
Feronica meninggalkan kedai makanan itu dan pergi ke luar bersama dengan George.
Mereka berkeliling perlahan dan di sepanjang jalan George memberikan penjelasan pada Feronica.
Feronica berjalan ke berbagai tempat, dan ia melihat hal-hal baru yang selama ini belum pernah ia temui sebelumnya.
Sepanjang perjalanan selain Feronica menikmati apa yang dilihatnya, ia juga serius untuk mendengar George yang menjelaskan banyak hal padanya. Ini adalah kesempatan yang ada tidak boleh disia-siakan.
Setidaknya pengetahuan lapangannya bertambah ketika ia mengunjungi tempat yang baru seperti ini.
'Entah mengapa tapi aku merasa seperti sedang tur....'
Tur pribadi dengan seorang yang tinggal di kota ini, yang tahu banyak hal dan tidak segan-segan memberikan pengetahuan yang bermanfaat. Feronica merasa beruntung bisa berjalan-jalan bersama dengan George.
"... Dan akhirnya kita sampai juga...." George menghentikan langkah kakinya, spontan Feronica melakukan hal yang sama dan ia langsung sadar akan apa yang dimaksud oleh pria besar ini.
"Ini adalah tempat di mana dua ahli sihir yang kamu maksud tinggal...." George menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah yang cukup besar.
"Waaah...." Feronica melihat rumah yang begitu besar dan indah, memang luar biasa sekali tempat tinggal ahli sihir yang tersohor itu.
Rumah yang begitu besar dan terlihat elegan. Siapapun yang melihatnya pasti akan merasa pemiliknya bukanlah orang biasa.
Feronica pikir akan sulit untuk menemukan keberadaan rumah seorang ahli sihir seperti Nona Cyclene dan juga Tuan William jika dirinya seorang diri.
Memang rumah kedua ahli sihir tersohor ini begitu besar dan megah, namun keberadaannya jadi tidak terlalu mencolok karena banyaknya bangunan serupa di sekitarnya.
'Akhirnya aku tidak penasaran lagi....' Feronica dulunya tidak pernah berpikir untuk tahu tempat tinggal kedua ahli sihir legendaris ini dan hanya bisa membayangkan saja, pada akhirnya kesempatan yang ia kira tidak pernah datang akhirnya ia alami juga.
Apa teman-teman Feronica yang lain sudah tahu akan tempat tinggal ahli sihir terkenal ini? Mungkin sebagian dari kita akan bertanya hal seperti itu.
Mengingat hanya Feronica saja yang berbeda kelas (maksdunya status sosial) yang ada akhirnya ia tidak seberuntung murid lain yang bisa berjalan-jalan dengan kemampuan finansial yang baik.
'Teman-temanku yang lain sudah banyak membicarakannya, mungkin mereka tidak akan percaya jika aku juga sudah melihat tempat tinggal ahli sihir legendaris.'
Feronica malah begitu bangga sekarang sampai-sampai ia juga ingin diakui sebagai salah seorang yang pernah melihat tempat tinggal ahli sihir hebat.
__ADS_1
Pasalnya kini ia merasa bisa mengobrol hal ini seharian dengan siapapun. Ia jadi ingin berdiskusi dan membicarakan banyak hal soal kedua ahli sihir hebat yang ada di sini.
Hanya dengan melihat tempat tinggalnya sudah membuat Feronica begitu bersemangat, apalagi jika bertemu dengan keduanya secara langsung?
'Tidak mungkin mereka dengan santai berjalan di luar bukan?' Feronica pikir dengan reputasi yang mereka miliki maka untuk mengundang lautan manusia bukanlah hal yang sulit.
Para ahli sihir memang punya agenda mereka masing-masing, tentu mereka tidak akan membiarkan kegiatan pribadi mereka diketahui orang lain bukan? Apalagi keberadaan mereka berarti banyal bagi masyarakat luas.
'Keberadaan dan jasa mereka memang menginspirasi....' Feronica selama ini hanya membaca kisah hidup mereka dari buku dan penjelasan guru saja.
Semangat Feronica kini mulai menanjak. Hal sederhana seperti ini bisa membuatnya kembali menemukan tujuan awalnya.
DEG!
"Uh...." Feronica memegang kepalanya, entah mengapa di saat seperti ini ia merasakan sakit yang aneh.
Rasa panas seperti yang ia alami sebelumnya, entah mengapa di saat seperti ini kembali muncul lagi.
George sendiri sedang sibuk menjelaskan tanpa begitu memerhatikan keadaan Feronica, dan di saat seperti ini Feronica bingung mengapa bisa terjadi hal seperti ini.
Feronica melihat ke sekitarannya, masih banyak orang yang berlalu lalang di sini.
Feronica mencoba untuk tetap tenang. Ia tidak tahu mengapa rasa seperti ini bisa muncul kembali, namun panik bukanlah pilihan yang bagus di sini.
Feronica melangkahkan kaki agak menjauh dari George yang masih asyik menjelaskan, ia mengambil waktu untuk tenang sejenak di sini.
'Akan sulit bilamana aku mencurigakan di sini....' Feronica tidak bisa beralasan lebih jauh lagi soal hal ini. Ia tahu harus memisahkan antara masalahnya dengan orang lain.
Orang lain tidak perlu tahu akan apa yang dialaminya sekarang, terlebih lagi ini masih menjadi misteri bagi dirinya sendiri.
Shhh...
Feronica memfokuskan kekuatannya, mencoba cara yang sama demi menghilangkan rasa sakit yang dirasakannya itu.
Namun setelah beberapa saat pun Feronica tidak begitu merasakan ada yang berbeda, pada akhirnya ia tetap merasakan rasa yang sama.
__ADS_1
'Aku harus bagaimana?' Feronica tidak terpikir cara lain untuk lepas dari rasa sakit ini, tanpa sadar ia sudah menjauh dari Tuan George dengan jarak yang lumayan.
Mungkin terasa tidak sopan tapi memang Feronica tidak punya pilihan lain, tubuhnya bergerak menjauh secara alami dan ia sendiri masih harus berurusan dengan rasa panas yang sekarang dirasakannya.
'....'
'Baiklah aku harus bisa mengendalikan diriku di sini....' Feronica mencoba untuk tidak menarik perhatian, di kenyataannya yang seperti ini ia memang harus berdamai dengan rasa yang sedang dirasakannya.
'Aku bisa mengatasi ini... aku bisa....' Feronica akhirnya menyemangati dirinya sendiri sembari berusaha mengabaikan apa yang sedang mengganggunya ini.
Feronica melihat tangan kanannya sendiri, tidak ada tanda yang mengkhawatirkan muncul dari sana, yang biasanya juga muncul beriringan dengan rasa sakit yang ia rasakan.
Agak jauh dari rumah ahli sihir hebat itu, Feronica akhirnya duduk di sebuah bangku umum yang cukup besar. Rasanya tidak sopan meninggalkan Tuan George saja yang sedang asyik menjelaskan di sana, tapi memang Feronica tidak tahan hanya berdiam diri saja di sana.
Setelah beberapa saat akhirnya Feronica mulai merasa sakitnya berkurang. Kepalanya tidak lagi terasa panas seperti sebelumnya, dan kini ia hanya berdiam di bangku besar, tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal Feronica tidak lagi mengeluarkan kekuatannya sedari tadi, karena sebelumnya pun tidak begitu berpengaruh apapun.
'Kenapa terjadi lagi?' Feronica jadi penasaran akan penyebab kini rasa sakit yang muncul itu kembali dan menghilang dengan alasan yang tidak ia ketahui juga.
"Nak?" George akhirnya sadar akan Feronica yang tiba-tiba duduk di sini.
"Ah maaf Tuan, saya agak tidak enak badan tadi...." Feronica berkata apa adanya, dan kini setelah duduk sebentar perasaannya jauh lebih baik.
George memberi waktu gadis muda ini untuk tenang, dari apa yang dilihatnya memang benar Feronica seperti terlihat kelelahan.
"Es Krim!" Terdengar suara lantang seorang penjual es krim. Tidak membuat Feronica memerhatikannya karena ia masih menenangkan dirinya.
"Ah tolong buat dua!" George dengan cekatan menghentikan penjual es krim keliling yang lewat tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Ini, untuk menyegarkan tenggorokkanmu...." George menyerahkan satu es krim ukuran besar pada Feronica. Dan ia sendiri langsung menikmati es krim miliknya sendiri.
Feronica yang memang merasa haus karena berkeliling di cuaca cerah ini menerimanya dengan tatapan lega. Kini perhatiannya teralihkan karena makanan yang diberikan oleh George.
"Terima kasih banyak Tuan...." Feronica dengan perlahan menikmati es krim yang besar itu.
__ADS_1
Rasanya segar, tidak terasa hari sudah beranjak sore. Feronica melihat langit sore yang kekuningan dan juga cerah ini. Rasanya ia sedikit khawatir, masih belum juga menemukan seorang yang sedari tadi dicarinya.
'Apa Kak Stephen ada di sini....?'