Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 138: Belum Selesai


__ADS_3

Begitulah kenyataannya.


Stephen sudah lebih dari siap di pertarungan ini.


Tekadnya-lah yang membuatnya lebih kuat.


BUM!


“BAGUSSS!” Sang kakak terlihat puas, meminta lebih banyak keganasan lagi!


“….” Dan seperti yang diminta, Stephen terus menggempur kakaknya dengan lebih banyak lagi teknik.


Pertarungan berlangsung dramatis.


Seberapa banyak Stephen menyerang, tetap bisa diatasi kakaknya, dan begitupula sebaliknya.


Apa-apaan dengan pertarungan ini? Tidak adakah teknik khusus super luar biasa yang ditunjukkan?


Mungkin apa yang terjadi membuat bosan sebagian orang, namun mereka punya alasan kuat kenapa tak melancarkan serangan berskala besar.


Tak lain tak bukan karena tidak akan banyak menguntungkan.


Serangan besar butuh tenaga besar pula dan bukan tak mungkin bisa menghabiskan tenaga sekaligus.


Tenaga habis di tengah pertarungan tentulah mimpi buruk.


“ADA APA!?” Alex menatap tajam, sampai kapan serangannya haya itu-itu saja!?


“….” Stephen mencium bau-bau pancingan.


SWUSH!


Ia melompat ke atas dan mengumpulkan kekuatannya!


Mengarahkan jari telunjuknya dan laser energi hitam langsung melesat!


Slash….


Lawannya kena!


“Heh.” Tapi sayang hanya menggores pipinya saja!


HUSH!


“!”


Alex mengejar adiknya dan menendangnya ke bawah!


BUAGH!


BUMM!


Satu tendangan masuk telak dan membuat Stephen terbaring di tanah.


‘CEPAT….’ Ia tak bisa melihat jelas gerakan kakaknya….


SWUSH!


BAM!


BUM!


Kakaknya tak memberinya waktu istirahat, ia menghantamnya berkali-kali.


Situasinya terlihat kurang bagus, dan begitulah kenyatannya.


Pancingannya berhasil, adiknya menggunakan serangan khusus dan disitulah celah lebarnya.


Stephen semakin terlihat tak berdaya.


Aura kekuatannya menurun, bahkan luka mulai bermunculah di sekujur tubuhnya.


Sebuah blunder yang disadarinya.


Satu kesempatan yang akan menentukan semuanya, dan gagal.


Serangan laser gelapnya bisa jadi modal baginya meraih kemenangan….


Namun sayang beribu sayang, dewi keberuntungan tidak berpihak padanya.


Membiarkan pertarungan terus berlangsung kelihatannya pilihan paling aman.


Namun kenyataanya tidaklah begitu.


Stephen sadar dengan kekuatannya sendiri, dan membiarkan kekuatannya habis begitu saja adalah bodoh.


Kakaknya punya lebih banyak teknik dan stamina yang hebat.


Stephen mengambil risiko, namun gagal.


SRET.


Alex melihat keadaan adiknya sekarang.


Senyum puas perlahan terukir di wajahnya.

__ADS_1


Inilah dia.


Melihat wajah sengsara lawannya memanglah menyenangkan.


Felicia mungkin lebih bergairah lagi kalau melihat ini.


Sang kakak terlihat masih bisa menahan dirinya.


Padahal hanya selangkah lagi saja semuanya berakhir.


Namun Alex masih diam dan menikmatinya.


“….” Stephen terdiam, kini aura kekuatannya sudah benar-benar hilang.


Luka luarnya makin terlihat, dihantam dengan derasnya air hujan.


Perasannya tak karuan.


Stephen tidak bisa menjabarkannya dengan jelas, namun yang pasti inilah perasaan yang tidak mau dialami sebagian besar orang.


Dirinya adalah salah satunya.


‘Kenapa aku….’ Stephen terdiam, ia hanya bisa melihat langit gelap dengan sisa kesadarannya.


‘Kenapa….?’ Sudah jelas apa yang dipikirkan benaknya.


Pemuda ini menyalahkan dirinya karena tak meng-klaim kemenangan.


Ia sudah menunjukkan tekadnya dan melakukan yang terbaik.


Tapi kenapa? Kenapa masih saja begini?


“Stephen … Stephen….” Terdengarlah suara saudaranya, sangat jelas meski diiringi derasnya suara hujan.


“Boleh juga perlawananmu….” Alex tak keberatan memuji kekuatan adiknya.


Yah pertarungan kali ini lebih seru dibanding dengan yang sebelumnya.


Tekad adiknya lebih jelas, bahkan sempat memojokkannya di beberapa momen sebelumnya.


Namun diperlukan lebih dari sekadar tekad untuk melawannya.


“Kau memang seharusnya mengakhirku lebih lebih awal.”


Alex mengangkat tangannya ke depan, sementara energi gelap terkumpul cepat sekali.


“….” Stephen terdiam, ia tak melakukan apapun, dan tak bisa melakukan apapun juga.


Jangankan untuk bertahan, beranjak dari tempatnya pun ia sudah tak punya kekuatan.


Kalah dua kali berturut-turut….


Stephen tak menyangka, tapi inilah kenyataan.


Pengennya sih yang terulang hal baik, namun malah sebaliknya.


Datang dengan keren dan tak bisa mempertahankan ke-kerenannya.


Entah kenapa di saat begini banyak hal terbesit di pikirannya.


‘Maaf….’ Stephen belum sempat mengucapkan selamat tinggal.


Inilah akhirnya, perpisahan antar saudara.


Alex masih menahan tenaganya, memberikan kesempatan untuk kata-kata terakhir.


Namun waktu berlalu dan belum ada kata-kata apapun.


“Sayonara.”


BUM.


Serangan kegelapan langsung melesat.


Energi gelap minimalis, mirip serangan laser Stephen, hanya lebih kuat.


Alex tak melancarkan serangan skala besar, namun satu serangan mematikan yang bisa mengakhiri semuanya sekaligus.


Ia sudah cukup puas melihat adiknya menderita.


Tentu menyenangkan memperpanjang momen ini, namun ia tak melakukannya, anggap saja ini kemurahan hatinya.


Kurang baik apalagi coba?


Sementara di sisi lain  Stephen masih belum bisa melakukan apapun, bahkan melihat serangan kakaknya sendiri.


Ia sudah tahu apa yang terjadi dari instingnya sendiri.


Dua kali bertarung sudah membuat semuanya jelas.


Seberapa keras mencoba, namun tetap saja kakaknya jauh lebih kuat darinya.


Bahkan tekad dan kepercayaan diri saja belumlah cukup.


Kemampuan bertarungnya luntur seiring dengan berjalannya waktu.

__ADS_1


Inilah akibat dari menolak jati dirinya sendiri.


Itulah alasan kenapa ia tak bisa menghentikan kakaknya.


Mungkin saja ia bisa bersaing dengan kakaknya kalau ia menerima dirinya apa adanya.


Dengan begitu ia bisa melindungi sosok berharga di hidupnya.


Melindungi Feronica dan Felicia dari bahaya….


Terkadang penyesalan datang di akhir….


Seberapa banyak dipikirkan pun tetap saja tidak akan merubah apapun.


Apa itu artinya pemuda ini menyesali jalan hidup yang ingin ditempuhnya?


Dengan berbagai masalah yang mengincarnya dan ketidakmampuan untuk menanganinya. Seharusnya itu sudah cukup membuatnya menyesal.


Namun anehnya Stephen tak merasa begitu.


Ia tetap percaya pada jalan yang berseberangan dengan kakaknya.


Bahkan jika itu membuat makhluk lain dalam bahaya.


‘Aku jahat ya….’ Tak disangka ada keegoisan besar dalam diri pemuda satu ini.


Stephen tak bisa memberi solusi lagi, namun ia harap dua rekannya sudah pergi dan meminta pertolongan pada makhluk kuat yang ada di kota.


DRRR….


Baiklah saatnya pergi….


SRIIIINGGG!


Seketika itu juga cahaya kemerahan menyelimuti area itu.


Membuat heranan bagi siapapun yang melihatnya.


Kenapa bisa-bisanya muncul cahaya merah misterius?


Efek serangan gelap tak menunjukan energi kemerahan begitu….


“….” Alex terdiam, sementara curiga dengan apa yang terjadi.


Tak lama cahaya merah itu pun menghilang.


“Cih.” Raut wajah kesal langsung terukir. Alex tak menyangka.


‘Apa yang?’ Terlihatlah Stephen dengan energi kemerahan menyelimuti sekujur tubuhnya.


IA BERDIRI DAN TUBUHNYA TERASA BUGAR SEKALI.


Aneh kan?


Stephen melihat telapak tangannya, dan raut wajahnya langsung berubah!


TANDA MERAHNYA HILANG!


Kok?


Stephen terheran, padahal tanda ini tetap ada bahkan saat ia bertarung dengan kakaknya!


Tapi kenapa sekarang hilang?


“Bocah….” Suara kegeraman terdengar jelas. Alex tak menyangka dia tetap merepotkan bahkan saat tidak ada di sini.


“!” Stephen sadar!


‘Feronica!?’ Tanda merahnya berubah jadi energi merah yang menyelimuti tubuhnya!


Bahkan menahan serangan kakaknya dan memulihkan tubuhnya!


Kenapa?


Stephen masih tak menyangka.


Padahal belum lama ia tersiksa karena tanda ini, dan memaksakan dirinya tetap maju….


Dan kini tanda ini menyelamatkannya?


SWUH!


Hempasan kencang tercipta dari sekitaran tubuhnya!


“….” Alex tak senang melihat ini.


Gadis kecil itu memberi kekuatan pada adiknya.


Dan kini kekuatannya sudah pulih kembali.


‘Wah….’ Rasanya hebat. Kekuatan seolah melimpah-limpah dalam tubuhnya, sudah lama Stephen tak merasakan ini.


Entah apa alasannya, namun yang jelas ia sangat terbantu dengan kekuatan aura merah ini.


“Belum selesai kak.” Stephen menatap tajam.

__ADS_1


__ADS_2