Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 53: Perjuangan


__ADS_3

"Aku pulang!" Feronica dan Stephen akhirnya sampai di tujuannya, Feronica segera mengetuk pintu dan tak lama kemudian ibunya datang membukakan pintu.


"Selamat datang, oh Dik Stephen...." Elisabeth tidak menyangka ada tamu yang berkunjung juga.


"Selamat malam bu...." Stephen tersenyum kecil, dari ekspresinya rasanya ada agak berbeda.


'Kenapa kak Stephen kelihatan begitu ya?' batin Feronica, entah kenapa ia bisa tahu pemuda itu sedang pura-pura tersenyum.


Feronica memang tidak banyak bicara namun lebih banyak memerhatikan. Ia sudah banyak melihat ekspresi wajah di sekitarnya, entah itu rekan akademi, para guru, ataupun warga desa.


Entah ini hanya perasaannya saja ataukah memang benar begitu adanya, Feronica bukanlah seorang yang ahli menganalisis ekspresi seseorang, namun entah kenapa ia begitu yakin soal ini.


"Astaga apa yang terjadi?" Elisabeth melihat ada darah keluar dari hidung putrinya. Sontak ia pergi ke dalam hendak mengambil sapu tangan.


DEG!


"Feronica maaf, katakan pada ibumu aku pergi dahulu... sampai jumpa lagi...." Stephen berbalik badan dan meninggalkan Feronica tanpa mendengar jawabannya.


"Eh kak, mampir dulu saja!" Feronica sedikit berteriak karena ingin mengundang Stephen masuk ke dalam. Namun pemuda itu tetap berjalan dan kemudian menghilang di tengah kegelapan malam.


Feronica mengelap area hidung dengan tangannya seraya berusaha menghentikan darah yang keluar dari hidungnya itu, namun apa daya cairan merah itu malah terus keluar dari hidungnya.


"Astaga...." Elisabeth keluar dari rumah dengan membawa sapu tangan lembut dan dengan segera mengelapkannya perlahan pada hidung putrinya itu.


Setelah beberapa saat darah pun akhirnya berhenti mengalir dari hidung Feronica, dan Elisabeth heran mengapa pemuda yang bersama putrinya tadi menghilang entah kemana.


"Lho kemana dik Stephen?"


"Ah, dia pergi duluan bu, sepertinya dia ada urusan lain."


"Begitu ya ... sayang sekali dia tidak bisa mampir sebentar ke sini. Mari masuk, di luar sudah mulai dingin." Ibunya memegang tangan Feronica dan mereka berdua masuk ke dalam rumah.


*

__ADS_1


Sementara itu di area hutan dekat area pekuburan Wolfden, di malam dan hari yang sama.


Terlihat Stephen sedang meringkuk memegangi leher dengan kedua tangannya, bersamaan dengan itu urat-urat pada tubuhnya terlihat mengeras seolah ia sedang menahan sesuatu.


"Sial! Haus sekali!" Stephen mengerang karena tidak tahan dengan apa yang dirasakannya itu.


Rasanya seperti ia tidak minum berhari-hari, begitu kering dan menyengsarakan. Stephen yang kini merasakan hal itu hanya bisa mengerang dan meringkuk berusaha untuk bertahan dari perasaannya ini.


Krrtt...


Gertakan terdengar juga  ketika ia masih berupaya untuk menahan perasaan hausnya itu.


"Darah... aku ingin minum! Grrrr...." Mata Stephen mulai berubah menjadi kuning dan tajam di tengah kegelapan malam, dan tidak lupa bulu halus di tubuhnya pun ikut muncul.


Hati Stephen berdegup kencang seperti yang ia rasakan ketika mencium bau darah yang selama ini dihindarinya, ia lari karena tahu ia tak bia menahan dirinya. Kini ia bergulat dengan keinginannya sendiri.


DUAGH!


'Sial! Aku tidak mau dikendalikan seperti ini!' Stephen membantingkan kepalanya ke tanah berulang kali, dan tidak berhenti meskipun darah sudah mengalir di area kepalanya.


"Aku tidak mau kalah! Tidak mau!"


Stephen menolak keras bagian lain dalam dirinya, dan terus mengingat akan tujuannya saat ini. Ia tidak mau terhenti karena hal seperti ini karena masih banyak hal yang harus ia ketahui di kemudian hari.


*


"Bu... aku lulus!" Feronica berkata dengan suara yang keras tepat setelah makan malam di hari yang sama.


Elisabeth hanya terdiam, ia mengerti akan apa yang dimaksud putrinya itu. Ia mendekatinya dan memberikan pelukan hangat padanya. "Selamat Feronica...."


Elisabeth selama ini melihat bagaimana Feronica berlatih dengan cukup keras demi mengasah kemampuannya untuk menghadapi acara di sekolahnya ini. Dan kini ia mendengar kabar yang memang sesuai dengan harapannya untuk putrinya.


Semua usaha yang dilakukan memang tidak sia-sia adanya, putrinya kini jauh lebih kuat ketimbang hari kemarin dan akan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

__ADS_1


"Terima kasih bu...." Feronica merasakan kehangatan yang membuatnya tidak ingin melepaskan pelukan ibunya ini. Untuk beberapa saat Feronica merenung di tengah pelukan ibunya ini.


Ia kembali mengingat tujuan awalnya untuk menjadi seorang ahli sihir, dan itulah yang membuatnya kuat sampai sekarang.


Usaha yang dilakukannya ini memang tidak sebanding dengan apa yang dilakukan oleh ibunya. Namun ia ingin tetap melakukan yang terbaik dan ingin terus ingin melihat senyuman ibunya yang menghangatkan ini.


Beberapa saat kemudian Feronica mengobrol banyak hal dengan ibunya, menceritakan bagaimana ia bertarung, karena memang sebelumnya kemarin ia belum bisa memberikan kabar apapun padanya dan kini ia tidak berhenti berbicara tentang pengalaman hebatnya itu.


*


-Sementara di area ruangan tengah, di rumah mewah Rossa dan Fredirica, dekat api unggun hangat-


Kini Rossa dan Fredirica tengah duduk di tengah ruangan sembari menatap api unggun yang hangat. "Kak, bagaimana pendapatmu soal Feronica?" Fredirica memulai pembicaraan.


"Aku yakin dia tidak akan terhenti semudah itu," jawab kakaknya pendek.


Hal ini menegaskan bahwa memang Rossa percaya, Feronica tidak akan gagal dalam Tes Kemampuan Sihir susulan kemarin.


"Tapi bukankah Yelena lebih kuat darinya Kak?" Fredirica akhirnya ikut mengomentari hal ini, ia lebih mendukung Yelena dengan semua kelebihan teknik bertarung daripada Feronica yang memiliki teknik yang bahkan belum sempurna.


"Mungkin itu yang akan dipikirkan orang, tapi kita lihat kemarin tidak ada yang kalah ataupun menang bukan?" Dan Rossa sekarang menjadi netral dalam menyikapi hal ini.


"Jadi terlepas dari apapun hasilnya, Kakak tetap percaya Feronica tidak akan gagal?"


Rossa mengangguk kecil menjawab pertanyaan adiknya itu. "Tapi kabar baik itu rasanya tidak begitu sebanding dengan apa yang akan terjadi selanjutnya." Rossa memandangi perapian dengan serius.


Tidak bisa dipungkiri Feronica memang mengejutkannya dengan kelakuannya saat bertarung dengan murid pendiam di kelasnya.


Kebanyakan murid sekarang waspada terhadapnya, dan itu adalah reaksi yang wajar.


Feronica sudah banyak berubah sejauh ini. Dan Rossa tak menyerah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


*

__ADS_1


__ADS_2