Secret Of Werewolf

Secret Of Werewolf
Bab 65: Ada Yang Tidak Beres


__ADS_3

"Apa?" Jack melihat Elisabeth yang begitu serius menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Feronica, tepat setelah ia mengantar Feronica kembali ke sekolah di pagi hari.


Jika bisa diceritakan secara singkat, Feronica memang sudah kehilangan semangatnya untuk hadir di sekolah setelah mengetahui kabar kemarin. Elisabeth tahu akan hal itu, dan memang ia sedikit mengerti akan ap yang dirasakan putrinya itu, namun terlepas dari apapun yang terjadi kemarin putrinya ini masih punya tanggung jawab untuk tetap hadir, maka ia pun mendorong Feronica agar kembali menghadiri kelas.


Elisabeth bukannya tidak memahami perasaan putrinya, melainkan ia sendiri tahu putrinya ini tidak mungkin melakukan sesuatu yang bahkan mengakibatkan dia bisa keluar sekolah. Maka dari itu ia tidak menelan bulat-bulat apa yang tertulis di surat kemarin.


Ketika diajak mengobrol sebentar pagi tadi di rumah pun Feronica bungkam dan tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai hal ini, entah apa alasannya. Elisabeth menghargai itu dan pada akhirnya memutuskan untuk mengantarnya ke sekolah dan mencari tahu secara langsung akan alasan mengapa terjadi hal seperti ini. Dan ketika Feronica pergi ke kelas, ia menemui Jack yang sedang melaksanakan tugasnya seperti biasa.


Itulah kilas balik singkat apa yang sebenarnya terjadi di sini, kini Elisabeth hanya tinggal menunggu jawaban dari pria paruh baya dengan ramput rapi ini.


"...." Bahkan Jack sendiri tidak percaya akan apa yang didengarnya ini, memang apa yang Elisabeth tanyakan tidak terpikirkan olehnya sama sekali.


"Apa kamu tahu sesuatu Jack?" Elisabeth mengulang kembali pertanyaannya itu, seraya ekspresinya yang perlahan berubah tidak tertahankan memikirkan apa yang sekarang dialami putrinya.


"Aku tidak percaya... Aku baru tahu akan hal ini...." Jack hanya bisa tertegun dan terhening setelah mendengar apa yang dikatakan Elisabeth ini.


Jack sendiri tidak tahu banyak selain memang kini teman-teman Feronica mulai bersikap kurang ramah padanya semenjak dia lulus Tes Kemampuan Sihir, dan sekarang ia mendengar hal yang sungguh lebih mengejutkan lagi.


Elisabeth terdiam, bahkan seorang yang dekat dengan Feronica di Akademi pun tidak tahu akan hal ini, maka pada akhirnya ia harus memakai cara lain.


"Penjelasan langsung dari gurunya akan membuat semuanya jadi jelas...." Elisabeth berjalan pelan meninggalkan Jack yang kemudian seperti mengatakan sesuatu.


"Kamu mau menemui guru pengajar? Sudah membuat janji?" Perkataan Jack membuat langkah kaki ibu Feronica itu terhenti, Elisabeth tahu akan hal ini. Jack berbicara soal peraturan sekolah yang menyatakan siapa saja yang hendak menemui guru akademi maka memang harus memenuhi prosedur yang ada.


Elisabeth hanya menengok pelan. "Aku tidak bisa membiarkan putriku dikeluarkan tanpa alasan yang jelas...."


"...." Jack bisa melihat bagaimana keseriusan yang terpaut dari Elisabeth, jarang ia melihat ekspresi seperti ini dari padanya. Padahal biasanya ia selalu terlihat ramah pada siapapun dan tidak menunjukkan emosi berlebihan seperti ini.


Namun Jack tahu hal ini memang wajar terjadi, siapa juga orang tua yang biasa saja mendengar anaknya yang dikeluarkan dari sekolah? Terutama hanya dengan surat yang bahkan minim penjelasan?


Jack agak menentang akan apa yang akan dilakukan oleh Elisabeth ini meskipun tidak salah ia ingin menemui para guru hanya karena ingin meminta penjelasan, Namun pada akhirnya peraturan sekolah berdiri kuat mengatur segala hal yang terjadi di sekolah.


"Feronica, putrimu?" Tiba-tiba terdengar suara seorang pria dari belakang Jack, sontak Jack terkaget dan melihat ke arah belakangnya.


"Ah, Tuan Housen... Selamat pagi...." Jack memberi hormat pada seorang pria muda dengan postur tubuh yang tidak terlalu tinggi ini.


Elisabeth melihat pria muda yang rapi ini, saat itu juga ia bisa menduga siapa dia sebenarnya. Penampilannya begitu rapi dan berwibawa, siapapun yang melihatnya pasti akan menganggap dia bukanlah orang biasa di sini.


Terlebih lagi bagaimana tanda pengenal pada bajunya yang terbuat dari lempeng emas dan terukir namanya di sana, Elisabeth tidak perlu repot-repot mencari lagi seorang yang ingin ditemuinya ini.

__ADS_1


Housen berjalan ke depan, mendekati Elisabeth. Menatapnya dengan tatapan yang tidak ramah. "Putrimu sudah melanggar peraturan sekolah... Kau sudah tahu?"


Seolah memang Housen tidak peduli akan siapa yang sedang diajaknya bicara, mau itu orang tua murid atau siapapun, pada kenyataannya ia tidak menunjukkan sikap yang lebih hormat.


Mengingat yang dihadapannya ini adalah seorang ibu yang sudah tidak muda lagi, bilamana orang biasa tentu akan menaruh hormat, sedikitnya sekalipun. Namun tidak dengan Housen.


Memang Elisabeth sendiri tidak heran dengan sikap yang ditunjukkan oleh seorang yang bernama Housen ini, ia sadar betul orang dengan nilai sosial yang tinggi tentunya berhak melakukan apapun pada seorang yang dibawahnya.


Saat itu juga Elisabeth sadar, memang Feronica telah mengalami banyak hal di sekolah yang bahkan tidak ia ketahui semuanya. Feronica selama ini hanya tetap tersenyum dan semangat dalam menjalani studinya, tidak peduli dengan apa yang dialaminya.


"Itulah tujuan saya berada di sini, mengapa putri saya dikeluarkan dari sekolah? Pelanggaran apa yang dibuatnya?" Elisabeth langsung pada intinya, berharap mendapat penjelasan yang lebih daripada surat yang kemarin sudah dibacanya.


"Sebagai orang tua kau tidak tahu? Putrimu sudah berbuat di luar batas saat Tes Kemampuan Sihir dan tidak hanya itu, dia juga bertarung tanpa izin sampai membuat dua murid lain terluka," ujar Housen menatap tajam pada Elisabeth.


Elisabeth memang tahu putrinya itu mengikuti tes kemampuan sihir susulan dan berhasil lulus, hanya sebatas itu saja. Lalu dengan bertarung tanpa izin itu.... ia memang baru mendengarnya sekarang.


"Putri saya di luar batas? Bukankah ini sekolah sihir yang mencetak ahli sihir yang kuat? Lalu apa masalahnya jika Feronica menunjukkan kemampuannya?" Elisabeth tidak mengerti dimana letak kesalahan putrinya, bahkan setelah dikatakan langsung oleh gurunya tidak membuatnya langsung paham juga.


Apa yang coba disampaikan gurunya ini? Feronica terlalu kuat dan akhirnya malah melanggar peraturan sekolah? Bukankah itu konyol namanya?


"Kami tidak bisa membiarkan orang yang diluar batas membahayakan murid lain, jadi anda sebagai wali muridnya seharusnya paham soal ini." Housen berusaha tetap tenang dalam menjelaskan, namun pada kenyataannya ekspresinya ini memanglah tegas dari awal dan terkesan tidak terlalu ramah.


Housen tidak melihat ada hal itu dalam Feronica, ia memang sudah mengamati gadis itu untuk beberapa waktu, dan memang pendapatnya tentangnya adalah seperti ini.


"Seorang yang tidak bisa mengendalikan diri, tidak layak jadi ahli sihir...." Housen kembali menyatakan perkataan tegasnya, membuat situasi di sekitar agak jadi dingin karena angin kecil yang berhembus sekarang.


"...." Jack hanya bisa terdiam melihat situasi seperti ini, antara orang tua murid dan guru yang berbeda paham. Ia yang hanyalah seorang penjaga sekolah dan yang kesehariannya hanyalah merawat area sekolah memang tidak bisa berbuat banyak sekarang.


Jack tidak bisa memihak atau mendukung siapapun antara Tuan Housen ataupun Elisabeth, di satu sisi ia memang sangat mendukung akan peraturan sekolah yang memang sudah teruji dan tidak perlu diragukan dalam mencetak banyak ahli sihir yang berbakat, namun di sisi lain Jack juga tidak percaya Feronica sudah melakukan hal diluar batas yang bisa membuatnya dikeluarkan dari sekolah.


Jack sudah lama tahu Feronica, bahkan dari sejak kelas satu pun ia sudah dekat dengannya, jaid tiba-tiba mendengar hal ini rasanya seperti mendengar petir di siang bolong.


Sulit dipercaya, dan rasanya Jack ingin sekali mengatakan apa yang ada dalam pikirannya, namun ia sadar pendapatnya ini memang tidak akan bisa mengubah apapun yang sudah terjadi sekarang ini.


Pada akhirnya Jack tetap percaya pada Feronica, dan hanya bisa menjadi saksi bisu akan pembicaraan kedua orang di dekatnya sekarang ini.


*


Di waktu yang sama, Feronica sekarang tengah berjalan pelan menuju kelasnya dan seperti biasanya tatapan-tatapan tajam mengarah padanya sepanjang perjalanan.

__ADS_1


"Monster...."


"Hei kau tahu? Dia melukai kedua rekan kelasnya sendiri!"


"Astaga, aku tidak mau dekat-dekat dengannya...."


"Hati-hati bisa jadi kamu korban berikutnya!"


Ternyata memang tidak hanya tatapan tajam, melainkan suara-suara yang terdengar bersamaan terdengar jelas di telinganya yang tak lain tak bukan adalah para murid akademi yang tengah memerhatikannya saat ini.


Feronica abai dengan semua tatapan dan suara yang didengarnya itu, yang hanya ada dalam pikirannya hanyalah pertanyaan yang sama dari dulu ia pikirkan.


"Apa yang salah denganku?'


'Mengapa tiba-tiba kesadaranku hilang?'


Hal-hal aneh yang terjadi sekarang tidak hanya membuat pertanyaan, namun juga masalah yang benar-benar ia harapkan tidak terjadi.


'Aku harus bagaimana?'


Semangatnya sudah menurun sampai pada tahap di mana ia tidak bisa lagi untuk melihat apa yang didepannya. Karena memang sebelumnya dalam benaknya hanya terbesit satu tujuan besar; yaitu menjadi ahli sihir.


Menjadi satu-satunya murid yang berbeda adalah tantangan tersendiri baginya, mengingat ia memang tidak sepadan dengan rekan-rekan sekolahnya yang lain.


Namun di saat ia pikir semunya mungkin akan bergerak ke arah yang lebih baik, ternyata pada kenyataannya tidak begitu adanya. Entah mengapa ia merasa impiannya untuk menjadi ahli sihir ini memang tidak begitu realistis.


Mengapa ia tidak memikirkan hal ini dari awal? Bukankah akan lebih baik kalau memang ia tidak perlu bermimpi menjadi ahli sihir jika memang ini bukanlah jalan untuknya?


'Mengapa aku menyesal akan pilihanku sendiri?' Dan lagi-lagi Feronica menentang apa yang ada dalam benaknya ini, pada akhirnya mimpinya itu bukanlah hal yang biasa, melainkan sesuatu yang istimewa baginya. Ia punya dasar yang kuat agar bisa mencapai apa yang ia mimpikan itu.


'Demi ibu, demi kehidupan kami....' Feronica memikirkan ini berulang kali, menyesal karena mimpi bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan sekarang. Mau seberapa banyak ia menyalahkan mimpi dan dirinya, pada akhirnya dunia di sekitarnya tetap tidak akan peduli juga terhadapnya.


Shhhhh.....


"?" Ketika Feronica merenung cukup dalam, ia sadar seperti ada sesuatu yang berbeda di area sekolahnya ini. Hawa kehadiran yang begitu kuat tiba-tiba terasa di tempat ini.


Feronica menaikkan kepalanya setelah cukup lama tertunduk, melihat dengan perlahan ke sekitarnya, kondisi di sekitarnya tidak jauh berbeda dari yang sebelumnya. Namun entah mengapa ia bisa merasakan hawa keberadaan yang cukup kuat di sekitarnya, sedangkan orang-orang di sekitarnya tidak menyadarinya sama sekali.


'A- apa yang terjadi?'

__ADS_1


__ADS_2