
Apa yang sebenarnya mereka bicarakan? Feronica jadi penasaran mengenai hal ini, pasalnya baru kali ini ia melihat ekspresi Rossa dan Fredirica yang berbeda dari yang biasanya. Biasanya mereka berdua selalu terlihat tegas dan anggun.
Namun kali ini memang sedikit berbeda adanya. Rasanya memang baru kali ini ia melihat sisi lain seperti itu dari mereka berdua, sulit dipercaya namun pada akhirnya begitulah kenyataannya.
Mengetahui sisi lain dari kedua temannya membuat Feronica sedikit ingin mencari tahu, namun agaknya jika ia mencampuri urusan mereka tentunya ia sudah bisa mengira apa yang akan terjadi.
Dan apa yang terjadi itu tidak diharapkan terjadi oleh Feronica sekarang ini.
Feronica masih mengamati mereka di balik dinding tembok dekat tangga menuju lantai dua. Tak terasa sudah beberapa saat ia mengamati mereka.
Ia sadar ia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengamati kedua temannya itu, padahal ia bisa menghabiskan waktunya untuk sedikit baca buku ajar demi kelancaran acara hari ini tentunya.
"Astaga aku segera ke kela-"
BRUG!
Tanpa diduga Feronica salah seorang siswa yang tengah asik mengobrol dengan temannya menyenggolnya amat keras hingga pada akhirnya ia tidak bisa menahan tubuhnya sendiri.
Blugh....
"Dduuh ...." Feronica jatuh ke depan ke lantai membuatnya jadi merasa ngilu pada persendian tangannya. Sedangkan siswa tingkat akhir yang menyenggolnya tadi malahan tidak sadar dan terus saja melewatinya.
"HEI KALAU JALAN PAKAI MATA DONG JANGAN PAKE KAKI SAJA!" Feronica kesal sejadi-jadinya saat itu juga, suaranya itu menggelegar bak petir di siang bolong- ah mungkin terlalu berlebihan seperti itu. Lebih tepatnya suaranya penuh energi dan keras dibumbui dengan amarah saja sih.
Siswa tingkat akhir tadi yang menyenggolnya hanya melihatnya sekilas dan kemudian melanjutkan obrolan asyiknya dengan temannya itu.
Benar-benar definisi dari 'tanpa rasa bersalah' adanya, Feronica frustasi dan mengumpat dalam hatinya, untuk sesaat ia menenangkan diri dan melihat ke arah depan dan ada dua orang yang tengah diamatinya tadi. Berdiri tepat di depannya.
Feronica yang hanya melihat kaki kedua orang itu sontak langsung mengenali bahwa memang Rossa dan Fredirica sedang berdiri tepat di depannya.
Feronica malah lupa akan tujuannya yang tadi dan karena kesal akan apa yang terjadi pada akhirnya semua yang dilakukannya di awal berujung pada kesia-siaan belaka? Untuk apa ia mengamati mereka berdua dari awal kalau memang akhirnya ketahuan?
__ADS_1
Feronica masih menahan rasa ngilu pada tangannya, berusaha untuk berdiri dengan segenap kekuatannya, perasaan kesal karena terjatuh saat ini masihlah terasa adanya.
"Aahaha, pagi yang indah?" Feronica menyapa kedua temannya itu, rasanya agak aneh karena ketahuan mengintip mereka berdua mengobrol.
Rossa dan Fredirica berubah raut wajahnya, kembali ke biasanya yaitu tegas dan anggun, mengapa mereka bisa berubah secepat ini?
Ditengah keheranannya itu Feronica tidak kuat menatap mata tajam mereka lama-lama, rasa intimidasi benar-benar terasa dan dalam waktu sekejap Feronica jadi merasa tidak enak.
"...."
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Fredirica memecah keheningan yang terjadi beberapa saat tadi. Perkataannya itu singkat, padat, dan jelas menuju pada poin yang ingin ditanyakannya.
Feronica tidak bisa mengelak akan pertanyaan krusial seperti itu, mengingat Fredirica dan Rossa memang terlihat haus untuk mengetahui kebenaran yang ada.
Apakah memberi tahu mereka kebenaran yang sesungguhnya akan membuat semuanya berakhir?
Feronica menimbang kembali keputusannya, apakah memang pernyataan yang siap diucapkannya akan bisa memuaskan rasa penasaran mereka? Bagaimana jika jawaban itu tidak berdampak banyak?
"Rumor itu hanyalah sekedar rumor .... Tidak ada apapun yang mengerikan di sana," ucap Feronica perlahan dan tenang, ia berusaha tidak terpengaruh perasaan takut dan intimidasi yang menyerangnya saat ini.
".... Benarkah?" Rossa mendekati Feronica dengan tatapan yang tak percaya, ia menyilangkan tangannya di dada dan sepertinya memang tidak bisa menerima apa yang didengarnya itu.
Fredirica pun diam dalam hening, tak jauh berbeda dalam saudaranya. Perkiraan Feronica benar adanya, mengatakan hal yang sebenarnya memanglah tidak terlalu memuaskan bagi mereka.
Tapi apa memang ada keputusan yang lebih baik dari ini? Feronica yakin tidak, meskipun ia mengatakan hal bohong pun ia tahu itu tidak akan bertahan lama dan pada akhirnya sampai ke poin di mana hal yang lebih memusingkan bisa terjadi.
Feronica sengaja tidak menceritakan tentang pemuda rupawan yang ditemuinya malam kemarin, pasalnya ia tidak tahu dia itu siapa dan tentunya pemuda itu bukanlah bagian dari rumor yang beredar itu.
Jadi untuk apa membawanya masuk ke persoalan kali ini? Feronica mengatakan hal yang sejujurnya dan bumbu tambahan tidak perlu di tambahkan di sini.
"Be-benar lho! Aku sudah lihat sendiri bagaimana keadaannya di sana!" kata Feronica dengan lebih tegas lagi memecah keheningan yang sedang terjadi.
__ADS_1
"Aku tidak percaya," ujar Rossa pendek, mengatakan apa yang ada dalam pikirannya itu.
"Apa ada yang kau sembunyikan?" lanjutnya lagi melontarkan pertanyaan pada Feronica.
Feronica menggelengkan kepalanya. "Aku tidak berbohong, rumor yang ada di desa memang tidak kutemui benar adanya."
Fredirica menatap Feronica tajam, seolah ia bisa mengendus sesuatu yang mencurigakan darinya.
"Apa memang kau ini benar-benar pergi ke sana?" tanya Fredirica, pertanyaan yang menggelikan bagi Feronica, mendengarnya membuatnya merasa tidak ada lagi gunanya ia menjelaskan panjang lebar.
Kejengkelannya mulai terpupuk dengan pasti, Feronica sudah tidak mau lagi berurusan panjang lebar dengan mereka, padahal ia sudah mengatakan yang sesungguhnya. Jadi untuk apa lagi ia meladeni mereka?
"Aku sungguh-sungguh pergi ke sana, jika kalian tidak percaya itu bukan urusanku, aku ingin segera ke kelas...." Feronica menepuk seragamnya yang berdebu karena terjatuh tadi dan segera berjalan ke depan, melewati mereka berdua.
"Hei tungg-" Fredirica denganĀ cepat memegang tangan Feronica dengan kencang dan erat, genggamannya itu sungguhlah kuat bak seorang yang meremas sesuatu dengan kuat.
"...." Feronica berhenti karena tangan kanannya di genggam oleh Fredirica dengan erat. Ia tak merasa sakit sedikitpun meskipun tangannya terlihat diremas sampai-sampai kulitnya masuk ke dalam.
Jika dilihat secara langsung maka agaknya terlihat begitu menyakitkan dan Rossa pun melihatnya dengan agak meringis.
Feronica sedikit menoleh menatap Fredirica dengan tajam, kini dalam hatinya ia punya kekuatan untuk melawan tindakan semena-mena dari temannya ini.
Seperti ada sesuatu yang kuat dalam dirinya, menunggu untuk dilepaskan.
"LEPASKAN...."
SSERRR....
SHHHH....
Tanda api dari sebagian area mata Feronica sekelebat terlihat. Genggaman Fredirica lepas saat itu juga dan Fredirica terhempas sedikit ke belakang.
__ADS_1
"A- apa?" Hanya menyisakan keheranan dalam dirinya, Fredirica merasakan aura kekuatan sihir yang sungguh hebat datang dari orang yang telah digenggamnya itu.