
'Kenapa bisa begini?' Stephen tidak mengerti mengapa ia tidak bisa mengeluarkan kekuatan sihirnya sekarang, padahal kondisinya prima dan ia tidak merasakan hal yang aneh.
Tadi memang sihirnya sempat muncul beberapa saat namun tiba-tiba menghilang, jarang sekali bisa terjadi hal seperti ini.
'Aku bahkan tidak mengeluarkan kekuatanku dengan berlebihan kemarin....' Stephen tahu energi sihirnya stabil dan mengeluarkan sihir seharusnya tak jadi masalah baginya.
Biasanya kondisi ini terjadi karena energi sihir seseorang tidak stabil dan pada akhirnya berakibat pada sihir yang tengah digunakannya, atau bisa juga ketika pengguna kehabisan energi sihirnya sendiri.
Namun Stephen tahu ia tidak masuk ke kedua kriteria tadi. Karena memang tidak ada yang salah dalam dirinya.
Sudah ada pusaran angin yang besar datang dari arah pekuburan Wolfden, dan terus mengarah ke tempat di mana mereka berada. Stephen bisa merasakan dengan jelas itu bisa jadi masalah serius jika mengenai mereka berdua.
Ia tidak bisa mengajak Feronica pergi dari tempat ini dan pula menggunakan kekuatan sihirnya untuk berlindung di sini, kalau begitu apa ada cara lain?
'Sihir teleportasi... aku harus menggunakannya....' Stephen kembali memfokuskan kekua tannya daan seketika itu juga lingkaran sihir hitam besar muncul di bawah kakinya dan juga Feronica.
"Sihir Gelap-"
KRAK!
Belum sempat teknik sihir itu memindahkan mereka berdua, lingkaran sihir hitam Stephen tiba-tiba retak dan menghilang lagi, sama seperti kejadian sebelumnya.
'Dan terjadi lagi...' Stephen tahu ini adalah bukan akibat dari energi sihirnya sendiri, karena memang sudah jelas ia tidak merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
Lalu apa yang bisa menjelaskan energi sihirnya tiba-tiba menghilang?
Stephen melihat ke langit. Terlihat begitu suram, seperti hari kemarin ketika saudaranya datang. Hari yang seharusnya siang malah berubah menjadi layaknya malam hari.
Stephen tidak ingat pernah menjumpai cuaca seperti ini, namun yang pasti memang sudah lama sekali ia tidak melihat cuaca seburuk ini.
Ssssshhhh...
BUM!
"!" Pandangan Stephen terhalang debu asap yang tiba-tiba muncul di sini. Bersamaan dengan ledakan yang cukup keras juga.
Stephen mengibaskan tangan kanannya ke samping, dan seketika itu juga hempasan angin yang kuat tercipta, menyingkirkan apapun yang menghalangi pandangannya.
HUSSSSHHHH!
"Feronica?!" Stephen melihat Feronica yang tengah memasang kuda-kuda bertarung. Di depannya.
'Ada apa ini?' Stephen tidak begitu mengerti apa yang terjadi saat ini. Pasalnya memang tidak ada siapapun yang harus diwaspadai di sini (tidak ada orang sama sekali)
Namun mengapa tadi ada serangan yang meledak seperti itu? Tentu harus ada penyebabnya bukan?
Kilat dan guntur dari langit memang bisa menjadi jawaban yang paling masuk akal sekarang. Namun jika memang begitu, Stephen seharusnya bisa melihat sambaran cahaya dari langit meskipun hanya sekejap, yang di mana tidak dilihatnya tadi.
'Apa di sekitar sini ada jebakan?' Stephen melihat ke sekitaran area lapang ini, namun ia tidak melihat apapun yang mencurigakan.
Tempat ini hanyalah dataran rumput luas, tidak kurang, tidak lebih. Jadi tidak mungkin tempat sedamai ini ada jebakan yang mematikan.
Stephen melihat Feronica dengan seksama, memang postur tubuhnya bersiaga seolah sedang menghadapi bahaya, apa yang sebenarnya terjadi di sini?
"... Dia datang lagi...." Akhirnya Feronica mengatakan sesuatu di sini, suaranya terdengar berbeda, lebih tegas dan jelas.
"Datang lagi?" Stephen menatap Feronica dengan heran, tidak mengerti akan apa yang dimaksud olehnya.
Syut...
Tidak berselang lama, tidak jauh dari mereka berdua, ada seorang berjubah putih yang tiba-tiba muncul di sini.
'Musuh?! Kenapa aku tidak sadar?!' Stephen memfokuskan kekuatannya di sini, ia tidak paham mengapa insting tubuhnya tidak berjalan sebagaimana mestinya di sini.
Memang ada seorang berjubah putih di sini. Kemarin sudah ada saudaranya yang menggunakan jubah hitam dan sekarang ada lagi yang mengenakan jubah putih. Mengapa akhir-akhir ini banyak orang yang memakai jubah datang ke sini?
Stephen tidak menyangka ada kehadiran seseorang di sini, terutama seorang yang penampilannya mirip seperti saudaranya.
'Dia bukanlah Kakak....' Stephen berkesimpulan seperti itu sekarang, yang di mana sudah jelas memang seorang yang tiba-tiba muncul ini bukanlah saudaranya yang kemarin.
Postur tubuhnya lebih kecil dari saudaranya, bisa dibilang sedikit lebih kecil dari Feronica juga. Stephen tidak bisa melihat wajah dibalik jubah putih yang menutupi kepala orang itu.
__ADS_1
Sejauh yang bisa diperhatikannya, memang jubah yang dipakai oleh orang asing ini tidak memiliki perbedaan yang begitu jauh daripada jubah hitam yang kemarin dilihatnya (hanya warnanya saja yang berbeda sih)
'Jadi dia yang melancarkan serangan tadi?' Stephen bisa berkesimpulan seperti itu sekarang, yang di mana seorang berjubah hitam dengan corak putih itu melakukan serangan kejutan yang tidak disadarinya.
Yang itu berarti kekuatan sihirnya memang sudah berada di level yang berbeda, seorang yang muncul tiba-tiba ini jelas-jelas bisa jadi masalah di sini.
Stephen memfokuskan energi sihirnya di sini, berusaha menganalisis kekuatan yang dipunyai oleh seorang berjubah hitam ini.
'Apa dia ada hubungan dengan kakak?' Stephen punya dugaan seperti itu sekarang. Ia menatap tajam seorang yang berjubah putih ini dan dari gerak geriknya memang dia punya tujuan yang tersembunyi.
"... Tuan tidak mungkin gagal menghadapinya...." Kini terdengar suara seorang perempuan dari balik jubah putih itu. Dari nada suaranya tidak terdengar aneh sama sekali.
Stephen pikir seorang asing berjubah putih itu akan menyamarkan suaranya demi melindungi identitasnya, namun ternyata tidak sama sekali.
"Siapa kau?!" Dengan cepat Stephen melontarkan pertanyaan pada perempuan berjubah putih itu.
HUSH!
'Apa yang?!'
Feronica melesat ke depan melancarkan rentetan serangan pada seorang yang menyerangnya tadi, dan kini mereka berdua saling bertukar serangan dengan cepat.
DUAG!
DUK!
BUAGH!
Namun berulangkali serangan Feronica bisa ditangkis dan malahan dia terkena serangan lawannya dengan telak, dengan berulangkali....
'Feronica maju ke depan! Sudah kuduga hanya bicara akan sia-sia saja di sini!' Stephen pun ikut maju melesat ke depan. Tidak mungkin ia hanya melihat rekannya yang terdesak di sini.
BUAGH!
DUAGH!
Stephen ikut bergabung di sana, melancarkan beberapa serangan pada perempuan berjubah putih itu dengan harapan ia bisa membantu rekannya berada dalam kondisi yang sulit ini.
'Ada apa ini?!' Stephen tidak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Ia sudah mengerahkan enrgi fisiknya, namun setiap serangannya sama sekali tidak ada yang mengenai lawannya, semuanya ditangkis dan dihindari dengan mudah. Malahan sama seperti rekannya ia pun terkana rentetan serangan tepat mengenai tubuhnya.
BUM!
"Uh...." Stephen mengangkat badannya yang jatuh terlentang, sedikit melirik ke depan. Ia bisa melihat dengan jelas Feronica masih beradu serangan dengan perempuan berjubah putih itu, meski hasilnya sama sekali tidak berubah dari yang sebelumnya.
'Kekuatan fisiknya benar-benar hebat....' Stephen bisa merasakan dengan jelas efek dari serangan yang telah diterima oleh tubuhnya.
Rasa nyeri pada tiap bagian tubuh yang terkena serangan benar-benar hal yang bisa dirasakannya dengan jelas. Ini sudah jelas menunjukkan perbedaan kekuatan yang signifikan.
Stephen tidak tahu apapun soal perempuan berjubah putih ini. Hanya saja ia heran akan tujuan orang asing ini. Setelah dibuat bertanya-tanya dengan kehadiran saudaranya kemarin, kini bukannya pertanyaan itu terjawab, malahan datang yang lain lagi.
BUM!
Stephen masih berupaya untuk membuat kedua kakinya berdiri di tanah lagi, ia tidak menyangka hal sederhana seperti ini benar-benar ternyata menyusahkan.
Hanya sebentar saja beradu serangan dengan seorang berjubah putih ini bisa membuat tubuhnya mulai berat begini....
'Kenapa Feronica tetap maju dan bisa bertahan dari serangan perempuan berjubah putih itu?' Stephen tidak mengerti mengapa Feronica bisa bertahan setelah beradu serangan dengan cepat dan berulang kali terhempas ke belakang. Malahan dia semakin agresif menyerang lawannya seolah tidak peduli dengan keadaannya sendiri.
Situasi ini mengingatkannya pada satu hal. Stephen berupaya melihat apa ada yang aneh dengan wajah rekannya itu sekarang.
'Dugaanku benar!' Setelah beberapa saat dan meski harus bersusah payah memerhatikan rekannya sedang bertarung itu, ia bisa melihat bola mata Feronica berwarna agak kemerahan.
Yang itu berarti ada sesuatu yang kembali terjadi padanya saat ini. Stephen tidak menyangka tanda seperti itu kembali muncul di saat seperti ini.
'Kenapa aku tidak sadar lebih awal?!' Stephen tidak mengerti mengapa ia tidak menyadari ada musuh dari awal, dan malahan kini rekannya harus berada dalam pertarungan mendadak.
'Apa dia kehilangan kendali lagi?!' Stephen berusaha untuk melangkahkan kakinya, kini kondisi tubuhnya masih terasa berat, namun tidak mungkin ia berdiam diri sedang rekannya menghadapi semuanya sendirian.
TAP!
'!'
__ADS_1
Belum sempat Stephen menghampiri rekannya, kini malah Feronica terhempas ke arahnya dan Stephen menguatkan kakinya agar tidak ikut terhempas juga.
Huuussshh!
Bahkan ketika menahan hempasan rekannya itu membuat Stephen sedikit goyah dan hampir kehilangan keseimbangannya.
"Feronica!" Stephen berhasil menahan rekannya itu dengan memeluknya, ia bisa merasakan Feronica sedang berdebar-debar sekarang.
Stephen bisa melihat luka yang dialami Feronica, dari bagian sekitar matanya ada darah yang mengalir ke bawah, dan lagi kaki dan tangannya ada darah yang lebih banyak lagi. Pemandangan seperti ini spontan tidak mengenakkannya.
'Dia memaksakan diri sampai seperti ini?!' Seperti yang telah Stephen rasakan sebelumnya memang kekuatan fisik dari perempuan berjubah putih ini benar-benar kuat.
Efeknya tidak hanya terasa sebentar, melainkan seolah tetap tinggal dalam tubuh yang telah terkena serangannya.
Stephen bisa merasakan energi sihir Feronica memang tidak begitu dalam kondisi baik sekarang, terkesan tidak stabil naik dan turun.
'Tidak biasanya seperti ini... seharusnya energi sihir Feronica menguat ketika tanda di wajahnya muncul, namun mengapa sekarang begini?' Stephen jadi punya pertanyaan mengenai hal ini.
Memang tanda pada wajah Feronica tidak sepenuhnya muncul dan hanya warna matanya saja yang sedikit berubah, namun tetap saja untuk bertahan dari serangan fisik yang kuat, itu adalah hal yang berat, Stephen ragu Feronica bisa mengatasi ini dengan kekuatan normalnya.
"He-hei... kamu baik-baik saja?" Stephen melihat Feronica terdiam saja dalam pelukannya, wajahnya menghadap ke bawah dan tidak menunjukkan tanda-tanda agresif.
"Kak...."
"Hei...." Stephen bisa mendengar suara Feronica dari balik pelukannya, terdengar lemah dan tidak tegas seperti yang tadi didengarnya.
"...." Perlahan namun pasti Feronica mulai mengangkat kepalanya, dan menatap Stephen dengan penuh arti.
"!"
Seperti dugaannya tanda merah pada Feronica mulai kembali menyebar ke sekitaran wajahnya, dan warna matanya jadi lebih merah ketimbang sebelumnya.
Namun ada hal yang berbeda... tanda yang ada pada wajahnya berkedip-kedip seiring dengan aura kekuatan Feronica yang tidak stabil.
Stephen baru pertama kali melihat yang seperti ini, padahal biasanya Feronica benar-benar larut dalam tanda merah yang ada padanya, seolah dia menjadi orang yang berbeda. Namun kini tidak terjadi seperti itu.
Stephen bisa melihat tanda awalnya ketika Feronica mulai terdengar tegas sebelumnya, dan pula bertarung beberapa saat dengan kekuatan yang sulit dipercaya. Namun kini keadaannya seperti itu.
Feronica seolah menjadi dirinya lagi sekarang, tepat setelah bertukar serangan dengan perempuan berjubah putih itu kini keadaannya memang sudah sewajarnya seperti ini.
Stephen bisa merasakan tubuh rekannya ini sudah lemas seolah tidak ada kekuatan lagi yang ada dalam dirinya, bahkan sedari tadi pun ia menopang Feronica agar tidak jatuh ke bawah.
Jika memang tanda merah padanya muncul dan memberikan Feronica kekuatan... apa ini tandanya kekuatannya pun tidak cukup untuk melawan seorang berjubah putih ini?
Hanya dalam waktu singkat saja, kekuatannya dan juga Feronica memang seolah menyusut karena pertarungan tadi. Dan itu bisa saja kemungkinan yang terjadi di sini.
'Feronica menggunakan kekuatannya dengan spontan tadi, bahkan sebelum Stephen sadar ada seorang yang berbahaya di tempat ini. Tidak heran memang jika pada akhirnya keadaannya sudah seperti ini.
Stephen melihat ke arah seorang berjubah putih itu, dia terlihat tengah mengamati mereka dengan begitu serius, Stephen bisa merasakan diawasi dengan begitu ketat di sini.
'Dia tidak melakukan pergerakan lagi... apa yang direncanakannya?' Stephen kini juga siaga dengan keadaan seperti ini. Melihat musuh yang mengamati mereka dari jauh terasa tidak menyenangkan, ia bisa merasa kapanpun bahaya bisa datang ke arahnya.
Terlebih lagi kini Feronica berada dalam kondisi yang seperti ini, membuat Stephen harus melakukan sesuatu sekarang.
'Apa yang bisa kulakukan sekarang?' Stephen memutar otaknya, cepat atau lambat lawannya itu tidak akan berdiam diri saja di sana. Ia harus menemukan jalan keluar sebelum semuanya terlambat.
'Kalau begini aku tidak punya pilihan lain....' Stephen tidak menyangka ia akan menggunakan cara yang selama ini tidak ingin ia pilih.
Tapi tidak ada pilihan lain baginya saat ini... jika tidak dilakukan maka sudah pasti mereka yang sudah terpojok seperti ini bisa berada dalam situasi yang lebih berbahaya lagi.
'Feronica sudah melakukan apa yang dia bisa... bahkan keberadaannya kemarin bisa menghentikan kakak....'
'Aku tidak bisa berdiam diri terus melihatnya berjuang sendirian... memang benar apa kata kakak kemarin....'
'Aku tidak bisa menyangkal keberadaanku yang sesungguhnya....'
'Sekarang atau tidak pernah, aku harus jadi diri sendiri....'
Stephen perlahan melonggarkan pelukannya dan meletakkan tubuh Feronica di bawah tanah, sedang ia kembali berbalik melihat seorang berjubah putih tadi.
"Maaf Feronica, kini tak ada lagi rahasia yang kusembunyikan...." Stephen melirik sedikit ke belakang. Meski dalam keadaan yang lemas ia bisa merasakan Feronica begitu memperhatikannya.
__ADS_1
Stephen menutup matanya, perlahan namun pasti tubuhnya mulai terlihat membesar dan dipenuhi bulu halus, dan di saat ia membuka matanya, sorot mata kuning terang menyala darinya.
"GRRRR...."