
Di Pagi hari yang berawan.... mungkin terdengar tidak terlalu bagus dibanding dengan 'di pagi hari yang cerah', tapi yah memang begitulah kenyataannya sekarang ini.
Yang kita lihat sebelumya Feronica tidak sadarkan diri karena kejadian tengah malam tadi, namun kini pada pagi harinya Feronica sudah bersiap-siap untuk pergi ke Akademi untuk menjalani Tes Kemampuan Sihir yang akan dilaksanakan hari ini.
Mengapa bisa begitu? Pasti kalian bertanya-tanya saat ini, apa yang terjadi sebenarnya ketika Feronica masih tidak sadarkan diri?
Tenang saja, untuk menjawab pertanyaan itu kini kita hanya perlu untuk mengetahuinya dari si Feronica saja sih.
Pada waktu dini hari ketika gadis itu dirawat oleh ibunya, memang kondisinya sudah jauh membaik. Karena asupan kehangatan ada pada tubuhnya maka itu memicu respon pertahanan tubuhnya dan pada akhirnya tubuhnya menghangat kembali dan Feronica bisa cepat sadar kembali.
Sudah begitu saja? Mengapa tidak dramatis? Memang begitulah kenyataannya. Di samping dari Feronica yang tidak sadarkan diri karena kelelahan dan juga kedinginan, ingat juga bahwa sebenarnya Feronica adalah seorang yang memiliki ilmu sihir, jadi reaksi buruk pada tubuhnya bisa lebih cepat hilang dibandingkan dengan orang biasa.
Feronica bisa sadar lebih cepat dari yang orang lain kira, ibunya atau dalam kata lain kita tentunya.
Feronica sebenarnya sadar tak lama setelah ia mendapatkan perawatan dari ibunya.
Hari pagi yang berawan tak boleh jadi alasan baginya untuk tidak bersemangat hari ini. Malahan ini adalah hari yang penting baginya sebagai murid dari Akademi Sihir Wolfden.
Setelah memastikan ibunya masih tertidur di sana, Feronica bergegas berjalan ke pintu keluar rumah dan bergegas menuju sekolahnya.
Untungnya hari ini cuaca lebih bersahabat ketimbang tadi ketika malam tadi, jika saja hujan masih belum reda maka Feronica harus hujan-hujanan untuk pergi ke sekolahnya itu.
Mengingat ia sudah kehilangan payung dua kali, payung miliknya rusak ketika di sekolah dan payung milik ibunya hilang ketika ia pergi ke area pukuburan Wolfden.
Ngomong-ngomong soal hal itu Feronica jadi ingat, di tengah perjalanannya menuju ke sekolah ini ia teringat kejadian tengah malam tadi, ia terbangun di kasur ranjang seolah tak terjadi apa-apa.
Padahal Feronica yakin semua yang terjadi malam itu memang benar adanya, namun ketika semua yang diingatnya malam tadi berakhir dengan ia tertidur di kamarnya, bisa pula itu hanyalah mimpi bukan?
"Hmmm, kemarin bukan mimpi...." Tangan Feronica mengarah pada dagunya, seperti pose orang berpikir pada umumnya.
__ADS_1
Feronica tahu betul setelah ia menyetujui permintaan Rossa dan Fredirica, pada malam ketika ibunya beristirahat sambil tertidur di tengah pekerjaan menjahitnya. Ia keluar rumah diam-diam demi mememuhi permintaan dari kedua temannya itu.
Bahkan payung yang ia bawa di rumah pun terpaksa dibawanya karena miliknya rusak dan tidak ada lagi payung yang lain, dan memang payung tersebut sudah tidak ada lagi di rumahnya.
Hal sederhana seperti keberadaan payung tersebutlah yang membuat Feronica yakin apa yang dialaminya semalam tadi bukanlah mimpi meskipun ia bangun dari tidurnya seolah tak terjadi apapun.
Feronica juga masih ingat beberapa momen ketika ia mencoba mencari kebenaran yang ada, yang tak lain tak bukan adalah rumor tentang area terlarang, dan setelah ia menganalisa kebenaran dan hendak pulang, ingatannya kabur setelah bertemu dengan pemuda tampan kemarin yang ada juga di tempat yang sama.
Feronica masih mengingat bagaimana rupa pemuda itu, sungguhlah tampan rupawan dengan rambut rapi dan wajah yang memesona, tinggi pula. Jika diingat lagi rasanya memang tidak bisa dipercaya ia bisa bertemu dengan pemuda tampan di tempat seperti itu.
Dan Feronica tidak pernah melihatnya di mana pun, bahkan di desa ataupun di akademi, rasanya di area terlarang itulah mereka memang pertama kali bertemu.
Di saat itu pula Feronica kelelahan dan tidak lagi mengingat akan apa yang terjadi, apa memang ada sesuatu yang tidak diketahuinya terjadi malam itu?
Mungkinkah ia kehilangan kesadaran kemudian ada yang membawanya pulang ke rumah? Ataukah mungkin ibunya sendiri yang menjemputnya ke area terlarang itu?
Feronica hanya bisa bertanya nanti pada ibunya untuk kepastian yang sesungguhnya, dan Feronica tahu ibunya pastilah sudah tahu kejadian yang terjadi malam itu.
Dan apa yang terjadi apabila ia tidak mengikutinya? Tentunya tidak terlalu bagus baginya karena acara hari ini adalah acara utama di mana para murid tingkat akhir menunjukkan seberapa jauh mereka berkembang dari sejak pertama mereka menuntut ilmu.
Feronica tahu ia tidak bisa mengatakan hal yang bohong, pada akhirnya apa yang dilakukannya kemarin malam memanglah tanpa sepengetahuan ibunya, pergi ke area yang dirumorkan bahaya yang jelas dilarang.
Feronica sebelumnya ia benar-benar bisa melakukan hal ini diam-diam, dengan pergi untuk membuktikan rumor dan pulang kembali sesegera mungkin sehingga hal ini tidak diketahui ibunya.
Namun perkiraannya meleset dan pada akhirnya ibunya tahu juga akan situasi yang sebenarnya terjadi. Feronica harus bersiap menerima apa yang menjadi konsekuensi atas perbuatannya ini.
Mengingat ia tidak bisa membawa soal kedua temannya yang memintanya melakukan hal ini pada ibunya. Ia tidak ingin ada lagi orang yang dilibatkan dalam hal ini kecuali dirinya sendiri.
Feronica masih menyusuri pejalanan desa seperti biasanya untuk menuju ke sekolahnya. Sepanjang jalan terasa licin dan jika saja tidak berhati-hati maka agaknya mudah sekali untuk jatuh.
__ADS_1
Untungnya Feronica tidak perlu terburu-buru untuk pergi ke sekolahnya ini, pasalnya ia berangkat sebelum jam sekolah jadi dalam perjalanannya ia bisa sedikit bersantai dan menjaga langah kakinya agar tidak terjatuh.
Beberapa saat kemudian Feronica akhirnya sampai di Akademi, gerbang sudah dibuka lebih awal dan hanya ada beberapa orang di sini, tentunya para murid tingkat akhir sama sepertinya yang datang lebih awal.
Feronica dengan segera melangkahkan kakinya dan tidak jauh dari gerbang ia melihat Tuan Jack yang sedang menyapu dengan serius berusaha membereskan dedaunan dan ranting yang cukup berserakan di sana. Sepertinya memang ini efek dari cuaca yang tak terlalu bagus semalam.
"Selamat Pagi Tuan Jack!" Feronica menyapa Tuan Jack bertopi dengan penuh semangat, lagi-lagi pria paruh baya itu terkejut bahkan sampai dibuat sedikit melompat olehnya.
Ranting dedaunan yang sudah susah payah dikumpulkannya malah kembali berhamburan karena tersapu angin karena ia sedikit melompat tadi. Membuat ia harus kembali mengulangi pekerjaan yang sama dari awal.
"Hah..... Selamat pagi Feronica, hari ini hari penting ya... Semoga sukses dan selamat tinggal," jawab pria bertopi itu dengan wajah yang lesu, nampaknya elemen kejut yang dibuat Feronica membuatnya jadi agak tidak mau berurusan dengannya saat ini.
"Oh terima kasih Tuan! Tetap semangat mengerjakan tugas, selamat tinggal!" Feronica dengan segera pula meninggalkan pria paruh baya bertopi itu tanpa rasa bersalah karena ia telah mengacaukan pekerjaan Jack dalam waktu yang instan.
Feronica mempercepat langkah kakinya, tak lama kemudian tak sengaja ia melihat Rossa dan Fredirica yang sedang duduk tepat di area bangku dekat tangga menuju lantai dua.
Feronica tidak yakin apakah ia harus melewati mereka atau tidak, pasalnya cepat atau lambat pastilah ia kembali berurusan dengan mereka tentunya.
Mengenai masalah rumor itu, apa yang disimpulkan Feronica memanglah sudah tepat bahwa tidak ada makhluk menyeramkan yang ada di area bukit pekuburan Wolfden. Kemungkinan besar itu adalah cerita yang dibuat oleh para orang tua agar anak mereka tidak berpergian seorang diri ke tempat itu.
Jawabannya memang sudah tinggal dikatakan pada mereka, tapi pertanyaannya adalah apa mereka bisa menerima kenyataan ini? Feronica menduga bisa saja ini bukanlah akhir dari permintaan konyol dari mereka berdua.
Feronica berdiam cukup jauh mengambil tempat yang cukup tersembunyi di balik dinding seraya berusaha mencari waktu agar ia tidak berurusan dengan mereka di waktu sekarang. Pasalnya ia ingin fokus pada acara utama hari ini saja, untuk apa menambah hal yang tidak penting?
Feronica bisa mendengar serta melihat mereka mengobrol dengan cukup jelas di balik dinding dekat bangku tangga menuju lantai dua ini, pada akhirnya ia memutuskan untuk sedikit mengintip dan mendengar apa yang sebenarnya tengah mereka bicarakan saat ini.
"Surat itu masih ada?" Terdengar nada suara tinggi dari Rossa seolah ia tidak percaya sesuatu.
"Ini, ayah dan ibu kita menuliskannya khusus untuk kita." Terlihat Fredirica menyodorkan sepucuk surat pada saudaranya diiringi dengan Rossa yang menatap surat itu dengan seksama dan penuh arti.
__ADS_1
"Surat? Dari orang tua?" Feronica baru mengetahui hal ini dari kedua temannya itu.