Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 58: Menerima Perasaan


__ADS_3

'Aku tidak berguna ....'


Feronica kini melihat sekitarnya, ia sekarang hanya sendirian diam di dalam penjara yang remang-remang sedikit cahaya tanpa ada siapapun di sana. Ia terduduk merapat ke sudut ruangan penjara tertunduk dan dadanya terasa cukup sesak.


Hanya ada satu sumber cahaya yang berwarna merah datang dari balik jeruji penjara tempat di mana ia sedang duduk ini. Namun Feronica tidak begitu peduli dengan sumber cahaya itu. Toh memang saat ini ia sedang sendirian di sini jadi untuk apa terus memandangi sumber cahaya?


-APA YANG SEBENARNYA KAU INGINKAN?-


'!'


'Apa?' Feronica yakin tadi seperti ada seseorang yang berbicara. Suara perempuan yang berat dan keras membuatnya sedikit terkejut, suaranya samar namun masih terdengar jelas. Ia perlahan berdiri dan melihat ke ruangan minim cahaya tempatnya berada saat ini, namun ia memang tidak menemukan sosok dengan suara tadi.


'Apa yang sebenarnya aku inginkan?' batin Feronica, pertanyaan seperti ini kerap kali muncul dalam dirinya, dan banyak sekali teringat ketika Feronica mulai memikirkan banyak hal.


-BUKANKAH KAU SUDAH LELAH SEPERTI INI?-


"Siapa itu?!" Feronica mengarahkan pandangannya ke berbagai arah, dan ada akhirnya ia sadar sumber cahaya yang tadi diabaikannya itu, di sanalah pula sumber suara yang didengarnya.


-SIAPA? APA KAU TIDAK MENGENAL DIRIMU SENDIRI?-


"Apa?" Feronica tidak mengerti, baru kali ini ia mendengar suara namun tidak ada wujudnya. Ini tentulah hal yang aneh dan tidak biasa. Feronica butuh waktu beberapa saat untuk memproses hal ini.


'Apa aku sudah gila?' Feronica bertanya dalam dirinya sendiri. Memang selama ini ia tidak banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol, terkadang melihat rekan yang lain asyik mengobrol banyak hal membuatnya ingin melakukan hal yang sama. Namun tidak pernah bisa terwujud.


Satu-satunya cara ia mengobrol memang hanyalah dengan ibunya sendiri. Dan cara itu terbukti berhasil mengatasi rasa ingin ngobrol dalam dirinya ini, namun pada akhirnya ia juga ingin tahu rasanya bagaimana mengobrol dengan rekan sebaya.


-KAU MENGAKUI DIRIMU GILA?-


"Hah!" Feronica tersentak. Setelah beberapa saat pikirannya itu memproses ia akhirnya sadar suara yang didengarnya ini bukanlah suara biasa.


"Mengapa kau bisa mengetahui isi hatiku?!" Feronica merasa aneh, apa ini akibat ia tidak banyak mengobrol seperti orang lain dan pada akhirnya berakhir dengan hadirnya suara-suara aneh seperti ini?


-AKU INI DIRIMU!-

__ADS_1


"Astaga...." Feronica memerhatikan dengan teliti ke sumber cahaya merah yang sekaligus satu-satunya sumber cahaya di tempat ini.


'Aneh, kenapa?' Feronica diam sejenak dan berpikir, kenyataan bahwa ada suara yang bahkan bisa mendengar isi hatinya tentulah bukan hal biasa.


Feronica baru pertama kali bisa mendengar suara asing seperti ini dalam hatinya, terlebih malah suara itu mengatakan dia adalah dirinya sendiri. Mau dipikir seperti apapun memang tidak mungkin adanya.


-MENJADI AHLI SIHIR? ITULAH IMPIANMU?-


Suara itu terdengar lagi, Feronica yang masih belum percaya mengenai hal ini dipaksa untuk tidak mengabaikan suara ini.


'....'


-ATAUKAH ITU HANYALAH ANGAN-ANGAN BELAKA?-


Feronica terdiam sejenak, sembari memikirkan apa yang dibicarakan suara itu. Mengapa suara itu membicarakan hal yang paling paling utama baginya?


-KAU INI TIDAK LEBIH HEBAT DARI TEMAN-TEMANMU BUKAN? JADI MENGAPA SUSAH-SUSAH BERUSAHA?-


Feronica sadar meskipun ia mendengar suara itu mengaku dia adalah dirinya, namun mengapa ia tidak bisa mengontrol bagaimana suara itu terdengar? Bukankah jika suara hati yang ada dalam diri bisa dikendalikan oleh kita?


Jika saja itu adalah suara hatinya, lantas mengapa suara itu terkesan asing baginya? Mengapa suara itu mengatakan hal yang tak pernah dipikirkannya?


-KARENA AKU ADALAH BAGIAN LAIN DALAM DIRIMU... PERASAANMU YANG SESUNGGUHNYA.-


"Apa?"


-AKU SUDAH MENGATAKANNYA, PERCAYA ATAU TIDAK ITU BUKAN URUSANKU....-


Feronica terdiam, ia menelan ludahnya sendiri karena berusaha untuk mencerna apa yang dialaminya sekarang. Dan memang hanya setengah percaya akan suara yang mengaku-ngaku dirinya itu. Namun kini setelah sebagian besar apa yang dipikirkannya itu terdengar langsung, maka Feronica mulai bisa percaya sekarang.


"Aku tidak punya bagian lain... aku adalah aku...."


-KAU BISA MENGANGGAPNYA BEGITU, TAPI DISADARI ATAU TIDAK AKU TETAP ADA DALAM DIRIMU.-

__ADS_1


"Mengapa kau bisa muncul- ah maksudku terdengar di tempat ini? Dan lho ... dimana sebenarnya kita sekarang? Aku tidak ingat apa-apa...."


-KEBODOHAN YANG BENAR-BENAR TIDAK ELEGAN, KAU KINI SEDANG DIPENJARA OLEH PERASAANMU SENDIRI... OLEHKU.-


"Astaga! Kau?!" Feronica tidak percaya, suara aneh ini mengatakan hal yang lebih aneh lagi membuat otaknya harus berpikir keras sekarang.


Memikirkan ia yang mendengar suara dalam dirinya sendiri saja sudah cukup mengherankan dan kini ia dipenjara oleh perasaannya? Bagaimana mungkin bisa terjadi?!


Tapi mengingat suara ini memang benar adanya dan bisa didengar jelas dan bahkan mengetahui isi hatinya, jadi rasanya memang apa yang dikatakan oleh suara ini benar adanya.


"Aku terpenjara? Kalau begitu apa yang harus kulakukan agar bisa keluar dari sini?"


-MUDAH SAJA, CUKUP TERIMA DIRIMU APA ADANYA, MAKA KAU BISA KELUAR DARI TEMPAT INI.-


'Terima diriku apa adanya?" Feronica memikirkan apa yang dimaksud oleh suara ini. Memangnya selama ini dia tidak menerima dirinya apa adanya?


Dia bahkan baru menyadari hal ini. "Bagaimana caranya?"


-KAU YANG TAHU BAGAIMANA CARA MELAKUKANNYA.-


Suara itu menegaskan Feronica-lah yang mampu untuk menjalankan apa yang harus dilakukannya demi keluar dari tempat suram seperti ini.


Feronica tahu sebelumnya memang perasaannya benar-benar kacau sampai-sampai ketika sadar ia sudah berada di tempat aneh seperti ini. Mungkin memang benar apa yang dikatakn oleh suara tadi. Ia harus menerima dirinya apa adanya.


Jika boleh jujur, ketimbang kembali ke saat di mana ia ditemui oleh kedua rekannya dan pada akhinrya menerima kembali perlakuan yang tidak menyenangkan, maka rasanya lebih baik berada di sini untuk sementara.


Mengingat apa yang terjadi padanya selama beberapa hari terakhir, terutam saat semua orang tahu ia telah menyakiti Yelena sampai kondisinya begitu mengkhawatirkan, yang menyebabkan pandangan orang lain terhadapnya berubah drastis.


Ia yang tadinya diacuhkan, tidak dikenal, dan tidak perhatikan kini malah menjadi perbincangan hangat di akademi. Bahkan sampai-sampai rekan-rekannya yang lain memberikan perlakuan 'spesial' terhadapnya.


Yang juga membuat situasinya tidak lebih baik dari sebelumnya, malahan semakin membuat perasaannya tidak karuan lagi.


?!

__ADS_1


'Ah itu dia! Benar apa yang dikatakan oleh suara itu... aku hanya perlu menerima diriku apa adanya. Dengan begitu aku bisa keluar dari tempat ini. Meskipun memang perlakuan mereka semua tidak berubah. Tapi setidaknya aku sudah berubah!' batin Feronica menegaskan hal ini. Ia tahu ia tidak bisa terus-terusan menyangkal dirinya sendiri dan menyembunyikan perasaannya. Kini semuanya itu harus terbuka adanya.


"Kalau begitu, bersiaplah, dunia luar, aku datang!" Feronica memandang ke arah cahaya merah itu dan memegang jeruji besi di depannya. Sontak cahaya merah yang terang perlahan memenuhi ruangan tempatnya berada.


__ADS_2