Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 45: Sebuah Alasan


__ADS_3

"Sedang berlatih?" Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki di belakangnya, sontak Feronica tersentak karena sedang enak-enak melamun malah ada suara di belakangnya.


Feronica merasa tidak asing dengan suara ini, ia menoleh perlahan dan ternyata ada seorang pemuda yang hampir seminggu tidak ditemuinya berada di sini.


"Ah Kak Stephen...." Feronica mengelus-elus dada menenangkan dirinya yang agak kaget dengan kedatangan pemuda ini.


Padahal tadi ia tidak merasakan aura kehadiran siapapun di sini, tapi tiba-tiba Stephen muncul entah dari mana datangnya. Kemunculannya secara tiba-tiba ini bukanlah kali pertama terjadi.


"Hm, panggil dengan nama saja." Stephen tersenyum lembut, ia merasa tidak begitu enak apabila dipanggil dengan seperti itu. Ini bertujuan agar ia bisa lebih dekat dengan yang lain.


"Ah? Tidak apa, panggilan kakak lebih cocok untuk seorang yang lebih...." Perkataan Feronica terhenti di sana, ia tidak begitu tahu lebih lanjut mengenai pemuda ini, namun yang ia tahu sudah pasti pemuda ini sudah hidup lebih lama darinya.


"Lebih tua? Ahaha, aku mengerti." Stephen akhirnya menerima panggilan itu. Ia berubah pikiran dengan cepat juga ternyata.


"...." Feronica memandangi Stephen dengan seksama dan untuk pertama kalinya ia sadar akan bagaimana setelan yang digunakan oleh pemuda ini. Serba hitam adanya, dari sejak mereka pertama bertemu. Seketika itu juga pikiran Feronica mulai melayang ke mana-mana.


'Apa Kak Stephen tidak punya baju lagi?' Feronica terdiam memikirkan alasan mengapa kenalannya ini tidak kunjung berubah penampilan luarnya.


Tidak pernah dijumpainya orang yang tidak berganti penampilan, kecuali orang yang begitu miskin dan tidak punya uang untuk membeli pakaian. Namun Feronica rasa Stephen bukanlah orang seperti itu.


Mari kita ingat kembali bagaimana penampilannya. Ia berkulit putih berambut rapi dengan wajah yang menarik. Raut wajahnya terkesan segar dan membuat orang lain betah berlama-lama menatap wajahnya.


Postur tubuhnya lebih tinggi dari Feronica, berisi dan tegap. Dengan semua hal yang terlihat itu tentulah Stephen ini bukanlah orang yang tidak mampu membeli pakaian.


"Kenapa?" Stephen sadar Feronica sedang melamun, dan heran akan apa yang dia pikirkan.


"Ah, tidak apa ... Kak Stephen ini dari luar desa bukan?" Feronica dengan cepat mengganti topik pembicaraan. Meskipun Ia ingin tahu juga mengapa pemuda setampannya tidak memakai pakaian lain yang lebih bagus. Jika ia muncul di desa maka sudah bisa dipastikan wanita desa akan mengerumuninya.


Dan Feronica penasaran mengapa Kak Stephen ini tidak kunjung muncul di keramaian di desa.


"Bisa dibilang begitu." Stephen mengangguk sembari menyilangkan kedua tangannya, pada akhirnya memang dugaan Feronica benar adanya.


"Memangnya kenapa?" Stephen bertanya.


"Ah tidak, hanya penasaran saja ahaha...." Feronica menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Feroica tidak terlalu terganggu dengan kemunculan Stephen, kini perhatiannya kembali tertuju akan hari besok.


Ia menatap ke bawah dan kemudian duduk di bawah, Feronica tidak begitu menghiraukan keberadaan Stephen. Fokusnya sekarang tertuju akan bagaimana cara menang di keesokan hari.


'Kak Stephen sekarang di sini, tapi aku tidak punya waktu lama untuk mengobrol. Ada memang hal yang kupikirkan tentangnya ... tapi aku tidak bisa santai sekarang.' Feronica merenung. Di awal hari yang cukup suram ini ia ingin segera berlatih kembali mengasah kemampuan sihirnya dan tidak mau memikirkan hal lain.


Hal ini membuat pemuda yang baru datang ini keheranan, ia pikir kehadirannya itu akan mengundang berbagai pertanyaan, namun pada kenyataannya tidak sama sekali. Malahan situasi kini terasa jadi hening tepat setelah mereka mengobrol sebentar.


Stephen akhirnya ikut duduk di sebelah Feronica yang tengah merenung itu, ia tidak begitu paham dengan apa yang dipikirkan oleh gadis ini. Namun ia ingin lebih lama menghabiskan waktu di tempat ini. Kesempatannya untuk mengenal lebih jauh tentang seorang yang membebaskannya dan mengetahui kebenaran adalah tujuan utama sekarang.


Sebelumnya ia memang berada di area sekitar sini, tepatnya di area hutan lebat dekat pekuburan luas yang jarang dikunjungi orang itu.


Ia sudah tahu dari awal hawa yang dirasakannya memang Feronica, gadis yang ia tolong sebelumnya. Hawa kekuatannya sudah lebih berkembang dari sebelumnya yang menandakan bahwa ia memang sudah berlatih sedemikian rutin akhir-akhir ini.

__ADS_1


"Besok...." Tanpa bisa diduga Stephen, Feronica mulai berbicara ketika saling duduk bersama di area lapang ini.


"Hm?" Stephen memerhatikan bagaimana wajah Feronica yang terlihat kurang bersemangat, padahal sebelumnya ia merasakan hawa bersemangat yang lebih tinggi ketimbang saat ini.


"Apa aku bisa melakukannya?" Feronica berbicara sendiri, ia mencurahkan apa yang ada dalam hatinya.


Stephen terdiam, meskipun ia tidak mengerti akan apa yang dibicarakan oleh Feronica saat ini namun ia tetap bisa merasakan emosi dari yang keluar dari gadis ini.


Ssshh....


Hilir angin kembali menerpa mereka berdua, kini di sekitar area ini terasa semakin dingin dan awan gelap mulai menyebar ke seluruh area desa, rasanya memang hujan tidak lama lagi akan datang.


"Kamu bisa...." Stephen akhirnya mengatakan sesuatu setelah beberapa saat.


Tidak peduli apa konteks yang dibicarakan gadis itu. Stephen rasanya bisa mengerti dari apa yang dikatakan oleh Feronica meskipun tidak mendengarkan penjelasan langsung dari padanya.


"Benarkah?" Feronica menoleh perlahan, di tengah kebimbangan dan rasa tidak percaya diri yang ada pada dirinya, mendengar kata-kata semangat membuatnya merasa lebih baik.


Stephen menggangguk sembari tersenyum kecil. "Tentu saja ... kamu bisa selama kamu percaya."


Mata Feronica terbuka lebar, seolah menyadari sesuatu akan apa yang dikatakan oleh Stephen.


Feronica terkadang selalu menyemangati dirinya sendiri ketika berada dalam situasi sulit. Bahkan untuk berbagi apa yang membebani hati dengan ibunya membuatnya tidak enak. Sudah cukup beban yang dirasakan oleh ibunya dan tidak perlu ditambah lagi.


Melihat begitu banyak kekurangan yang ada dalam dirinya sudah pasti akan membuat semangat pudar, Feronica tahu akan hal ini namun di saat yang bersamaan ia seringkali melupakannya.


Akan tetapi cara itu tidak selamanya efektif digunakannya. Terkadang situasi sulit malah menang dan itu membuat Feronica jadi hilang kepercayaan dirinya sendiri, seperti yang sekarang dialaminya.


Feronica merasa lebih percaya diri setelah mendengar kata-kata semangat dari Stephen, ia yang tadinya sempat hilang arah dan ragu akhirnya menemukan kembali jalannya.


Tidak peduli akan apa yang akan terjadi besok, baik soal kemampuan teman-temannya ataupun hasil akhirnya. Selama ia percaya dan melakukan yang terbaik maka itu sudah lebih dari cukup.


"Terima kasih kak...." Feronica sedikit menggosok matanya, seperti ada air yang keluar dari sana.


'Aku sudah sampai sejauh ini, bisa menjadi murid tingkat akhir adalah kebanggaan bagiku dan jika sudah melakukan apa yang kubisa maka apa lagi yang lebih dari itu?'


Feronica sampai di pengertian di mana ia tahu bahwa memang tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan berlebihan. Berjalan dengan usaha terbaik adalah satu-satunya cara agar ia bisa tetap tenang menghadapi hari esok.


Kata-kata sederhana Kak Stephen membuat perbedaan yang berarti, semangat Feronica mulai beranjak naik kembali.


"Baiklah kalau begitu saatnya berlatih!" Feronica dengan cepat mengangkat badannya dan bersiap berlatih kembali dengan semangat yang sebelumnya sempat hilang darinya.


Stephen tersenyum kecil, ia merasa bisa mengerti hanya dengan tingkah laku dari Feronica saja yang itu berarti memang ada ikatan di antara mereka. Tidak hanya hawa kehadiran gadis itu saja yang bisa dirasakannya seperti sebelumnya.


Dengan begitu Stephen masih punya berbagai hal yang memang harus diketahui demi mengetahui kebenaran akan alasan mengapa ia bisa terbebas kembali.


'Aku pasti bisa menjadi ahli sihir terbaik!'


*

__ADS_1


-Kembali di mana pertarungan antara Feronica dan Yelena berlangsung.-


Di waktu yang krusial ini Feronica masih sempat-sempatnya merenung seolah tidak terjadi sesuatu. Di saat Yelena, lawannya itu malah menunjukkan sedikit ekspresi keheranan yang berarti.


"Tidak bisa menang?" Feronica melihat Yelena yang kini melihatnya dengan cukup serius, dari wajahnya dapat terlihat ia cukup frustasi dengan apa yang sedang terjadi.


"Kalau aku tidak menang ... aku juga tidak mau kalah di sini!" Suara Feronica menggetarkan Yelena, terlihat dia cukup terkejut akan apa yang dikatakannya barusan.


'Aku tahu aku tidak bisa kalah di sini.' Kini batin Feronica mulai berbicara kembali. Pada akhirnya keputusannya itu tidak disesalinya sama sekali.


'Teknik ini memang sihir terkuat yang pernah kupelajari, tapi ... aku belum menguasainya.'


'Aku tidak bisa membiarkan Yelena berbuat seenaknya, dia memang kuat dan jika terus dibiarkan, tidak akan bagus jadinya.'


Feronica tidak mau lagi mengulangi kesalahan yang sama, yaitu membiarkan lawannya terus menerus menekannya tanpa henti. Ia sendiir tahu akan kemampuan siswa sihir tingkat akhir tentulah tidak main-main adanya.


Mengulur waktu dan mempersiapkan strategi yang rumit bukanlah hal yang terlalu bagus dilakukan sekarang ini. Karena apa yang dikhawatirkannya bisa saja terjadi.


Menyimpan kartu as di akhir pun tidak bisa dilakukannya jika memang ia sudah kalah duluan bukan? Feronica sadar akan hal ini dan memutuskan untuk mengeluarkannya, bahkan di awal pertarungan sekalipun.


Tapi yang jadi pertanyaan adalah mengapa Feronica malah menggunakan sihir terkuat yang bahkan belum dikuasainya? Apakah hal ini sepadan dengan yang terjadi sekarang?


'Sihir Tanah: Perubahan Tempat, namanya sama sekali tidak keren.' Feronica ingat akan bagaimana ia pertama kali belajar sihir ini, sepertinya dari sejak awal ia masuk ke Akademi.


*


-Feronica, masa awal masuk sekolah, dua tahun yang lalu-


Di mana ia tahu tentang sihir tanah ini di buku ajar sihir yang ada di perpustakaan sekolah. Buku tebal berwarna coklatĀ  di pojok rak yang cahaya pun bahkan tak masuk di sana, tertutup debu dan dari sampulnya saja terkesan kurang menarik.


Feronica di awal masa belajarnya heran mengapa buku ajar sihir tanah malah terbengkalai seperti ini? Di mana buku ajar sihir lain yang malah tersusun rapi dan jika dilihat memang lebih menarik ketimbang buku yang sekarang ada di tangannya ini.


Namun Feronica dalam masa awal-awal masuk akademinya ini tidak langsung menilai buku hanya dari sampulnya saja, ia mencoba membacanya dan memahami apa yang sebenarnya buku ini coba jelaskan.


Feronica di awal sempat tidak tertarik karena sihir tanah hanya terdiri dari berbagai macam Teknik sihir bertahan dan terlihat tidak menarik di awal, setidaknya sampai ia tahu ternyata memang ada sihir jenis ini.


Sihir Tanah: Perubahan Tempat.


Apa memang tidak ada nama lain bagi sihir jenis ini? Bukankah jika ini adalah sihir yang kuat tentu harus dibarengi dengan nama yang keren juga bukan?


Namun pada akhirnya dengan berkomentar saja tidak akan membuat nama dari sihir ini berubah, akan tetap seperti itu saja adanya.


Sihir tanah dengan dampak menghancurkan area sekitarnya bisa membahayakan siapapun yang sedang berada di area tempat sihir ini.


Sihir tanah adalah sihir pertahanan terbaik, dan tidak berhenti di sana sihir tanah juga menyimpan teknik-teknik sihir yang ternyata jika di pahami ternyata bisa membuat penggunanya merepotkan pengguna sihir jenis lain.


Di saat itulah Feronica memutuskan untuk terus mengasah sihirnya terutama di elemen tanah ini, dengan begitu ia bisa memperoleh banyak teknik bertahan yang berguna dan tidak lupa juga akan teknik serangan yang tidak kalah hebat dengan sihir jenis lain.


'Sihir Tanah: Perubahan Tempat ... aku harus menguasainya!'

__ADS_1


__ADS_2