
Beberapa saat sebelumnya, Stephen sedang berada di sungai yang mengalir di dekat area menuju area pekuburan Wolfden.
"Ada yang tidak beres! Gadis itu keluar kendali lagi!"
Stephen yang hendak minum air di sungai itu segera meninggalkan tempat itu secepat yang ia bisa.
Melesat dengan kecepatan yang sulit dilihat dengan mata telanjang seperti biasanya. Di tengah kegelapan petang menjelang malam yang ada di sekitarnya.
'Aku tidak bertemu dengannya selama beberapa waktu ini, kupikir aku tidak mau mengganggunya ketika sedang serius menuntut ilmu... tapi aku tidak mengira akan merasakan hawa seperti ini lagi darinya....'
Batin Stephen kini mulai memikirkan banyak hal mengenai perasaannya yang tiba-tiba ini. 'Hawa kekuatannya bahkan lebih besar dari hari sebelumnya... apa yang sebenarnya terjadi padanya?'
Ia bertanya-tanya apakah keputusannya dalam menjaga jarak dengan gadis itu adalah hal yang baik ataukah sebaliknya.
Stephen tetap berlari secepat yang ia bisa, dan itu sunggulah cepat. Kecepatan larinya sulit dipikirkan dengan akal sehat karena memang begitu cepat adanya.
*
"Kak!" Fredirica hanya bisa pasrah melihat bola besar api serangan kakaknya itu berbalik kembali.
"...." Rossa hanya terdiam dalam diam dan terkejut, ia sendiri tidak menyangka bagaimana bisa Feronica menyerap kekuatannya dan bahkan mengembalikkannya dengan mudah.
"Dia ini bukan Feronica lagi," ujar Rossa pendek dan pelan. Memberikan pendapatnya akan apa yang dipikirkannya ini.
"Hah?! Tentu saja dia ini Feronica kak! Kita tidak mungkin salah kenal kan?!" Fredirica terdengar kurang setuju dengan kakaknya itu.
"Maksudnya bukan begitu...." Rossa kini kehabisan energi untuk menjelaskan hal sesederhana ini pada adiknya.
Entah mengapa energinya begitu terkuras setelah ia menerima serangan dari Feronica. Ini aneh, mengapa bisa ia kehilangan tenaga hanya karena serangan lawan?
Fredirica pun sebenarnya mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan kakaknya, ia juga lemas dan kini hanya bisa terduduk diam dekat kakaknya dan kini melihat serangan bola api besar itu semakin mendekat....
"Kak, seranganmu sudah dekat ...." Fredirica terdengar putus asa.
"Itu bukan serangan Kakak." Rossa sendiri langsung tidak setuju akan pendapat adiknya, secara harfiah memang itu adalah serangannya namun yang sebenarnya terjadi adalah itu serangannya yang dibalikkan oleh Feronica. Sekilas ini terdengar sedikit membingungkan.
Drrtttt!
Sshhhh!
Rossa dan Fredirica hanya bisa terdiam di tempat tanpa bisa melakukan apapun, sedang serangan bola api besar tidak berhenti sama sekali.
SYUT!
'Sihir kegelapan: Ruang Gelap!'
Shhhhh!
BUM!
__ADS_1
"Uwaaah!" Fredirica tidak mampu menahan rasa takutnya akan terkena sihir sehebat itu.
"Eh?" Namun di satu kedipan mata lagi, serangannya itu hilang tidak menyisakan apapun.
Sedangkan Rossa sendiri tidak melihat sekitar karena memang merasa sudah tidak perlu lagi melihat apa yang terjadi.
"Kak serangannya hilang! Dan dia juga!" Fredirica berusaha memberikan kabar pada kakaknya dengan wajah yang masih tidak percaya.
"Apa?" Rossa melihat sekitarnya, pandangannya agak buram akibat energinya yang terkuras. Dan memang benar, serangannya yang dibalikkan itu menghilang dan juga keberadaan Feronica di sana.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Fredirica heran melihat ini, namun dengan segera ia mengangkat kakaknya dengan segenap kekuatannya dan meninggalkan area gerbang sekolah.
*
"Grrr....." Feronica tidak mengerti mengapa kondisi di sekitarnya menjadi gelap adanya.
"Haah... haaah ...." Suara nyaring Stephen terdengar di tengah kondisi sekitar yang gelap gulita ini.
'Aku berhasil... untunglah masih sempat ....' Stephen menghela nafas lega, ia berhasil melancarkan serangan ruang gelap pada gadis yang tak terkendali ini.
"Grrrr! Sihir Tanah: Perubahan Tempat!" Feronica menghentakkan kakinya dengan kencang ke bawah di ruang kosong gelap gulita ini, sontak getaran yang hebat terasa di sana.
DRTTT!
'Dia mengubah ruang kosong menjadi tanah?!' Stephen tidak percaya akan hal ini.
BRUAG!
'Dia mampu untuk membuat semua ruang kosong ini menjadi tanah yang padat... aku tidak punya pilihan lain selain membuat dia bisa melihat ruang kosong ciptaanku ini....' Stephen memikirkan ini dalam hatinya.
'Bisa saja aku tidak melakukannya, tapi itu berarti aku dan dia akan terjebak di tempat ini... aku tidak yakin bisa membalikkan situasi ketika itu sudah terjadi....'
'Dengan menetralkan sihirku otomatis efek sihir lawan pun akan menghilang....' Stephen sedikit menggelengkan kepalanya, memang caranya sedikit memiliki risiko. Namun rasanya risiko itu sebanding daripada membiarkan dirinya dan Feronica terjebak menjadi patung tanah selamanya.
'Kini aku tidak bisa melancarkan serangan ruang kosongku secara efektif... dia bisa melihat semuanya sekarang....' Stephen berusaha memikirkan cara yang sama efektifnya dengan rencana awalnya. Cepat atau lambat ia membutuhkan rencana agar bisa mengatasi apa yang ada di hadapannya ini.
"...." Feronica melihat sekitarnya, ia heran mengapa ia bisa berpindah tempat dengan cepat. Padahal tadi seharusnya ia berada di tempat lain.
'Aku yakin kekuatannya sendiri telah mengambil alih Feronica....' Stephen berpendapat seperti itu, mungkin kesan awal yang terpikir olehnya akan membuat sebagian orang bingung.
'Dia dikendalikan oleh kekuatannya sendiri....' Akhirnya Stephen memiliki pemikiran yang lebih tegas dan jelas ketimbang sebelumnya.
Biasanya orang yang bersangkutan yang akan mengendalikan kekuatannya sendiri, namun kali ini Stephen melihatnya secara terbalik.
'Perasaan ini tidak asing bagiku....' Indera Stephen benar-benar menangkap atmosfir suasana di sekitar dengan detil. Ia rasanya teringat akan kejadian lama yang kini seolah terulang kembali.
"Hmmmm...." Setelah Feronica puas menatap sekelilingnya, ia menatap kembalo pria asing yang diduganya menjadi penyebab ia berada di tempat aneh ini sekarang.
"... Feronica! Ini aku Stephen!" Stephen berjalan mendekati Feronica dengan gestur tangan yang mengisyaratkan ia memang kenal dengannya. 'Kuharap ia masih punya sedikit kesadaran!'
__ADS_1
'Akan lebih mudah bagiku untuk beraksi... tapi aku tidak mau menyakitinya!' Stephen tidak berhenti melangkahkan kakinya dan terus mengatakan sesuatu demi meyakinkan gadis itu.
"Aku temanmu! Kita bertemu di pekuburan saat malam hari kan?!" Stephen tidak melihat adanya tanda-tanda Feronica sadar akan perkatannya itu. Malahan raut wajah gadis itu berbicara seolah ia tidak peduli akan apa yang dikatakannya sekarang.
HUSSSH!
Aura kekuatan Feronica melonjak naik drastis. Seluruh tanda api menyala-nyala di sekitaran tubuhnya mulai memancarkan aura kekuatan yang benar-benar sulit dipercaya.
'Tidak semudah itu ternyata!'
Hush!
Feronica menerjang Stephen dari depan begitu cepat. 'Cepat sekali!' Belum sempat Stephen mengedipkan mata Feronica sudah berada di depannya hendak melancarkan tendangan ke wajahnya.
Syut!
Dengan tak kalah cepat pula Stephen menghindari tendangan Feronica, dan di saat itu pula ia bisa melihat bagaimana wajah Feronica dari dekat.
'Apa yang terjadi denganmu?'
'Mengapa rambutmu jadi berantakan? Mengapa pakaianmu sekotor ini? Sepatumu?' Untuk pertama kalinya Stephen melihat Feronica dengan cepat, memerhatikan penampilan seseorang dalam pertarungan memang bukanlah hal yang terlalu utama, namun perbedaan penampilan Feronica yang berubah cukup drastis membuat Stephen heran.
Jika saja tanda merah berapi-api itu tidak menghalangi bagaimana penampilan keseluruhan Feronica maka memang agaknya penampilannya lebih berbeda dari yang sebelumnya. Tanda api ini menyamarkan bagaimana penampilannya sekarang.
'Tidak mungkin dia sengaja seperti ini... dia sebelumnya selalu terlihat rapi dan sederhana... namun mengapa sekarang?' Stephen kini bertanya-tanya akan mengapa gadis itu berubah dari kemarin.
"Jangan memperhatikanku!"
"!" Serangan Feronica tidak berhenti di sana. Ia memutar tubuhnya dan melancarkan serangan tendangan yang lain.
'Tendangan lagi?!' Stephen sudah selesai mengamati bagaimana penampilan Feronica dan kini serangan cepat menyerbunya tanpa jeda.
'Serangannya itu tidak membuat gelombang kekuatan yang kuat... tapi jika saja terkena maka akan merepotkan....' Stephen tidak memiliki pilihan selain melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
"Sihir Tanah: Pengerasan!"
KRRT!
"Apa?!" Mata Stephen terbuka lebar tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.
Kaki Feronica diselimuti tanah keras dengan cepat, dan serangannya itu masih mengarah pada bagian yang sama seperti tadi.
Menyisakan kejutan bagi Stephen yang tadinya mengira Feronica hanya akan menggunakan serangan fisik biasa saja. 'Kalau begini area serangannya makin luas! Tidak bisa menghindar!'
Stephen berusaha mempertahankan tubuhnya yang masih melayang di udara setelah Feronica menyerangnya pertama kali.
'Aku tidak mungkin mengindari pertarungan ini... aku tidak bisa hanya bertahan saja... hanya dengan membiarkannya tidak akan membuat ini menjadi lebih mudah....'
Stephen memikirkan ini kembali karena dengan perkataan ia belum juga bisa menyadarkan Feronica, maka memang ia harus melakukan cara lain, cara yang sebenarnya ingin ia hindari.
__ADS_1
"Baiklah Feronica! Tunjukan apa yang kamu bisa!"