan yang didatanginya ini, dan ia langsung sadar, tidak terlalu ramai di sini. Hanya ada beberapa orang saja yang sepertinya guru akademi....
Dengan sedikitnya orang yang ada di tempat ini. Feronica jadi bisa merasakan luasnya ruangan khusus guru di akademi.
'Apa mungkin para guru juga tidak semuanya masuk?'
Belum lama sejak Feronica terakhir kali ke tempat ini. Namun meski punya pengalaman masuk ke tempat ini, tidak dapat mengurangi rasa tegang yang sedang ia alami ini.
'Lalu aku harus kemana?' Feronica terdiam di tempat, memerhatikan dahulu siapa yang ada di sini, dan sejauh dari pengamatannya, ia tidak pernah berinteraksi dengan siapapun di sini.
Rasanya untuk melangkahkan kaki dan bertanya adalah hal yang cukup berat untuk dilakukan.
Pasalnya Feronica bisa melihat bagaimana seriusnya para guru yang tak dikenalnya sedang melakukan urusan masing-masing. Bisa dibayangkan bagaimana ketika harus mengganggu urusan seorang yang hebat, begitulah Feronica merasakannya.
"Feronica...." Terdengar suara pria di belakangnya.
"Y-ya?!" Feronica berbalik badan dan melihat siapa yang berbicara padanya. Dan sedikit terkaget akan siapa yang menyapanya itu.
"Tuan Housen?" Seperti biasa Feronica tidak merasakan hawa kehadiran yang kuat darinya. Dari awal pun seperti itu keadaannya.
"...." Feronica melihat bagaimana keadaan Tuan Housen sekarang, dan kelihatannya tidak terlalu baik untuknya sekarang.
Wajahnya terlihat sayu dan lemas, dan dia memakai baju putih lengan panjang dan juga celana putihpanjang, pakaian yang sama yang biasa dikenakan ketika berada di ruangan perawatan pusat kesehatan.
Dari penampilannya yang seperti ini Feronica menduga Tuan Housen belum sepenuhnya pulih akan kejadian yang kemarin.
__ADS_1
Namun dalam waktu yang singkat pula Feronica bisa melihat perubahan raut wajah yang terlihat jelas, dibalik pandangannya yang tidak setajam dahulu, namun Feronica bisa melihat ada maksud yang ingin disampaikan dari sorot matanya itu.
"...." Feronica terdiam sejenak, dan kemudian mengabaikan rasa tegangnya. "Apa Tuan memanggil saya?"
*
SSSSRRR!
Air tidak kunjung berhenti untuk berjatuhan, matahari masih terhalang awan hitam tebal. Hawa dingin terasa dan membuat siapapun butuh baju tebal di situasi seperti ini.
Binatang-binatang tidak banyak terlihat, sebagian dari mereka berlindung mencari tempat teduh sembari menikmati hari.
Terlihat seorang gadis kecil berjalan pelan, seperti berat untuk melangkahkan kakinya sendiri, wajahnya tertunduk ke bawah....
Rambut panjangnya terurai ke bawah, menutupi sebagian dari wajahnya, tidak ada bagian tubuhnya yang terlindung dari air yang berjatuhan. Namun entah mengapa dia sama sekali tidak terganggu dengan hal itu.
Setiap langkah kakinya tidak mengisyaratkan punya tujuan, seolah ia hanya menuruti kemana langkah kakinya membawanya.
Kerikil kecil ada di bawah kakinya, namun tetap saja diterjang olehnya. Ia terantuk dan jatuh dengan wajah menghadap ke depan.
Blugh...
'....' Gadis itu terjatuh di area lapang rumput hijau dekat pepohonan dan area pekuburan Wolfden. Sebuah tempat hijau yang indah ketika cuaca cerah, namun sebaliknya jika cuaca sedang tidak bagus.
Area lapang seharusnya tidak menarik hati orang-orang ketika situasi sedang seperti ini, namun mengapa gadis ini datang ke sini?
Wajahnya menghadap ke tanah, di tengah hujan yang deras tidak peduli dengan genangan air dan tanah becek yang ada di bawahnya.
Hanya ditemani dengan tetesan air yang begitu banyak, gadis ini diam tidak bergeming, seolah tidak ada lagi kekuatan yang dipunyainnya.
Tidak ada seorang pun di sini selain gadis itu, cuaca tidak terlihat akan membaik segera, sedang hawa dingin makin terasa dengan jelas.
Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Kita mungkin menanyakan hal itu bukan? Namun yang benar-benar tahu apa yang terjadi hanyalah gadis yang bernama Feronica ini.
"Kenapa... jadi begini?"
__ADS_1