Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 52: Pulang


__ADS_3

"Selamat, kamu lulus Tes Kemampuan Sihir susulan." Ibu Freiss tidak keberatan mengulangi perkataannya dan memastikan Feronica tidak salah dengar tadi.


Feronica berusaha tenang. perasaannya campur aduk karena tidak menyangka akan mendengar hal seperti ini.


'Apa aku mimpi?' Bahkan setelah mendengar dua kal, ia masih sulit percaya juga.


"Lalu bagaimana dengan Yelena bu?" Feronica mencoba menanyakan hal ini, nadanya tinggi dan terdengar ia benar-benar penasaran.


"Yelena juga lulus," jawab gurunya pendek, dan langsung membuat raut wajah gadis itu heran.


Dia yang bisa lulus dalam tes itu bisa dikatakan keajaiban, jika Yelena lulus maka adahal hal yang wajar. Jika mereka berdua kalah, kemungkinan itu juga bisa terjadi, namun sekarang ia mendengar mereka berdua lulus... memangnya bisa begitu?


"B-bagaimana bisa bu? Bukankah dalam setiap pertarungan harusnya hanya ada salah satu yang menang saja?" Feronica ingin mengetahui ini lebih lanjut, berharap gurunya itu masih punya waktu untuk menjelaskan hal ini.


"Tidak ada peraturan seperti itu dalam Tes Kemampuan Sihir, jadi hasil akhirnya tidak bergantung pada satu orang saja dalam pertarungan." Freiss menjelaskan dengan singkat dan sesederhana mungkin.


Feronica sadar memang tidak ada peraturan khusus dalam acara murid tingkat terakhir ini, jadi terlepas dari bagaimana pertarungan berlangsung, faktanya pertarungan tidak dibatasi hanya oleh satu pemenang saja.


Rasanya Feronica belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya, ataukah mungkin memang kejadian ini sangat jarang terjadi?


Di tengah semua kemungkinan yang bisa terjadi malah hal yang tidak mungkin yang terjadi. Ia dan Yelena lulus berbarengan dalam Tes Kemampuan Sihir susulan.


"Kalau begitu kamu sudah bisa pulang sekarang. Tetap semangat menjalani waktumu sebagai murid tingkat akhir ya...." Ibu Freiss tersenyum kecil, Feronica yang masih tidak percaya itu hanya bisa ikut tersenyum lega karena apa yang terlihat mustahil baginya mungkin terjadi.


Feronica sebenarnya ingin mendengar penjelasan lebih rinci dari gurunya, soal mengapa ia dan Yelena bisa lulus berbarengan, namun ia tahu Ibu Freiss adalah guru yang hebat sekaligus sibuk.


Bahkan untuk bisa mengobrol dengannya secara langsung adalah pengalaman yang hebat. Feronica bahkan masih gugup dan tidak percaya


"Ah, terima kasih bu, kalau begitu saya permisi."


Feronica mengucapkan salam kemudian membungkuk meninggalkan Ibu Freiss dengan hati yang masih tidak percaya sekaligus lega karena tahu ia tidak perlu mengulang satu tahun lagi.


*


Sementara Feronica sudah pergi dari ruangan guru, Freiss tidak segera beranjak dari tempatnya untuk pulang, melainkan tetap duduk di sana dan menumpu dagu dengan tangannya.


Ada yang masih ia pikirkan sampai saat ini. Dan tak lain tak bukan dalam pikirannya itu adalah soal gadis yang baru saja pergi dari hadapannya.


'Kekuatan pemulihannya berada jauh dari rata-rata murid tingkat akhir. Aku tidak mengerti....' Kenyataan bahwa murid tingkat akhir yang menerima luka berat dapat pulih hanya dalam beberapa jam bukanlah hal yang langsung bisa dimengerti.


Freiss makin yakin dengan dugaannya sebelumnya, pasalnya memang ia sempat melihat lagi sekelebat tanda berupa api yang menyala-nyala tepat ketika masuk ke ruangan gadis tadi kemarin.


Namun dibalik dugaannya yang semakin menguat Freiss tetap harus mengendalikan asumsinya agar tidak keluar jalur. Ia berencana untuk mengamati perkembangan gadis itu di tahun terakhirnya itu.

__ADS_1


Dan perkembangan Yelena yang juga tentunya, selagi ia menunggu kesadarannya kembali untuk memberitakan kabar bagus ini.


'Kami tidak mungkin membiarkan potensi kedua gadis itu tertunda di sini.' Freiss sedikit tersenyum dan kemudian membereskan barang-barangnya dan meninggalkan ruangan para guru.


*


-Menjelang petang, di perjalanan pulang Feronica.-


Di tengah perjalanan pulang perasaan Feronica mulai berubah dari yang tadinya ragu dan kurang percaya akhirnya berangsur-angsur mulai bisa memercayainya.


'Aku tidak sabar mengatakannya pada ibu!' batin Feronica, ia yang tadinya menyiapkan berbagai alasan yang menyedihkan karena mungkin saja ia memang tidak cukup kuat untuk tetap menjadi murid tingkat akhir, kini beban itu sudah hilang. Masih ada harapan baginya untuk terus menjadi murid tingkat akhir dan lulus dengan gaya ... maksudnya dengan baik.


Srek....


'Hm?' Feronica melihat sekelilingnya, ia seperti mendengar sesuatu tadi. Namun tidak ada orang di sekitarnya, yang ada hanyalah rumah-rumah yang dengan cahaya yang terang seperti biasanya.


'Daun?' Feronica mengabaikan suara yang didengarnya tadi, suara tadi mungkin saja berasal dari binatang yang bersembunyi di semak-semak.


"Woah indah...." Bintang-bintang di langit yang mulai bermunculan menyita perhatian Feronica, untuk sesaat ia memandang ke atas dan tidak lagi memerhatikan jalan yang memang penuh bebatuan dan cukup gelap ini.


Duk....


"Ah...." Kaki Feronica mendarat tidak di tempat yang seharusnya, bukannya ia menginjak pijakan tanah yang aman, ia malah menabrak batu kecil keras yang langsung membuatnya kehilangan keseimbangan.


'Astaga....' Feronica merasa tubuhnya tiba-tiba lemas seketika dan langsung jatuh ke depan.


Feronica hanya bisa pasrah dengan tubuh lemasnya yang kini tak lama lagi akan segera mendarat di tempat yang kurang mulus ini. Jelas-jelas ia bisa langsung terluka sih.


Tap.


"Hati-hati langkahmu...."


"Eh?" Feronica merasakan tubuhnya berhenti jatuh dan di peluk oleh seorang yang suaranya terdengar familiar olehnya.


"Kak Stephen?" Tiada angin tiada hujan Stephen memeluk tubuhnya yang lemas itu demi mencegahnya terjatuh ke bawah.


Perlahan Stephen mengangkat tubuh Feronica kembali, ia memang merasakan energi kekuatan Feronica menurun. Tidak heran jika ia tidak bisa mengembalikan keseimbangan tubuhnya saat ia jatuh tadi.


Feronica mencoba mengumpulkan segenap tenaganya kembali, rasa lemasnya memang masih ada namun tidak separah yang ia rasakan tadi.


Gadis ini menggunakan kekuatan sihir terlalu berlebihan kemarin. "Bagaimana kondisimu?"


"Ah, sudah lebih baik. Terima kasih bantuannya Kak...." Feronica menghela nafas lega, jika Kak Stephen tidak ada di sini maka tentunya ia akan terluka. Namun dari mana dia muncul ya? Padahal sebelumnya ia tidak melihat siapapun di tempat ini.

__ADS_1


Hal ini sudah bukan hal yang aneh lagi. Feronica tidak bisa merasakan hawa kehadiran pemuda itu, bahkan hawa kehadirannya itu lebih kecil ketimbang Yelena.


"Sedang jalan-jalan kak?" Feronica menerka apa yang sedang dilakukan oleh pemuda ini.


"Bisa dibilang begitu," jawab Stephen sembari tersenyum.


"Bagaimana hasilnya?" Stephen langsung mengajukan pertanyaan ini, akan apakah Feronica berhasil melakukannya atau tidak. Sebuah pertanyaan yang diajukan gadis itu di hari yang lalu.


Feronica melihat Stephen dengan penuh arti. "Benar kak, semuanya mungkin ketika kita percaya...."


Stephen tersenyum kecil ketika mendengar hal ini, dari jawaban yang telah didengarnya itu ia tahu Feronica berhasil melakukannya.


"Usahamu tidak ada yang sia-sia. Kepercayaan akan menambah kuat tekadmu yang sekarang." Stephen kembali memberikan wejangan untuk membuat Feronica lebih percaya diri lagi.


Feronica tersenyum kecil. "Benar kak, terima kasih atas semangatnya."


Kini Feronica tahu bahwa tujuannya itu memang tidak terlalu besar selama ia percaya bisa melakukannya.


Untuk beberapa saat mereka berdua mengobrol ringan dan setelah itu Stephen memutuskan untuk menemani Feronica pulang ke rumah.


"Ah, aku bisa pulang sendiri." Feronica agak keberatan ketika tahu Stephen akan menemaninya pulang.


"Lho tidak apa, lagi pula aku juga mau ke arah sana, kenapa tidak bareng saja?" Stephen menunjuk jalan ke mana ia akan pergi, dan memang jalannya searah dengan rumah Feronica sih.


Feronica yang sebelumnya menyangka ia akan merepotkan Stephen pada akhirnya berjalan bersama juga. Di sepanjang jalan rasanya berbeda, ia tidak merasa sendirian lagi.


Berbeda ketika ia harus pulang sendiri di mana para murid lain kebanyakan pulang dijemput pelayannya atau pulang bersama teman-temannya. Punya teman bicara saat pulang sekolah ternyata memang menyenangkan.


"Bintangnya indah ya," komentar Stephen sembari melihat ke langit, sontak Feronica juga langsung memerhatikan ke atas.


Bintang berkelap-kelip menunjukkan sinar indahnya, dan karena hari mulai gelap para bintang-bintang itu mulai muncul tanpa malu-malu.


"Ah iya haha ... kak jangan lupakan langkahmu di depan." Feronica tersandung karena ia begitu fokus melihat ke atas, dan jika terjadi lagi maka agak aneh rasanya.


"Ahaha tentu saja...." Stephen kembali memerhatikan langkahnya. Ia sadar bulan purnama ada sekarang di antara bintang-bintang yang bertaburan di langit. Raut wajahnya sedikit berubah ketika ia menyadarinya.


Kini mereka berjalan bersama di antara pepohonan rindang, dan tidak ada orang lagi di sekitar sini, kebanyakan sudah berada di rumah masing-masing.


"...." Suasana hening kini menyelimuti area ini, Feronica biasanya sedikit berlari di area ini karena begitu heningnya dan gelap. Bukan berarti ia takut, namun lebih kepada ia ingin cepat sampai saja ke rumah.


Feronica sekilas melihat Stephen,ia bisa melihat raut wajahnya berubah menjadi serius, padahal sebelumnya ia tidak terlihat seperti itu.


"... Ke ...." Perkataan Feronica terhenti di sana, ia langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya mengapa pemuda itu terlihat serius saat ini.

__ADS_1


Stephen sendiri juga tidak menyadari akan perkataan Feronica, dan kini mereka berdua tetap berjalan masih dalam keheningan makin terasa.


*


__ADS_2