
Di sisi lain….
“Kau kenal wanita hitam itu?”
“Dia orang kaya.” Stephen menatap tajam.
“….” Kalau itu sih ia sudah tahu. Inilah akibat terlalu santai.
Felicia terdiam, entah kenapa ia mencium bau-bau mencurigakan di sini.
Sebelumnya ia pikir takkan ada masalah mengingat dua rekannya yang suka buat cari masalah itu sedang belajar di salam.
Namun ternyata situasi tak semulus yang diperkirakan.
Dari gerak-geriknya Feronica terlihat baru pertama kali bertemu dengan wanita berpakaian hitam itu.
Kenapa wanita itu memaki pakaian tertutup?
“Bukankah selera orang beda-beda.” Stephen menjawab dari sisi logisnya.
“….” Itu benar, tapi apa jadinya kalau ada alasan lain juga?
Bagaimana jika untuk … menyembunyikan identitasnya?
“!?” Stephen baru sadar!
Tapi apa buktinya?
“Kita lihat ada ada adegan apa berikutnya….” Felicia menggosokkan tangannya, tak sabar melihat apa yang akan terjadi.
“!”
“Mereka pergi….” Sang wanita misterius itu seolah mengajaknya ke suatu tempat.
“Ini dia.” Saatnya untuk mengungkap kebenaran.
Dengan hati-hati Stephen dan Felicia mengikuti kemana mereka berdua pergi.
*
….
Beberapa saat sudah berlalu, akhirnya tibalah mereka disebuah tempat.
Area rumput hijau, tempat favorit Feronica, sekaligus tempatnya berlatih.
Stephen dan Felicia membuntuti dari jarak jauh.
Mereka sudah paham tata cara menguntit paling efektif, dengan begini memperkecil kemungkinan ketahuan oleh yang diuntit.
“Hei kita kejauhan.” Stephen tak bisa melihat targetnya dari sini.
“Hmh, kemampuanmu luntur ya.” Felicia tersenyum kecil.
“ENAK SAJA.” Stephen tak terima diremehkan begitu. Dengan cepat ia menajamkan inderanya, dan itu cukup membantu.
“Oke, mereka masih mengobrol.” Stephen tak menyangka mereka kelihatan sudah dekat dan saling mengerti.
Feronica tak pernah menceritakan apapun soal kenalan wanita berpakaian serba hitam.
Rasa kecurigaan mulai tumbuh juga pada pemuda ini.
*
“Jadi ada apa bu?” Feronica heran kenapa ibu satu ini mengajaknya ke tempat ini?
“Aku ingin mengobrol denganmu.” Sang ibu itu memandang pemandangan cerah yang menyegarkan mata.
‘OH.’ Bukannya tinggal ngobrol aja ya? Kenapa harus di sini?
Mungkinkah ibu satu ini penyuka ketenangan?
“Apa kamu benci diperlakukan seperti itu? Sang ibu melanjutkan obrolan mereka yang terpotong tadi.
Feronica terdiam, akhir-akhir ini ia tak terlalu memikirkannya.
Namun jauh di lubuk hatinya masih ada rasa sesal juga sih.
“Begitu ya.” Sang ibu itu seolah mengerti dengan apa yang dikatakatannya.
“….” Feronica terdiam, ia tak mengerti kenapa orang yang baru ditemuinya sampai peduli seperti ini?
__ADS_1
“Apa kamu ingin balas dendam?”
“!?”
Feronica tak bisa menahan ekspresi terkejutnya, sementara sorot mata merah sang ibu terlihat jelas menatapnya.
“Aku tak mengerti bu.” Entah kenapa Feronica tak suka kemana arah pembicaraan ini.
Ia pikir bakal ngobrol biasa, lah ini?
“Apakah kamu ingin hakmu kembali?” Sang ibu kembali bertanya.
‘Hak….’ Feronica terdiam, apa maksudnya ia bisa kembali pergi ke akademi?
Apa itu mungkin?
“Aku bisa membantumu nak.” Kini sorot mata merah tajam itu makin kelihatan.
“A- ah….” Feronica terdiam, ia tak memalingkan pandangannya, dan perlahan namun pasti warna matanya berubah jadi merah….
“Ya … bagus … tunjukkanlah pada mereka akibat berbuat semena-mena padamu….”
“Buatlah mereka mengakui siapa yang salah….”
Sang ibu tersenyum kecil. Sementara dalam satu kedipan mata menghilang begitu saja.
*
“!” Semua kejadian itu terjadi begitu saja.
Stephen dan Felicia jadi saksi bisu.
“Kamu benar Felicia.” Stephen merasa ada suatu energi misterius….
Kini Feronica masih terdiam mematung saja.
Dengan cepat Felicia dan Stephen berlari untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Feronica!”
SYUT!
“Astaga….” Entah kenapa Stephen merasa tidak enak.
Felicia terdiam, ekspresinya jelas mengisyaratkan sesuatu yang buruk akan terjadi. “Kita terlambat….”
***
Siang hari. Akademi Wolfden. Jam istirahat.
Terlihatlah para murid sedang menikmati jam istirahat dengan melakukan berbagai kegiatan.
Termasuk dua bersaudari, Rossa dan Fredirica, yang tengah menikmati waktu di sisi lapang sekolah.
“Kita butuh rencana baru kak, nyam~” Fredirica terdengar serius sembari memakan rotinya.
Rossa terdiam, ia setuju dengan adiknya.
Makin banyak orang yang mengganggu rencana mereka. Kini mereka butuh strategi lain agar bisa mendekati Feronica.
“Jangan pikir dia bisa lari meski sudah keluar sekolah, nyam~” Fredirica masih saja terdengar serius.
Setelah hinaan yang diberikan itu, tentu mereka tak bisa melupakannya dengan mudah.
Mereka tak takut lagi dengan tanda merah atau apapun.
Kini mereka sudah jauh lebih kuat dan bisa menghadapi trik murahan itu.
SRET.
“?” Rossa terdiam, entah kenapa tiba-tiba ada sosok berjubah hitam tiba-tiba muncul di lapang.
Jarang-jarang ada kejadian misterius begini di akademi, namun Rossa tetap terlihat tenang.
Sosok tak dikenal itu berdiri saja di sana dan tak banyak yang menyadarinya.
“Hei kak, kenapa ada yang cosplay?” Fredirica heran melihat sosok berjubah hitam itu.
“….” Rossa terdiam. Pihak sekolah tak mengatakan apapun soal tamu yang akan datang sih.
Sosok itu datang tanpa hawa kehadiran.
__ADS_1
“Hei kak.” Entah kenapa Fredirica merasa ada yang aneh.
“….” Rossa merasakannya juga. Sosok berjubah itu seolah melihat ke arah mereka sedari tadi.
Dengan cepat kedua saudari itu menghampirinya untuk memastikan lebih jelas.
“Apa anda punya urusan dengan kami?” dengan sopannya Rossa bertanya.
Rossa tahu siapapun yang bisa menyembunyikan aura kekuatan seminimal mungkin adalah orang kuat.
Termasuk sosok yang tiba-tiba muncul ini?
Fredirica memandangnya dengan tatapan heran dan penuh penasaran.
Berbagai dugaan mulai muncul di benak mereka. Namun hanya jawaban dari orang asing inilah yang mereka tunggu.
….
“Bisa dengar kami?” Fredirica mulai tak sabar. Dari tadi orang ini tetap diam saja.
“….” Rossa tak menyangka mereka menghabiskan waktu istirahat yang berharga hanya untuk ini.
“Kalian….” Akhirnya terdengarlah suara dariya.
“!?” Rossa dan Fredirica terdiam, raut wajah mereka jelas berubah.
Entah kenapa suara orang asing ini mirip dengan kenalan mereka.
“Kak?” Fredirica ingin memastikan apa yang didengarnya.
“….” Rossa terdiam, ia bahkan masih terkejut.
Shhh….
Hempasan udara kencang tiba-tiba tercipta….
HUSH!
“!” Rossa dan Fredirica tiba-tiba terhempas ke belakang!
Brug!
“Bu!?” Kenapa mereka ada di pelukan guru mereka sekarang!? Fredirica heran.
“Tenanglah.” Freiss terlihat serius.
“Semuanya tolong ke kelas kalian!” Dengan cepat para guru memerintahkan murid-murid untuk kembali ke kelas.
“Kami tetap di sini.” Rossa terdengar serius, ia harus memastikan sesuatu di sini.
“….” Freiss terdiam, ia ingin dua anak murid penting ini pergi ke tempat aman.
Namun di sisi lain, ia tak bisa menolak permintaan mereka juga….
“Tetaplah didekat ibu.”
SWUSH!
Sementara itu datanglah Joseph, sang guru bertubuh besar, melihat tajam tamu tak diundang ini.
Ia tak menyangka ada lagi hal mengejutkan tepat di hari pertama sekolah berjalan lagi.
“Sekolah ditutup untuk ancaman sepertimu.” Joseph terdengar serius.
“Haaaah….” Ia menghela nafasnya sembari meregangkan lehernya.
“….” Sosok berjubah hitam itu masih diam saja.
Sementara hempasan angin yang tercipta darinya malah makin kuat.
“….” Perkataan saja takkan membuat situasi membaik, Joseph bersiap.
HUSH!
“Kalau begitu kau harus pergi!”
BUAGH!
BUAAKK!
Pria besar itu langsung menyerang membabi buta!
__ADS_1